
Gara membaringkan Darren ke tempat tidur yang memang di siapkan di ruangannya. Alula juga ikut terduduk di ranjang tepat di bawah kaki Darren. Matanya menyipit kala melihat Gara yang bukannya keluar, tapi malah duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Kenapa tuan duduk disitu?" Tanya Alula.
"Kenapa? Apa kau ingin aku duduk bersama mu dan Darren di ranjang?"
"Bu-bukan itu. Maksud ku, kenapa tuan tidak keluar? Aku beristirahat bersama Darren."
"Ini ruangan ku. Terserah aku, mau keluar atau tidak." Ujar Gara. "Percayalah padaku! Selain ini rumah sakit, ada Darren disini. Aku tidak bisa melakukan apa-apa pada mu." Sambungnya, membuat Alula menunduk, menyembunyikan rasa malu-nya.
Gara menarik kursi semakin dekat pada Alula. Wanita yang sedang menunduk itu beringsut lebih dekat pada Darren.
"Apa kau takut pada ku?"
"Aku berjanji tidak akan asal menciummu kali ini. Tolong dengarkan aku." Ujar Gara, tulus.
"Aku ingin menjelaskan semuanya pada mu. Semua tentang mengapa aku tidak mencari mu selama ini." Sambung Gara, saat Alula mau mendengarkannya. Gara mulai menceritakan semuanya.
***
Beberapa tahun lalu, tepat setelah keributan antara Gara dan Edo di ruangan milik Gara, Edo segera mengirim orang-orangnya untuk mencari identitas gadis yang bersama Gara malam itu.
Gara pun tak tinggal diam. Dia juga meminta Sekretaris Kenan untuk menyelidiki gadis itu.
Orang-orang suruhan sekretaris Kenan maupun Edo, sama-sama menemukan identitas gadis tersebut.
Mereka sama-sama mengunjungi kediaman Alula. Namun, mereka tidak menemukannya di rumah. Alula menghilang sejak semalam.
"Maaf tuan, kami sudah menemukan tempat tinggalnya. Tapi, perempuan itu tidak kembali sejak malam itu." Lapor salah satu suruhan Edo pada Gara, yang pada saat itu sedang bersama Edo dan sekretaris Kenan.
"Apa yang kau dapat Kenan?"
"Sama seperti tuan Edo, suruhan saya juga tidak bertemu dengannya. Tapi, kami memiliki data-data lengkap mengenai gadis itu, tuan."
"Berikan!"
Sekretaris Kenan memberikan data-data milik Alula dan juga fotonya. Gara menerimanya lalu menyimpannya dengan baik.
"Tetap awasi tempat itu. Kabarkan saya jika ia kembali."
"Baik tuan."
Tiga hari berlalu. Gara mendapatkan informasi jika Alula telah kembali ke rumahnya. Gara berniat akan menemui Alula. Ia ingin membicarakan masalah malam itu.
Meskipun ia di katakan kejam, tapi sisi lembutnya tiba-tiba muncul saat ada hal menyinggung masalah malam itu. Itu hanya berlaku untuk Alula, tidak dengan yang lain.
Gara memasuki mobilnya. Selembar foto yang di berikan sekretaris Kenan terus ia genggam.
"Aku akan menemuimu. Maaf, aku mengambil kesempatan dalam keadaan mu seperti itu." Ujarnya, memikirkan kembali kejadian malam itu.
Gara sekali lagi memerhatikan foto itu, lalu menyimpannya di laci dashboard. Gara melajukan mobilnya ke alamat yang sekretaris Kenan berikan.
"Aku akan bertanggung jawab pada mu." gumam Gara, terus memandang lurus jalanan.
Namun, hal buruk terjadi padanya. Mobilnya di pepet oleh dua mobil lainnya, sehingga ia terjebak di antara keduanya.
__ADS_1
"Sial! Siapa yang berani mengacaukanku?" Batin Gara.
Kedua mobil itu mengarahkan mobilnya ke jalan menurun yang terjal. Gara cukup kewalahan karena rem mobilnya blong.
Untuk menyelamatkan nyawanya, Gara melompat hingga ia terjatuh dan kepalanya mengenai sebongkah batu, yang pada akhirnya menjadi penghalang ia bertemu Alula.
Kepalanya terasa pusing dan sangat sakit. Saat hendak berdiri, ia malah di hajar oleh empat orang yang tidak dia kenal.
Setelah puas, mereka meninggalkan Gara yang terbaring tak sadarkan diri di pinggir jalan. Sementara mobilnya, sudah rusak parah karena menabrak pembatas jalanan.
Dalam keadaan tak sadarkan diri, Gara di bawa oleh beberapa pengendara yang melintas, menuju rumah sakit. Pihak rumah sakit yang mengenali Gara, segera menghubungi sekretaris Kenan.
"Bagaimana keadaan tuan?" Tanya sekretaris Kenan pada dokter.
"Pendarahan di otak tuan cukup parah. Kami sudah menanganinya. Masa kritisnya sudah ia lewati. Tapi, tuan mengalami koma."
"Koma? Kapan tuan akan sadar?"
"Kami tidak bisa memperkirakannya. Semoga bisa segera sadar."
Sekretaris Kenan menghela nafasnya, berat. "Baiklah. Terima kasih, atas infonya."
"Sama-sama tuan. Kalau begitu, saya permisi."
Semenjak Gara dinyatakan koma, sekretaris Kenan maupun Edo mengabaikan informasi tentang Alula. Mereka semuanya fokus pada Gara.
Tiga bulan berlalu, akhirnya Gara sadar dari komanya. Namun, ia mengalami amnesia. Ia lupa pada apa yang terjadi sebelumnya. Ia hanya bisa mengingat orang-orang terdekatnya.
***
Alula masih setia mendengarkan cerita Gara. Bahkan sesekali ia bertanya.
"Aku di bantu Kenan dan Edo. Aku dibantu mengingat hal-hal penting. Mereka juga membantuku mengingat kejadian malam itu. Tapi, itu tidak semudah mengingat yang lainnya. Aku selalu gagal untuk mengingatnya. Sampai pada akhirnya, aku meminta mereka untuk tidak membahas kejadian malam itu."
"Dan bersyukurlah, karena fotomu yang di laci dashboard mobilku, aku mengingat semuanya hari ini."
"Fotoku? Bukankah mobilmu rusak parah saat itu. Bagaimana bisa fotoku masih ada mobilmu. Bahkan mungkin, mobil itu bukan mobil yang kau gunakan saat kecelakaan."
"Entahlah. Semuanya Kenan yang urus. Mungkin dia juga yang meletakkan fotomu di mobilku." Ucap Gara. "Tapi, aku sangat bersyukur. Aku mengingat kembali semuanya."
Alula terdiam. Gara sudah mengingat semuanya. Apakah Gara akan mengambil Darren dan Darrel darinya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Gara, menyadarkan Alula dari lamunannya.
"Tidak."
"Tidurlah. Kau pasti mengantuk." Ucap Gara, lalu berdiri hendak pergi.
"Tuan mau kemana?"
"Aku ingin keluar. Kenapa? Apa kau ingin aku menemanimu tidur? Baiklah, aku akan tetap disini." Ujar Gara kembali duduk.
"Tidak-tidak. Tuan boleh keluar. Biarkan aku bersama Darren di sini."
"Haha... Kau sangat lucu. Aku akan menemui Kenan. Kau tidurlah, jangan khawatirkan Darrel. Biar aku yang menjaganya."
__ADS_1
Gara keluar dari ruangan tersebut, menuju ruang IGD, tempat Darrel di rawat. Disana sudah ada Sekretaris Kenan beserta pengawal yang Gara minta.
"Selamat malam tuan." Hormat sekretaris Kenan, sedikit membungkukkan badannya. Pengawal pun juga ikut membungkuk hormat pada Gara.
"Hmmm." Balas Gara, lalu masuk ke ruangan Darrel.
Gara duduk, memperhatikan Darrel yang sedang tertidur. Tangannya terulur menyentuh kening Darrel. Panasnya sudah menurun.
"Cepat sembuh." Ucap Gara pada Darrel.
Gara menyadarkan tubuhnya. Ada sesuatu yang kurang. Ia merasa, ada yang ketinggalan.
"Ah, aku melupakan hp ku di ruangan tadi."
Gara berdiri, hendak menyuruh sekretaris Kenan mengambil hp nya. Baru selangkah, ia berhenti. Bagaimana bisa ia membiarkan Kenan memasuki ruangan itu. Disana ada Alula dan Darren yang sedang tertidur.
"Tidak. Aku akan mengambilnya sendiri." monolognya.
Segera ia keluar dan menutup pelan pintu, agar tidak mengganggu Darrel.
"Mau kemana tuan?" Tanya sekretaris Kenan.
"Mengambil hp."
"Biar saya saja tuan."
"Tidak perlu. Saya sendiri yang akan mengambilnya." Balas Gara, lalu menjauh.
Enak saja kamu, ingin mengambil hp di ruangan itu. Disana ada Alula dengan anakku yang sedang beristirahat. Aku tidak akan mengizinkanmu. Cukup aku yang boleh masuk. Batin Gara.
Gara terus mendumel tidak jelas. Memikirkan sekretaris Kenan memsuki ruangan itu, membuatnya kesal.
Gara membuka pelan pintu ruangan tersebut. Tidak ingin mengganggu ibu dan anak yang sedang tertidur. Namun dugaannya salah. Ternyata Alula tidak tidur. Ia malah terduduk dan terus memperhatikan Darren.
"Kenapa belum tidur?" Suara Gara, membuatnya menoleh.
"Tuan? Aku tidak bisa tidur. Aku ingin menemani Darrel."
"Disana ada penjaga."
"Tetap saja. Aku tidak bisa tidur jika anakku sedang sakit."
"Baiklah. Ayo kita temani Darrel. Biar Kenan yang akan menjaga Darren." Alula mengangguk. Setelah Gara mengambil hpnya, keduanya menuju ruangan Darrel.
"Ibu temani adik kamu dulu. Tidur yang nyenyak." Alula mencium kening Darren lalu pergi bersama Gara.
Saat tiba di depan ruangan Darrel, Alula tertegun. Disana ada enam pengawal di tambah sekretaris Kenan.
"Tuan, apa ini tidak berlebihan?"
"Tidak. Untuk anakku, semuanya harus terbaik."
Sekretaris Kenan yang mendengarnya tersenyum dalam diam. Sementara para pengawal, hanya bisa menutup mulut mereka.
Semoga tuan selalu bahagia. Batin sekretaris Kenan.
__ADS_1
"Kenan. Bawalah mereka bertiga ke ruanganku. Berjagalah disana. Darren sedang tertidur."
"Baik tuan."