
Hari berganti dengan cepat. Tiba dimana Gara dan Alula melangsungkan pernikahan mereka. Para karyawan Grisam Group diliburkan untuk hari itu.
"Nona sangat cantik." Ucap salah seorang wanita yang merias Alula. Beberapa orang yang ikut merias pun juga menatap kagum pada Alula.
"Tuan sungguh pandai memilih istri," Puji yang satunya lagi.
"Ya, kau benar." Timpal yang lainnya.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Nampaklah Zarfan bersama istrinya, Disa. Mata wanita itu berkaca-kaca melihat sang putri yang begitu cantik dengan gaun pengantin yang indah yang menempel pada tubuhnya.
"Ibu, kenapa menangis?" Alula menatap hangat sang Ibu.
"Maafkan Ibu, sayang. Ibu seharusnya tidak menangis di hari bahagiamu."
"Kenapa Ibu minta maaf. Harusnya aku yang minta maaf tidak bisa menjadi anak baik untuk Ibu. Aku menghilang..."
"Nak, bukan salahmu. Ayah dan Ibu yang terlalu egois. Kami yang seharusnya mendengarkan semua penjelasanmu, bukan langsung mengusirmu." Sambung Zarfan, tanpa peduli jika para perias itu mendengarnya.
"Ayah, semuanya sudah berlalu. Yang seharusnya kita pikirkan adalah masa depan."
"Ya, kamu benar. Aku dan Ibumu berjanji akan menjadi orang tua yang baik untukmu mulai sekarang dan dimasa depan. Walaupun kamu sudah memiliki segala yang kamu inginkan."
"Terima kasih, Yah, Bu."
"Ya sudah! Ayo, pernikahannya akan segera dimulai."
Zarfan dan Disa menggandeng Alula menuju tempat berlangsungnya pernikahan. Langkah demi langakah membawa Alula bertemu dengan Gara.
Gara yang mengenakan tuxedo hitam membuat kadar ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Lelaki dengan tuxedo hitam itu menatap kagum ke arah Alula. Pandangannya tak mampu ia alihkan dari wanita itu. Hingga tak terasa, Alula sudah berada di sampingnya.
Decak kagum dari para undangan yang hadir pun terdengar dimana-mana. Keserasian mereka membuat sebagian besar dari orang-orang yang hadir merasa iri.
"Ini juga salah satu moment yang ku tunggu." Gumam Irene pada Edo.
"Aku jadi teringat saat pernikahan kita waktu itu." Balas Edo sambil tersenyum manis pada Irene.
"Om Gara sangat tampan. Dan tante Alula, dia begitu cantik." Puji Asya, sambil menatap kagum ke arah pasangan pengantin itu.
Hal yang sama terjadi pada Gio, Ana, Tari dan Sadam. Keempat orang yang duduk bergandengan itu terus saja mengulas senyum.
"Aku sangat bahagia melihat mereka," Ujar Ana. Tatapannya sangat tulus pada Gara dan Alula.
"Kita juga akan merasakan hal bahagia ini, nanti." Balas Gio, membuat pipi Ana bersemu.
Sementara Tari, perempuan itu tidak berkedip sedikitpun saat menatap Alula dan Gara. Ia seolah terhipnotis oleh pemandangan didepannya.
"Tuan sangat tampan. Dan Alula, ia seperti bidadari yang membuat siapa saja tidak bosan menatapnya." Gumam Tari, menatap sambil menopang dagunya. "Ah, aku benar-benar patah hati hari ini. Tuan Garaku, sudah menikah. Dan pasangannya adalah sahabatku sendiri. Benar-benar menyakitkan." Lanjut Tari mendramatis.
"Jangan berlebihan." Tegur Sadam. "Jika kamu mau, minggu depan kita bisa menikah." Sambungnya, membuat Tari tersenyum malu.
__ADS_1
Disatu sisi, Gara dengan begitu lantang mengucapkan janji suci pernikahan mereka. Alula bahkan hampir menetaskan air matanya. Lelaki itu mencium keningnya dengan perasaan mendalam. Membuat hadirin ikut terhanyut dalam suasana tersebut.
Darren yang selalu berwajah datar, menyunggingkan senyum tipisnya. Dan Darrel, rasa bahagia yang menimpanya tak mampu ia tutupi. Ia terus tersenyum menyaksikan kedua orang tuanya yang sudah terikat dalam pernikahan. Ia memang belum begitu paham. Tapi, rasa bahagia itu seolah menggambarkan jika ia mengerti segalanya.
***
Tamu undangan terlihat lebih banyak dari acara pernikahan tadi. Resepsi pernikahan yang digelar Gara secara besar-besaran membawa karyawan Grisam Group dan beberapa karyawan anak perusahaan Grisam Group memenuhi lantai gedung yang dipakainya. Satu persatu dari mereka bergilir mengucapkan selamat pada Gara dan Alula. Tak lupa pula pada kedua putra kembar mereka yang tampan.
Puluhan wartawan juga ikut hadir untuk meliput pernikahan mewah sang CEO Grisam Group. Namun, Gara tetaplah Gara. Sikap posesifnya tidak akan pernah hilang. Dia hanya mengizinkan satu wartawan untuk meliputnya, dengan syarat tidak mempublikasikan wajah istrinya. Cukup yang hadir yang melihat wajah cantik istrinya. Publik tidak perlu tahu itu.
Sementara wartawan yang lain, mereka diizinkan masuk, tapi sebagai tamu bukan sebagai wartawan. Pengawalnya tersebar dimana-mana. Jika mereka melanggarnya, mereka tahu apa yang akan mereka dapatkan.
"Selamat, tuan. Semoga pernikahan kalian bahagia." Ucap seorang kolega bisnis Gara. "Selamat juga untukmu, nyonya. Semoga selalu bahagia." Ujarnya. Alula sedikit terkesiap mendengar orang itu memanggilnya nyonya. Namun, ia cepat tersadar, jika statusnya sekarang sudah berubah.
"Kalian anak-anak yang tampan. Selamat atas bersatunya kembali orang tua kalian. Semoga kebahagiaan terus meliputi kalian." Ujar kolega itu pada si kembar.
Setelah kolega bisnis Gara berlalu, muncullah Edo bersama istri dan anaknya. Wajah lelaki itu sudah menunjukkan kejahilannya.
"Ekhm. Selamat ya, sahabatku. Aku sangat bahagia melihat kau akhirnya menikah juga. Aku takut kau tidak akan menikah hingga kau tua. Dan pikiran orang..."
"Kau mengucapkan selamat untukku, atau sedang berpidatao? Banyak yang mengantri di belakangmu." Ucap Gara datar.
"Ck. Kau selalu seperti ini padaku. Kita ini sahabatan, apa kau menganggapku musuh?"
"Ya, kita sahabatan."
"Nah, beginikan enak. Ya sudah, selamat untuk pernikahanmu." Ujar Edo lalu beralih peda Alula.
Pipi Alula sudah semerah tomat. Gara yang mendengarnya pun tersenyum samar. Edo sialan itu bisa-bisanya mengalihkan pikirannya ke arah lain selain resepsi pernikahan ini.
"Selamat untukmu, tuan." Ujar Irene. "Selamat untukmu juga, Alula. Aku sangat bahagia. Semoga pernikahanmu selalu utuh dalam keadaan apapun." Ucapnya sambil memeluk Alula.
"Terima kasih, Irene."
Asya juga mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Tangan mungilnya mengusap pelan pipi Alula dan mengecupnya. Alula sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri. "Asya senang lihat tante bahagia. Asya juga ikut bahagia."
"Terima kasih, sayang." Balas Alula, mengecup keningnya.
"Darren Darrel, selamat ya? Asya juga turut senang."
"Telima kasih, Asya." Balas Darrel. Sementara Darren, ia hanya menatap Asya tanpa membalasnya.
Gio, Ana, Tari, Sadam dikuti Viko dibelakangnya pun memberikan ucapan selamat pada Alula dan Gara. Gio terlihat pandai menjaga sikapnya pada Gara, agar tidak timbul kecurigaan. Ingin sekali ia mengucapkan selamat sambil memeluk kakaknya. Namun, ia tidak ingin menimbulkan tanda tanya besar dibenak setiap orang yang melihat. Pasalnya, Gara tidak pernah terlihat berkontak fisik seperti berpelukan. Bahkan dengan Edo, sahabatnya sendiripun tidak pernah.
"Selamat untuk kalian berdua. Jagalah sahabatku dengan baik. Jangan sampai menyakitinya. Jika itu terjadi, aku yang akan mengirimnya jauh darimu." Ujar Gio pada Gara.
"Aku akan menemuinya dengan mudah jika dia jauh dariku." Balas Gara, begitu datar. Cukup menutup kecurigaan dari pasang mata yang tersembunyi.
Ana memeluk erat Alula. Sahabatnya melewati banyak duka sebelum mendapati kebahagiaan ini. Dia salah satu orang yang mengetahui bagaimana hidup Alula. Ia berharap, kesulitan itu tidak akan menghampiri Alula lagi.
__ADS_1
Tari, Sadam dan Viko memasuki giliran mereka. Setelah selesai, muncul sekretaris Kenan bersama seorang perempuan.
"Selamat tuan, atas pernikahannya." Ujar Kenan, sedikit menunduk pada Gara. "Selamat juga untukmu, nona." Ujarnya. Ia lalu bergeser pada si kembar. Membiarkan Hani, perempuan yang dibawanya tadi untuk memberikan selamat.
"Se-selamat a-atas pernikahanmu, tuan." Ucap Hani. Sebenarnya, ia bisa berbicara layaknya sekretaris Kenan berbicara pada Gara. Namun, kesalahan yang dia lakukan dan belum meminta maaf pada Gara lah yang membuatnya gugup dan takut jika Gara memarahinya.
"Berbicarah seperti biasanya, Hani!" Ujar Gara, membuatnya sedikit bernafas lega.
Tapi, tidak dengan Alula. Dia terkesiap dan langsung menoleh saat mendengar Gara menyebut nama Hani. Ia menatap Hani dengan perasaan yang tak mampu ia jelaskan.
"Ha-Hani?" Gumamnya yang membuat Gara menatap ke arahnya.
"Dia Hani, perempuan yang ingin kamu temui."
Perempuan itu langsung menunduk hormat pada Alula. "Salam, nona." Ujarnya. "Saya, Hani..."
"Calon istri saya." Hani yang sedang menunduk langsung menegakkan badannya. Ia menatap Sekretaris Kenan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tuan pernah mengatakan jika nona cemburu pada perempuan bernama Hani. Dialah orangnya. Dia yang telah menyelamatkan saya saat sedang menjalankan perintah tuan. Tuan merasa hutang budi dan membantu biaya kehidupannya. Jadi, nona tidak perlu cemas mengenainya."
Meskipun kamu menganggap ini sebagai balasan utang budiku padamu, aku tidak peduli. Aku benar-benar mencintaimu dan akan membuatmu sadar akan hal itu. Batin Sekretaris Kenan.
Alula tersenyum malu mendengar penjelasan sekretaris Kenan. Bagaimana dia bisa meragukan perasaan Gara padanya. Lelaki itu sudah membuktikannya dengan berbagai cara.
"Maafkan aku. Aku terlalu sensitif." Alula menggenggam tangan Hani, membuat wanita itu menatapnya. Ia tak menyangka, seorang nyonya dari keluarga terkenal mau menggenggam tangan gadis biasa sepertinya. Bahkan wanita itu meminta maaf padanya.
"No-nona, anda tidak pantas meminta maaf padaku. Aku yang seharusnya minta maaf karena membuatmu cemburu. Aku..."
"Tidak. Kau tidak salah. Ini salahku. Aku yang terlalu aneh. Tapi, aku bersyukur, karena rasa cemburu itu, aku semakin sadar jika aku tidak rela Gara bersama orang lain." Ucapnya. "Aku do'a kan semoga yang di ucapkan sekretaris Kenan tadi benar. Dan kalian bisa segera mewujudkannya." Lanjut Alula sambil tersenyum tulus ke arahnya.
***
Di kediaman Zarfan, Elisa baru saja selesai mandi setelah beberapa jam lalu kembali dari berliburnya. Handphonenya yang tak sengaja dirusaknya pun membuat ia malas mengabari orang tuanya jika ia kembali.
"Kemana sih Ayah sama Ibu? Sejak tadi belum juga kembali." Gumamnya sambil menyalakan televisi.
Matanya menatap serius ke arah televisi. Layarnya sedang menyiarkan pernikahan megah seorang CEO perusahaan terkenal, Grisam Group.
"Jadi, dia yang bernama Gara Emanuel Grisam, CEO dari Grisam Group yang terkenal dingin dan kejam itu? Dia benar-benar tampan. Rendra tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya." Gumamnya.
"Akkhh... Seandainya aku yang menjadi pengantin wanita, aku akan sangat bahagia. Memiliki suami tampan dengan tubuh sempurna, juga kaya. Benar-benar membuatku di atas awan." Ujarnya sambil berkhayal.
Namun semuanya sirna saat kamera tak sengaja menyorot bagian belakang pengantin wanita. Elisa langsung terkesiap. Meski hanya beberapa detik, ia merasa tidak asing dengan kilasan tubuh bagian belakang wanita itu. Rasa benci pada pengantin wanita tiba-tiba menguar begitu saja.
"Kenapa aku merasa sangat membencinya? Aku sepertinya mengenali perempuan itu. Tapi, siapa?" Gumamnya sambil berpikir.
"Sial!" Elisa mengumpat saat mengingat siapa yang memiliki gambaran tubuh bagian belakang yang sama dengan si pengantin wanita.
"Tidak mungkin itu Alula! Wanita tak tahu diri seperti Alula tidak mungkin menikah dengan CEO kaya raya."
__ADS_1
"Sialan kau Alula! Aku membencimu. Kau tidak pantas mendapat kebahagiaan." Ujarnya sembari meremas kuat remote yang digenggamnya.