Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Kedatangan Gio dan Edo


__ADS_3

Malam semakin larut. Baik Alula maupun Gara, tidak ada satupun yang bersuara. Keduanya terus memperhatikan Darrel yang tertidur.


"Sudah pukul tiga pagi, kau tidurlah sebentar." Ujar Gara memecah keheningan.


"Tuan saja yang tidur. Tuan akan bekerja besok. Aku akan tidur jika sudah mengantuk." Balas Alula.


"Aku tidak bekerja besok. Dan aku juga, akan tidur jika sudah mengantuk." Balas Gara, mengulangi kalimat Alula.


Keduanya kembali terdiam. Tak berapa lama, mata Alula terasa berat. Kantuk sudah menyerangnya. Perlahan ia mulai tertidur sambil duduk dengan kepala bertumpu di sisi brankar.


***


Alula terbangun saat matahari sudah naik. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia tak menemukan Gara dan Darrel.


Apa yang aku lewatkan? Dimana mereka?


Wajahnya yang mulai panik, seketika menghilang melihat Darrel yang di gendong Gara, keluar dari toilet. Ia menarik nafas lega.


"Kenapa?" Tanya Gara, membaringkan Darrel.


Wajah anak itu masih pucat dan lemas.


"Tidak. Aku pikir aku telah melewatkan sesuatu."


"Tidak ada sesuatu yang terjadi." Ujar Gara.


Alula beralih menatap Darrel. Ia mencium keningnya. "Selamat pagi anak ibu."


Darrel tersenyum kecil. Tidak ada celotehan yang terlontar dari mulut kecilnya itu. Ia masih sangat malas untuk berbicara.


Pintu di ketuk, membuat keduanya menoleh. Seorang dokter dan suster masuk.


"Pagi tuan, nona."


"Pagi dokter, suster." Balas Alula.


"Pagi adik tampan. Bagaimana? Apa yang kamu rasakan?" Tanya dokter, mulai memeriksa Darrel.


Tidak ada jawaban. Ia benar-benar tidak ingin berbicara.


"Bagaimana dok?"


"Demamnya mulai menurun. Tapi belum pada masa pemulihan. Bisa dikatakan pasien memasuki fase kritis. Dimana suhu tubuhnya akan menurun. Menurunnya suhu tubuh sangat berbahaya. Ada kemungkinan terjadinya perdarahan dan kebocoran plasma darah."


"Terus, apa yang harus kami lakukan dok?"


"Disarankan agar pasien beristirahat total dan banyak mengonsumsi air putih. Kami juga akan terus memantau pasien. Pasien juga akan di pindahkan ke ruang rawat."


Alula menarik nafasnya. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Bagaimana jika yang dikatakan dokter terjadi pada Darrel.


Gara bisa merasakan apa yang Alula khawatirkan sekarang. Tangannya bergerak menggenggam tangan Alula.


"Jangan berpikir macam-macam. Darrel akan sembuh." Ujar Gara, menarik Alula dalam pelukannya.


Dokter dan suster yang melihatnya tersenyum canggung. Benarkah ini Gara. Seorang yang terkenal dingin dan kejam, kenapa sekarang ia bersikap lembut.


Dokter dan suster itu menghentikan senyuman mereka. Keduanya meneguk ludah saat Gara melotot tajam pada mereka.


"Kalau begitu, kami permisi tuan, nona." Pamit si dokter.


Keduanya pun bergegas pergi dari dari IGD tersebut.


"Dok, apakah itu wanitanya tuan Gara? Dan anak itu anak tuan Gara? Wajah tuan Gara, pasien dan anak kecil semalam sangat mirip." tanya si suster.


"Mungkin. Sudahlah, jangan bicara tentang tuan lagi. Apa kau ingin kehilangan pekerjaan mu?"


"Tidak dok."


***

__ADS_1


Darrel di pindahkan ke ruang rawat VVIP. Fasilitasnya begitu lengkap. Ruangannya juga sangat luas. Nyaman bagi siapa saja yang masuk ke ruangan tersebut.


"Ayo minum air dulu." Alula menyodorkan segelas air untuk Darrel. Anak itu meneguknya beberapa teguk, lalu kembali berbaring.


"Tidur lagi yah, kamu harus banyak istirahat." Darrel mengangguk, kemudian memejamkan matanya.


Alula menoleh pada Gara. Lelaki itu sedang bersandar di sandaran sofa. Dia tidak tidur semalaman.


"Tidurlah tuan. Aku akan menjaga Darrel."


"Ya, bangunkan aku jika membutuhkan sesuatu." Ujar Gara, mulai memejamkan matanya.


"Emm tuan."


"Ya?"


"Aku belum bertemu Darren sejak tadi."


"Darren ke sekolah bersama Kenan. Kenan akan menunggunya hingga pulang." Jawabnya kembali memejamkan mata.


Alula menarik kursi di samping Darrel. Perasaannya belum tenang. Rasa khawatir masih berkecamuk dalam hati.


Saat sedang asik memperhatikan Darrel, pintu ruangan di ketuk. Alula bergegas membukanya.


"Gio?"


"Pagi Alula." Sapa lelaki tersebut.


Alula sedikit bergeser dan membiarkan Gio masuk. Kemudian ia menutup kembali pintu.


Mata Gio menatap kagum ruangan tersebut.


"Kau membayar ruang rawat VVIP?"


"Bukan aku, tapi tuan Gara." Jawab Alula, membuat Gio mengikuti arah matanya.


"Kenapa dia ada disini?"


"Dia yang membantuku membawa Darrel kemari." Jawab Alula.


Gara yang belum sepenuhnya tertidur, bisa mendengar percakapan Alula dan Gio. Ia mulai membuka matanya.


"Kau bisa menghubungi ku."


"Aku terlalu panik,"


"Walaupun dia menghubungimu, tetap aku yang akan mengantarnya." Suara berat itu menarik Gio dan Alula untuk menoleh.


"Huh. Berarti kau berada di sana. Sedang apa kau disana? Mengintip seorang wanita?" Tanya Gio, tersenyum meremehkan.


"Kau..."


"Permisi. Apa aku menganggu?" Kata seseorang dari ambang pintu, membuat ketiganya menoleh.


Gara mendengus. Ternyata, itu sahabat kurang ajarnya.


"Pagi bos. Pagi Alula. Dan, pagi Gio." Sapa Edo, sambil berjalan mendekat.


"Pagi Edo." Balas Alula.


"Pagi tuan Edo." Balas Gio.


"Kau mengenalnya?" Tanya Gara dengan sorot mata tajamnya.


"Hehehe... Kau ini, selalu saja serius."


Hei berhentilah menggunakan tatapan itu. Apa kau pikir aku tidak takut? Kau tidak lihat saja. Kakiku sedikit gemetaran. Batin Edo.


"Aku tidak main-main Edo."

__ADS_1


"Ya, ya. Aku mengenalnya. Dia salah satu bartender di club xx. Apa kau ingat?"


"Ya, aku ingat club itu. Tapi, tidak dengan orang ini. Aku tidak mengenalnya."


"Apa kau pikir aku mau mengenalmu?" Balas Gio, kesal.


"Tunggu-tunggu, apa katamu? Kau ingat club itu? Jadi, ingatan mu kembali?" Gara hanya diam. Malas menanggapi sahabatnya itu.


"Hahaha... Selamat bro." Ujar Edo, menepuk bahu Gara.


"Jadi, kau kehilangan ingtan? Hahaha... Aku rasa kau tidak kehilangan ingatan, tapi kau pikun." Timpal Gio membuat Gara kesal.


"Beraninya ka..."


"Jika kalian masih ingin bicara atau bertengkar, silahkan keluar!" Potong Alula, tidak tahan dengan tingkah ketiga laki-laki dewasa itu.


"Ya, kalian berdua keluarlah!" Timpal Gara.


"Kau juga boleh keluar tuan." Ujar Alula, membuat Gio dan Edo menahan tawa melihat ekspresi Gara.


"Kenapa aku juga?" Protesnya.


"Kalian bicaralah baik-baik di luar. Jika sudah tidak ada keributan lagi, kalian boleh masuk. Darrel membutuhkan istirahat total untuk penyembuhannya. Jangan menghambatnya dengan pertengkaran kecil kalian." Ujar Alula, membuat Edo semakin tidak tahan untuk tidak tertawa.


Edo berjalan keluar terlebih dulu. Di ikuti Gio lalu Gara. Tawa Edo lepas saat sampai di luar. Tidak peduli dengan pengawal dan orang-orang yang berlalu-lalang.


Ternyata mereka adalah orang-orangnya Gara. Batin Gio.


"Hahaha... Kau di usir Alula. Ini kali pertama seseorang mengusirmu." Edo masih tak berhenti tertawa.


"Diam kau Edo!" Bentak Gara.


"Dia memang pantas di usir. Tidak ada kepentingan dia di dalam." Sahut Gio.


Gara mendekat pada Gio, membuat Edo menghentikan tawanya. "Apa yang kau katakan? Tidak penting?"


"Ya. Kenapa?"


Gara menyeringai. "Huh. Kau yang tidak penting berada di dalam."


"Apa hak mu mengatakan itu?"


"Aku punya hak. Aku adalah ayah biologis Darren dan Darrel. Aku memiliki hak atas mereka." Ucap Gara, yang seketika meruntuhkan pertahanan Gio.


Lelaki itu mamatung di tempatnya. Begitupun dengan Edo. Ia melihat keyakinan itu di mata Gara. Sementara Gara, ia menjauh dari kedua orang tersebut.


Dia sangat yakin dengan perkataannya. Apa dia sudah membuktikannya. Batin Edo.


Dia ayah biologisnya? Dialah lelaki malam itu, bukan tuan Edo. Batin Gio.


Edo menangkap ekspresi aneh dari wajah Gio. Lelaki itu terlihat terluka.


"Ada apa dengan mu?" Edo menepuk pundak Gio.


"Tidak. Saya hanya tidak menyangka." Jawab Gio. Dia memasuki kembali ruangan rawat Darrel.


Apa Gio memiliki perasaan terhadap Alula?


Alula menoleh mendengar panggilan Gio. "ada apa?" Tanyanya.


"Aku akan pulang."


"Kenapa terburu-buru? Kau belum sempat duduk."


"Tidak perlu. Ada masalah di caffe. Aku harus segera menyelesaikannya."


"Baiklah. Hati-hati." Ucap Alula. Gio tersenyum padanya. Tapi, Alula tahu. Senyuman itu adalah palsu. Pasti ada sesuatu yang terjadi.


Ada apa dengan Gio? Gumam Alula dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2