
Setelah berbagai macam alasan Gara menolak permintaan Neneknya untuk menginap, akhirnya sang Nenek mengizinkan mereka dengan syarat jika mereka harus berkunjung lagi dan membawa serta Alula.
Darren dan Darrel menundukkan kepala mencium tangan Kakek dan Nenek buyut.
"Hati-hati, ya. Lain waktu, kesini lagi." Ucap Nenek mengusap pucuk kepala Darren Darrel.
"Sering-sering telpon Kakek Nenek." Timpal Kakek.
"Tenang nanti kita dateng lagi. Iyakan Dallen?"
"Hmm." Dehem Darren membalas Darrel.
"Kau ini benar-benar persis Kakek waktu kecil." Ujar Kakek mengusap lagi puncak kepala Darren.
"Ekhmm... Dia anakku Kek. Jadi lebih mirip aku." Gara tak terima atas perkataan Kakeknya. Dimana-mana, anak mirip orang tuanya.
"Kamu cucu Kakek. Jadi nggak salahkan mereka mirip Kakek."
Nenek yang melihat pertengkaran itu menggeleng. "Sudah! Kenapa kalian ribut? Darren dan Darrel lebih mirip Nenek. Kalian berdua tidak ada miripnya sama sekali."
Darren Darrel mengulum senyum mendengar ucapan Nenek. Di tambah lagi, ekspresi Gara dan Kekek yang cengo, terlihat sangat lucu.
Darrel mendongak menatap Ayahnya. "Ayah! Kenapa sifat Dallen lebih sama Ayah, sementala aku tidak? Aku kan juga anak Ayah."
"Sifat mu mirip si Gio." Ucapan spontan yang keluar dari mulut Gara membuat Kakek, Nenek dan juga si kembar menatapnya.
Gara juga merasa heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia malah teringat Gio.
"Siapa Gio?" Tanya Nenek, bingung.
"Dia yang sudah menolong dan menjaga Alula dan si kembar Nek."
"Kau harus berterima kasih padanya Gara. Karena dia, aku bisa bertemu cucu buyut ku." Ujar Kakek.
Aku juga ingin berterima kasih. Tapi, dia rival ku dalam memenangkan hati Alula. Batin Gara.
"Nanti aku akan berterima kasih padanya."
"Jadi, ku belum berterima kasih padanya?" Gara mengangguk membuat sang Nenek marah.
"Astagaa... Sudah cukup lama kau menemukan mereka, tapi kau belim berterima kasih juga?"
"Ayolah Nek! Jika Nenek terus berbicara, kapan kami akan pulang? Darren Darrel harus sekolah besok."
"Ya, baiklah. Pulanglah, hati-hati! Kabari kami jika sudah sampai."
Gara dan kedua anaknya segera memasuki mobil. Darrel terlihat melambaikan tangannya pada Kakek Nenek. Kemudian mobil melaju meninggalkan rumah mereka.
"Ayah, kenapa sifat ku jadi milip paman Gio? Aku kan anak Ayah sama Ibu. Kalau tidak milip Ayah, setidaknya aku pasti milip Ibu."
"Emm... Ayah hanya asal bicara saja. Ayah tidak begitu tahu sifat Ibu kalian. Yang Ayah lihat, Alula sedikit pemalu dan tidak terlalu banyak bicara. Sedikit berbeda dengan mu yang agak banyak bicara. Jadi, Ayah teringat Gio. Ayah pikir karena kalian sudah lama bersama Gio, sifat mu jadi agak mirip dengannya."
"Ah, Ayah salah bilang Ibu tak banyak bicara. Ibu sangat celewet kalau di lumah."
"Sungguh?"
"Ya. Benalkan Dallen?"
"Hmmm." Darren hanya berdehem. Ia malas menjawab kembarannya.
***
Alula duduk merenung di meja makan. Makanan yang terhidang pun ia abaikan begitu saja. Pikirannya masih tertuju pada Gara yang tiba-tiba pulang. Di tambah, ekspresi Gara terlihat tak bersahabat.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan sehingga ia terlihat marah pada ku? Dan... Kemana dia pergi? Apa dia pergi untuk menemui wanita itu?" Gumam Alula, mengacuhkan makanan yang mulai dingin itu.
"Aku juga tidak menelpon Darren Darrel hari ini."
Alula meraih handphonenya dan menelpon Darrel. Panggilan tersambung. Namun, tubuh Alula menegang mendengar suara dari sana. Suara dari orang yang membuatnya tak berselera untuk makan hari ini.
"Hallo?"
"Hal-hallo."
"Ada apa?" Suara Gara terdengar dingin. Rasa kesal dalam hati lelaki itu masih belum hilang juga.
"Gar-Gara, apa aku bisa mendengar suara Darren Darrel?"
"Mereka sudah tidur." Balas Gara, jujur. Kedua anak itu sudah terlelap.
"Begitu ya? Aku tutup telponnya."
Alula meletakkan kembali handphonenya. Ia meraih makanan dan kembali menyimpannya. Ia sudah tidak berselera untuk makan.
Alula memasuki kamar dan duduk di tepi ranjang. Matanya melirik undangan yang ada di nakas. Segaris senyum muncul di bibirnya.
"Semoga kalian bahagia Irene, Edo dan Asya juga." Gumam Alula memperhatikan undangan pernikahan Edo dan Irene.
Sementara di dalam mobil, Gara sudah mengumpat keras. Ia pikir Alula juga ingin mendengar suaranya. Ternyata Alula hanya ingin mendengar suara si kembar. Alula mengabaikan dirinya.
***
Gara menatap selembar undangan di mejanya. Baru saja ia memasuki ruangan itu, ia sudah di suguhi sebuah undangan yang membuat hatinya panas. Bukan karena orang yang ia sukai ada di undangan itu. Tapi, ia merasa marah karena belum bisa membuat Alula mengerti dirinya.
"Apa yang Nenek bilang itu, benar. Aku harus segera mengtakan perasaan ku pada Alula."
Gara meraih telpon dan menelpon seseorang. Tak lama, pintu ruangan terbuka.
"Selamat pagi, tuan." Ucap orang yang Gara telpon, Alula.
"Sudah tuan. Saya sudah menyerahkannya pada sekretaris Kenan."
"Siapa yang meletakkan ini disini?" Gara menunjuk pada undangan pernikahan Edo dan Irene.
"Saya tuan."
"Kau akan datang bersama siapa?"
"Saya akan bareng Ana dan Gio."
Gara menarik nafasnya. Ingin ia melarangnya, tapi ia takut Alula menjadi tidak suka.
"Baiklah. Pergilah bersama mereka. Kau boleh keluar."
Alula mengangguk dan sedikit membungkuk lalu berjalan keluar. Wajahnya terlihat lesu. Dirinya tiba-tiba menjadi tidak bersemangat hari ini.
"Dia bahkan tidak melarang ku pergi bersama Gio." Gumam Alula.
Waktu berputar begitu cepat. Semua karyawan-karyawan Grisam Group di pulangkan sebelum waktunya. Ini adalah keputusan Gara. Bisa di bilang, keputusan yang di paksa Edo. Lelaki itu masih sempat-sempatnya ke perusahaan, dan meminta Gara memulangkan seluruh karyawannya tepat pada jam makan siang.
Jika tidak ingat Edo adalah sahabatnya, Gara tidak akan sudi mengabulkan permintaannya.
Alula mendekati Gio dan Ana yang sudah menunggunya di luar gerbang kantor.
"Baik banget si Gara, karyawannya di pulangin jam segini." Celetuk Gio tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kan selain tuan Edo bawahan tuan Gara, dia jugakan sahabatnya tuan Gara, sayang."
__ADS_1
Alula yang mendengar Ana memanggil Gio sayang mengulum senyum. Sementara Gio, ia tersenyum manis pada Ana.
"Alula!" Teriakkan Tari menarik ketiga orang itu menoleh. Tari sedang di bonceng Sadam dengan motornya. Ia turun begitupun Sadam.
"Hai Gio, Ana." Sapa Tari pada keduanya. Tari dan Sadam sudah berkenalan dengan Ana dan Gio, kemarin. Sifat mereka yang sama-sama mudah berbaur membuat mereka akrab dalam sekejab.
"Mau nyari baju nih, ke pernikahan tuan Edo?" Tanya Ana yang langsung mendapat anggukkan.
"Iya. Yuk, ke mall!" Ajak Tari.
"Aku nitip aja ya? Aku nggak terlalu ngerti soal gituan."
"No, Alula! Kamu harus ikut. Gimana kita ke butik mama ku saja. Di sana banyak baju-baju bagus. Setelah itu, kita ke salon. Acaranya jam 7 kan?" Alula dan Tari mengangguk. Sementara Gio dan Sadam hanya bisa memerhatikan mereka.
Setelah semuanya di putuskan, mereka pun melaju menuju butik Mamanya Ana.
Jarum jam menunjukkan angka 5.30. Ana dan Tari sudah siap, mereka menatap diri mereka di cermin besar yang tersedia setelah mengenakan baju yang mereka pilih.
"Ana, Tari." Panggilan dari belakang membuat keduanya menoleh. Keduanya bengong menatap Alula.
"Ya Tuhan, Alula. Cantik banget." Ujar Ana.
"He'em cantik banget. Sampai pangling aku lihatnya." Timpal Tari.
"Kalian berlebihan. Sebenarnya aku nggak nyaman. Baju ini sedikit terbuka dan terlalu mewah. Dan semua perawatan ini..."
"Sudahlah Alula, untuk apa kau memikirkan itu semua. Lagian uang di kartu itu tidak akan habis."
Alula melotot tak percaya. Ternyata Ana tahu mengenai kartu tersebut. Dia menoleh pada Tari. Perempuan itu hanya tersenyum menanggapi Alula. Senyumannya itu meyakinkan Alula jika ia juga tahu soal kartu itu.
"Huuh... Aku tidak berniat menggunakannya."
"Ya terserah kamu. Tapi, semua barang dan perawatan itu harus kau bayar. Tidak ada kata mengembalikan." Tutur Tari, membuat Alula semakin menarik nafasnya.
Setelah mereka membayar semuanya, mereka menemui Gio dan Sadam yang sudah bersiap dan menunggu mereka di mobil. Sama seperti Ana dan Tari, keduanya terlihat tak berkedip menatap Alula.
"Jaga mata, sayang." Ana menggandeng Gio yang di balas senyuman kikuk Gio.
"Cuman lihat aja. Gak ada niat buat ke Alula." Jawab Gio menciptakan kekehan kecil dari bibir Alula.
"Dam, aku aduin tante loh." Ancam Tari saat Sadam masih menatap Alula.
"Aduin aja. Lagian cuman natap bukan godain." Jawab Sadam.
Kelimanya memasuki mobil Gio. Mobilnya cukup untuk mereka berlima. Motor Sadam mereka titipkan di tempat itu. Mereka akan berpisah disini setelah pulang nanti.
***
Tinggal sepuluh menit lagi jam 7. Mobil Gio baru saja tiba. Orang-orang tersebut keluar dengan membawa kado pernikahan.
Gio menggandeng Ana. Sadam bersama Tari, dan Alula ia hanya sendiri. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung mewah yang menjadi saksi pernikahan Edo dan Irene.
Alula berjalan di belakang kedua pasangan itu. Tanpa ia sadari, Gara terus memperhatikannya dari jauh, sejak ia memasuki tempat tersebut.
Sial! Kenapa Alula mengenakan dress seperti itu. Umpat Gara dalam hati.
Dress brokat selutut berwarna navy dengan bagian bahu terekspos itu berhasil memancing kemarahan Gara. Dia tidak rela ada orang lain yang menatap Alula-nya.
Gara menggeram kesal saat berapasang-pasang mata lelaki yang hadir menatap kagum Alula. Jika saja Ayah dan Ibu tiri sok baiknya itu tidak menjebaknya untuk berkumpul dengan orang tua Edo, ia akan pergi sejak tadi. Tapi, rasa hormatnya pada orang tua Edo sangat besar. Ia sudah menganggap mereka seperti orang tua. Jadi, ia tidak bisa meninggalkan mereka sekarang.
Tunggu saja Alula, aku akan membawa mu pergi dari sini. Tapi, sebelum itu aku akan memberi perhitunagan pada mereka yang sudah berani menatap mu dengan tatapan sialan itu. Batin Gara.
Acara pun di mulai. Alula meraih segelas minuman. Sadam dan Tari sudah membaur dengan karyawan lain yang ikut hadir. Sementara Gio dan Ana, mereka berdua sudah tidak terlihat. Entah kemana perginya, Alula juga tidak tahu. Alula kembali menyesap minumannya.
__ADS_1
"Alula!" Panggil seseorang dari belakangnya.
Alula berbalik pelan. Tubuh Alula terpaku melihat orang di depannya.