Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Gio Dan Ana


__ADS_3

Ana tersenyum lega setelah memberikan flashdisk pada Mama nya. Ia keluar ruangan dan menuju halaman depan perusahaan. Tanpa memerhatikan sekitar, Ana menuju gerbang perusahaan.


"Ana!" Langkah Ana terhenti, dan berbalik.


"Gio?" Gumam Ana sambil mengernyit. Ia berpikir, jika Gio sudah kembali lebih dulu. Ternyata lelaki itu masih disini.


"Ku pikir kau sudah pulang." Ujar Ana, saat Gio dekat dengannya.


"Aku tidak sejahat itu, meninggalkan kau disini. Kau datang bersama ku, dan pulang juga harus dengan ku."


"Cih. Sok baik. Tapi, jika kau memaksa, aku bisa apa?" Jawab Ana, lalu berjalan memasuki mobil Gio.


Gio hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul. Kakinya melangkah mengikuti Ana. Setelah keduanya sama-sama berada dalam mobil, Gio melajukan mobilnya.


Mobil melaju, membelah jalanan. Ana yang sejak awal menatap jalanan melalui kaca mobil, kini beralih menatap Gio.


"Gio, terima kasih ya udah bantuin aku."


"Sama-sama. Tapi, setiap bantuan tidak ada yang gratis."


"Kenapa bisa begitu?"


"Tentu bisa. Pokoknya, kau harus memberikan aku imbalannya."


"Kau benar-benar tidak ikhlas menolong."


"Terserah kau menganggap ku seperti apa. Aku akan tetap meminta imbalannya."


"Aish. Merepotkan. Cepat katakan! Imbalan apa yang kau inginkan?"


Gio mengulum senyum. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Kebetulan jalanan yang mereka lewati itu sedang sepi.


"Kenapa berhenti?" Tanya Ana, bingung.


"Tidak kenapa. Aku hanya takut kau terkejut, lalu menjambak ku ketika mobil sedang berjalan. Aku tidak ingin mati muda."


"Aku bukan orang gila. Ayo katakan!"


Gio tersenyum. "Sini, mendekat! Akan aku bisikkan." Ujar Gio.


Ana dengan perasaan malasnya, memajukan wajahnya mendekat pada Gio. Namun, sesuatu yang terjadi berikutnya membuat Ana kaget.


Gio memarik tengkuknya lalu mencium bibirnya. Tubuh Ana hanya bisa terdiam, menerima perlakuan Gio yang tiba-tiba. Gio terus menciumnya, dan terlihat menikmati.


Saat tangan Ana memukul-mukul dadanya, Gio melepaskan ciumannya. Nafas Ana tersengal. Ia beralih menatap tajam Gio.


"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Ana dengan sedikit berteriak.


"Mencuim mu." Jawab Gio, santai.


"Kau gila?! Kenapa mencium ku?"


"Gila? Aku tidak gila. Itu imbalan yang ku minta."


"Apa imbalan harus dengan mencuri ciuman? Kau bisa meminta yang lain." Ujar Ana dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Gio yang melihatnya mulai gelapan. Ia tidak suka melihat Ana menangis. Ia bergeser dan menarik Ana dalam pelukannya.


"Maaf." Satu kata yang terucap dari bibir Gio.


"Apa ini cara mu mengalihkan rasa sakit, karena Alula?" Gio terdiam. "Aku tahu, kau menyukainya kan?"


"Ya, kau benar. Aku menyukai Alula. Tapi, itu dulu. Sekarang ada orang lain dalam hatiku. Dan kau harus tau, tadi bukanlah sebuah pengalihan. Tapi, sebuah arti. Aku mencintaimu Ana." Ujar Gio dengan penuh keyakinan.


Ana mendongak menatap Gio. Mulutnya tidak bisa berkata lagi. Entah kah mimpi atau nyata, ia berharap agar situasi ini tidak cepat berlalu. Jujur, ia merasa nyaman dalam pelukan Gio.


"Kenapa kau hanya diam?" Tanya Gio.


"A-aku, tidak mengerti dengan semua ini."


"Kamu, tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?" Ana kembali terdiam dan menunduk.


Gio menghela nafasnya. Ia memegang dagu Ana, dan mendongakkan nya.


"Lihat aku! Aku berkata sejujurnya. Aku tidak pernah bermain-bermain dengan perasaan. Jika kamu monolak ku, katakan saja! Aku minta maaf karena lancang mencium mu."


Ana menatap lekat mata Gio. Ia mendapati kejujuran itu dari matanya. "A-aku... Kita bisa mencobanya."


Jawaban Ana menerbitkan senyum di bibir Gio. Lelaki itu kembali mengeratkan pelukannya. Seperti inikah rasanya perasaan terbalaskan.


***


Setelah makan malam bersama, Darrel terus merengek pada Gara agar menginap di kontrakan. Bahkan, Darren juga meminta Gara untuk menetap malam ini.


Sebenarnya, Gara ingin menolak. Mengingat perlakuan nya tadi, yang tiba-tiba mencium Alula. Ia benar-benar sulit mengendalikan dirinya saat bersama Alula.


"Yey. Terima kasih Ayah." Ujar Darrel.


Gara, Alula, Darren dan Darrel berkumpul di ruang tamu. Keduanya menemani si kembar belajar. Tiba-tiba, terdengar deru mobil yang berhenti di halaman.


"Pasti paman Gio." Tebak Darrel.


Untuk apa dia datang di jam segini. Mengganggu saja. Batin Gara.


Alula beranjak dari duduknya, hendak membukakan pintu. Namun, Gara menghentikannya.


"Kau tidak perlu membukakan pintu untuknya. Dia punya tangan, bisa buka sendiri."


Alula kembali ke tempat duduknya, terdiam sambil memperhatikan Darren dan Darrel belajar.


Pintu terbuka, menampakkan Ana dan Gio yang menenteng cukup banyak camilan di tangannya. Senyum pun tak pernah luntur dari wajah dua orang, yang sudah resmi menjadi sepasang kekasih itu.


"Selamat malam semuanya." Ucap Ana, mendekati Alula dan yang lainnya.


"Selamat malam." Balas Alula dan Darren.


"Malam." Balas Gara dan Darren.


Gara menatap Gio yang sedang meletakkan camilan di meja. Alisnya saling bertaut melihat Gio.


"Kau, kenapa terus tersenyum? Disini tidak ada yang mau membeli senyum mu!" Ujar Gara.

__ADS_1


"Kau tidak akan mengerti." Balas Gio, langsung duduk di samping kiri Ana.


Semua yang ada di ruangan kecuali Ana, memandang Gio heran. Pasalnya, dia dan Ana memiliki hubungan yang kurang baik. Tapi, kenapa sekarang mereka terlihat sangat dekat.


Alula yang berada di sisi kanan Ana, menatap Ana dengan tatapan menyelidik, seakan bertanya apa yang sedang terjadi.


"Berhenti menatap ku seperti itu Alula! Aku tahu, kalian semua penasaran kan dengan semua ini?" Ujar Ana.


"Iya. Ayo katakan!" Alula begitu antusias untuk mendengarnya.


"Biar Gio saja yang mengatakan nya." Ana mentap Gio, yang dibalas dengan senyuman.


Gio berdehem sebelum mengatakan semuanya. "Aku mau mengatakan jika... aku dan Alula, sudah memutuskan menjadi sepasang kekasih. Kami sudah resmi berpacaran."


Pernyataan Gio, membuat Alula dan Darrel tersenyum. Bahakan, Darren dan Gara pun juga ikut tersenyum, walaupun hanya senyuman tipis.


Huh, dasar kau Gio! Buat aku iri saja. Tadi Edo dan sekarang kau. Benar-benar menyebalkan. Tapi, aku turut bahagia. Selain kau tidak sendiri lagi, kau juga tidak akan merepotkan ku dalam masalah merebut hati Alula. Batin Gara.


"Selamat ya paman, aunty. Semoga cepat menikah, dan kasih Dallel adik bayi." Ujar Darrel.


"Darrel. Siapa yang mengajari mu soal itu?" Tanya Alula, tidak menyangka anaknya berkata tentang menikah dan anak.


"Ayah yang ajalin. Waktu itu Ayah bilang..." Belum sempat Darrel menyelesaikan ucapannya, Gara sudah menutup mulut Darrel dengan telapaknya. Matanya mengerling agar Darrel tidak mengatakan apa-apa pada Alula.


Merasa Darrel paham dengan maksudnya, Gara melepaskan telapaknya dari mulut Darrel.


"Ayah bilang apa Darrel?"


"Hah? Tidak Bu. Ayah hanya bilang, paman sama aunty sangat cocok. Semoga meleka menikah dan kasih Dallel adik bayi."


Ya Tuhan, maafin Dallel belbohong. Semoga hidung Dallel gak panjang kayak pinokio. Batin Darrel, masih mengingat cerita pinokio yang Alula ceritakan padanya.


Alula masih tidak percaya dengan ucapan Darrel. Ia melirik tajam ke arah Gara. Saat-saat seperti ini, keberaniannya terhadap Gara meningkat. Namun sialnya, lirikan tajamnya hanya di balas kedikan bahu acuh dari Gara.


"Selamat aunty, paman." Ucap Darren, lalu kembali fokus pada bukunya.


"Sama-sama ya, twins." Balas Ana.


Perhatian Darrel kini teralih pada camilan yang di bawa Gio. Perutnya seketika terasa lapar melihat semua makanan itu.


"Bu, tolong buatkan Dallel minum ya? Dallel haus."


"Baiklah. Sekalian Ibu buatkan buat semuanya." Ujar Alula, segera ke dapur.


"Aku ikut." Seru Ana, yang langsung mengekori Alula.


Setelah kepergian Alula dan Ana, suasana di ruang tamu menjadi berbeda. Gara menatap sengit ke arah Gio.


"Kau sudah punya Ana sekarang. Jangan dekati Alula!" Peringat Gara.


Bukannya membalas, Gio malah bangun dan duduk di samping Gara. Tubuhnya sengaja ia dekatkan pada Gara.


"Jangan berpikir karena aku punya kekasih, kau bisa berbuat sesuka mu pada Alula. Ingat! Alula ku anggap seperti adikku. Sekali kau menyakitinya, aku akan membawanya jauh dari mu." Bisik Gio pada Gara.


Gara tersenyum. "Aku tidak takut dengan ancaman mu. Ku pastikan akan mendapatkan nya dan membuatnya bahagia."

__ADS_1


"Aku pegang ucapan mu." Balas Gio, lalu kembali ke tempatnya.


__ADS_2