Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Merindukanmu


__ADS_3

Alula meraih beberapa dokumen yang dikerjakan nya. Ia memeriksanya kembali, memastikan jika semuanya sudah benar. Baru satu dokumen yang ia baca, terdengar satu notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ternyata itu sebuah email yang di kirim sekretaris Kenan.


"Aku pikir balasan pesan dari Gara." Gumamnya.


Alula membaca email dari sekretaris Kenan. Setelah membacanya, Alula bergegas ke ruangan sekretaris Kenan. Ia meraih berkas dengan sampul biru dan membawanya menuju tempat scanner.


Setelah selesai, ia mengirimkan kembali berkas yang sudah dalam bentuk digital itu pada sekretaris Kenan. Kemudian ia kembali ke ruangannya, melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Ini adalah pesan pertama yang aku dapatkan selama mereka berada disana. Itu pun email tentang pekerjaan yang harus ku lakukan dari sekretaris Kenan. Gara, apa kamu benar-benar lupa jika ada aku dan anak-anak yang menantikan kabarmu?" Gumam Alula.


Alula menyusun kembali berkas-berkas yang ia periksa ke tempatnya. Pekerjaannya sudah selesai. Ia kembali lebih cepat hari ini.


Lift membawanya ke lantai dasar. Meskipun Gara membebaskan dia menggunakan lift khusus, tetap saja ia tidak mau menggunakannya.


"Kita memang tidak beruntung hari ini. Menggunakan lift bersama seorang wanita penggoda." Ujar seorang karyawan wanita yang memasuki lift di lanatai 20 bersama kedua temannya.


"Ya, hari ini benar-benar menjadi hari sial kita."


"Huh, aku tidak peduli apakah hari sial atau keberuntungan. Tapi, aku yakin, saat waktunya tiba, godaannya tidak akan berguna lagi. Tuan Gara akan membuangnya setelah ia merasa bosan." Sambung seorangnya lagi.


Alula hanya mendengar tanpa membalas mereka. Saat lift berhenti, Alula keluar terlebih dulu. Berjalan melewati beberapa karyawan yang menatapnya. Hanya satu yang bisa ia lakukan, mengabaikan mereka.


"Alula!" Terdengar panggilan dari seseorang yang begitu ia kenal suaranya. Alula menoleh dan tersenyum pada orang tersebut.


"Tari." Guamamnya dan segera menghampiri Tari yang berdiri didekat sebuah motor.


Perempuan yang selalu ceria itu langsung memeluk Alula saat Alula berada didekatnya. "Maaf," Ucapnya lirih.


"Hei, ada apa?" Alula juga balas memeluknya.


"Aku bukan teman yang baik. Kau mengalami masalah dan aku tidak bersamamu."


"Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Mereka hanya mengataiku, bukan melukaiku."


"Tetap saja, mereka melukaimu. Kau tahu, ucapan adalah senjata yang paling ampuh untuk melukai seseorang."


Alula terdiam mendengar perkataan Tari. Dia memang benar, meski mereka tidak melukainya secara fisik, tapi ucapan mereka mampu merobek persaannya. Walau terlihat kuat, tapi hatinya terluka oleh perkataan mereka. Dan itulah yang sebanarnya Alula rasakan.


"Alula? Kenapa kau terdiam?"


"Ah, tidak. Aku hanya berpikir, kemana kau kemarin?" Kilahnya, saat tersadar dari lamunannya.


Tari melepas pelukannya dan memberi jarak antara dirinya dan Alula. "Aku bersama Sadam minta izin menjenguk Mama."


"Ibumu sakit?"


"Ya, sudah seminggu dia di rumah sakit kota c. Aku dan Sadam belum sempat menjenguknya. Jadi, kami menjenguknya kemarin."


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia sudah membaik. Tinggal menunggu hasil lab terakhirnya."


"Syukurlah."

__ADS_1


"Kau akan pulang?" Tari memperhatikan Alula. Ia baru sadar jika ini masih jam kantor. Terlebih lagi, mobil yang biasa menjemput Alula sudah berada di depan gerbang perusahaan.


"Ya, pekerjaanku sudah selesai. Aku akan mengajak si kembar jalan-jalan."


"Baiklah. Hati-hati, sampaikan salamku untuk si kembar."


Alula mengangguk dan tersenyum padanya. Wanita itu melambaikan tangannya, lalu memasuki mobil.


***


Darren Darrel sudah bersiap. Kedua anak itu begitu antusias saat Alula mengajak mereka ke mall.


"Bu, kita udah siap nih." Teriak Darrel, saat Ibunya belum juga muncul.


Alula yang sedang berjalan ke arah keduanya menggeleng kepala. Darrel memang tidak bisa sabar. "Ayo, kita pergi." Ajak Alula saat tiba di dekat si kembar.


"Kalian mau kemana?" Gio yang baru keluar dari kamarnya langsung menatap heran ke arah Ibu dan anak itu. Dia benar-benar kelelahan. Pekerjaannya hari ini hanyalah tidur. Ia bangun hanya untuk makan siang. Lalu tertidur lagi, dan bangun pukul tiga sore ini.


"Kami akan ke mall."


"Aku ikut." Tanpa menunggu persetujuan Alula dan si kembar, Gio langsung kembali ke kamarnya. Mencuci muka, mengganti baju, lalu keluar menemui mereka.


"Paman tidak mandi?" Darrel menunjukkan ekspresi gelinya.


"Hei, jangan asal bicara. Aku sudah mandi saat bangun makan siang tadi." Bantah Gio.


Alula hanya bisa menggeleng. Dan Darren, ia berdecak melihat Darrel dan pamannya yang mulai beradu mulut. Akan memakan waktu mereka ke mall.


"Ayo, Bu! Kita beragkat sendiri saja." Ujarnya menarik tangan Alula, membiarkan Darrel dan Gio.


"Aku juga." Gio juga ikut berlari kecil menyusul mereka.


Alula mengeluarkan kunci salah satu mobil yang ada di garasi rumah Gara, lalu memberikannya pada Gio. Lelaki itu dengan cepat menyambarnya dari tangan Alula. Ia ingin merasakan mengemudi mobil mahal Gara. Ada beberapa mobil di tempat itu. Sayang sekali jika dibiarkan begitu saja. Saat Gara pulang nanti, ia ingin meminta izin Gara untuk mencoba mobil tersebut satu persatu. Hari ini cukup mobil yang kuncinya ada pada Alula.


"Ayo!" Ucap Gio, menyuruh Alula dan si kembar masuk setelah ia berhasil mengeluarkan mobil itu dari garasi.


"Darrel, kamu duduk depan saja!" Perintah Gara, membuat Darrel yang sudah bersandar nyaman di bangku belakang bersama Alula dan Darren merengut kesal.


"Aku tidak mau." Balasnya sambil bersidekap.


Darren lagi-lagi berdecak. Pamannya ini selalu suka mencari masalah. "Biar aku saja." Ujarnya segera berpindah ke sebelah Gio.


Beberapa detik kemudian, mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah. Malewati jalanan perkotaan yang cukup lenggang.


20 menit kemudian, mereka tiba di mall. Alula menggandeng kedua putranya, diikuti Gio yang berjalan sambil memainkan kunci mobil di tangannya.


"Ibu, kita main bental, ya?"


"Iya."


Alula dan kedua putranya, juga Gio memasuki satu persatu toko yang menjual kebutuhan mereka. Darren dan Darrel membeli beberapa mainan yang mereka inginkan. Setelah itu mereka bergegas ke wahana permain yang ada di mall tersebut.


Bisa Alula lihat wajah ceria Darren Darrel. Ia hanya memperhatikan si kembar dari tempatnya. Membiarkan mereka bermain bersama, dan Gio yang menemani. Hingga tiba-tiba, senyum di wajahnya hilang berganti wajah sendu.

__ADS_1


Ia teringat, pernah mendatangi tempat itu bersama Gara. Ia begitu merindukan sosok lelaki tersebut. Lelaki arogan yang berhasil masuk dalam hidupnya dan memenuhi hati dan pikirannya.


"Aku benar-benar merindukanmu. Cepatlah kembali." Gumamnya, sambil melihat foto Gara yang ada di ponselnya.


***


Sejam lebih, ketiga orang itu baru selesai bermain. Mereka menghampiri Alula dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.


"Seru ya, mainnya?" Ujar Gio, membuka tutup botol dan meneguk air yang di sediakan Alula. Si kembar juga meneguk airnya masing-masing.


"Lebih selu lagi kalo ada Ayah." Sambung Darrel.


"Sabar saja. Beberapa hari lagi, Ayahmu akan kembali."


"Do'a kan saja, pekerjaannya cepat selesai." Timpal Darren.


"Ya, semoga Ayah bisa cepat menyelesaikannya. Aku sudah sangat melindukannya."


Setelah beristirahat cukup lama, keempat orang tersebut kembali ke parkiran. Belum sempat memasuki mobil, Darrel malah ingin buang air kecil. Sehingga ia bersama Alula kembali ke mall, dan menuju toilet yang ada di tempat itu.


Darren bersama Gio menunggu dalam mobil. Tapi, sudah hampir 20 puluh menit, Alula dan Darrel belum juga kembali. Membuat dua orang itu bergegas menyusul mereka.


Sementara disana, Alula dan Darren yang hendak pergi dari toilet ditahan oleh Rendra. Entah sedang apa lelaki itu disana, tidak ada yang tahu.


"Hai, Alula. Kita bertemu lagi." Sapanya, namun tak dibalas Alula.


"Kamu semakin cuek. Juga... Bertambah cantik dari sebelumnya." Ujarnya lagi.


"Maaf paman, apa kita saling kenal? Jika tidak, bialkan kami pelgi."


"Oh, hai tampan. Kau pasti putranya tuan Gara. Wajahmu mirip dengannya." Sapanya pada Darrel. Dia sedikit menundukkan badannya ke arah Darrel. "Dengar ya, anak pintar. Kamu memang tidak mengenal paman. Tapi Ibumu, sangat mengenal paman." lanjutnya.


"Rendra!" Bentak Alula sedikit keras.


"Apa, sayang? Kamu tidak ingin anakmu itu tahu kalau kamu adalah kekasihku dulu?"


"Itu sudah berlalu. Aku tidak peduli mereka tahu atau tidak. Itu tidak penting dan tidak akan merubah apapun."


"Huh, kamu sangat percaya diri." Balasnya tersenyum miring. "Oh ya, tuan mengakatakan jika memiliki dua putra bersamamu. Diamana seorangnya lagi? Aku ingin bertemu dengannya."


"Aku disini." Jawab Darren, datang bersama Gio. Wajahnya terlihat begitu dingin. Tatapannya tajam menatap Rendra.


"Sempurna. Benar-benar mirip tuan Gara." Rendra berdecak kagum. Ia kembali menatap Alula. Lagi-lagi, senyum miring tercetak di wajahnya.


"Aku tidak menyangka kau secepat ini memiliki putra bersama orang lain. Aku rasa, usia mereka enam atau tujuh tahun sekarang. Jika dihitung dari hari kita berpisah, harusnya kau mengandung mereka dua atau tiga bulan setelah hari itu." Ujarnya. Ia kembali tersenyum merendahkan. "Huh, aku tidak menyangka kau semurahan itu." Lanjutnya, membuat Gio langsung mendekat dan mencengkram kerah bajunya.


"Apa kau seorang lelaki?! Kau berbicara merendahkan perempuan! Apa kau tidak memiliki Ibu?! Adik perempuan, hah?!"


"Huh, siapa kau? Pria yang juga menyewa jasa Alula?"


Tanpa menahannya lagi, Gio langsung melayangkan bogeman ke wajah Rendra. Membuat lelaki itu tersungkur dengan sudut bibir berdarah. Beberapa pengunjung yang juga hendak ke toilet pun memperhatikan mereka.


"Dengar! Tanpa kau sadar, kau juga ikut andil atas apa yang terjadi pada Alula malam itu." Ucap Gio, langsung membawa Alula dan si kembar pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan ucapannya." Ujar Gio, saat mobil sudah melaju cukup jauh dari mall.


"Iya. Tapi, kalian jangan ceritakan ini pada Gara saat dia pulang nanti." Ucap Alula, namun tidak ada satupun dari ketiga orang itu yang mengiyakan atau menolak. Mereka sama-sama terdiam tak memberi jawaban.


__ADS_2