Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Gio Adalah Alex?


__ADS_3

Gio memungut kunci mobilnya lalu mengangkat telpon. Gara dan Ginanjar bersamaan menatap Gio dan terus memperhatikannya, sampai lelaki itu memutuskan panggilan telponnya.


"Apa itu gelang kaki?" Tanya Gara langsung.


"Ya, ini gelang kaki. Kenapa?"


"Boleh saya melihatnya?"


Gio menyerahkannya pada Ginanjar. Lelaki itu terus mengamati gelang tersebut. Alula, Darren dan Darrel hanya mampu menyaksikan tanpa ikut bersuara.


"Gio..." Ucapan ginanjar menggantung, tak bisa lanjut membaca tulisan di gelang tersebut, karena sebagian tulisannya sudah di rusak.


"Darimana kau dapatkan ini?" Gara kembali bertanya. Jantungnya sudah tak bisa berdetak normal. Dia kenal dengan gelang itu. Gelang yang sama persis dengan miliknya.


"Orang tua angkatku yang memberikannya. Kata mereka, gelang ini sudah melingkar di kakiku sejak pertama mereka menemukanku."


"Gara, ambil punyamu." Gara segera bangun dan menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia kembali.


"Ini,"


Ginanjar segera menyamakan gelang milik Gara dengan milik Gio. Matanya terus berusaha membaca lanjutan nama Gio yang terhalang goresan.


"Siapa nama lengkapmu?" Tanya Ginanjar tanpa memperhatikan Gio.


"Namaku Gio saja. Sebenarnya ini ada apa?" Tanyanya bingung.


"Gelang ini mirip punyaku. Sebenarnya gelang ini hanya dikhususkan untuk aku dan adikku. Mendiang ibuku yang mendesain sendiri." Jelas Gara.


"Tulisannya tidak jelas. Coba kau baca, Gara."


Gara mengambil gelang tersebut dari Ginanjar. Perlahan, ia mulai memeperhatiakan tulisan tersebut. Disaat kejahatan ingin menutupi kebenaran, percayalah, tidak semuanya akan tertutupi.


Perlahan, Gara mulai mendapat titik terang untuk membaca tulisan tersebut. Gara membaca potongan-potongan huruf yang tidak terdapat goresan.


"Gio... Al-lex xan-der G-rii sam. Gio Alexander Grisam." Tutur Gara saat berhasil membaca.


Tak menunggu lama, Ginanjar langsung memeluk erat Gio. Matanya meneteskan air mata. Kali pertama Gara melihat Ayahnya menangis setelah kematian Ibunya.


"Tania, aku menemukan anak kita. Anak kita sudah kembali. Alex sudah kembali." Gumamnya tanpa melepas pelukannya.


Gio yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa pasrah saat Ginanjar memeluknya.


"Aku tidak mengerti semua ini. Ada apa sebenarnya?" Tanyanya bingung, setelah pelukan Ginanjar terlepas.


"Aku dulu punya adik, 3 tahun lebih muda dariku. Namanya Alex. Kami kehilangan dia saat berada di taman bermain. Sejak saat itu, kami tidak bisa menemukannya hingga sekarang. Tapi, gelang kaki yang ada padamu membuat aku dan Ayah yakin, kau adalah Alex."


"Aku?" Beo Gio.


"Nak, gelang ini tidak dimiliki siapapun kecuali Gara dan Alex. Ini adalah hasil desain istriku. Aku sendiri yang menyaksikannya."


"Lakukan saja tes DNA. Hasilnya akan lebih jelas." Timpal Darren. Dalam hatinya ia berharap, jika Gio benar-benar adik Ayahnya.

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Kakek akan melakukan tes DNA. Ayo kita ke rumah sakit."


"Tapi Kek, bukannya lumah sakit tidak akan melayani pemeliksaan atau sejenisnya di jam segini?" Tutur Darrel.


"Tenang saja, mereka tidak akan menolak permintaan Kakek." Ujar Gara.


***


Seperti yang dikatakan Gara, pihak rumah sakit tidak akan menolak permintaan Ginanjar. Sekarang, Ginanjar dan Gio sedang melakukan tes di sebuah ruangan. Bahkan Darrel dan Alula baru ingat jika rumah sakit tersebut adalah rumah sakit yang sama saat Darrel di rawat karena DBD.


"Ayah, jika paman Gio adalah adik Ayah, maka paman Gio adalah paman kandungku?"


"Ya, dia akan menjadi paman kandungmu. Apa kau senang?"


"Ya, aku sangat senang." Jawab Darrel, tersenyum pada Ayahnya. Gara juga ikut tersenyum menanggapinya. Ia mengeluarkan handphonenya dan mengetikkan sesuatu, lalu memasukannya kembali.


Tak berapa lama, Ginanjar dan Gio menghampiri mereka.


"Hasilnya akan diambil nanti. Ayo pulang!" Ujar Ginanjar. Mereka sama-sama menuju parkiran dan menaiki mobil yang sama, mobil milik Ginanjar.


"Gio, coba ceritakan tentangmu." Ujar Gara, yang berada di kursi belakang bersama Alula dan si kembar.


"Tentangku? Baiklah."


"Menurut orang tua angkatku, mereka menemukanku di desa kecil kota A." Gio mulai bercerita dan tetap fokus menyetir.


"Saat itu, beberapa bagian tubuhku tergores kecil. Mereka membawaku dan merawatku menjadi anak mereka. Setelah aku lulus SMP, aku dibawa ke kota ini bersama mereka. Tapi keduanya meninggal saat kebakaran kontrakan kami. Saat itu, aku sedang tidak ada di kontrakan. Kepergian mereka membuatku hidup seorang diri dan berusaha hingga menjadi sekarang ini."


"Aku harap semua ini menjadi rahasia kita. Jangan ceritakan pada siapa pun!" Tutur Gara. Ekspresi wajahnya berubah sangat serius.


"Termasuk Ana?"


"Ya. Aku mencurigai beberapa orang dibalik semua ini."


Semuanya mengangguk setuju. Merahasiakan kejadian ini dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.


***


Suasana pagi hari di meja makan rumah Gara begitu hangat. Kebersamaan yang Gara rasakan saat mendiang ibunya masih hidup seakan terulang kembali. Dia bersama kedua putranya, juga Ayahnya dan Gio berkumpul bersama di meja makan. Alula dan Ana sedang menyiapkan makanan yang mereka masak di dapur.


Perempuan yang selalu ceria itu diminta Alula untuk datang dan sarapan bersama. Semangat Ana semakin bertambah saat mengetahui jika kekasihnya juga berada disana.


"Alula. Kenapa Gio bisa berada disini sepagi ini?" Ana penasaran.


"Dia menginap. Si kembar yang minta." Ana mengangguk paham dan tidak bertanya lagi.


"Ayo."


Kedua wanita itu menuju meja makan dengan semangkok besar nasi goreng.


"Yey, Ibu aku mau yang banyak." Teriak Darrel semangat, membuat semua tersenyum gemas padanya kecuali Darren. Dia sudah terbiasa dengan adik kembarnya itu.

__ADS_1


"Ya, makan yang banyak. Kakek tidak sabar melihat kalian tumbuh besar. Pewaris-pewaris Grisam."


Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Semua menyantap makanan dalam keadaan diam.


"Ibu, aku ingin tambah." Suara Darrel memecah keheningan. Alula menyendokkan nasi goreng ke piring Darrel. Membuat anak itu tersenyum padanya.


"Makasih Bu."


Suasana kembali hening. Tapi hanya berlangsung beberapa detik sebelum suara Laura mengisi ruangan itu.


"Wah, keluarga yang bahagia. Kau sangat menikmati sarapan pagimu bersama mereka, sampai lupa padaku, suamiku." Ujar Laura mulai merangkul Ginanjar dari belakang.


Ginanjar hanya terdiam tanpa menghentikan makannya. Mengabaikan Laura yang terus bergelayut di pundaknya.


"Apa kau lupa, sayang? Hari ini jadwalmu chek up. Benturan di kepalamu waktu itu begitu keras. Dokter menyarankan agar kau melakukan chek up untuk mengetahui kondisi kepalamu yang terkena benturan."


"Nenek, jika ingin sarapan bersama, ayo! Tidak perlu mengoceh." Ucap Darren, membuat ketiga lelaki dewasa itu juga Ana dan Darrel hampir bersamaan tersenyum menahan tawa. Sementara Alula membulatkan mata, mendengar ucapan Darren.


Laura yang semula bergelayut di pundak Ginanjar, berdiri tegak. Ia menggeram kesal dalam hati, lalu tersenyum paksa pada Darren.


"Anak tampan, aku sudah sarapan di rumahku. Dan lagi, aku bukan nenek-nenek."


"Jika bukan, kenapa wajahmu sudah keriput?"


"Kau!" Geram Laura dan hendak memukul Darren.


"Berani menyentuhnya, aku patahkan tanganmu!" Ancam Gara. Wajahnya yang semula tersenyum berubah dingin dan menakutkan.


Tangan Laura hanya tertahan di udara tanpa bisa menyetuh Darren. Ia tahu, Gara tidak pernah main-main dengan ucapannya.


Laura menurunkan tangannya dan berbalik menatap Alula. Wajahnya benar-benar menunjukkan jika dia sedang menahan amarah.


"Kau! Ajari anakmu sopan santun. Jangan biarkan mereka menjadi murah sepertimu." Sinisnya.


"Nenek...."


"Tenanglah, Darrel. Ini urusan Ibu." Alula mehan Darrel yang ingin memarahi Laura.


"Maaf nyonya, aku sudah mendidik anak-anakku dengan baik. Aku tahu bagaimana mereka, dan seperti apa sikap mereka. Asal anda tahu, anak-anakku tidak akan kurang ajar pada orang yang sopan. Dan sebaliknya, akan bersikap menjengkelkan pada orang yang tidak memiliki adab." Balas Alula dengan begitu tenang.


"Jadi, kau mengataiku tak sopan, ******?"


"Laura!!" Bentak Gara dengan sangat keras. "Keluar!!" Sambungnya penuh amarah.


"Gara, aku ini..."


"Keluar!" Bentaknya lagi.


Laura mengepalkan tangan dan menghentakkan kakinya, kemudian berjalan keluar. Tapi sebelum itu, ia menatap sinis ke arah Alula.


"Awas kau wanita sialan." Batinnya sambil berjalan menjauh.

__ADS_1


__ADS_2