Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Ayah Nginap kan?


__ADS_3

Alula, Gara, Gio, Ana, Darren dan Darrel berkumpul di ruang tamu. Ruangan itu sudah di hias oleh Gio dan Ana. Karena Ana dan Gio yang tidak kompak dan memiliki ide masing-masing, hiasan itu menjadi berantakkan.


"Paman, kenapa tulisannya jadi beda-beda begini?" Tanya Darrel, mengomentari tulisan 'Selamat Datang Darrel' yang menggunakan jenis huruf yang berbeda-beda.


"Oh, itu? Itu kerjaan aunty Ana. Dia yang buat tulisan seperti itu."


"Bukan! Bukan aunty yang buat. Paman Gio yang buat. Itu ide paman Gio." Balas Ana, tak mau kalah.


"Eh, kamu jangan asal tuduh ya." Ujar Gio, tak terima.


"Sudah-sudah! Kalian ini ribut terus." Lerai Alula. "Ayo makan kue nya! Darrel, sini nak!" Lanjutnya, memanggil Darrel yang masih memperhatikan tulisan itu.


Tak peduli dengan panggilan Alula, Darrel malah berlari menuju kamarnya. Mengambil karton dan beberapa alat menggambarnya. Lalu keluar menuju ruang tamu.


Darrel menulis sesuatu dan mewarnainya. Setelah itu ia mengguntingnya.


"Ayah, tolong tempelkan!" Ujar Darrel, menyodorkan tulisan yang sudah ia warnai pada Gara.


Ana dan Gio yang mendengar panggilan Darrel untuk Gara, terkejut. Sejak kapan, Darrel mengubah panggilan pamannya menjadi Ayah.


"Ayah? Darrel mamanggil mu Ayah?" Tanya Gio, masih tidak percaya.


"Iya. Kenapa? Apa kau keberatan?" Balas Gara, seakan menantang Gio.


Apa yang kau pikirkan? Gara adalah Ayah kandung Darren dan Darrel. Sudah sepantasnya mereka memanggilnya Ayah. Batin Gio.


"Tidak. Aku tidak keberatan."


"Emm... maaf tuan. Kenapa bisa Darrel memanggil tuan Ayah?" Tanya Ana, sangat berhati-hati. Takut menyinggung Gara. Padahal, ia sudah tahu semuanya dari Alula, saat ia menginap di rumah Alula waktu itu.


"Saya Ayah kandung mereka." Jawab Gara.


Ana hanya terdiam mendengar jawaban Gara. Ternyata laki-laki mengakuinya. Ia pikir Gara seperti halnya laki-laki brengsek yang tidak mengakui darah daging mereka sendiri. Ternyata Gara tidak seperti itu.


"Ayah, ayo tempelkan. Buatan paman dan aunty tidak begitu bagus."


"Iya-iya. Ayah akan menempelkannya." Jawab Gara dan langsung berdiri.


Gara mencopot kembali tulisan-tulisan buatan Gio dan Ana. Kemudian menempelkan tulisan milik Darrel.


"Nah, ini balu bagus." Ujar Darrel, menatap tulisannya.


Setelah menempelkan tulisan tersebut, Gara dan Darrel kembali bergabung bersama Alula, Gio, Ana dan Darren. Mereka sama-sama menyantap kue yang di beli Gara, dan juga kue yang Ana bawa.


***


Alula dan Ana sedang memasak di dapur. Sementara Keempat orang laki-laki itu sedang berada di ruang tamu. Mereka sedang bermain game online. Gara satu team bersama Gio, dan Darrel bersama Darren.


Sebenarnya, Gara maupun Gio menolak untuk menjadi team. Namun, karena di paksa Darrel, keduanya pun setuju.


"Yang kalah, akan mendapat hukuman." Ujar Darrel, sebelum memulai permainan mereka.


"Hukuman apa?" Tanya Gara dan Gio bersamaan. Keduanya saling melirik tajam. Seakan mengatakan, kenapa kau mengikuti ku.


"Hukumannya adalah yang menang akan mendandani yang kalah."


"Aku tidak ikut." Potong Darren.


"Apa kau takut akan kalah?" Tanya Darrel pada Darren.


"Tidak. Aku yakin dengan kemampuan bermain ku." Jawab Darren, membuat Gio dan Gara meneguk ludah.

__ADS_1


Jujur saja, mereka adalah laki-laki dewasa yang sibuk bekerja. Tidak ada waktu untuk mereka bermain permainan online tersebut.


"Ayo, kita mulai!" Ujar Darrel, mengomando.


Permainan di mulai. Gara dan Gio sedikit bermasalah dengan kekompakan mereka. Tapi, tidak berlangsung lama. Keduanya mampu membangun kekompakkan mereka dengan cepat.


Alula dan Ana yang hendak ke ruang tamu, mengajak mereka makan siang pun, terhenti. Mereka malah memperhatikan keempat laki-laki tersebut.


"Alula, apa kau menyadari sesuatu?" Tanya Ana, tanpa melepas pandangannya dari mereka yang sedang bermain.


"Menyadari apa?" Tanya Alula, bingung.


"Tuan Gara dan Gio, memiliki sisi wajah yang sama. Mata mereka juga sama. Ketika mereka kompak, mereka terlihat seperti sahabat. Tidak, bukan sahabat. Tapi saudara." Ujar Ana, membuat Alula memperhatikan Gara dan Gio.


Benar yang Ana katakan mereka terlihat sedikit mirip.


"Mungkin ini kebetulan." Jawab Alula.


Gara dan Gio semakin kewalahan dengan permainan Darren dan Darrel. Beberapa detik kemudian, terdengar teriakkan kemenangan Darrel.


"Yey, kita menang. Kita menang Len." Teriak Darrel, menatap kembaran nya.


"Ya, kita menang." Jawab Darren datar, di barengi senyumannya yang sangat jarang ia tunjukkan.


"Aku akan mendandani paman Gio, Dallen yang akan mendandani Ayah." Ujar Darrel, menentukan tugas masing-masing, untuk memberi hukuman pada Gara dan Gio.


"Ayo, makan dulu." Panggil Alula, membuat keempat orang itu menoleh.


"Kami belum selesai bu. Aku dan Dallen halus beli hukuman pada Ayah sama paman."


"Darrel, tidak boleh menunda waktu makan. Okey?" Timpal Ana.


"Baiklah."


Setelah makan, mereka kembali ke ruang tamu. Darren dan Darrel mulai menghukum Garadan Gio.


"Hahaha... kau sangat lucu." Tawa Gio pecah melihat wajah Gara yang hancur karena dandanan Darren. Anak itu tidak punya bakat sama sekali dalam urusan itu.


"Diam kau! Wajah mu sangat jelek." Balas Gara, kesal.


"Meskipun jelek, tapi tidak seberantakan wajah mu." Jawab Gio, mengejek.


"Hahaha... kalian saling mengejek, tetap saja kalian berdua jelek." Sambung Ana, membuat keduanya menoleh sengit padanya.


Ana meneguk kasar salivanya. "Ak-aku, hanya bercanda." Jawab Ana gugup.


***


Siang berlalu begitu cepat. Langit mulai menghitam dan bintang-bintang mulai bermunculan. Ana, Gio maupun Gara, belum kembali ke rumah mereka. Mereka masih betah bermain-main bersama Darren dan Darrel.


Setelah makan malam, Gara kembali menemani Darren dan Darrel bermain. Sementara Gio, ia mengambil kesempatan berbicara dengan Alula.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Alula, saat tiba di teras rumah.


"Aku ingin menanyakan sesuatu. Apa benar, Gara Ayah Darren dan Darrel?"


Alula mengangguk. "Maafkan aku."


"Kenapa kau tidak memberi tahu ku, jika laki-laki itu bukan tuan Edo, melainkan Gara?"


"Aku tidak pernah mengatakan Edo. Dan aku tidak berani mengatakan jika orang itu tuan Gara. Aku... aku yang bersalah dalam kejadian itu." Ujar Alula, lirih pada kalimat terakhirnya.

__ADS_1


Alula menunduk, menyembunyikan air matanya. Gio merasa bersalah. Ditariknya Alula kedalam pelukannya.


"Maafkan aku. Aku membuat mu menangis." Ujar Gio.


Alula melepas pelukan Gio. Ia mengusap pelan air matanya. "Ini bukan salah mu."


"Alula!" Panggilan Gio, membuat Alula mendongak padanya.


"Aku ingin jujur pada mu. Aku... sempat berniat memiliki mu. Tapi, melihat Darren dan Darrel yang begitu bahagia saat bersama Gara, aku tidak mau melanjutkan niat ku. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka."


"Gio. Aku menganggap mu sebagai sahabat. Bahkan sebagai saudaraku. Aku tidak bisa memiliki perasaan lebih dari itu."


Gio tersenyum. "Aku tahu. Makanya aku tidak mengatakannya dari dulu. Aku ragu, kau akan menerima ku."


"Maafkan aku."


"Sudahlah. Kau ini, suka sekali minta maaf. Aku berdoa semoga kau bahagia bersama Gara."


"Apa-apaan? Aku tidak ada apa-apa dengan tuan Gara."


"Hahaha... kau ini. Sekarang belum, tapi nanti. Sudahlah, ayo masuk. Aku akan berpamitan pada Darren dan Darrel."


Alula dan Gio segera masuk. Disana, Darren dan Darrel masih bermain bersama Gara.


"Darren, Darrel. Paman pulang dulu."


"Paman pulang?" Tanya Darrel.


"Ya, ini sudah malam."


Darren yang sejak tadi terdiam, menoleh pada Gara. "Ayah nginap kan?" Tanya Darren, membuat Gara sedikit terkejut.


Alula pun sama terkejutnya. Ia berharap Gara menolaknya.


"Iya, Ayah akan menginap." Jawab Gara.


Astagaa... kenapa dia menurutinya?


Ana yang mendengarnya, tersenyum. Ia yang berniat untuk nginap pun, membatalkannya. Ia tidak ingin mengganggu kebersamaan keluarga yang sudah lama terpisah.


"Aku akan pulang juga. Gio, aku numpang ya?" Kata Ana, membuat Gio mendengus.


"Tidak. Pulang sendiri sana."


"Kau tega sama perempuan?"


Gio terdiam. Ia ingat kembali dengan kejadian yang menimpa Ana. Ada rasa takut jika Ana akan terluka lagi.


"Baiklah. Ayo pulang!"


Ana tersenyum. "Darren, Darrel. Aunty pulang dulu. Tuan Gara, Alula, aku pamit."


Alula mengantarkan Gio dan Ana keluar. Ia menatap wajah Ana dengan tatapan memohon.


"Ana, apa kau benar-benar ingin pulang?"


"Ya, aku harus menyelesaikan urusan ku."


"Baiklah." Ucap Alula, pasrah.


"Tenanglah! Aku yakin, Gara tidak akan macam-macam. Jika dia berbuat sesuatu, telpon saja aku." Ucap Gio paham dengan rasa khawatir Alula.

__ADS_1


"Ya sudah. Hati-hati kalian. Tolong antarkan Ana dengan selamat."


"Siap nona." Balas Gio, membuat Alula tersenyum.


__ADS_2