
Sejak tadi, Gara dan Alula sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak ada di antara mereka yang membuka suara. Ruangan kerja Gara terasa begitu hening.
Gara menatap jam yang melingkar di tangannya. Tinggal satu jam lagi, akan ada rapat di perusahaan.
"Ayo berangkat!" Ucap Gara, berjalan mendahului Alula.
Alula meraih dokumen-dokumen yang harus di bawa dan menyusul Gara. Gara memasuki mobil, diikuti Alula yang duduk di sampingnya.
Mobil melaju. Tidak ada di antara mereka yang mengucap sepatah kata pun. Sampai mobil hampir memasuki perusahaan, Alula mulai bersuara.
"Tuan, sebaiknya saya turun di sini saja." Ucap Alula.
Tak ada jawaban, hanya decitan mobil yang berhenti terdengar.
"Turun." Perintah Gara, lalu melajukan kembali mobilnya setelah Alula turun.
Ada apa dengan tuan. Sepertinya, sejak tadi tuan bersikap aneh.
Alula berjalan kaki menuju perusahaan. Seperti biasa, ia akan menyapa pak Tio.
"Selamat pagi, pak Tio." Sapa Alula.
"Selamat pagi nona."
"Alula." Panggil sesorang membuat Alula menoleh.
"Tari." Gumam Alula. "Kau sendiri?"
Tari menggeleng, lalu memunjuk ke arah parkiran menggunakan dagunya. "Tuh." Tunjuk tari pada Sadam yang sedang memarkirkan motornya.
"Sudah dua hari kau tidak kelihatan di kantin." Ucap Tari.
"Aku sangat sibuk beberapa hari kemarin."
"Pagi Alula." Sapa Sadam yang baru saja sampai.
"Pagi Sadam."
"Alula, bersabarlah jika bekerja dengan tuan Gara. Kau taukan dia seperti apa. Tapi, jika kau melihat tuan Gara tersenyum tolong fotokan untuk aku. Aku sangat mengidolakannya."
"Aish, selalu saja. Jangan dengarkan dia Alula. Tari sudah sedikit tidak waras."
"Hus, sembarangan kamu Dam."
"Hahaha, kalian ini lucu sekali. Ayo masuk, nanti tuan Gara marah." Ujar Alula.
***
Alula memasuki ruangannya dan mengecek dokumen untuk presentasi, sembari menunggu waktu rapat yang tinggal dua puluh menit lagi.
"Kau berjalan, atau sedang memperbaiki jalanan?!"
Alula mendongak, dan spontan berdiri. "T-tuan." Ujar Alula, menunduk hormat.
"Aku tanya. Tadi, kau berjalan atau memperbaiki jalanan?!"
"B-berjalan tuan."
"Kenapa lama? Apa kau kura-kura?"
"Maaf tuan. Tadi, saya bertemu Tari dan Sadam."
"Dua orang itu? Jika kau berurusan dengan mereka lagi, aku akan memecat mereka."
"Jangan tuan!" Tahan Alula sambil berteriak.
"Kau meneriaki ku?" Alula menggeleng.
"Tidak tuan. Tapi, tolong jangan pecat mereka. Aku berjanji tidak akan mengobrol dengan mereka lagi pada jam kerja."
"Hmmm. Cepat ke ruang rapat." Perintah Gara dan langsung meninggalkan Alula.
Ini, aku yang sekretaris atau tuan Gara sendiri. Kenapa dia yang mengingatkan ku? Bukannya itu pekerjaan ku?
Alula meraih semua dokumen untuk presentasi pada rapat kali ini. Ia berjalan tergesa menuju ruang rapat. Sampai tak sengaja ia menabrak seseorang di depannya.
"Maaf tuan Edo." Ucap Alula saat tahu, siapa yang ia tabrak.
"Tidak apa-apa Alula. Ini punya mu." Edo menyerahkan flashdisk yang terjatuh tepat di kakinya.
"Terima kasih tuan." Ujar Alula dengan senyuman, membuat Gara yang melihatnya dari jauh mengepalkan tangannya.
"Apa tuan akan ikut rapat?"
__ADS_1
"Ya, aku ikut."
"Kalau begitu, mari tuan."
Alula dan Edo berjalan beriringan memasuki ruang rapat. Alula mendekati Gara dan duduk tak jauh dari Gara.
"Apa sekarang, kau beralih menjadi sekretaris Edo?!" Alula terdiam tak menjawab.
"Kau senang?!" Bisik Gara lagi, yang masih di diamkan Alula. Bukan ia tak ingin menjawab. Dia hanya tidak ingin membuat masalah ini menjadi besar.
"Huh, sekarang kau bisu?!"
"Baiklah, tunggu saja hukuman mu." Ujar Gara dan memulai rapatnya.
Beberapa jam berlalu, rapat selesai. Alula membereskan kembali beberapa dokumen yang ada di atas meja. Gara masih duduk di kursinya sambil menatap Edo yang mulai bertingkah.
"Jangan menatap ku seperti itu!" Seru Edo, merinding melihat Gara.
"Kau tahu, kau itu jelmaan iblis." Timpal Edo lagi.
"Untuk apa kau membantunya?" Tanya Gara, melirik Alula.
"Membantu Alula? Kapan?"
Gara tak menjawab. Ia membiarkan Edo memikirkannya sendiri. Edo mulai mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
"Astaga, apa kau marah karena aku membantu Alula mengambil flashdisk. Kau menghukumnya?"
"Bukan urusan mu."
"Ayolah, Gar."
"Keluar Edo."
"Tidak mau."
"Keluar!" Ucap Gara, berteriak dan sedikit membentak.
"Baiklah-baiklah, aku keluar. Alula aku duluan." Ujar Edo, langsung meninggalkan ruangan itu.
Setelah Edo keluar, Gara bangkit dan juga ikut keluar. Sebelum itu, ia menatap tajam Alula. Kilatan amarah itu jelas terlihat. Alula tidak tahu, apa kesalahannya hingga sejak tadi Gara seakan sangat memusuhinya.
Melihat Gara keluar, Alula terburu-buru mengikutinya. Ia tidak ingin menambah kesalahan yang tak ia ketahui itu. Langkah Alula memasuki kembali ruangannya.
***
Alula melihat jam di layar handphonenya. Sebentar lagi akan ada meeting di caffe xx. Untuk menghindari macet, lebih baik mereka pergi lebih awal. Alula keluar ruangannya, dan mengetuk pintu ruangan Gara. Mendapat izin, Alula pun masuk.
"Maaf tuan, setengah jam lagi akan ada meeting di caffe xx."
"Hmmm." hanya deheman yang terdengar.
"Maaf tuan, alangkah baiknya jika kita berangkat sekarang untuk menghindari macet."
"Ya." Jawab Gara, langsung beranjak keluar ruangan di ikuti Alula.
Alula berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Gara. Jika dia lelet, maka sudah pasti Gara akan memarahinya. Mood Gara hari ini sangat buruk.
Gara duduk di kursi pengemudi dengan Alula di kursi sebelahnya. Mobil melaju meninggalkan perusahaan.
"Tuan Gara," panggil Alula, memecah keheningan.
"Hmmm"
"Sekretaris Kenan sudah kembali. Apa aku akan di gantikan kembali olehnya?"
"Apa di kontrak mu tertulis kau akan di keluarkan setelah Kenan kembali?"
Alula menggeleng. "Tidak tuan."
"Kenan memiliki banyak pekerjaan yang tidak kamu ketahui."
"Maafkan saya tuan."
Gara memarkirkan mobil di parkiran caffe. Keduanya masuk menuju ruangan VVIP yang sudah di sediakan untuk meeting. Masih ada 10 menit untuk melangsungkan meeting. Klien-nya pun belum juga tiba.
Alula melirik Gara sekilas. Laki-laki itu, hanya terdiam dan fokus pada handphonenya.
Kenapa jadi canggung begini. Batin Alula.
Untuk menghilangkan rasa canggungnya, Alula juga ikut menyalakan ponselnya. Dilihatnya beberapa barang couple yang di jual di aplikasi belanja online.
Sepuluh menit berlalu, klien yang dimaksud masih belum muncul. Alula kembali melirik Gara. Semoga saja, bos-nya itu tidak akan mengamuk pada kliennya karena terlambat.
__ADS_1
Alula kembali memainkan handphonenya. Tangannya mengetik sesuatu di papan keyboard hp.
Suara derap langkah di barengi pintu terbuka, membuat Alula mendongak dan reflek berdiri. Ia memberi hormat pada kedua orang itu. Namun berbeda dengan Gara. Ia masih santai duduk di kursinya tanpa memperdulikan orang di depannya itu.
"Maaf tuan, kami terjebak macet." Ujar sekretaris Pak Broto. Menunduk hormat pada Gara.
"apa urusannya dengan ku?" Jawab Gara, acuh.
"Maafkan saya tuan. Ini semua salah saya, yang mengabaikan ucapan sekretaris saya." Ucap pak Broto sembari melirik Alula.
"Baiklah. Duduk!" Perintah Gara.
"Katakan, apa keuntungan saya jika bekerja sama dengan kalian?"
Sekretaris pak Broto menjelaskan keuntungan yang akan di peroleh Grisam Group jika bekerja sama dengan mereka. Sekretaris pak Broto juga menjelaskan proyek yang akan mereka kerjakan bersama Grisam Group.
Sejak awal sekretarisnya menjelaskan, pak Broto tak henti-hentinya mencuri pandang pada Alula. Bahkan dia dengan beraninya menatap Alula saat semua memperhatikan penjelasan sang sekretaris.
"Bagaimana tuan, apakah kita bisa melangsungkan kerja samanya?" Tanya sang sekretaris.
"Hmm lumayan."
"Bagaimana tuan?" Tanya pak Broto.
"Tunggulah. Saya ingin ke toilet sebentar." Ujar Gara dan langsung pergi.
Pak Broto yang melihat Gara pergi segera mengambil kesempatan untuk mendekati Alula. Ia berpindah dari tempatnya, menuju tempat Gara. Dimana dia lebih dekat dengan Alula.
Sekretarisnya yang melihat hanya bisa terdiam. Bukan hal asing lagi baginya melihat kelakuan si bos. Tapi, dia hanyalah sekretaris yang jika membuka suara akan terancam berhenti bekerja. Sedangkan dia sangat membutuhkan pekerjaan itu.
"Kau. Ambilkan dompet saya di mobil!" Suruh pak Broto pada sekretarisnya.
"Baik pak." Jawab si sekretaris.
Tapi di hatinya sudah tidak tenang. Ia yakin, bos-nya itu sedang merencanakan hal buruk.
Keluarnya sekretarisnya itu membuat ia semakin leluasa melakukan sesuatu pada Alula. Di tatapnya wajah Alula, membuat Alula risih.
"Maaf pak. Tolong, jangan melihat saya seperti itu." Ucap Alula.
"Sekretaris Alula. Kau sangat cantik. Dari semua sekretaris yang pernah saya temui, baru kali ini saya merasa sangat tertarik."
"Terima kasih pak atas pujiannya. Tapi maaf, saya tidak tertarik pada bapak." Bukannya merasa tidak enak, pak Broto malah terkekeh. Menunjukkan giginya yang sedikit kecokelatan karena kebanyakan merokok.
"Aku suka yang seperti ini. Biasanya yang suka menolak adalah orang yang paling err... menyenangkan." Ujar pak Broto, berbisik pada kata terakhirnya.
Pak Broto menggerakkan tangannya, menyentuh pipi Alula. Membuat Alula spontan menepisnya.
"Bapak jangan kurang ajar ya?!" Sentak Alula, bangkit dari duduknya.
"Wah. Ternyata... selain cantik, kamu juga suka membentak. Tapi, saya suka." Ucap pak Broto.
Lelaki bertubuh gempal, pendek dan berperut buncit itu mendekati Alula. Reflek, Alula mundur berusaha menjauh. Pak Broto meraih tangan Alula, menggenggamnya erat dan mulai bersikap kurang ajar padanya.
"Aku me..."
Bugh, satu pukulan tepat di wajah pak Broto. Membuat lelaki tua itu terhuyung ke belakang.
"Kau! Beraninya kau menyentuhnya?! Kau ingin ku patahkan tanganmu? Atau mau mati?" Bentak Gara dengan wajah berapi-api.
Gara kembali mendekati dan menghajar pak Broto. "Kau tau, dia lebih berharga dibandingkan nyawamu." Ujar Gara, memberikan satu pukulan di wajah pak Broto.
"Tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuhnya? Yang ini?" Gara menunjuk tangan kanan dan memukulnya keras.
"Atau yang ini?" Giliran tangan kiri yang di pukul Gara.
"Atau keduanya." lanjut Gara menginjak bergantian kedua tangan pak Broto.
"T-tuan Gara." Ucap sekretaris pak Broto yang baru masuk. Lelaki itu terlihat pucat melihat pemandanga itu.
"Diam kau!" Bentak Gara, membuat wajah sekretaris itu pias.
"T-tuan." Suara lembut dengan sedikit sesenggukan itu membuat Gara berhenti.
Gara menoleh dan melihat Alula yang berdiri mematung dangan wajah sembap. Ia bangkit dan berjalan cepat ke arah Alula. Di tariknya Alula dalam pelukannya. Dengan erat, ia mendekap Alula.
"Tenanglah. Aku disini." Ujarnya, mengusap rambut Alula. Alula mengangguk pelan.
Setelah Alula cukup tenang, Gara mengajaknya keluar.
"Urus bos mu! Saya tidak ingin bekerja sama dengan kalian. Dan jangan muncul lagi di hadapan saya." Ujar Gara dingin, saat melewati sekretaris pak Broto.
Gara menggiring Alula keluar, dengan tangan yang masih setia merangkul Alula. Membuat beberapa pengunjung yang melihatnya merasa iri.
__ADS_1