Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Menemani Gara di Rumah 1


__ADS_3

Setelah perbincangan yang cukup panjang dengan Ana, mereka pun pulang. Gio mengantarkan Alula, Darren dan Darrel ke rumah. Setelah itu, mobilnya kembali melesat untuk menyelesaikan urusannya.


Alula membaringkan tubuhnya di kasur. Dia cukup bahagia bisa bertemu kembali dengan sahabatnya. Walau tidak semua kisah hidupnya ia ceritakan pada Ana, tapi setidaknya ia menceritakan sebagian yang membuatnya merasa lebih baik.


Handphone yang berdering membuat Alula menoleh. Di raihnya handphone dari atas nakas. Tertera nama sekretaris Kenan di layar.


Sekretaris Kenan? Untuk apa ia menelpon malam-malam. Batin Alula.


"Hallo sekretaris Kenan?"


"Hallo nona Alula, maaf mengganggu malam-malam."


"Tidak masalah. Apa ada hal penting?"


"Ya, tuan Gara meminta anda untuk ke rumahnya."


"Apa? Tapi, ini sudah malam. Bagaimana dengan anak-anak saya?"


"Anda boleh mengajak mereka."


"Tapi..."


"Maaf nona, tuan Gara tidak menerima penolakan."


Alula menarik nafas. "Baiklah. Apa aku membawa serta dokumen untuk presentasi besok?"


"Ya. Saya akan menjemput nona. Kalau begitu saya tutup nona." Ujar sekretaris Kenan, menutup telponnya.


Untung aku membawa pulang dokumen itu. Batin Alula.


Alula segera memasukkan dokumen yang akan ia bawa. Setelah itu, ia menuju kamar Darren dan Darrel. Kedua anak itu belum tidur. Terbukti saat pintu di buka dengan cepat pada ketukan pertama.


"Ada apa Bu?" Tanya Darren.


"Tuan Gara meminta Ibu ke rumahnya. Ibu dibolehkan membawa kalian juga."


"Benalkah?" Tanya Darrel memastikan.


"Iya. Cepat siap-siap, sekretaris Kenan akan menjemput kita."


Setelah memberitahukan kedua putranya, Alula kembali ke kamar. Tak berapa lama, ketiganya berkumpul di ruang tamu.


"Itu pasti sekretaris Kenan. Tunggu disini, Ibu akan melihatnya." Ujar Alula kemudian berjalan ke arah pintu.


"Selamat malam nona." Sapa Kenan, yang sudah berada di depan pintu.


"Selamat malam." Balas Alula


"Mari nona, tuan Gara sudah menunggu di rumah."


"Ayo Darren, Darrel."


Darren dan Darrel keluar bersamaan. Darrel menatap sekretaris Kenan yang berdiri menjulang di depan pintu.


"Hallo paman," sapa Darrel.


"Hallo." Balas sekretaris Kenan, kemudian berjalan terlebih dahulu, layaknya penunjuk jalan.


Darrel memiringkan kepalanya agar lebih dekat dengan telinga Darren. Kemudian ia membisikkan sesuatu.


"Dallen, kenapa setiap pamam yang kita temui pada tampan-tampan? Peltama paman Gio, telus paman asing, lalu paman ganteng..."

__ADS_1


"Siapa paman ganteng?" Tanya Darren, sedikit menjauhkan telinganya dari mulut Darrel.


"Itu paman Gala," Darren mengangguk.


"Dan sekalang, paman sekletalis. Kenapa ya?" Sambung Darrel.


Darren menatapnya sekilas, lalu mengedikkan bahu. Kemudian berjalan menyusul sekretaris Kenan bersama Alula.


Darrel menarik nafas. Berbicara dengan Darren sama saja berbicara sendiri.


Mobil melaju menuju rumah Gara. Suasana dalam mobil tidak sehening saat pulang bersama Gara waktu itu. Darrel asyik berceloteh, menanyakan sesuatu yang ia temui saat perjalanan. Sedangkan sekretaris Kenan, dia hanya memperhatikan Darren dan Darrel melalui kaca mobil.


Benar-benar mirip tuan Gara. Batin Kenan.


Semoga ingatan tuan segera pulih. Sambungnya dalam hati.


Mobil yang di tumpangi Alula dan kedua putranya berhenti di depan rumah besar. Mereka turun dan menatap takjub rumah Gara.


"Mari nona, saya antarkan ke dalam." Ucap sekretaris Kenan, mempersilahkan Alula, Darren dan Darrel masuk.


"Silahkan masuk nona, tuan ada didalam." Ucap sekretaris Kenan lagi, saat sampai di depan kamar Gara.


Alula mengangkat tangannya, dengan ragu mengetuk pintu. "Tuan, ini saya, Alula."


"Masuk." Jawab Gara dari dalam.


Alula meraih hendel pintu dan membukanya. Terlihat, Gara yang sedang berbaring membelakangi pintu. Alula memasuki kamar Gara dengan langkah pelan. Sementara Darren dan Darrel, ikut bersama sekretaris Kenan.


"Permisi tuan," ujar Alula, lembut.


Gara membalikkan tubuhnya menatap Alula. "Kau sudah datang."


"Ya, tuan. Saya membawa beberapa dokumen untuk presentasi besok."


Hah? Aku disuruh kesini untuk membuatkannya makanan? Rumah sebesar ini apa tidak ada pembantunya? Tapi, aku tidak melihat ada pembantu disini. Hanya ada penjaga diluar rumah.


"Hei! Kenapa bengong?"


"Ah, maaf tuan. Saya akan memasak. Tuan mau saya masakan apa?"


"Terserah kamu!" Ujar Gara, membalikkan lagi tubuhnya membelakangi Alula.


"Kalau begitu, saya permisi tuan."


"Ya." Balas Gara, masih dengan posisi yang sama. Namun, setitik senyum muncul di bibir Gara. Entahlah, ia merasa bahagia saat Alula bersama Darren dan Darrel mengunjunginya.


Darren dan Darrel? Ya, dia ingat. Dia meminta sekretaris Kenan mengizinkan kedua anak itu untuk ikut. Tapi, dimana mereka sekarang. Gara bangun dan meraih handphonenya.


"Kenan, antarkan Darren dan Darrel kemari." Perintah Gara dan langsung menutup telponnya.


Gara kembali berbaring. Tak lama kemudian pintu kamarnya di ketuk. Pintu kamar terbuka dan masuklah sekretaris Kenan beserta Darren dan Darrel.


"Kau boleh keluar Kenan." Titah Gara yang langsung di-iyakan sekretaris Kenan.


"Hai paman ganteng." Sapa Darrel.


"Selamat malam paman." Ujar Darren.


"Hai Darrel. Selamat malam Darren." Balas Gara.


"Apa tadi kau bilang Darrel? Paman ganteng?"

__ADS_1


"Ya,"


"Terima kasih." Ujar Gara dengan senyuman.


"Paman sakit?" Tanya Darren membuat Gara menoleh ke arahnya.


"Tidak. Hanya sedikit pusing."


"Paman sudah minum obat?" Timpal Darrel.


"Tidak perlu. Ini hanya sementara, nanti akan hilang sendiri."


"Baiklah."


Darren, Darrel dan Gara terlibat pembicaraan yang panjang. Gara yang berbaring kini terbangun, bermain bersama keduanya. Rasa pusingnya perlahan mulai menghilang.


Sesekali, ia tertawa mendengar lelucon yang dibuat Darrel. Bahkan ia yang lebih dulu menggoda Darren untuk tertawa.


"Paman, Dallen, aku punya tebak-tebakkan."


"Apa?" Tanya Gara pada Darrel.


"Tapi, ada syaratnya. Kalau paman salah, paman harus gendong Dallel. Kalau Dallen salah, Dallen halus nyanyi. Kalian halus ikutin pelintah Dallel."


"Baiklah. Paman setuju." Jawab Gara. Sedangkan Darren, tidak ada respon apa-apa dari anak itu.


"Baiklah, kita mulai. Ayam berkokok hari mau?"


"Ya, harimau mengaum." Jawab Gara cepat.


"Pagi." Jawab Darren, datar.


"Yaa... Paman salah. Dan Dallen benal. Paman halus gendong Dallel."


"Ya, ya. Paman akan gendong Darren."


Astaga, aku di permainkan anak kecil. Tapi, aku bahagia. Semoga semuanya cepat terbukti dan ingatanku segera pulih. Aku menyayangi kalian. Batin Gara.


Di dapur, Alula telah selesai memasak. Ia menghidangkan semuanya di meja, kemudian memanggil Gara bersamanya. Saat tiba di depan kamar Gara, ia melihat pintu kamarnya sedikit terbuka.


Ia melangkah lebih dekat pada pintu. Terlihat pemandangan yang tidak pernah ia lihat. Disana, Gara tertawa lepas bersama kedua putranya.


"Benar, Darren kau sudah punya pacar di sekolah?"


"Tidak."


"Bohong paman. Dallen di Sekolah banyak yang suka. Telmasuk Asya. Tapi Dallen selalu dingin. Jika tidak dingin, Dallen akan berubah sepelti singa."


"Hahaha... Benarkah? Ya ampun Darren."


"Tidak. Darrel!" Kata Darren, dengan gigi begemelatuk dan juga tatapan menghunusnya.


"Sudah-sudah. Kau yang seperti ini sangat menggemaskan di mata paman." Ujar Gara mengusap rambut Darren. Seketika, tatapan tajam Darren mulai berubah melembut.


"Apakah aku tidak?" Tanya Darrel.


"Kau juga. Kalian berdua adalah jagoan paman." Ujar Gara, langsung memeluk keduanya.


Alula yang melihat pemandangan itu, meneteskan air mata. Ada sesuatu yang perih dalam hatinya. Kedua putranya berada bersama ayah kandung mereka, tertawa bersamanya, bahkan memeluknya. Namun, hanya sebatas memanggilnya paman, bukan ayah.


Darren yang berada di pelukan Gara, tak sengaja melihat Alula dari celah pintu yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Ibu?" gumam Darren yang masih di dengar oleh Darrel dan Gara. Keduanya menoleh dan melihat Alula di balik pintu.


"Alula." Gumam Gara.


__ADS_2