Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Kedatangan Laura


__ADS_3

Hampir dua minggu Alula tinggal di rumah Gara. Ia sudah terbiasa dengan suasana rumah tersebut. Seperti saat ini, Alula sedang memasak sarapan pagi untuk mereka berempat.


"Apa yang anda perlukan lagi nona?" Tanya seorang pelayan rumah itu.


"Tidak ada. Kalian lakukan pekerjaan kalian. Biar aku yang mengurus sarapannya." Pelayan tersebut membungkuk lalu melanjutkan pekerjaannya.


Alula melanjutkan memasaknya. Beberapa menit kemudian, ia selesai dan menghidangkannya di meja.


"Selamat pagi Bu." Sapa Darrel, menarik salah satu kursi meja makan.


"Pagi Bu." Darren juga duduk di salah satu kursi.


"Pagi anak-anak Ibu." Balasnya dengan senyum mengembang.


"Pagi Alula." Suara berat yang sering ia dengar dua minggu terakhir ini, membuatnya menoleh. Gara terlihat sangat tampan pagi ini. Alula tersadar lalu menggelengkan kepalanya.


"Pagi." Jawabnya, berusaha setenang mungkin.


Apa yang aku pikirkan? Batin Alula.


Alula menyendokkan nasi goreng buatannya untuk Darren dan Darrel. Dan seperti seminggu belakangan ini, Gara juga ikut menyodorkan piringnya, meminta Alula menyendokkan untuknya.


Setelah mengisi piring-piring tersebut, Alula bergegas pergi.


"Kau mau kemana?" Tanya Gara.


"Aku akan mengganti baju."


"Duduklah. Sarapan dulu. Kami bisa menunggu mu ganti baju nanti. Tidak baik melewatkan sarapan bersama."


"Benal Bu. Nanti Ibu salapan sendili. Tidak enak makan sendili." Timpal Darrel.


Alula pun mengalah. Ia duduk dan sarapan bersama.


***


Mobil Gara berhenti di gerbang sekolah. Alula dan Gara ikut turun bersama Darren Darrel. Tak berselang lama, sebuah mobil hitam juga berhenti. Lalu turun Edo, Irene dan Asya.


"Darrel." Sapa Asya langsung menghampiri Darrel.


"Hai Asya." Darrel menoleh ke arah lelaki yang berdiri dengan tangan yang menggenggam tangan Irene.


"Paman asing kenapa kesini? Kenapa baleng tante sama Asya?"


"Kamu kenal Papa aku?"


Seketika otak Darrel berputar. Ia ingat jika Edo dan Irene sudah menikah. Tapi ide jahil muncul di otaknya.


"Hah? Papa kamu? Bukannya kata tante Papa kamu udah gak ada?" Balas Darrel membuat Irene meringis.


Alula melotot ke arah Darrel dan Gara malah menahan tawa. Kedipan mata Darrel pada Gara membuat lelaki itu mengacungkan jempol.


Perkataan Darrel berhasil memancing Edo menoleh pada Irene. Wanita itu hanya meringis takut melihat tatapan Edo.


"Jelaskan nanti!" Bisik Edo membuat Irene merinding mendengarnya.


"Ayah, Ibu. Darren masuk."


Anak yang sejak tadi diam itu berjalan masuk tanpa mempedulikan mereka yang menatapnya. Edo melirik ke arah Gara.


"Emang ya, buah jatuh gak jauh dari pohonnya." Celetuk Edo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gara.


"Pa, Ma. Asya masuk dulu."


"Dallel juga Bu, Yah."


"Iya sayang. Belajar yang rajin ya kalian." Balas Alula dengan senyum khasnya.


"Siap bu."


"Ok tante."


Kedua anak kecil itu melangkah menjauhi mereka. Gara kembali menoleh, tatapannya melembut pada Alula. Edo dan Irene pun sadar dengan perasaan Gara pada Alula. Namun berbeda dengan Alula.

__ADS_1


"Ayo ke kantor!" Ajak Gara yang langsung di angguki Alula.


"Gara!" Panggilan Edo menghentikan langkah keduanya.


"Apa?"


"Kau selalu ketus jika dengan ku. Berbeda saat bersama Alula."


Perkataan Edo menimbulkan efek besar bagi jantung Alula. Wajah wanita itu bersemu menyadari jika ucapan Edo itu benar.


"Dia perempuan dan kau laki-laki. Aku tidak ingin di bilang penyuka sesama jenis karena berkata lembut padamu."


Tanpa menunggu balasan Edo, Gara langsung membukakan pintu untuk Alula. Kemudian mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi. Gara membunyikan klakson mobilnya, segera melaju meninggalkan Edo dan Irene.


Irene yang tidak bisa menahan tawanya terkikik melihat ekspresi Edo. Namun seketika ia terhenti mendapati Edo menatapnya tajam.


"Masuk!" Perintah Edo dengan wajah datar.


"Mau kemana?" Irene bertanya dengan suara pelan ketakutan.


"Menerima hukuman mu."


Edo langsung menarik tangan Irene masuk dan memasangkan seatbelt untuknya. Tak lama, mobil Edo pun melaju meninggalkan sekolah.


***


Sekretaris Kenan mengedarkan pandangannya di ruangan Gara. Tuannya itu tidak pernah pergi tanpa memberi tahunya. Tapi jika Gara pergi, sudah pasti ia melihatnya.


"Apa tuan sedang istirahat di dalam?" Gumam sekretaris Kenan mentap sebuah pintu yang ada dalam ruangan tersebut.


Sekretaris Kenan melangkah dan mengetuknya. Tiga kali ketukan, pintu terbuka. Kenan melihat wajah Gara yang menunjukkan jika lelaki itu baru saja bangun tidur.


"Maaf tuan, saya mengganggu."


"Tidak perlu minta maaf. Seharusnya saya tidak tidur di jam kerja."


Gara melangkah menuju sofa dan mendudukinya. Dengan tangannya, ia mengisyaratkan agar sekretaris Kenan juga duduk.


"Ada apa?" Gara merasakan ada sesuatu yang ingin Kenan sampaikan.


Gara mengerutkan keningnya, tanda ia tak mengerti dengan ucapan sekretaris Kenan. "Maksudnya?"


"Saya tidak jujur pada tuan jika nona memiliki mantan kekasih. Saya menyembunyikan ini dari tuan sejak pertama kali saya memberitahukan informasi tentang nona, sebelum tuan kecelakaan. Saya juga tidak memberitahu tuan saat tuan meminta saya mencari informasi tentang lelaki itu beberapa minggu yang lalu. Maafkan saya tuan."


"Saya sudah mendengar jika Alula memiliki mantan kekasih dari Edo. Tapi, saya tidak tahu jika lelaki yang saya hajar kemarin adalah dia. Saya juga tidak bertanya pada Alula."


"Maafkan saya tuan."


"Ya. Tapi saya penasaran alasanmu melakukan itu."


"Lelaki itu adalah penyebab nona berada di club itu. Dia berselingkuh dengan kakak nona sendiri. Jika saya memberitahukan tuan, pasti tuan akan menghancurkannya. Dan tuan akan terlihat buruk di mata nona. Tuan tahu bagaimana nona. Meskipun ada yang menyakitinya, ia tidak ingin membalas orang itu."


"Maafkan saya tuan. Saya hanya tidak ingin nona menganggap tuan buruk dan menjauh dari tuan."


"Ya. Saya mengerti sekarang. Kau boleh keluar."


Sekretaris Kenan berdiri lalu membungkuk dan keluar dari ruangan itu.


Gara melangkah menuju kursinya. Ia melihat jam dan ternyata sudah pukul dua siang. Lelaki itu meraih tepon dan menelpon Alula.


"Ke ruanganku!" Ujarnya kembali memutuskan telponnya.


Alula masuk dan langsung menghadapnya. Matanya menyipit melihat wajah Gara yang seperti baru bangun tidur.


"Bereskan semua berkas ini lalu bereskan meja kerja mu. Kita pulang."


"Pulang tuan?" Tanya Alula, mengubah panggilan Garanya menjadi tuan.


"Ya. Kenapa?"


"Tapi peker..."


"Jangan menolak Alula." Kata Gara lembut namun terasa mematikan bagi Alula.

__ADS_1


Tak banyak bicara, Alula segera merapihkan meja Gara yang sebenarnya tidak berantakan. Kemudian ia keluar dan merapihkan mejanya.


"Ayo!" Ajak Gara yang entah sejak kapan berada di belakangnya.


Alula meraih tasnya, mengikuti langkah Gara. Lelaki itu berhenti di dekat sekretaris Kenan yang berdiri.


"Selesaikan semuanya. Ajak kerja sama dengan perusahaan mereka."


Kenan menguk ludah mendengarnya. Dia tahu mereka yang dimaksud Gara itu. Pasti Gara sedang merencanakan sesuatu.


"Baik tuan." Jawabnya berusaha tenang.


***


"Ayo Darrel kamu coba lagi,"


"Bu, Dallel susah Bu nyebutinnya."


"Berusaha sayang. Kamu mau nggak dapat kado dari Darren." Ujar Alula sambil melirik Darren yang fokus dengan ponsel barunya yang di belikan Gara. Darrel juga memilikinya. Gara sengaja membelikan keduanya.


"Enggak Bu."


"Ayo coba lagi."


Alula terus berusaha melatih Darrel mengucapkan huruf R. Gara sedang mandi. Sepulang kantor, dia langsung tertidur dan baru bangun jam 6 petang. Sekarang hampir jam 7. Dan Alula memanfaatkannya untuk membantu Darrel belajar mengucap huruf R.


Suara dentuman pintu rumah membuat Alula dan kedua putranya menoleh. Seorang wanita berpakaian seksi berjalan ke arah mereka. Wanita itu sedikit terkejut melihat kedua anak kecil yang begitu mirip Gara.


"Siapa kalian?" Tanya wanita itu dengan tatapan sinis.


"Anda tamu. Tidak sopan bertanya seperti itu." Balas Darren dengan sorot mata dingin.


"Heh anak kecil. Berani sekali kau berkata seperti itu? Saya ini nyonya disini."


"Nyonya moh..."


"Diam kau pelayan!" Wanita itu langsung memotong ucapan si pelayan.


Nyonya? Apa dia kekasih atau istrinya Gara? Apa dia yang namanya Hani? Batin Alula.


"Anda hanya nyonya. Bukan pemilik lumah." Darrel menimpali.


"Kau juga. Anak kecil jangan ikut campur." Ujar wanita itu. Matanya beralih menatap Alula dari atas sampai bawah.


"Kau wanita simpanan Gara? Atau wanita yang Gara bayar untuk di tunjukkan padaku? " Sinis wanita itu membuat hati Alula sakit.


"Maaf nyonya, saya bukan wanita seperti itu."


"Huh aku tidak percaya."


"Kau boleh saja tidak percaya. Tapi dia Ibu dari anak-anak ku." Suara Gara yang sedang menuruni tangga menusuk telinga orang-orang di ruangan tersebut.


Gara mendekati wanita itu. "Dia Ibu dari kedua putraku. Dia pemilik rumah ini. Kau mau apa?"


"Gara aku merindukan mu." Ujar wanita itu bergelayut di lengan Gara. Namun hanya sebentar. Gara dengan sedikit kasar menepisnya.


"Aw. Kenapa kamu kasar sekali?"


"Berhentilah menjadi perempuan penggoda Laura."


Ya wanita itu adalah Laura, Ibu tiri Gara yang terigila-gila pada Gara. Wanita itu mendengus kesal atas penolakan Gara.


"Jangan banyak membual Gara. Kau pasti takut Viko mendahuluimu kan? Aku tidak menyangka kau akan membayar wanita seperti ini."


"Jangan memancingku Laura! Pergi atau ku patahkan tulangmu?" Gara berucap serius. Laura yang melihatnya mulai gemetaran. Sorot mata itu menandakan bahwa Gara sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Kau tidak perlu mengancamku. Aku akan pergi. Tapi aku akan memberitahu Ayahmu jika kau membawa seorang janda dan anaknya kemari."


Gara mengacuhkannya. "Bawa dia pergi!" Ujar Gara pada beberapa pengawalnya.


"Jangan menyentuhku! Aku bisa sendiri!" Bentak Laura saat hendak di bawa pengawal Gara.


Setelah Laura pergi, Gara menatap Alula dan kedua putranya. Ia menarik nafas lalu menghampiri Darren Darrel.

__ADS_1


"Ayo kita makan!" Ajak Gara. Ia menuntun kedua anaknya ke meja makan, mengacuhkan Alula yang terus menatapnya.


Alula menghembuskan nafas pelan dan mengikuti mereka. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan. Kedatangan Laura dan sikap Gara barusan, membuat setitik rasa itu muncul.


__ADS_2