Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Hukuman


__ADS_3

Ben segera melakukan tugasnya. Dia mengulurkan tangannya pada bawahnya yang memegang sebuah cambuk. Senyuman iblis tercetak di wajahnya sambil berjalan mendekati keenam pelaku kejahatan itu.


"Borgol mereka!" Perintah Ben pada masing-masing anak buahnya yang menjaga keenam orang itu.


"Gara, apa ini tidak keterlaluan?" Bisik Alula. Tangannya bertaut erat, mencoba mengalihkan rasa takutnya terhadap pemandangan di depannya. Sang Nenek dan Kakek pun sudah berlalu dari tempat itu, sambil mengajak kedua cucu buyut mereka. Mereka menyerahkan semuanya pada Gara.


"Dengar, sayang! Apa yang aku lakukan ini tidak ada apa-apanya dengan perbuatan mereka. Kehilangan adikku bertahun-tahun. Ditinggalakn Ibuku. Itu hal yang lebih keterlaluan dari hukuman ini. Jadi, gunakan hati lembutmu untuk hal lain. Jangan yang ini." Balas Gara.


"Apa kamu tidak kasihan pada Viko? Lihatlah! Pancaran matanya begitu sedih melihat Ibunya."


"Bukan hanya sedih, dia juga kecewa. Sudahlah! Inilah resiko dari perbuatan mereka."


Alula pun terdiam. Hingga tiba-tiba, Gara menariknya dalam pelukan. "Kamu takut?" Wanita itu menggeleng.


"Kenan, ambilkan kursi." Sekretaris Kenan segera mengambil kursi dan memberikannya pada Gara dan sang istri.


Setelah bawahannya memborgol orang-orang itu, Ben membebaskan cambukan yang sejak tadi menggulung. Wajah ke enam orang itu pucat pasi.


"Tuan! Apa tuan lupa? Tuan berkata, jika aku mengakui kesalahanku dan memberitahumu, aku akan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku sudah mengakuinya. Jadi, berikan aku kebebasan itu, tuan." Teriak seorang pengendara yang menabrak Gio.


"Baiklah. Bebaskan dia!" Pengawal segera menariknya mundur. Menjauh dari orang-orang yang akan mendapat hukuman.


Ben mulai melancarkan aksinya. Bunyi cambuk yang bersentuhan dengan tubuh orang-orang itu membuat yang menyaksikan bergidik ngeri.


"Akkhhh... Brengsek kau Gara! Aku akan... akkhh... membalasmu!!" Teriak Frans.


"Kau kejam Gara! Akkhhh..." Laura juga membuka suara. Air matanya menetes menahan sakit.


"Akkhhh... Aku membencimu, Gara! Aku akan membunuhmu!!" Teriak Roy.


"Huh, lakukan saja semau kalian." Balas Gara. "Sudahi hukuman untuk Bibi May dan Sonia." Lanjutnya.


"Untuk kalian semua, inilah akibatnya melakukan kejahatan. Jadi, jangan mengikuti jejak mereka." Ujar Gara lagi.


Saat hukuman masih berlanjut, tiba-tiba seorang wanita maju dan menghentikan hukuman itu. "Tunggu, Gara! Hentikan hukumannya sebentar!" Ujarnya.


Gara mengangkat sebelah tangannya, membuat Ben menghentikan sejenak kegiatannya. "Ada apa?" Tanya Gara pada wanita itu.


"Aku ingin kalian tahu satu kebenaran lagi. Dia dan dia," Wanita itu menunjuk pada Frans dan Laura. "Mereka adalah manusia hina! Suamiku Frans dan kakak iparku Laura, mereka selingkuh!" Semua tercengang mendengar pengakuan wanita yang tak lain adalah istri dari Frans tersebut. Tapi tidak dengan Gara, sekretaris Kenan, Ben dan para pengawal. Gara menyunggingkan senyum miring. Sementara bawahannya hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


"Mereka melakukan perbuatan menjijikan dirumahku! Didepan mataku sendiri! Mengabaikan aku dan putriku. Aku tidak berani membuka mulut karena diancam. Mereka akan membuang putriku ke tempat perdagangan wanita. Aku lemah saat itu. Tapi sekarang, aku yakin untuk mengungkapkan semuanya. Dan aku, aku tidak ingin bersama Frans lagi!" Ujarnya. Wanita itu membawa surat cerainya.

__ADS_1


"Huh, aku tidak menyangka, kau sebejat itu. Ayah, apa Ayah masih ingin bersama istrimu ini?" Sinis Gara. Ia menatap Ayah yang hanya terdiam menatap ketiga pelaku kejahatan itu. "Karena istrimu sudah membawa surat cerainya, cepat tanda tangan!" Lanjut Gara.


Wanita itu segera menyodorkan surat cerai pada Frans. Lelaki itu menatap wajah istrinya dengan tatapan memohon. "Maafkan aku sayang, aku tidak ingin bercerai denganmu. Aku berjanji untuk memperbaiki semuanya."


"Kau tidak! Tapi aku, ingin. Jadi, cepatlah tanda tangan!"


"Wanita sialan!" Umpat Frans.


"Cepatlah tanda tangan!" Ben mendorong kasar kepalanya. Lelaki itu melepas sebelah tangan Frans yang diborgol, dan membiarkannya menandatangani surat itu.


"Lanjutkan Ben!" Perintah Gara, membuat Ben kembali memborgol Frans. Seorang pengawal menggantikan Ben untuk mencambuk Frans. Dua pengawal lagi datang untuk menangani Laura dan Roy.


Gara menolehkan wajahnya dan tak sengaja melihat Viko mengusap kedua matanya. Ia yakin, lelaki itu sedang menahan air matanya.


"Hentikan, Ben!" Perintahnya. Frans, Laura dan Roy sudah lemah menerima cambukan itu.


"Bawa mereka ke tempat kurungan!"


"Baik, tuan."


Ben segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa ketiga orang itu menuju tempat kurungan. Tempat yang terletak di pulau kosong dan terpencil milik Gara. Semuanya dihuni oleh pengawal Gara yang bertugas untuk membimbing orang-orang berperilaku buruk.


"Maaf, Bu. Aku tidak bisa melakukannya. Mungkin selama ini aku diam. Tapi kali ini, aku akan mendukung keputusan kakak. Ibu seharusnya lebih mengerti diriku. Aku tidak ingin Ibu memberikan harta untukku. Aku hanya ingin Ibu memperhatikanku dan memberiku kasih sayang. Hanya itu. Bukan yang lain."


"Viko!"


"Ayo, nyonya!" Pengawal itu langsung menarik Laura. Tak membiarkan dirinya berhenti di depan Viko lebih lama lagi.


"Dengar Gara! Aku pastikan. Aku akan membalas dirimu!!" Teriak Roy, saat melewati pintu rumah Gara.


Gara hanya tersenyum sinis mendengar peringatan itu. "Kenan. Buatlah awak media memberitakan tentang putra kedua keluarga Grisam yang sudah kembali. Jangan biarkan berita tentang pelaku penculikannya terkuak. Cukup kita yang tahu pelaku penculikanya."


"Baik tuan, akan saya lakukan." Ujar sekretaris Kenan.


Setelah memberikan perintah pada sekretaris Kenan, Gara meraih handphonenya dan mengirimkan pesan pada Ben.


^^^Gara^^^


^^^Bawa dokter untuk mengobati mereka. Kurung mereka hingga aku memutuskan mereka boleh kembali.^^^


Ben

__ADS_1


Baik, tuan.


Setelah kepergian orang-orang itu, acara pun berakhir. Para tamu berpamitan pulang. Viko berjalan gontai menuju ruang keluarga. Ia terduduk menunduk dengan kedua tangan yang menopang kepalanya.


"Aku tahu, kau sedih melihat Ibumu seperti itu. Kau juga sedih melihat Ibumu yang terluka oleh cambukan. Tapi, kau harus tahu, itu adalah salah satu didikan agar mereka tidak berbuat jahat lagi."


"Aku tahu, Kak. Maafkan Ibuku. Ibuku sudah membuat kesalahan besar. Dan dia pantas dihukum." Ujarnya sambil menahan air matanya yang mulai menggenang agar tidak terjatuh.


"Sudahlah. Cepat kembali ke kamarmu dan istrirahat! Percayalah jika Ibumu akan baik-baik saja. Aku tidak akan membunuh mereka. Mereka hanya akan dibimbing menjadi lebih baik. Kau juga boleh sesekali menjenguk Ibumu." Jelas Gara.


"Baik, kak. Terima kasih. Aku akan ke kamarku."


"Ya."


Gara bergegas menuju kamar Kakek dan Neneknya setelah kepergian Viko. Ia hanya ingin memastikan keadaan Kakek Neneknya yang terlihat syok mengetahui hukuman yang akan pelaku kejahatan itu dapatkan. Mereka tidak begitu percaya mengenai rumor jika cucu mereka adalah orang yang kejam. Tapi hari ini, mereka melihatnya sendiri. Karena itulah mereka merasa terkejut dan memilih untuk tidak menyaksikan hukuman itu.


"Kakek, Nenek, apa aku boleh masuk?" Tidak ada jawaban yang terdengar. Gara mencoba membuka pintu, dan ternyata tidak dikunci. Dapat dilihatnya sang Kakek dan Nenek yang tertidur lelap. Dia menutupnya kembali dan bergegas ke kamarnya. Sebelum itu, ia melihat kedua putranya dulu. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


"Kamu belum tidur?" Gara menaiki ranjang dan langsung berbaring memeluk Alula.


"Belum. Aku menunggumu." Lelaki itu mengecup kepalanya sekali. Alula mendongak menatap wajah Gara. "Apa kamu sudah bertemu Viko?"


"Sudah."


"Bagaimana dia?"


"Jangan terlalu mengkhawatirkan lelaki lain, Alula. Aku bisa cemburu."


Alula menarik nafasnya. "Huufth... Dia adikmu dan adik iparku. Aku hanya kasihan padanya."


"Baiklah. Dia tentu saja sedih. Tapi, aku sudah memberitahunya. Ibunya akan baik-baik saja di tempat kurungan. Mereka hanya akan dibimbing menjadi lebih baik."


Mungkin, akan ada sedikit kekerasan jika mereka melakukan perlawanan.


"Itu saja?"


"Aku juga mengatakan jika dia boleh mengunjungi Ibunya sesekali."


"Syukurlah."


"Sudah larut. Ayo tidur!" Ujar Gara, menarik selimut dan membenamkan wajah Alula di dadanya kemudian memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2