
Ana dan Gio sudah kembali. Kini di kontrakan Alula, hanya tinggal mereka berempat. Alula merapihkan buku-buku Darren dan Darrel. Sementara kedua anak itu, sudah berada di kamar mereka.
"Apa mereka selalu seperti itu, setelah belajar?" Tanya Gara, dari belakang Alula.
Alula menoleh. Terlihat, Gara yang sedang berdiri bersidekap sambil menatap nya. Alula kembali meraih buku-buku tersebut.
"Biasanya tidak seperti ini. Mungkin, mereka benar-benar ngantuk." Balas Alula.
Wanita itu mengangkat buku-buku tersebut, lalu berjalan ke kamar si kembar. Gara tidak diam. Ia terus mengikuti Alula. Saat pintu kamar terbuka, ternyata Darren dan Darrel sudah tertidur. Alula meletakkan buku-buku itu di atas meja, kemudian beralih mencium kening kedua putranya.
"Selamat malam. Tidur yang nyenyak. Mimpi indah anak-anak Ibu." Ujar Alula.
Gara yang melihat dari ambang pintu, tersenyum samar. Hatinya begitu bahagia melihat perlakuan Alula pada kedua putranya.
"Alula." Panggil Gara, saat Alula sudah menutup pintu kamar Darren Darrel.
Alula sedikit kaget. Namun secepat mungkin ia menenangkan dirinya.
"Huuuh... kau mengagetkan ku, tuan." Ujar Alula.
Gara terkekeh. "Maaf mengagetkan mu." Ujar Gara. "Aku ingin bicara dengan mu." Lanjut Gara.
"Bicara apa?"
"Tidak baik bicara disini. Ayo ikut aku!"
Alula mengikuti langkah Gara. Lelaki itu berhenti di dapur, tepatnya di meja makan. Gara mendekati kulkas, mengambil minuman, lalu duduk di kursi meja makan.
"Ayo duduk!" Perintah Gara, lalu meneguk minumannya.
Alula menarik kursi, duduk tepat di kursi yang berjarak satu kursi dengan Gara. Alula terdiam, mendengarkan apa yang akan Gara bicarakan.
"Aku ingin mengatakan bahwa, ucapan ku tidak main-main. Aku tidak bisa membiarkan Darren dan Darrel tetap disini. Aku akan membawa mereka ke rumahku." Ujar Gara. Alula lagi-lagi terdiam.
"Kebersamaan mu dan si kembar ada di tangan mu. Yang harus kau ketahui, keputusan ku tidak akan bisa di rubah."
"Aku tahu. Semua yang keluar dari mulut mu, adalah ketetapan yang tidak bisa di bantah. Aku akan memikirkannya baik-baik." Balas Alula.
"Sudah malam. Aku akan kembali ke kamar ku. Selamat malam." Alula sedikit menunduk hormat pada Gara. Kemudian ia kembali ke kamarnya.
Huuuh... Maafkan aku. Ini adalah cara agar aku bisa selalu dekat dengan mu dan anak-anak. Batin Gara.
Gara juga ikut menjauh dari meja makan. Kakinya bergerak menuju kamar si kembar. Ia mendorong pintu dan menutupnya kembali.
"Maafkan Ayah yang menyakiti Ibu kalian, dan memanfaatkan kalian untuk menjerat Ibu kalian agar tetap bersama Ayah." Gara berucap, sambil mengecup kening kedua putranya.
"Kenapa mengatakan itu?" Suara itu terdengar jelas saat Gara mengecup kening Darren.
"Darren? Kau belum tidur?" Heran Gara.
__ADS_1
"Aku juga belum." Timpal Darrel.
"Ah, kalian membohongi Ayah, ya?"
"Maaf Ayah, kami halus melakukannya."
"Bocah nakal." Ucap Gara, membuat Darrel tersenyum.
"Kenapa Ayah, mengatakan memanfaatkan kami?" Seru Darren.
"Itulah kenyataannya. Ayah memang memanfaatkan kalian agar Ibu kalian tetap bersama Ayah."
"Ayah salah. Kenyataannya adalah kami yang menginginkan Ibu selalu bersama Ayah."
"Darren,"
"Aku tidak ingin cacat dalam hal memiliki orang tua. Aku yakin, Darrel juga begitu."
"Dallel setuju. Melihat Ayah dan Ibu menyatu adalah tujuan kami. Jadi, jangan melasa memanfaatkan kami, Ayah." Sambung Darrel, dengan tersenyum.
Gara merengkuh tubuh kedua putranya dalam pelukannya. Ia sangat bersyukur memiliki Darren dan Darrel sebagai anaknya.
Darren dan Darrel juga balas memeluknya. Perasaan nyaman itu tak bisa mereka dapatkan selain memeluk Alula dan Gara.
Gara tersenyum melihat keduanya. Senyumnya semakin mengembang kala menyadari, di antara keduanya, pelukan Darren lah yang paling erat. Ini adalah kali pertama Darren memeluknya begitu erat.
"Kau begitu erat memeluk Ayah, Darren?" Ujar Gara, dengan nada menggoda.
"Apa salah aku memeluk Ayah ku sendiri?" Balas Darren, membuat Gara terkekeh.
"Tidak. Tapi, kau terlalu erat memeluk."
"Aku kedinginan. Jadi, aku mencari kehangatan dari tubuh Ayah." Balas Darren lagi.
"Kau masih saja mencari Alasan. Katakan saja, kau ingin memeluk Ayah."
"Baiklah. Akan ku lepaskan." Darren benar-benar melepas pelukannya. Begitupun Darrel. Anak itu juga melepaskan pelukannya.
"Ayah tidak bermaksud seperti itu. Apa kalian marah? Ayo peluk lagi!" Ujar Gara. Ia merasa perkataannya menyinggung keduanya.
"Ayah tellalu bellebihan. Aku dan Dallen ingin mengatakan sesuatu."
Gara mengernyit. Ia penasaran dengan apa yang akan putra kembarnya itu katakan. Semoga bukan sesuatu yang buruk.
"Apa yang mau kalian katakan?"
"Kami bertemu kakek Zarfan." Ujar Darren.
"Siapa dia?" Tanya Gara, yang tidak mengetahui tentang Zarfan.
__ADS_1
"Dia Ayah dali Ibu. Kakek aku dan Dallen."
Gara bungkam. Ia mencoba mengingat tentang orang yang bernama Zarfan. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu.
"Yah, aku ingat. Dia Ayah dari Alula." Ujar Gara dengan begitu cepat mengingat Ayah Alula.
Tapi, ia penasaran dengan wajah orang itu. Walaupun ia tahu namanya, ia belum sekali pun melihat Zarfan.
"Kakek Zalfan adalah donatul sekolah. Kami mencoba mencalitahu tentangnya. Telnyata dia Ayahnya Ibu." Celetuk Darrel.
"Dari raut wajah kakek saat menyebut nama Ibu, ada sesuatu yang aneh." Ujar Darren.
"Aneh?" Ulang Gara.
"Ya. Seperti ada penyesalan yang terpancar dari mata kakek."
"Iya. Aku juga sependapat dengan mu. Kakek sepelti menyimpan lasa belsalah pada Ibu." Timpal Darrel.
Gara semakin penasaran. Namun, ia tidak ingin bertanya lebih tentang Zarfan. Biarkan Darren dan Darrel menceritakan apa yang mereka ketahui. Ia yakin, keduanya hanya mengetahui sebatas apa yang mereka dengar dari Zarfan. Ia akan menjawab rasa penasarannya dengan caranya sendiri.
"Jadi, apa yang kalian inginkan? Ayah yakin, kalian tidak hanya sekedar menceritakan pada Ayah. Kalian pasti merencanakan sesuatu kan?"
"Ya. Ayah benar. Kami membutuhkan bantuan Ayah." Ucap Darren. "Dari cerita kakek dan pancaran matanya, kami rasa hubungan kakek dan Ibu sedikit tidak baik. Kami berencana mempertemukan mereka." Sambung Darren.
"Kami ingin Ayah juga tellibat dalam lencana ini. Kalau bisa, Ayah mengatur peltemuan Kakek sama Ibu. Kami yakin, Ibu akan sangat senang bertemu kakek." Tutur Darrel, mengingat ekspresi sedih Alula saat ia dan Darren menceritakan tentang donatur sekolah, yang tak lain adalah Zarfan, Ayah Alula.
"Emm... Boleh juga. Baiklah, serahkan semuanya pada Ayah. Sekarang, tidurlah!"
"Siap Yah." Balas Darrel, sambil hormat pada Ayahnya.
"Lakukan yang terbaik, Yah." Ujar Darren, Yang di balas anggukkan oleh Gara. Darren dan Darrel menarik selimut menutupi tubuh masing-masing.
Setelah Darren dan Darrel tidur, Gara bergegas ke kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Pandangannya menatap langit-langit kamar.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Alula dan Ayahnya? Apa Ayahnya seorang yang jahat?" Gumam Gara.
Lama berpikir, Gara bangkit dan meraih handphonenya. Ia duduk di tepi ranjang. Tangannya mendial nomor milik sekretaris Kenan. Panggilan tersambung. Tak lama, terdengar suara dari seberang sana.
"Hallo, tuan."
"Ya, Kenan. Saya ada tugas untuk mu."
"Tugas apa tuan?"
"Carikan informasi lengkap mengenai keluarga Alula. Terutama hubungan Alula dengan keluarganya. Saya tunggu hasilnya besok."
"Baik tuan."
Panggilan terputus. Gara melempar sembarang handphonenya ke atas ranjang. Ia sangat penasaran dengan kehidupan Alula bersama keluarga nya.
__ADS_1
Apa yang mereka lakukan pada mu dulu? Apa karena kamu ketahuan mengandung anakku, mereka jadi membencimu? Jika itu benar, maafkan aku. Aku sudah menyusahkan mu. Batin Gara.