Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Karma


__ADS_3

Bulan demi bulan terus berlalu. Gio setelah sebulan pernikahannya bersama Ana memutuskan untuk pindah rumah. Tidak jauh, hanya sepuluh menit waktu yang ditempuh dari rumah Gara.


Saat ini mereka sedang berkumpul di rumah Gio. Alula, Gara, si kembar dan juga Alisha duduk bersama di ruang tengah rumah Gio. Ana dengan perutnya yang sudah mulai membuncit terus menempel pada Gio.


"Bulan ini udah konsultasi ke dokter, An?" Tanya Alula, tersenyum pada Ana.


"Udah. Kata dokter, semuanya baik-baik saja. Tapi, aku harus memperhatikan pola makan." Balas Ana.


"Ya, dia makannya sangat banyak. Tidak teratur lagi." Timpal Gio.


"Kamu harus terus memperhatikannya. Kurangi pekerjaanmu di kantor. Berikan perhatian dan waktu yang cukup untuknya." Ucap Gara.


"Ya. Aku sudah mengatur semuanya." Ujarnya lalu di akhiri kekehan.


"Kenapa tertawa?" Tanya Gara dengan alis menukik tajam. Pasti adiknya itu sedang menertawakannya.


"Hahaha... Tidak. Aku rasa, kau seperti dokter saja."


"Ck. Aku mengatakannya karena aku pernah melewatinya."


"Ya-ya! Aku akan menurutimu, Kak."


Darren, Darrel dan Alisha duduk di lantai beralaskan karpet di ruang tengah itu. Gio sengaja membelikan mainan-mainan itu, agar saat ponakan-ponakannya datang, mereka tinggal menikmati mainan-mainan tersebut.


Alisha meletakkan kembali mainan-mainan itu, lalu berjalan menuju Alula. "Ibu, minum." Ujarnya. Alula meraih air putih yang dimintanya dari pelayan tadi. Ia lalu membantu putrinya minum.


"Aunty, kapan adek akan lahir?" Tanya Darrel. Ia menatap Paman dan Aunty nya.


"Masih lama, sayang. Usia kandungan aunty masih 4 bulan."


Darrel terus bertanya mengenai kehamilan Ana. Sementara Darren, dia hanya memperhatikan kembarannya itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Saat mereka sedang terlibat percakapan, tiba-tiba handphone Alula berdering. Wanita itu dengan cepat menjawabnya.


"Hallo, Bu."


"Hallo, Alula. Hiks..."


"Ibu kenapa?" Pertanyaan dengan nada khawatir itu menarik perhatian semua yang ada di ruangan itu.


"Hiks... Elisa, nak. Kakakmu Elisa, di rumah sakit. Dia mencoba bunuh diri... Hiks..."


"Ka-kakak... D-di rumah sakit mana?"


"Rumah sakit A."


"Alula akan kesitu, Bu."


Alula memutuskan panggilan tersebut. Satu tetes air mata jatuh mengenai pipinya. Gara yang melihatnya menjadi khawatir.


"Sayang, ada apa? Kenapa menangis?" Gara menangkup wajahnya dan mengusap air matanya.


"Kak Elisa, Gara. Kakak mencoba bunuh diri. Hiks... Dia di rumah sakit sekarang."


Gara membawanya dalam pelukan. Berusaha menenangkan istrinya. "Tenanglah! Ayo, kita ke rumah sakit!" Alula mengangguk.


"Kita ikut." Ujar Gio yang diangguki Ana.


"Ayo!" Gara menggendong Alisha. Sementara Alula, kedua tangannya menggandeng dua putranya menuju mobil.


***


Hampir 20 menit perjalanan, mereka pun tiba di rumah sakit. Mereka berjalan cepat menuju lobi.

__ADS_1


"Sus, ruangan untuk pasien atas nama Elisa?" Tanya Gio pada seorang suster yang ada di meja resepsionis.


"Tunggu sebentar, ya?" Suster tersebut menjawab dengan genit. Membuat Ana menjadi kesal melihatnya. Ana meraih lengan Gio dan memeluknya erat.


"Ruangannya..." Ucapan suster tersebut sedikit terjeda saat melihat kedua tangan Ana yang melingkar di lengan Gio. Bahkan tubuhnya sangat menempel pada Gio.


"Sus, ruangannya dimana?" Ulang Gio, membuat suster tersebut tersadar.


"Eh, maaf! Ruangannya di ruangan A. Jalan lurus saja, terus belok kiri." Ujarnya.


"Terima kasih, Sus! Ayo, sayang. Ayo, kakak ipar! Kita harus cepat!" Ujar Ana, membuat Suster tersebut tersenyum canggung.


"Kita pelan-pelan saja! Kamu sedang hamil. Biarkan kakak dan kakak ipar terlebih dulu." Ujar Gio. Ana tersenyum dalam hati. Ia memang sengaja memancing Gio untuk menunjukkan kekhawatirannya mengenai kehamilannya. Agar suster itu tahu, Gio adalah miliknya.


Alula, Gara, Darren, Darrel dan Alisha tiba di ruangan Elisha. Tak lama, Gio dan Ana juga menyusul. Disana, Zarfan dan Disa duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas.


"Ayah, Ibu!" Alula langsung berhambur ke pelukan Disa.


"Hiks... Bagaimana keadaan kakak, Bu. Hiks..."


"Ibu belum tahu. Dokter belum juga keluar." Ujar Disa.


Gara yang sejak tadi terdiam menatap Ayah mertuanya. "Kenapa dia bisa bunuh diri?" Satu pertanyaan keluar dari mulutnya. Sang Ayah mertua yang menunduk cemas mendongak menatapnya.


"Ayah juga tidak tahu. Dia melakukan itu di apartemen. Untung Ibu datang, dan menemukannya sudah tergeletak di lantai dengan pergelangannya yang sudah tersayat." Ujar Zarfan.


Darrel yang berdiri tak jauh dari Darren semakin menedekatkan tubuhnya pada Darren. "Darren, apa akan terjadi sesuatu pada tente?" Bisik Darrel, tepat di telinga Darren.


"Tidak akan terjadi apa-apa pada tante. Tenanglah." Balasnya dengan begitu tenang.


"Ayo, duduk dulu!" Ujar Gio pada istrinya. Dia juga menarik si kembar untuk duduk.


Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Keluarlah seorang dokter dan suster. Mereka dengan serentak menghampiri dokter dan suster tersebut.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?"


"Ahh... Syukurlah. Apa kami bisa melihatnya?"


"Ya. Kalau begitu saya permisi."


"Iya, dok! Terima kasih."


Setelah kepergian dokter dan suster, mereka segera memasuki ruangan Elisa. Wanita itu tertidur di brankarnya.


Gara yang tak sengaja melihat ada sobekan di sudut bibir Elisa yang mulai mengering mengerutkan keningnya. Ia merasa ada yang aneh. Bukan hanya Gara. Darren juga melihatnya. Namun, dua orang itu hanya diam, belum ingin bertanya.


"Ibu bersyukur, Ibu mengunjunginya hari ini. Jika tidak, dia pasti tidak akan terselamatkan. Hiks..." Ujar Disa.


"Ya, Tuhan memberimu petunjuk untuk menyelamatkannya." Ujar Zarfan mengusap pelan punggung istrinya.


Mereka terus menatap Elisa yang terbaring. Hingga tiba-tiba mereka dikejutkan dengan tangan Elisa yang bergerak, dan mata Elisa yang mengerjab pelan.


"Shhh... A-aku di-mana?" Ujarnya pelan, saat benar-benar tersadar.


"Elisa! Nak! Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu di rumah sakit, nak."


"Rumah sakit?" Elisa seolah tak percaya. "Kenapa membawaku ke rumah sakit?! Aku tidak mau ke rumah sakit! Aku tidak ingin hidup lagi! Kenapa kalian membawaku kesini?! Kenapa kalian menyelamatkanku?! Kenapa..."


"Kak! Kakak! Apa yang terjadi padamu?! Jangan seperti ini." Alula memeluk erat tubuh Elisa yang memberontak. Ia ikut menangis melihat Kakaknya.


"Lelaki itu! Dia brengsek, Alula! Dia menyakitiku! Dia menyakitiku! Dia jahat, Alula... Dia jahat." Ujar Elisa. Suaranya terdengar sendu di akhir kalimatnya.


"Tenanglah, kak! Ceritakan semuanya pada kami." Alula berusaha menenangkan Elisa. Dan ia berhasil melakukannya.

__ADS_1


"Aku benci padanya!" Ujar Elisa, kali ini tidak berteriak seperti tadi.


"Siapa, nak? Ayo, katakan!"


"Dia manager di perusahaan tempat Elisa bekerja, Bu. Manager Wang. Dia... Dia melecehkan Elisa, Bu. Hiks... Hiks... Dia mengambil kehormatan Elisa. Dan menyiksa Elisa." Jelasnya sambil terus menangis. Ia menundukkan wajahnya.


Manager Wang? Aku sepertinya pernah mendengar nama itu. Batin Gio.


Semua yang mendengarnya terdiam. Disa dan Zarfan terdiam kaku. Seolah kejadian menimpa Alula, terulang kembali. Begitupun dengan Alula. Pikirannya seakan melayang jauh. Dia seakan tidak mengerti dengan semuanya.


"Apa luka di sudut bibirmu itu, salah satu bukti penyiksaannya?" Ujar Gara, membuat semua menoleh padanya, kemudian menatap sudut bibir Elisa. Mereka tak menyangka Gara bisa sedetail itu memperhatikan Elisa.


Ternyata Ayah juga melihatnya. Batin Darren.


"Ya. Ini karena dia menamparku. Bukan hanya itu. Tubuhku juga di penuhi bekas pukulannya. Hiks... Itu karena aku memberontak melawannya. Hiks..."


"Seharusnya kalian membiarkanku mati! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padaku. Aku tidak ingin mengandung anaknya. Aku tidak mau memiliki anak yang akan di panggil anak haram. Aku tidak mau!" Ujarnya.


Tubuh Alula kembali terdiam kaku mendengar perkataan Elisa. Anak haram. Dua kata itu terus berputar di otaknya. Ada apa ini? Kenapa semua yang terjadi pada Elisa seolah mirip dengan kejadian yang menimpanya dulu.


"Alula! Maafkan aku. Ini mungkin adalah karma untukku. Perbuatanku dan Rendra menjadi awal masalah di hidupmu. Kau mengandung putra tuan dan aku menghina mereka dan menyebutnya anak haram. Ini adalah karma untukku. Balasan semua perbuatanku."


"Kak. Aku sudah benar-benar memaafkanmu. Aku benar-benar sedih atas apa yang menimpamu."


"Aku benar-benar membencinya, Alula. Dia lelaki jahat!"


"Maaf jika aku menyela." Ujar Gio yang sejak tadi terdiam. "Dimana tempatmu bekerja? Aku dan Kakak bisa membantu menyelidikinya dan menangkap manager tersebut."


"Di perusahaan D."


"Perushaan D?" Beo Gio. Dia sekarang ingat nama itu. "Apa namanya Wang Sutyo?"


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku baru saja membaca berita pagi tadi. Manager dari perusahaan D, Wang Sutyo mengalami kecelakaan tunggal dan tewas di tempat. Ini beritanya." Gio menunjuk berita yang ada di handphonenya.


Elisa membacanya dan menagis sejadi-jadinya. Apa yang akan dia lakukan jika dia benar-benar mengandung. Siapa yang akan bertanggung jawab. "Hidupku hancur, Yah! Aku sudah hancur, Bu! Siapa yang akan bertanggung jawab jika aku benar-benar mengandung nanti, Bu. Aku lebih baik mati, Bu."


"Elisa! Elisa sayang, tenanglah! Masih ada Ibu, Ayah, Alula dan yang lain. Kami tidak akan meninggalakanmu sendiri. Kami akan selalu bersamamu, nak." Ujar Disa. Memeluk anaknya itu.


"Iya, nak. Ibumu berkata benar. Kami akan terus bersamamu. Kami tidak akan melakukan keslahan yang sama lagi, seperti apa yang kami perbuat pada Alula dulu." Ujar Zarfan, mengusap pelan rambut Elisa, tapi matanya melirik pada Alula.


***


Hari sudah semakin larut. Alisha sudah tertidur. Begitupun si kembar yang sudah tertidur lelap di kamar mereka. Alula yang masih terjaga, duduk di sisi ranjang.


"Apa kamu masih belum mengantuk?" Gara keluar dari ruang ganti dan langsung menuju ranjang. Lelaki itu baru kembali dari ruang kerjanya dan langsung mengganti baju tidur.


"Ayo, mendekat!" Ujar Gara, menepuk sisi ranjang di dekatnya. Alula menurut. Ia bergerak mendekatinya dan berbaring.


Gara tersenyum dan membawanya ke dekapannya. "Ayo, tidurlah!" Ujar Gara.


"Sayang," Panggil Alula.


"Hmmm?"


"Aku terus berpikir soal Kakak. Apa benar ini adalah karma untuk kakak?"


"Jangan berpikir soal itu lagi. Ini adalah musibah."


"Tapi, aku sangat kasihan pada Kakak. Kakak sangat sedih atas apa yang menimpanya."


"Dia tidak pernah kasihan atas apa yang menimpamu dulu. Sudahlah! Jangan dipikiran lagi. Sedihnya akan hilang setelah kepastian kehamilannya terjawab nanti. Kita tunggu saja. Kamu tenanglah! Aku juga akan meminta orang menyelidiki manager Wang itu. Mungkin saja ada hal yang ada pada manager itu, yang bisa membuatnya tenang. Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Terima kasih, sayang."


"Ya. Tidurlah! Tidak baik begadang." Ujarnya mengecup kening Alula, lalu sama-sama memejamkan mata menuju alam mimpi.


__ADS_2