
Alula kembali ke ruangannya dan memikirkan perkataan Gara. Tinggal dua hari, Darren dan Darrel akan ikut bersama Gara. Dan itu sudah pasti. Jika ia ingin terus bersama anaknya, maka pilihannya adalah ikut. Tapi, ia masih ragu untuk ikut.
"Aku tidak sanggup terpisah dengan mereka. Tapi, aku juga tidak bisa tinggal serumah dengan tuan. Itu terlalu sungkan bagiku." Gumam Alula.
Handphone berdering membuat Alula terkesiap. Ia meraihnya dan menempelkan di telinga.
"Alula. Flashdisk milik Mama ketinggalan di rumah mu. Hari ini, Mama ada presentasi di kantor." Ujar Ana dari seberang sana.
"Emm... bagaimana ya? Coba kau tanya Gio. Kunci cadangan kontrakan ada padanya satu. Jika tidak, kau minta saja pada Darren. Ia juga membawanya." Balas Alula.
"Iya terima kasih. Maaf sudah mengganggu mu."
"Tidak masalah."
Setelah sambungan terputus, Alula kembali bekerja. Berbicara dengan Ana tadi, membuatnya melupakan sedikit masalahnya.
Di lain tempat, Ana terlihat bingung. Dua jam lagi, meeting yang presentasinya akan di lakukan oleh Mamanya akan di mulai. Dia bingung bagaimana menghubungi Gio. Ia tidak memiliki nomor HP Gio.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa menghubungi Gio karena tidak punya nomor ponselnya. Mau ke sekolah Darren, tapi jauh." Gumam Ana.
Ia terus berpikir. Sampai satu ide muncul di otaknya. Ana menyetopkan taksi dan menaikinya. Taksi melaju menuju tempat tujuan.
Caffe milik Gio adalah tujuan Ana. Taksi berhenti di depan caffe tersebut. Setelah membayar, Ana segera memasuki caffe. Ia berharap, ada Gio disana.
"Maaf, apakah ada Gio disini? Aku ingin bertemu dengannya." Kata Ana, pada seorang pelayan caffe.
"Maksud nona, pak Gio pemilik caffe ini?" Ana mengangguk. "Dia sedang di ruangannya. Aku akan memberitahu nya. Siapa nama nona?"
"Aku Ana."
"Baiklah, tunggulah disini."
Pelayan caffe tersebut segera menuju ruangan Gio. Tak lama, ia kembali dan menghampiri Ana.
"Mari nona, saya antarkan ke ruangannya."
Ana mengikuti langkah wanita itu ke ruangan Gio. Ia terkagum dengan desain interior caffe yang begitu indah dan enak di pandang. Sampai tak sadar, langkahnya sudah sampai di depan ruangan Gio.
"Nona?"
"Ah, ya. Maaf, aku terlalu kagum dengan keindahannya."
"Hampir setiap pengunjung caffe ini berkata seperti itu." Balas si pelayan. "Ini ruangannya nona. Anda bisa menemuinya di dalam. Saya permisi."
Setelah kepergian pelayan tersebut, Ana pun mengetuk pintu dan masuk. Di dalam, Gio sedang fokus dengan hpnya.
"Gio." Suara Ana membuat Gio mendongak.
"Sudah ku duga, Ana yang menemui ku adalah kau. Apa yang membuatmu kemari?"
"Aku ingin meminta kunci kontrakan Alula. Berikan pada ku!"
"Kau sangat tidak sopan. Tapi, tidak masalah. Kenapa kau tidak menelpon ku saja? Aku akan mengantarkan nya untuk mu."
"Huh, kau suka sekali bercanda. Bagaimana aku bisa menelpon mu? Nomor hp mu tidak ada pada ku. Dan... aku tidak percaya dengan yang kau katakan."
"Percaya atau tidak, bukan masalah. Dan kau bisa meminta nomor hp ku pada Alula." Ujar Gio.
Benar. Kenapa aku tidak berpikir untuk menanyakannya pada Alula?
"Jangan dipikirkan! Ayo, aku antar ke kontrakan!" Kata Gio, lalu berjalan melewati Ana.
Gadis itu hanya bisa menatap tak percaya. Ia berpikir, kenapa Gio berubah baik seperti ini padanya. Padahal mereka sering berantam.
Sadar dari pikirannya, Ana segera menyusul Gio. Waktunya semakin berkurang, dan ia harus segera mendapatkan flashdisk itu.
"Tunggu Gio!" Panggil Ana, menghentikan Gio yang hendak memasuki mobilnya.
"Apa?"
"Kau benar-benar akan mengantarkan ku, kan?"
"Emm... ya." Jawab Gio, membuat Ana ragu.
__ADS_1
"Jangan berbohong! Mama sangat membutuhkan flashdisk yang tertinggal di kontrakan Alula."
"Jika kau masih berdiri di situ, kapan kau akan mendapatkan nya? Cepatlah masuk!" Perintah Gio, memunculkan senyum di bibir Ana. Gadis itu dengan semangat memasuki mobil Gio.
***
Darren dan Darrel sedang duduk di depan gerbang sekolah. Jam pulang sudah lewat beberapa menit yang lalu.
"Dallen, apa kau sudah mengilimkan pesan agal paman tak jemput?"
"Sudah."
"Baguslah! Bagaimana dengan Ibu?"
"Aku sudah mengurusnya."
"Telus, bagaimana dengan kakek Zarfan?"
"Aku akan mencuri data donatur sekolah. Kita bisa mendapatkan informasi tentang kakek Zarfan."
"Ok."
Darren mulai menjalankan rencananya. Jari-jari nya bergerak-gerak di atas layar IPad. Lima menit kemudian, data mengeni donatur sekolah berhasil ia dapatkan.
"Bagaimana?"
"Sudah. Tapi, hanya data kakek. Tidak ada yang lain."
"Coba ku lihat!" Ujar Darrel, meraih iPad dari tangan Darren.
"Benar. Coba kau cek datanya melalui perusahan milik kakek."
"Kau benar. Aku akan mencobanya."
Darren kembali mengetikkan sesuatu di layar iPad nya. Tak lama, senyum miring terbit di wajah nya.
"Dapat." Ujar Darren.
Darrel ikut tersenyum. Ia sedikit mendongakkan kepalanya, ikut melihat layar iPad.
"Kakek Zalfan kakek kita, Dallen." Ujar Darrel dengan suara yang sangat pelan.
"Ya, kau benar. Kakek Zarfan kakek kita." Balas Darren.
"Bagaimana kita membelitahukan nya?" Tanya Darrel, bingung.
"Datang ke kantor kakek." Darrel melotot mendengar ucapan Darren. Sesaat kemudian ia tersenyum.
"Ya, aku setuju dengan mu."
Darren dan Darrel segera menghentikan taksi. Keduanya berangkat menuju alamat perusahaan milik Zarfan.
Lima belas menit perjalanan, taksi berhenti di depan perusahaan milik Zarfan. Darren dan Darrel keluar, dan menatap bangunan di depan mereka.
"Dallen. Masih lebih besal perusahaan Ayah."
"Kau salah jika membandingkan dengan perusahaan Ayah." Balas Darren, membuat Darrel mengangguk. "Ayo masuk!" Sambung Darren.
Kaduanya melewati pos security, yang kebetulan sedang tidak ada security nya. Saat hampir sampai di pintu masuk kantor, tiba-tiba seseorang menahan mereka.
"Mau kemana kalian?" Tanya orang tersebut, yang tak lain adalah si security.
"Kami mau ketemu kakek Zarfan." Jawab Darren.
"Tidak bisa! Tuan sedang meeting bersama klien."
"Kalau begitu, kami akan menunggu sampai kakek selesai meeting."
"Tidak! Kalian pulang saja. Tuan tidak bisa bertemu dengan anak kecil seperti kalian. Kalian hanya membuat kacau. Pergi!" Ujar security tersebut, mengusir Darren dan Darrel.
"Paman juga membuat kacau dengan mengusir kami." Ujar Darren, dengan tatapan dinginnya.
"Kalian! Cepat pergi, atau aku akan..."
__ADS_1
"Kau akan apa?" Suara seseorang dari belakang membuat ketiganya menoleh.
"T-tuan." Gumam security itu, lalu menunduk hormat.
"Maafkan saya tuan. Anak-anak ini..."
"Apa begini cara mu menyambut tamu saya?"
Mendengar kata tamu, membuat si security heran sekaligus merasa bersalah. Dia tidak pernah berpikir jika kedua bocah tersebut adalah tamu tuannya.
"Ma-maafkan saya tuan. Saya tidak tahu jika anak-anak ini tamu tuan."
"Ya, kau ku maafkan." Ucap pak Zarfan. "Ayo, Darren, Darrel!" Sambungnya lalu menggandeng tangan Darren dan Darrel.
Kadua anak itu mengikuti langkah Zarfan, tanpa melepas tangan mereka dari genggaman Zarfan. Namun, sebelum benar-benar menjauh, Darren dan Darrel kembali menoleh pada si security.
Darren menatap security dengan tatapan membunuhnya. Dan Darrel, anak itu malah menjulurkan lidahnya, mengolok security yang terlihat jengkel dengan mereka berdua.
***
Darren dan Darrel duduk bersama Zarfan, di sofa ruangan Zarfan. Zarfan tersenyum hangat pada keduanya. Hatinya begitu bahagia melihat dua anak itu.
"Kakek, kami ingin menanyakan sesuatu." Ujar Darrel, memulai pembicaraan.
"Tanyakan saja. Kakek akan menjawab."
"Apa kakek, Ayah dari Ibu kami?" Tanya Darren, langsung pada intinya.
Hati Zarfan bergetar mendengar pertanyaan Darren. "I-ibu kalian? Kakek tidak mengenalnya." Jawab Zarfan, yang benar-benar tidak tahu siapa Ibu dari kedua anak kembar di depannya ini.
Darren mengeluarkan iPad nya, dan menunjukkan foto yang ia ambil dari data pribadi Zarfan. "Yang ini Ibu kami." Tunjuk Darren, tepat pada foto Alula yang masih remaja.
Deg...
Jantung Zarfan seperti berhenti berdetak. Ternyata pikirannya selama ini benar. Anak kembar itu adalah putra Alula.
Tanpa menunggu lama, Zarfan merengkuh Darren dan Darrel dalam pelukannya. Ia memeluknya dengan erat. Diciumnya bergantian pucuk kepala mereka.
"Kalian benar-benar putra Alula. Kalian cucu ku." Ujar Zarfan tanpa melepas pelukannya. Tanpa ia sadar, setetes air matanya jatuh.
Zarfan melepaskan pelukannya, lalu menatap Darren dan Darrel.
"Apa kalian kesini untuk memberitahukan kakek?"
"Ya." Jawab Darren.
"Kami menyebut nama kakek di depan Ibu. Lespon Ibu sangat aneh. Jadi, aku dan Dallen belencana untuk cali tahu. Dallen mencali semua data tentang kakek, dan menemukan semuanya telmasuk foto itu." Jelas Darrel.
"Dan kami yakin, kakek Zarfan adalah kakek kami."
Zarfan memandang kedua cucunya dengan sayang. Ia juga kagum dengan usaha yang kedua cucunya lakukan. Tapi, ia heran bagaimana bisa Darren mendapatkan nya. Sedangkan datanya sebagai donatur sekolah, tidak begitu lengkap. Namun, ia tidak ingin memusingkan itu. Yang terpenting ia mengetahui jika Darren dan Darrel cucunya.
"Kakek. Apa kakek bisa jaga lahasia ini?" Ucap Darrel.
"Kenapa?"
"Kami ingin membuat kejutan untuk Ibu. Sepeltinya Ibu sangat menyayangi kakek. Nanti, kami akan membelitahu kakek, tentang lencananya."
Zarfan tersenyum, lalu mengangguk. "Baiklah. Akan kakek rahasiakan." Balas Zarfan.
Darren, Darrel dan Zarfan kembali bertukar cerita. Lebih tepatnya Darrel yang bercerita. Darren dan Zarfan hanya berperan sebagai pendengar.
Balum sempat Darrel menyelesaikan ceritanya, pintu ruangan Zarfan di buka oleh Ferdy. Lelaki yang sedang tergesa-gesa itu, di buat mematung mendapati Darren dan Darrel di hadapannya.
"Tuan aku..."
"Aku tahu, kau sudah mendapatkannya. Tapi, mereka sudah mendahului mu. Kau tak perlu memberitahu ku lagi." Ujar Zarfan dengan senyum mengembang. Melihat ke arah Darren dan Darrel.
Ferdy tersenyum lega. Ia bahagia melihat tuannya tersenyum bahagia.
"Kalau begitu, maafkan saya tuan sudah lancang masuk tanpa mengetuk."
"Tidak masalah. Beristiratlah setelah ini. Dan terima kasih sudah membantu saya."
__ADS_1
"Sudah tugas saya, tuan. Kalau begitu, saya permisi." Ujar Ferdy, lalu sedikit membungkuk pada Zarfan, dan juga Darren dan Darrel.