
Sudah sembilan hari Darrel di rumah sakit. Sekretaris Kenan juga sudah melewati hari liburnya. Gara tetap menemani Darrel meskipun ia harus kerja.
"Keadaan Darrel sudah baik-baik saja. Besok sudah bisa pulang." Ucap dokter yang baru saja memeriksa Darrel.
"Terima kasih, dok." Ucap Alula.
"Gimana? Udah sehat kan?" Tanya Gara, mengacak rambut Darrel.
"Telima kasih ya paman, udah jagain Dallel selama Dallel sakit." Ucap Darrel, tersenyum pada Gara.
"Sama-sama. Ayo, Darrel mau makan apa?" Balas Gara.
"Dallel mau makan makanan pedas."
"Gak boleh! Darrel jangan makan makanan pedas dulu ya?" Tahan Alula, tidak mengizinkan Darrel.
"Ya sudah, makanan yang lain aja." Timpal Gara.
"Telselah paman aja deh. Dallel ikut aja. Asalkan makanan, Darrel suka." Ujar Darrel, kembali ceria seperti biasa nya.
"Kalau Darren, mau makan apa?" Gara beralih pada Darren.
"Terserah paman." Jawabnya singkat.
"Baiklah. Kenan belikan makanan terenak di restoran xx. Pastikan jika tidak mengandung banyak micin."
"Baik tuan."
Sekretaris Kenan segera menuju restoran xx. Dia akan meminta koki terbaik di tempat itu untuk memasakkan sesuatu yang bergizi untuk kedua tuan mudanya.
"Dallen, apa Asya mengganggu mu di sekolah?" Tanya Darrel berusaha menggoda Darren. Ia tahu, jika kakak kembarnya itu tidak suka membahas tentang Asya.
"Dia menanyakan mu, bukan aku." Jawab Darren, tanpa ekspresi.
"Tapi, ia ingin berteman dengan mu."
"Aku sudah berteman dengannya."
"Kapan?"
"Aku malas berbicara, Darrel." Darren sudah tidak ingin berbicara lagi. Entahlah, berbicara banyak adalah hal yang paling ia hindari.
"Oh ya, Alula. Surat pengunduran diri kamu waktu itu, saya tolak. Kau belum genap sebulan bekerja. Aku rasa, kau tidak lupa dengan kontraknya." Ujar Gara, membuat Alula menunduk, mengingat kontrak kerjanya.
Ya Tuhan, benar. Aku sampai lupa dengan kontrak kerja itu. Jika tuan menyetujui pengunduran diriku, sudah pasti aku membayar seratus juta padanya. Batin Alula.
"Ibu mengundurkan diri?" Tanya Darrel, yang memang tidak tahu jika Alula mengundurkan diri. Sementara Darren, ia hanya mendengarkan pembicaraan mereka. Masalah Alula yang ingin mengundurkan diri, sudah ia ketahui lewat alat penyadap yang ia pasang waktu itu.
"Ya, Ibu mengundurkan diri."
"Kenapa?"
"Sudahlah! Kamu baru saja sembuh. Sebaiknya Kamu istirahat."
Alula menarik selimut, menutupi kaki Darrel hingga ke dada. Setelah itu, ia beranjak keluar.
"Mau kemana Bu?" Tanya Darren, melihat Alula yang hendak keluar.
"Ibu mau keluar sebentar. Apa kamu mau ikut?"
"Tidak."
Alula beralih menatap Gara. Lelaki itu juga ikut menatapnya. Alula menunduk hormat padanya.
"Saya mohon izin keluar sebentar, tuan. Tolong jaga anak-anak saya." Ucap Alula, keluar tanpa menunggu jawaban Gara.
"Kira-kira, kemana Ibu mu pergi?" Tanya Gara pada Darren. Anak itu hanya mengedikkan bahunya, tidak tahu kemana Alula akan pergi.
__ADS_1
Gara mendengus. Ternyata, kesal juga berbicara dengan orang irit bicara seperti Darren.
"Paman." Panggil Darren membuat Gara menoleh. Tapi, ia menoleh pada Darrel yang tertidur bukan Darren.
"Darren yang panggil, paman." Gara kembali memutar kepalanya menghadap Darren.
"Paman pikir, Darrel yang manggil. Padahal kamu. Ada apa?"
"Paman suka sama Ibu?" Tanya Darren, langsung pada intinya.
"Ya. Sebagai laki-laki, paman menyukai Ibu mu."
"Cinta?"
"Kalau cinta, mungkin. Mungkin paman juga cinta sama Ibu kamu."
"Jika hanya mungkin, aku tidak bisa memaksa. Tapi, jangan dekati Ibu ku jika paman tidak mencintainya." Ujar Darren.
"Tidak-tidak. Aku akan tetap mendekati Ibu kalian. Aku merasa sudah mulai mencintai Ibu kalian."
"Baiklah. Aku akan membantu paman agar bisa bersama Ibu." Ujar Darren, penuh keyakinan.
"Aku juga." Ucap seseorang dari brankar.
Gara dan Darrel segera menoleh. Terlihat, Darrel sedang duduk bersandar di sandaran brankar.
"Kamu nguping?"
"Enggak. Aku gak tidur dari tadi." Balas Darrel dengan cengirannya.
Gara tersenyum. Putranya sudah kembali ceria sepeti biasa.
***
Alula berjalan-jalan di taman rumah sakit. Ia tidak ingin mengganggu waktu Gara bersama anak-anaknya. Sudah cukup lama Gara jauh dari mereka. Ini saatnya Gara memiliki waktu bersama mereka.
"Irene? Eh, maaf nona Irene maksud saya." Koreksi Alula saat melihat wanita itu benar Irene, perempuan yang menemui Gara waktu itu.
"Tidak apa-apa. Panggil saja aku Irene. Kamu sekretaris Alula kan? ." Balas perempuan itu, mengusap sisa air matanya.
"Iya." Jawab Alula. "Boleh aku duduk?" Tanya Alula, sedikit ragu jika Irene mengizinkannya.
"Duduk saja. Ini milik umum, bukan milikku." Balasnya, membuat Alula tersenyum.
"Apa kau sedang ada masalah?"
"Aku tidak suka menceritakan urisan pribadi."
"Maafkan aku."
"Tidak ma..."
"Nona Irene!" Panggilan seorang suster memotong ucapan Irene. "Ayah anda anfal." Sambung si suster, membuat Irene segera berlari, tak peduli dengan Alula di sampingnya.
Kasihan Irene. Lebih baik aku mengikutinya.
Alula menyusul Irene ke ruangan Ayah Irene. Disana, ia melihat Irene menunduk menopang keningnya.
"Maaf nona, Ayah anda harus segera di operasi. silahkan urus biaya administrasi nya." Ujar salah satu suster yang keluar dari ruangan Ayah Irene.
Air mata Irene semakin menetes. Dari mana uang seratus juta untuk biaya operasi Ayahnya. Kemana lagi dia harus mencari uang.
"Irene." Panggil Alula, membuatnya mendongak.
"Apa ini alasan kamu ketemu tuan Gara waktu itu?" Tak ada jawaban, hanya anggukkan kepala yang ia tunjukkan.
Alula mrngambil tempat di samping Irene.
__ADS_1
"Maafkan aku. Jika aku tidak melakukan itu, bagaimana aku mendapat uang untuk biaya operasi Ayah. Aku pikir, tuan Gara akan menerima aku dan membayarnya. Ternyata aku salah. Tuan Gara tidak tergiur sama sekali dengan rayuan wanita."
"Kau tenanglah! Aku akan membantu mu."
"Tidak perlu. Kau pasti, juga membutuhkannya."
"Aku Belum membutuhkannya. Kau pakai dulu uang ku." Alula menyodorkan Atm nya pada Irene.
"tapi,"
"Pakai saja! Didalam sini, ada sepuluh juta. Pin nya, 653987. Aku akan mencari pinjaman lagi untuk mu." Ujar Alula, langsung berlari meninggalkan Irene.
Dia sangat baik. Batin Irene.
Alula berlari menuju ruangan Darrel. Saat membuka pintu, terlihat Darrel dan Darren sedang makan. Darrel berada di pangkuan Gara.
"T-tuan, aku ingin berbicara sebentar."
Gara mengernyit. "Ada apa?" Tanyanya bingung.
"Aku tidak akan membicarakan nya disini. Ini sangat penting." Ujar Alula.
"Baiklah. Darrel, turun sebentar! Paman ingin berbicara dengan Ibu kalian."
Tak banyak bicara, Darrel turun dari pangkuan Gara. Laki-laki berjas itu, bangun dan segera menuju Alula.
"Apa yang ingin di bicarakan?"
"Tidak disini. Ayo, ikut!" Ujar Alula, menarik tangan Gara keluar dari ruangan Darrel. Hal itu membuat Gara tersenyum.
Alula mendorong pintu ruangan khusus untuk Gara di rumah sakit itu. Sepertinya, rasa takutnya pada Gara sudah hilang.
"Apa kau ingin mengajakku bersenang-senang disini?"
"T-tidak tuan! Aku hanya ingin berbicara dengan mu."
"Katakan!" Perintah Gara.
"Aku ingin meminjam uang sembilan puluh juta pada tuan." Ucap Alula, menunduk tidak berani melihat Gara.
"Untuk apa? Bukankah perawatan Darrel bebas bayaran?"
"Ini untuk teman ku."
"Siapa?"
"Irene."
"Irene, si wanita yang datang ke ruangan ku waktu itu?" Alula mengangguk. "Sejak kapan kau berteman dengannya?" Lanjut Gara.
"Sejak tadi. Maksud ku, barusan."
"Kau tidak perlu meminjam untuknya. Dia wanita penggoda, pasti banyak uang."
"Jika tuan tidak ingin membantunya, maka tidak usah membantu. Jangan merendakan dia seperti itu." Ujar Alula, lalu hendak pergi. Namun, Gara menahan tangannya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud merendahkannya."
"Tidak masalah."
"Aku akan membantunya. Bawalah kartu ini." Ujar Gara, memberikan kartu kredit miliknya.
"T-tuan, ini kartu kredit..."
"Bawalah! Pakai sesuka hatimu. Kartu itu sekarang milikmu. Pin nya, tanggal lahir mu." Ujar Gara, lalu keluar tanpa berbicara lagi.
Alula hanya bisa bengong memerhatikan kartu kredit tanpa batas itu. Bagaimana bisa kartu itu miliknya. Dia hanya meminjam, bukan meminta.
__ADS_1
Apa yang tuan Gara pikirkan? Aku hanya meminjam uang, bukan meminta kartu kredit nya. Tapi, aku akan tetap menggunakan nya. Setelah selesai, baru aku kembalikan.