
Hari terus berputar. Ginanjar sudah berada di rumah Gara. Lelaki itu sudah dikabari Gara sebelum orang lain tahu mengenai pernikahannya. Dia begitu senang dan sangat setuju mendengar rencana Gara tersebut. Gara juga sengaja tidak membawa Alula saat meminta restunya. Laura sudah kembali. Dia wanita licik yang bisa melakukan apa saja. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Alula dan anak-anaknya saat membawanya ke kediaman sang Ayah.
"Kakek begitu sanang Ayah dan Ibu kalian akan menikah." Ujar Ginanjar saat sedang bersama Darren Darrel, bermain di ruang keluarga.
"Aku juga senang, Kek."
"Bagaimana denganmu, Darren?"
"Tentu saja senang. Aku berharap waktu berputar cepat, dan hari pernikahan segera tiba."
Darren, Darrel dan Ginanjar kembali bermain. Tidak peduli dengan suasana rumah yang sibuk. Semua pelayan rumah sibuk mempersiapkan acara makan malam bersama malam ini. Tuan mereka, Gara Ginanjar Grisam mengadakan acara makan malam bersama keluarga bersarnya. Ia ingin mengumumkan acara pernikahannya.
***
Malam menjelang. Beberapa mobil sudah terparkir di halaman rumah Gara. Semuanya berkumpul di ruang tamu bersama Ginanjar. Lelaki itu menyambut mereka seorang diri. Gio, dia masih betah di rumah sang Nenek. Dan Gara, dia kembali menarik Alula ke kamarnya saat wanita itu keluar tadi.
"Apa yang kamu lakukan? Kita harus menyam-hmm..." Gara langsung membungkam mulut Alula dengan bibirnya. Membuat wanita itu melotot kaget padanya. Namun, bukan Gara jika ia mengalah dalam hal itu. Ia tidak peduli jika Alula akan marah nanti.
Gara menyudahi ciumannya dan mengusap pelan bibir Alula. "Ayo, keluar! Merah di bibirmu sudah menghilang." Ujar Gara tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya menghapus lipstik merah itu. Dia begitu menarik perhatian. Aku tidak mau mereka terus menatapmu nanti." Gara memeluk Alula dengan posesif. "Siapa yang menyuruhmu memakai lipstik warna itu?"
"Aku sendiri yang memakainya. Aku hanya memakai apa yang tersedia untukku."
"Ck. Siapa yang bertugas menyiapkan semua keperluanmu?" Kesalnya. Ia menatap Alula lekat. "Lain kali, jangan gunakan warna itu kecuali hanya bersamaku." Ujarnya kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Alula. Namun, belum sempat bibirnya kembali menyentuh bibir Alula, wajahnya sudah terdorong oleh wanita itu.
"Su-sudah banyak yang datang. Tidak baik jika tak menyambut mereka." Ujar Alula, bergegas membuka pintu dan keluar.
Gara yang melihatnya hanya bisa mengulum senyum. Ia mengusap bibirnya, teringat bagaimana Alula melototinya. Dia begitu menggemaskan.
"Kenapa masih berdiri? Ayooo!" Rengek Alula sambil menarik tangan Gara.
"Kenapa balik?"
"Emm... banyak orang disana. Aku lebih baik bersamamu."
Gara tersenyum dan mengusap pelan rambut Alula. "Kamu kembali ke orang yang tepat." Ucap Gara.
__ADS_1
Sementara di ruang tamu, beberapa orang terus menanyakan Gara. Mencari-cari pemilik acara yang sejak tadi belum menampakkan dirinya.
"Dimana Gara?" Tanya seorang lelaki, adik angkat dari mendiang Ibunya,Tiara.
"Ada apa?" Suara itu membuat semua menoleh. Gara sedang berjalan mendekati mereka dengan tangan Alula yang digenggamnya kuat.
"Sudah lama tak mendengar kabarmu. Kau terlihat berbeda."
"Aku begitu terkenal di keluarga Grisam. Aku tidak yakin kau tidak pernah mendengar mereka berbicara tentangku."
Lelaki itu meneguk kasar ludahnya. Ucapan Gara mematikan niat basa basinya. Ia tersenyum canggung. Semua bahan pembicaraannya seketika lenyap begitu saja.
"Huh. Sudahlah! Ayo, makanannya sudah siap." Semuanya bergegas menuju ruang makan.
"Dimana kedua putramu, Gara?" Laura memulai pembicaraan saat di meja makan.
"Kedua putraku tidak suka mengurusi urusan orang lain." Balasnya.
Seketika wajah Laura berubah masam. Ia meremas kuat dress yang ia gunakan. Gara tidak pernah menghormatinya sedikitpun. Viko yang ada di samping Laura pun hanya terdiam memerhatikan sang Ibu dan sang Kakak.
Mata Gara menangkap beberapa sepupunya menatap Alula dengan penuh minat. Segera ia meraih tangan Alula dan menggenggamnya. "Jaga mata kalian!" Ujarnya, membuat mereka memalingkan wajah ke arah lain.
"Menikah?" Suara Laura terdengar lebih mendominasi dari semua yang hadir. Ia melirik Viko yang terlihat tersenyum. Anak itu turut senang mendengar kabar bahagia yang Gara sampaikan.
Sialan! Kenapa Viko malah terlihat sangat mendukungnya.
"Sebagai Ibumu, aku tidak setuju." Ucap Laura, tegas.
"Huh, aku tidak peduli. Aku mengundang kalian karena permintaan calon istriku, bukan untuk meminta persetujuan kalian. Dia menghargai kalian sebagai keluargaku. Jika bukan karenanya, aku tidak ingin repot mengundang kalian."
"Tapi Gara, kami tidak tahu latar belakang wanita itu. Bisa saja dia terlihat baik di depanmu, tapi dia memiliki niat buruk padamu." Ucap salah satu pamannya, adik tiri sang Ayah.
"Apa kau sedang membicarakan dirimu? Aku lebih tahu Alula dibandingkan dirimu."
"Sudahlah! Habiskan makan kalian. Orang renta tidak baik berkendara larut malam." Lanjutnya dengan nada datarnya.
"Gara! Apa kau tidak bisa hormat sedikit pada kami? Kami sudah bersedia memenuhi undanganmu, kenapa kau bersikap seperti ini?"
"Aku tidak berharap kalian semua mau datang. Pekerja-pekerja di rumahku mampu menghabiskan semua makanan ini."
__ADS_1
"Kau benar-benar kurang ajar! Kau tahu, wanita yang baik tidak pernah melahirkan sebelum menikah." Paman yang merupakan adik angkat Ibunya pun ikut bersuara.
"Yah, sudah! Sudah, Yah! Jangan malu-maluin." Tegur istri sang paman.
"Apa kalian tidak bisa tenang?" Suara datar Ginanjar terdengar. Semua terdiam sembari memandangnya.
"Meja makan bukan tempat untuk berdebat. Jika ingin, kalian bisa ke ruangan keluarga dan berdebat disana!" Lanjutnya bersamaan tatapan dingin yang ditunjukkanya.
Seketika semuanya terdiam. Meskipun begitu, tatapan kesal itu masih mereka lemparkan untuk Gara. Bahkan Alula yang terdiam juga ikut terseret. Mereka sadar, mereka tidak akan mampu melawan Gara. Dia begitu cepat menyadari pergerakan mereka.
Semuanya melanjutkan makan malam dalam keadaan hening. Setelah itu, kembali ke ruang keluarga dan berbincang disana. Tidak banyak yang mereka bicarakan, hanya seputar pekerjaan. Mereka tidak berani menyinggung pernikahan Gara lagi. Hingga tak terasa, hari semakin larut dan mereka berpamitan.
"Selamat, kak. Akhirnya, kakak dan kakak ipar melangsungkan pernikahan kalian. Aku sangat senang mendengar kabar ini."
"Terima kasih. Datanglah kemari sehari sebelum hari pernikahan." Balas Gara, sambil menepuk pelan punggung Viko.
"Tentu saja. Aku akan datang." Lelaki itu tersenyum tulus. Matanya teralih menatap Alula. "Selamat kakak ipar. Semoga kebahagiaan selalu meliputi kalian."
"Terima kasih, Viko."
"Oh ya, dimana kak Gio?" Tanya Viko sambil berbisik. Takut jika ada yang mendengarnya.
"Dia sedang berlibur." Jawab Gara yang diangguki Viko. Dia tidak ingin bertanya lagi. Menjaga rahasia itu agar tetap aman adalah janjinya. Dan dia harus menepatinya.
"Baiklah, kak, kakak ipar. Kalau begitu aku pulang dulu."
"Iya, hati-hati." Jawab Alula.
Setelah kepergian Viko, Alula bersama Gara kembali ke kamar masing-masing. Namun, baru beberapa langkah, ketukan pintu kembali terdengar. Keduanya kembali menghentikan langkah mereka. Melihat siapa yang kembali lagi.
Pelayan yang masih terjaga pun, membuka pintu. "Hai, Kak." Sapa orang itu dengan senyum tengilnya.
"Gio? Kau kembali malam-malam begini?" Alula tidak habis pikir atas tingkah sahabat sekaligus calon adik iparnya itu.
Gio berjalan mendekati Alula dan Gara. "Aku tiba pukul sepuluh pagi tadi. Aku menghabiskan hari ini bersama Ana. Saat aku pulang, aku melihat beberapa mobil di halaman. Aku yakin, akan ada masalah jika aku nekat masuk."
Gara sedikit menyunggingkan senyum mendengar penjelasan Gio. Tangannya terangkat menepuk pelan pundak Gio. "Kau pandai membaca situasi. Sudah! Cepat bersihkan dirimu, dan istirahatlah!"
"Siap, kak!" Jawabnya, lalu melenggang menuju kamarnya.
__ADS_1