
Pekerjaan menumpuk hari ini membuat Kenan merasa kelelahan. Ia merebahkan tubuhnya di kasur apartemen miliknya. Matanya menatap langit-langit kamar. Menerawang jauh yang entah kemana arah pikirannya saat ini.
Ia mencoba memejamkan matanya. Bayangan wajah Hani yang tiba-tiba muncul membuatnya membuka matanya kembali.
"Hani." Gumamnya.
Ia menarik nafasnya. Seulas senyum terbit di bibirnya. Ia kembali teringat dengan pertemuan awalnya bersama Hani. Dia teringat bagaimana sebegitu berusahanya Hani membopong dirinya menuju klinik terdekat, setelah dirinya di hajar habis-habisan oleh sekelompok preman.
Saat itu dirinya baru saja pulang dari acara peresmian hotel. Tuannya itu mengutusnya karena sedang sibuk dengan urusan kantor. Karena ingin menolong seorang anak kecil yang dipalak preman, dirinya berakhir dengan berkelahi dengan dua preman.
Dia pikir perkelahiannya sudah berakhir dengan kekalahan dua preman itu. Namun dia salah, masih ada lagi sekelompok preman yang datang. Karena kelelahan melawan cukup banyak preman, ia akhirnya dihajar oleh sekelompok preman itu.
Mungkin dia akan terkapar di pinggir jalan semalaman hingga pagi jika tidak di tolong Hani. Sejak saat itulah, dia merasa berhutang pada gadis itu. Namun, perasaan lain muncul karena sering bertemu. Kenan dengan cepat menyadari perasaannya. Tapi, hati kerasnya membuatnya menutupi semuanya.
Hingga menghilangnya Hani membuatnya sadar jika ia tidak seharusnya terus menutupi perasaannya. Pertemuannya bersama Hani saat di perusahaan C membuatnya kecewa. Gadis itu ternyata menghindarinya dan Gara. Dan malah memilih jalan yang salah untuk menjalani hidupnya. Sejak saat itu, ia tidak membiarkan Hani menghilang darinya lagi.
"Kamu ingat ucapanku saat pernikahan tuan? Aku akan mewujudkannya hari ini, Hani." Gumam Kenan.
Lelaki itu meraih kunci mobilnya lalu keluar dari apartemennya. Ia menaiki lift menuju lobi. Dengan langkah cepat lelaki itu menuju parkiran apartemen. Mobilnya melaju dengan cepat menuju kontrakan Hani. 20 menit kemudian, dia sampai.
"Hani!" Panggilnya sambil mengetuk pintu.
"Hani!" Ulangnya lagi.
"Han..."
"Ada apa tuan?" Suara dari belakangnya membuatnya menoleh. Hani segera melangkah mendekati Kenan yang berdiri didepan pintu.
"Kau dari mana?" Kenan memegang kedua bahu Hani. Ia memperhatikan wajah gadis itu yang sembap.
"Kau menangis? Dimana adik-adikmu?"
Gadis itu berusaha tersenyum mendengar pertanyaan Kenan. "Mereka sudah pergi bersama orang tua kandung mereka." Jawabnya.
Kenan langsung menariknya dalam pelukan. Sekarang ia tahu, apa penyebab mata gadis itu sembab. "Tidak apa-apa. Itu yang terbaik untuk mereka." Ujarnya mengusap pelan rambut Hani.
Hani yang merasa canggung, melepaskan diri dari pelukan Kenan. "Terima kasih. Ada apa tuan datang kemari malam-malam begini?"
"Bolehkah kita masuk dulu?" Gadis itu tersenyum lalu mengangguk. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan Kenan masuk.
"Apa kau ingat perkataanku waktu di pernikahan tuan Gara?" Tanya Keman setelah duduk di ruang tamu kontrakan Hani.
"Perkataan tuan di pernikahan tuan Gara? Aku..." Hani mencoba berpikir. Dan akhirnya ia mengingatnya.
"Salam nona..." Ujar Hani. "Saya Hani,"
"Calon istri saya, nona." Sambung Kenan.
"I-iya. Aku... Mengingatnya." Jawabnya gugup.
Kenan meraih tangan Hani, lalu digenggamnya. "Hani! Aku selalu berterus terang. Aku tidak bercanda dengan apa yang ku katakan waktu itu. Aku mau kau menjadi istriku!" Ucap Kenan tanpa ragu.
"Tu-tuan!"
"Aku berkata semua ini karena aku benar-benar mencintaimu. Maafkan aku yang selalu menyembunyikan perasaan ini. Tapi, kali ini aku sungguh-sungguh akan mengatakannya dan memintamu menjadi istriku."
__ADS_1
"Tu-tuan! Apa kau sungguh ingin menikahi gadis yang tidak jelas asal usulnya sepertiku ini?"
"Aku tidak peduli. Aku benar mencintaimu, Hani! Menikahlah denganku."
"Kalau begitu... Aku mau menikah denganmu."
"Terima kasih!" Kenan segera membawa Hani dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu erat, seolah gadis itu akan pergi jauh. Hani dengan canggungnya mengangkat tangan membalas pelukan Kenan. Ini pertama kalinya dia membalas pelukan Kenan.
Kenan melepas pelukannya. Ia lalu menatap wajah Hani sambil tersenyum. "Kamu sudah setuju. Ayo, kita bicarakan pernikahan kita. Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?"
"Aku... Lebih menyukai hal sederhana. Lakukan pernikahan sederhana saja."
"Baiklah! Aku akan mengurus semuanya. Aku akan mengambil cuti beberapa hari. Lusa kita menikah."
"Lusa? Bukankah terlalu cepat?"
"Hal baik jangan di tunda terlalu lama, sayang." Ujar Kenan, membuat Hani tersenyum malu.
Setelah berbincang cukup lama, Kenan berpamitan pulang. Senyum di wajahnya tidak pernah luntur. Ia merasakan kebahagiaan yang sangat dalam hatinya.
***
Kenan sudah berada di kantor. Lelaki itu berdiri dan sedikit membungkuk pada Gara. Ia mengikuti Gara yang memasuki ruangannya.
"Hari ini, tuan ada rapat pada jam 9."
"Ya." Balas Gara.
"Tuan!" Panggilan Kenan membuat Gara yang sedang fokus pada dokumennya mendongak menatapnya.
"Saya ingin mengambil cuti beberapa hari."
Gara mengerutkan keningnya. "Cuti? Boleh saja. Tapi, untuk apa?"
"Saya akan menikah, tuan."
"Menikah? Kau akan menikah? Kenapa baru memberitahuku?"
"Maaf, tuan. Saya tidak merencanakan semuanya dengan matang. Saya juga baru melamarnya semalam."
"Hani?"
"Iya, tuan."
"Sudah kuduga. Berapa hari kau ambil cuti?"
"Saya akan menikah besok. Jadi..."
"Besok? Kau menikah besok?" Sekretaris Kenan mengangguk. "Astaga... Kenapa kau dadakan begini?"
"Maaf, tuan." Kenan membungkuk.
"Ya sudah, berapa hari kau cuti?"
"Tiga hari tuan!"
__ADS_1
"Tidak! Ambilah cuti satu minggu!"
"Terima kasih, tuan."
"Ya. Aku menantikan undanganmu!"
"Baik tuan." Ujarnya. "Kalau begitu, saya permisi, tuan."
"Ya."
***
Pernikahan yang di tunggu-tunggu Kenan akhirnya tiba. Lelaki itu mengenakan tuxedo hitam yang semakin menambah ketampanannya. Hani dengan gaun pengantin putih terlihat begitu cantik. Keduanya berdiri berdampingan sembari menyalimi tamu-tamu yang hadir.
"Aku sangat bahagia." Bisik Kenan pada Hani. Wanita itu hanya membalasnya dengan tersenyum.
Gara, Alula, Alisha juga si kembar menjabat tangan sekretaris Kenan dan Hani.
"Selamat Paman! Selamat aunty! Semoga bahagia." Ujar Darrel.
"Selamat Paman! Selamat aunty!" Ujar Darren.
"Selamat Paman! Selamat aunty!" Ujar Alisha yang berjalan sambil digandeng Alula. Anak itu mencium tangan sekretaris Kenan dan istrinya, Hani.
"Terima kasih ya, nak." Sekretaris Kenan tersenyum pada Alisha. Ia sedikit berjongkok lalu mencium pipi Alisha. Hal yang ingin dia lakukan setiap kali bertemu Alisha, namun selalu ragu untuk ia lakukan. Ia tidak ingin membuat Gara marah. Tapi, hari ini dia tidak bisa menahannya. Anak itu begitu menggemaskan.
"Terima kasih ya, sayang." Ujar Hani, mengusap pelan rambut Alisha.
Alula yang melihatnya tersenyum. "Selamat sekretaris Kenan." Ujar Alula.
"Terima kasih, nyonya." Balas sekretaris Kenan, sedikit menundukkan kepalanya.
"Kamu juga Hani. Selamat ya, atas pernikahan kalian. Semoga terus langgeng."
"Terima kasih, nyonya." Balas Hani.
Kini kedua pasangan pengantin itu berhadapan dengan Gara. Lelaki itu berdiri tegap di depan keduanya. Beberapa menit kemudian dia memeluk sekretarisnya itu.
"Selamat! Aku turut bahagia." Ujarnya sambil menepuk pelan punggung sekretaris Kenan.
"Terima kasih, tuan." Ujar Kenan. Ada perasaan haru yang menderanya.
Lelaki itu melepaskan pelukannya lalu beralih pada Hani. Gadis yang sudah sah menjadi istri Kenan itu sedikit menunduk saat berhadapan dengan Gara.
"Angkat wajahmu!" Perintah Gara pada Hani. Gadis itu menurut. Dia mengangkat wajahnya. Matanya tidak berani menatap wajah orang di depannya.
"Kau sudah ku anggap seperti keluarga. Jangan takut. Selamat atas pernikahanmu! Semoga kalian selalu bahagia." Ujar Gara.
Mendengarnya, Hani dengan perlahan memberanikan diri menatap wajah Gara. "Te-terima kasih, tuan."
"Ya." Balas Gara. Lelaki itu menoleh pada Kenan sebentar, menunjukkan senyum tulusnya, lalu benar-benar pergi menyusul istri dan anaknya.
"Ayah." Gara langsung meraih Alisha dalam gendongannya. Ia mengecup wajah putrinya itu berkali-kali. Wajah bahagianya tergambar jelas.
"Mereka sangat serasi." Ujar Alula.
__ADS_1
"Ya. Aku senang Kenan sudah memiliki kehidupannya. Dia sudah berusaha keras untukku. Ini saatnya dia menjalankan kehidupannya." Ujar Gara membuat Alula tersenyum.