
Alula, Gara, Edo dan sekretaris Kenan berjalan beriringan menuju ruang rawat Ayah Irene. Alula mengetuk pintu ruangan. Tak lama, pintu terbuka.
"Eh, Alula. Ayo masuk!"
"Makasih ya." Ucap Alula, berjalan masuk mengikuti Irene. Alula menyerahkan beberapa buah yang ia bawa.
Irene menerimanya. Belum sempat ia meletakkannya di atas nakas, Gara masuk bersama sekretaris Kenan, di ikuti Edo di belakangnya.
Senyum Irene seketika luntur melihat Edo yang berjalan masuk. Irene menghampiri Edo dengan penuh amarah.
"Untuk apa kau kesini, Hah? Ingin membuatku susah lagi?" Amarah Irene meluap. Ia berkata sambil menunjuk wajah Edo.
Alula yang melihatnya tidak tega. Ia menghampiri Irene dan menenangkannya.
"Irene, sudah! Kontrol diri kamu. Ayahmu sedang beristirahat. Suara dapat mengganggunya."
"Untuk apa kau membawanya kemari? Jika hanya tuan Gara dan sekretaris Kenan, aku tidak masalah." Ucap Irene, sedikit menurunkan suaranya.
"Maafkan aku. Dia memaksa ikut. Aku tidak tahu jika di antara kalian ada masalah."
"Dia jahat, Alula. Dia jahat." Lirih Irene sembari meneteskan air matanya.
Edo yang melihatnya merasa tidak tega. Ia melangkah, mencoba mendekat da mengulurkan tangannya. Namun, di tepis begitu saja.
"Irene aku..."
"Pergi kau dari sini! Aku tidak ingin melihat mu."
Edo tak bergeming. Yang ia lakukan adalah membiarkan Irene meluapkan semua emosinya. Ini adalah salahnya.
Asya yang baru saja datang, langsung menghampri Mamanya. "Mama?" Panggil Asya, membuat semua orang menoleh.
Deg...
Mama? Ap-apa dia anakku?" Batin Edo.
"Mama kenapa?" Tanya Asya, memeluk kaki Ibunya.
"Mama tidak apa-apa sayang." Jawab Irene, mensejajarkan dirinya dengan Asya.
"Irene, aku mohon. Aku ingin berbicara dengan mu."
Ucapan Edo tersebut mengalihkan pandangan Asya. Anak itu mentap Edo dengan mata yang memicing.
"Siapa Paman ini, Ma?" Tanyanya pada Irene.
"Nanti Mama akan kasih tahu. Sekarang kamu sama tante Alula ya? Mama mau bicara dengan paman itu."
Setitik senyum muncul di bibir Edo. Irene masih memiliki hati untuk membiarkannya berbicara.
"Alula, aku titip Ayah dan Asya." Ucap Irene, kemudian membugkuk berpamitan pada Gara dan sekretaris Kenan.
__ADS_1
Edo berjalan di ikuti Irene di belakangnya. Keduanya berhenti di taman. Belum ada satupun diantara mereka yang berbicara. Keduanya sama-sama diam.
Lima menit berlalu, Edo masih belum berbicara. Irene yang merasa kesal pun, beranjak hendak pergi. Namun, dengan segera Edo menahannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Edo.
"Aku mau ke ruangan Ayahku. Kau meminta waktu untuk bicara. Dan sekarang, kau belum membicarakan apa-apa. Apa kau pikir, aku tidak ada pekerjaan lain selain menunggu mu bicara?"
"Huuh. Maafkan aku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana."
"Jika kau tidak tahu, kenapa memaksa untuk bicara? Pikiran baik-baik apa yang ingin kau bicarakan, baru kau mengajakku untuk bicara." Ujar Irene, lalu melangkah pergi.
Melihat itu, Edo dengan sigap menarik tangan Irene dan memeluknya erat. Ia sudah kehilangan Irene selama ini. Ia tidak ingin kehilangnnya lagi.
"Maafkan aku... maafkan aku... maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku brengsek. Tapi, aku berani bersumpah, aku tidak benar-benar tidak sadar saat itu. Aku tidak pernah merasakan rasa bersalah sebesar ini. Aku mohon maafkan aku."
Irena terdiam. Ia tidak membalas memeluk Edo. Hanya air mata yang terus jatuh. Selama bertahun-tahun ia berusaha melupakan itu semua, tapi Edo kembali datang dan mengingatkannya.
"Aku mohon Irene, maafkan lah aku. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalah ini terus."
Irene berusaha meregangkan pelukan Edo. Namun, Edo malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Jika kau merasa bersalah, aku sudah memaafkan mu. Lepaskan aku!" Kata Irene.
"Aku tidak akan melepaskan mu. Aku akan menebus semua kesalahan ku. Ayo, menikah dengan ku!"
Ucapan Edo membuat Irene mematung. Jantungnya berdegup kencang. Edo mengajaknya menikah.
Laki-laki itu menggeleng. Mendorong pelan tubuh Irene, melepasakan pelukkannya. Kedua tangannya beralih memegang sisi kedua bahu Irene.
"Dengarkan aku baik-baik! Aku benar-benar tulus mengajak mu menikah. Aku mencintai mu."
Kejutan apa lagi ini. Baru saja Edo mengajaknya menikah, sekarang ia malah di buat kaget lagi dengan pernyataan cinta Edo.
"A-apa kau sungguh-sungguh dengan yang kau ucapkan?"
"Ya. Aku sungguh-sungguh. Semua yang terjadi beberapa tahun ini menyadarkan ku. Ini bukan hanya rasa bersalah. Tapi, aku memiliki rasa yang lain terhadapmu." Ucap Edo, memandang lekat wajah Irene.
"Aku mohon Irene, berikan aku kesempatan itu! Apa kau tidak kasihan pada gadis kecil tadi? Dia juga membutuhkan sosok Ayah." Lanjutnya.
Irena menghembuskan nafasnya. "Dia tidak membutuhkan Ayah. Ada aku untuknya sudah cukup." Jawab Irene.
"Tapi, aku Ayahnya. Dia berhak tahu akan itu."
"Kenapa kau seyakin itu dia anak mu? Lagi pula, aku sudah mengatakan padanya, Ayahnya meninggalkan kami saat dia berusia satu bulan karena kecelakaan. Dan dia percaya itu. Sejak saat itu, dia tidak bertanya lagi."
"Kenapa kau setega itu?!" Ujar Edo, tak menyangka. Bahkan anaknya menganggapnya sudah tiada.
"Bukannya aku tega. Tapi itulah yang harus ku lakukan. Putriku berhak hidup, tanpa harus memikirkan Ayahnya." Jawab Irene.
"Sudah cukup kita berbicara. Aku ingin menemui Ayah dan putriku. Ingatlah! Aku sudah memaafkan mu. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah." Sambung Irene, lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Namun, belum beberapa langkah, handphonenya berdering. Membuatnya terpaksa menghentikan langkahnya.
"Hallo, Alula. Ada pa?"
"Apa?! Aku akan kesitu." Ucap Irena, langsung memutuskan panggilanya.
Wanita itu segera berlari memasuki rumah sakit. Tidak peduli dengan teriakkan Edo, yang penasaran dengan apa yang terjadi.
Merasa di abaikan Irene, Edo juga ikut berlari menyusulnya. Perasaannya menjadi tidak enak, melihat respon yang Irene tunjukkan setelah menerima telpon.
***
"Alula, gimana keadaan Ayah?" Tanya Irene, terengah-engah karena lari dari tamana menuju ruangan Ayahnya.
"Dokter masih memeriksanya."
"Bagaimana bisa terjadi?"
"Aku juga tidak tahu. Tadi, Ayahmu sedang mendengarkan Asya bercerita. Tiba-tiba, ia mengatakan kepalanya sakit, kemudian tidak sadarkan diri."
"Ya Tuhan, selamatkam Ayahku." Gumam Irene.
Edo yang baru sampai hanya bisa terdiam. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Ingin bertanya, tapi ia urungkan. Yang jelas, ia merasa sesuatu telah terjadi pada Ayah Irene.
Matanya melirik pada gadis kecil yang ada di pangkuan Gara. Hatinya bergetar melihat gadis kecil itu sesenggukkan. Edo bergerak, duduk di samping Gara.
"Gadis cantik, siapa nama mu?" Tanya Edo, sedikit membungkuk, mensejajarkan dirinya dengan Asya yang berada di pangkuan Gara.
"Asya, paman." Jawab anak itu, masih sesenggukkan.
"Asya, ayo sama Ay... paman!" Ujar Edo. Hampir saja ia keceplosan menyebut dirinya Ayah.
Edo memindahkan Asya ke pangkuannya. Ia mendekap dengan erat gadis mungil itu. Setelah enam tahun, ia baru bisa melihat dan memeluknya.
Decitan pintu ruangan yang terbuka, membuat Irene segera menghampiri dokter yang keluar.
"Bagaimana keadaan Ayah saya, dok?" Tanya Irene, dengan nada khawatir.
Dokter menggeleng. "Maaf kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi, tuhan berkehendak lain. Pasien mengalami pendarahan hampir setengah bagian otak. Kami tidak bisa menyelamatkan nya."
Deg...
Bagai dihimpit batu besar, dada Irene terasa sesak. Kenyataan apa ini. Ayahnya meninggal?
"Ti-tidak mungkin dok. Ay-ayah saya masih hidup. Dokter sudah melakukan operasi pada Ayah saya. Ayah saya sudah sembuh." Ujar Irene, tak percaya. Air matanya terus mengalir.
"Maaf nona, kami sudah mengatakan jika operasi tidak menjamin Ayah anda akan kembali sehat. Semua kemungkinan bisa saja terjadi." Ujar si dokter, yang membuat Irene mematung.
"Kalau begitu, saya permisi." Pamit si dokter.
Irene mengusap air matanya. Dengan langkah gontai ia memasuki ruang Ayahnya. Alula, Gara, Edo, Asya dan sekretaris Kenan pun ikuta masuk.
__ADS_1
Tangis Irene pecah saat melihat jasad Ayahnya. Asya yang berada di gendongan Edo, melompat turun dan memeluk tubuh kaku kakeknya. Berakhir sudah perjuangan Irene merawat Ayahnya. Kepergian Ayah, adalah luka terberat dalam hidupnya.