Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Alisha Putri Grisam


__ADS_3

Hari perkiraan lahir Alula sudah sangat dekat. Gara juga sudah memutuskan untuk melakukan semua pekerjaannya dari rumah. Ia ingin menjadi suami yang siaga dan selalu ada untuk Alula.


Suara pintu yang terdorong membuat Gara menoleh. Lelaki itu sedang berada di ruang kerjanya saat ini. Dan suara pintu tadi adalah Alula yang datang dengan segelas kopi untuk Gara.


"Minum dulu, sayang." Ujar Alula.


"Tidak perlu repot seperti ini. Seharusnya kamu istirahat."


"Sayang, yang seharusnya aku banyak gerak. Biar memudahkan persalinan." Balas Alula. Wanita itu bergerak duduk di sofa ruang kerja Gara.


"Dimana si kembar?" Gara meminum seteguk kopi yang dibuat Alula.


"Mereka sedang mengerjakan tugas sekolah. Kenapa?"


"Tidak. Mereka belum kemari sejak tadi. Biasanya mereka akan mengetuk pintu dan bertanya, 'Ayah, apa kami boleh temani Ayah disini?' itu Darrel. Sementara Darren dia akan bertanya, 'Ayah, apa aku boleh masuk?' anak-anak itu mebuatku terbiasa dengan hal itu. Jadi, aku rasa ada yang kurang saat mereka tidak kemari." Ujar Gara panjang lebar. Alula sendiri sampai menggeleng melihat suaminya. Ia terlihat lucu saat meniru Darren dan Darrel.


"Hahaha... Sayang, kamu sangat lucu. Tidak kalah imut dengan si kembar." Ucap Alula sambil terkekeh.


"Hahaha... Kamu bisa aja. Oh ya, aku udah siapin semua kebutuhan untuk lahiran kamu nanti. Saat tiba waktunya, kita tinggal berangkat."


"Benarkah? Terima ka... Shhh..." Alula meringis sambil memegang perutnya. Gara yang melihatnya segera mendekat. Ia duduk tepat disamping Alula.


"Sayang, kamu kenapa?" Gara bertanya dengan perasaan khawatir.


Matanya terarah pada kaki Alula yang di aliri cairan bening. "Sayang..."


"Sepertinya aku akan melahirkan."


"Hari perkiraan lahirnya dua hari lagi."


"Ini bisa terjadi."


Tanpa bertanya lagi, Gara segera menggendong Alula keluar ruangannya. Ia berusaha tenang. Namun rasa khawatir itu terus membuatnya tidak bisa tenang.


"Pak Andi! Pak Andi! Siapkan mobil. Bi! Ambil perlengkapan nyonya di kamar." Perintah Gara dengan berteriak. Membuat Darren dan Darrel cepat menuruni tangga. Begitupun dengan Gio. Lelaki itu bergegas ke sumber suara.


"Gio, bawa Darren Darrel. Aku akan lebih dulu bersama Pak Andi." Gio mengangguk setuju. Ia meraih barang yang diberikan pelayan dan segera menuju mobilnya bersama Darren Darrel.


"Paman, sebenarnya ada apa? Kenapa Ibu digendong Ayah seperti itu? Kenapa Ayah terlihat khawatir?" Rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Darrel saat mobil sudah menjauh dari rumah.


"Sepertinya Ibu kalian akan melahirkan." Jawab Gio.


"Apa ini membahayakan Ibu?" Darren melihat pamannya melaui spion.


"Tidak akan terjadi apa-apa. Berdo'alah!" Balas Gio.


Di mobil Gara, lelaki itu tak henti-hentinya mengusap keringat yang mengucur di kening Alula.


"Cepatan Pak Andi!"


"Iya, tuan. Sebentar lagi sampai!"


Pak Andi segera membelokkan mobilnya memasuki rumah sakit. Beberapa perawat sudah menunggu didepan dengan brankar dorongnya. Gio sudah menghubungi mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Tuan sebaiknya tunggu disini. Kami akan sebaik mungkin membantu persalinan nyonya." Ujar seorang perawat.


Gara hanya menurut. Ia membirakan perawat itu masuk dan menutup pintu ruangan. Ia hanya bisa berdiri di depan ruangan dengan perasaan cemas.


"Ayah," Lelaki itu menoleh mendapatkan panggilan.


"Bagaimana Ibu?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Darren.


"Ibu akan baik-baik saja. Ayo, kita duduk dulu." Gara menuntun kedua putranya ke kursi tunggu yang berada di depan rungan tersebut. Ia berusaha tenang agar tidak membuat kedua putranya meresa cemas.


"Kak, aku akan menelpon Ayah dan Viko." Ujar Gio.


"Ya, sekalian Ayah dan Ibu mertua."


"Baiklah." Gio berjalan sedikit menjauh lalu mulai menelpon mereka.


Setelah melakukan tugasnya, Gio kembali duduk bersama Gara dan si kembar. Perasaan Gara tidak tenang. Ia terus menggumamkan doa dalam hati untuk keselamatan Alula dan anak mereka.


Gara kembali berdiri dan melangkah ke arah pintu ruangan. Dia bolak balik tidak tenang disana.


"Gara," Gara langsung menoleh saat mendengar namanya di panggil. Ia mendekati Ayah mertuanya yang baru tiba dengan Ibu mertua dan Elisa. Mereka baru selesai melakukan pertemuan dengan sahabat lama Zarfan. Karena tempatnya cukup dekat rumah sakit, mempersingkat waktu mereka untuk sampai di tempat itu.


"Darren Darrel," Elisa dan Disa mengambil tempat disisi Darren dan Darrel.


"Apa kata dokter?" Zarfan memegang bahu Gara.


"Dokter tidak mengatakan apa-apa, Yah."


"Tidak akan terjadi apa-apa pada Alula, tenanglah!" Ujar Zarfan mencoba menenangkan Gara, yang hanya dibalas anggukkan lelaki itu.


Tak lama setelah Zarfan duduk, Ginanjar dan Viko muncul. Dia menghampiri putranya yang masih setia berdiri bolak balik di depan pintu.


"Ayah," Ujar Gara, melihat Ayahnya.


"Bagiaman keadaan istrimu?" Tanya Ginanjar.


"Aku tidak tahu. Belum ada informasi apa-apa dari mereka."


Semua terdiam. Masing-masing menunduk dan berdoa dalam hati untuk keselamatan Alula dan anaknya. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar tangis bayi yang membuat semuanya menarik senyum dan mengucap syukur.


"Ooeee... Ooeee..." Suara tangis bayi terdengar.


Zarfan dan Ginanjar sama-sama menghampiri Gara dan memeluknya. Gara tidak bisa menahan rasa harunya dan membiarkan air matanya menetes.


"Ayah, Ayah mertua, anakku sudah lahir." Ujarnya sambil memeluk kedua lelaki itu.


"Iya, nak. Kami mendegarnya." Ujar Ginanjar.


"Selamat, nak." Ucap Zarfan


Kedua lelaki paruh baya itu melepas pelukan mereka. Sekarang berganti Gio dan Viko yang memeluk Gara. "Selamat, kak." Ujar keduanya bersamaan.


Suara pintu terbuka membuat semuanya mendekat. Seorang dokter keluar, lalu membungkukkan badannya pada mereka.

__ADS_1


"Selamat, tuan. Anak anda sehat dan berjenis kelamin perempuan. Istri anda juga baik-baik saja." Ujar seorang dokter wanita dengam senyuman. Gara menarik nafas lega setelah mendengarnya.


"Apa sudah bisa melihatnya?"


"Sudah, tuan. Tapi, sebaiknya setelah nyonya dipindahkan ke ruang rawat." Ujar sang dokter. Gara hanya menurut. Apapun yang terbaik untuk keluarganya, ia akan lakukan.


***


Setelah Alula di pindahkan, Gara segera menemui istrinya. Ia tidak bisa menahan air matanya saat melihat Alula yang terbaring diatas brankar.


"Sayang," Ujarnya langsung memeluk Alula. "Aku mencintaimu." Ujarnya lagi, mengecup seluruh wajah Alula dan terakhir di bibirnya. Semua yang melihatnya dari ambang pintu tersenyum. Kebahagiaan yang meliputi Gara dan Alula menular pada mereka.


"Dimana putri kita?" Tanya Gara.


"Dia sedang di bersihkan." Alula mengulas senyum. Sekali lagi, Gara memeluknya. Ucapan terima kasih tidak hentinya terlontar dari bibir Gara.


"Terima kasih,"


"Sayang, kamu sudah mengucapkannya berkali-kali."


"Ini semua tidak cukup. Aku begitu bahagia." Balas Gara.


Alula menatap ke arah pintu. Disana, ia melihat keluarganya berdiri menatap ke arahnya sembari tersenyum. Ia pun mengulas senyum menyapa mereka.


"Apa kalian hanya ingin berdiri disitu?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Gara, saat ikut menoleh ke arah pandang Alula.


Mendengar perkataan Gara, semuanya kembali mengulas senyum. Satu persatu melangkah masuk menghampiri Alula.


"Ibu," Darren dan Darrel berucap bersamaan.


"Sini, sayang!" Alula mengecup kening kedua putranya. Disa dan Elisa pun bergantian memeluk Alula. Sementara keempat lelaki itu mengucapkan selamat untuk Gara dan Alula juga pada si kembar.


"Permisi tuan, bayi nyonya Alula sudah di bersihkan." Seorang suster datang bersama putri Gara dalam gendongannya.


Gara terlihat kagum melihat bayi kecil dalam gendongan sang suster. Ia merasa senang sekaligus gugup. "Biarkan aku menggendongnya!" Ujarnya. Tangannya gemetaran saat ia ulurkan untuk meraih bayi mungil itu.


"Kak! Jika tanganmu gemetaran, jangan kau gendong dulu. Aku takut ponakanku terjatuh nanti." Ujar Gio yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gara.


"Diam kau!" Hardik Gara, yang hanya dibalas kekehan oleh Gio.


Gara meraih putrinya dan mendekapnya dalam gendongan. Lagi-lagi matanya mulai memerah. Ia tersenyum pada si bayi, kemudian menoleh pada dua putranya. "Darren, Darrel, sini nak!"


Kedua anak itu segera mendekat. Gara menundukkan sedikit tubuhnya agar si kembar bisa melihat adek mereka.


"Hallo, adek." Sapa mereka bersamaan.


"Ayah, apa boleh kami menciumnya?" Darrel menatap wajah Gara.


"Boleh,"


Mendapat persetujuan Gara, Darrel pun mendekatkan wajahnya dan mencium sang adek. Begitupun Darren, ia juga mencium adeknya. Bahkan lebih lama dari Darrel.


"Siapa namanya, Yah?" Tanya Darren.

__ADS_1


"Namanya, Alisha Putri Grisam." Ujar Gara. "Nama tengahnya ku ambil dari nama mendiang putri ayah mertua. Semoga sosok putriku bisa menjadi obat rindu atas kehilangan putri Ayah dan Ibu mertua." Sambungnya, membuat semua yang mendengarnya tersenyum.


Zarfan, Disa, Elisa maupun Alula meneteskan air mata dalam senyum mereka. Tidak terpikir oleh mereka jika Gara akan memiliki pemikiran seperti itu. Gara, dia memikirkan hal yang tidak pernah terlintas sedikitpun di benak mereka semua. Dibalik sikap dingin dan kejamnya, Gara memiliki sisi lembut yang jarang ia tunjukkan.


__ADS_2