
Gara memarkirkan mobilnya di parkiran caffe, lalu berjalan memasuki bangunan tersebut. Sesuai janjinya bersama Edo tadi, mereka akan bertemu di caffe biasa tempat mereka sering bertemu.
Gara menuju meja nomor lima, dimana sudah ada Edo disana.
"Kenapa kau lama sekali?" Edo bertanya dengan raut kesal.
"Aku mengantar Lula tadi."
"Lula? Maksud mu Alula?"
"Ya."
"Kenapa?" Pertanyaan ambigu Edo membuat Gara mengernyit tak mengerti.
"Apanya yang kenapa?"
"Maksud ku, kenapa harus diantar?"
"Ck. Kau ini banyak sekali tanya." Decak Gara, kesal. "Cepat ceritakan siapa gadis itu!"
"Gak mau. Sebelum kau memberitahukan alasan mu mengantar Alula, aku tidak akan bercerita."
Gara menarik nafas. Edo benar-benar kurang ajar. Jika tidak membutuhkan informasi itu, sudah ia tinggalkan Edo sendiri.
"Dia sakit."
"What? Sakit apa? Kenapa bisa sakit? Apa kau mengerjainya seharian?" Tanya Edo, heboh.
"Kenapa jadi kamu yang heboh?"
"Karena aku khawatir."
"Tidak perlu khawatir padanya. Dia urusan ku." ujar Gara, datar.
Ck. Belum apa-apa udah possessive. Batin Edo.
Enak saja mau khawatirkan Lula. Pak Tio saja yang sudah tua, tak ku izinkan. Apalagi kamu yang seumuran dengan ku. Batin Gara.
Sejenak suasana hening. Tidak ada satupun diantara mereka yang membuka mulut. Sampai seorang pelayan datang membawakan pesanan, melenyapkan keheningan itu.
"Ini tuan, pesanannya."
"Ya, terima kasih." balas Edo yang dibalas anggukkan oleh pelayan.
"Aku akan menceritakan siapa gadis itu." Tak ada respon dari Gara. Lelaki itu hanya terdiam memasang wajah tak peduli.
"Baiklah aku pulang saja." Ancam Edo dan langsung dibalas tatapan tajam Gara.
"Cih. Segala ngambek. Padahal penasaran." Gerutu Edo, kembali duduk di kursinya.
"Aku dengar."
"Biarin. Biar sadar."
"Cepat ceritakan!"
Edo menarik nafas dan mulai menceritakannya. "Waktu itu, sebelum kecelakaan, kamu meminta aku menyelidiki gadis itu. Namanya Alula Sadewa dari keluarga Sadewa. Saat aku mengutus suruhanku, mereka mengatakan jika gadis itu tidak pulang sejak malam itu."
Gara mendengarkannya dengan baik. Namun, ia teringat dengan nama yang baru di sebutkan Edo.
"Tungu, tunggu. Apa kau bilang? Alula Sadewa? Bukankah itu Alula..."
"Ya, dia Alula yang menjadi sekretaris mu sekarang." Sambung Edo, membenarkan ucapan Gara.
Gara mematung, tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan pusing. Gambaran kejadian malam itu satu persatu berkeliaran di ingatannya.
"Edo, kepala ku sakit. Aku pulang dulu."
__ADS_1
"Apa kau yakin bisa sendiri?"
"Ya," ujar Gara, keluar dari caffe sambil memegang kepalanya.
Otaknya masih di penuhi bayangan-bayangan tersebut. Namun, bayangan gadis itu masih sangat samar. Ia tak mampu mengenalinya.
***
Alula, Darren dan Darrel sarapan dengan tenang. Tidak ada stupun yang berbicara. Semuanya fokus pada makanan masing-masing.
Setelah sarapan, Alula kembali ke kamar mengambil tas-nya.
"Ayo berangkat sekarang." Ajak Alula pada kedua anaknya.
"Ibu yakin akan ke kantol?" Tanya Darrel masih mengkhawatirkan Ibunya.
"Istirahat saja Bu." Timpal Darren.
"Tenanglah, Ibu sudah sangat sehat. Ayo, Ibu antar kalian ke sekolah."
Tak lagi membantah, Darren dan Darrel mengikuti langkah Alula menuju depan gang. Beberapa saat kemudian taksi yang di pesan Alula pun tiba. Alula membukakan pintu untuk Darren dan Darrel.
"Kenapa mengunggu di sini nona? Saya bisa jemput di depan rumah." Ujar sang supir, yang beberapa hari lalu juga menjemput Alula.
"Tidak masalah pak. Sekalian olahraga pagi." Kata Alula, bercanda.
Taksi yang di tumpangi ibu dan anak itu melesat menembus padatnya jalanan. Sekitar 20 menit, taksi berhenti di depan sekolah.
"Hati-hati ya. Jangan nakal. Nanti paman Gio jemput." Ujar Alula menyodorkan tangannya untuk dicium Darren dan Darrel.
"Oke Bu." Jawab Darrel mencium tangan Alula.
"Jangan minum kopi lagi." Ujar Darren langsung mencium tangan ibunya.
Alula tersenyum mendengar ucapan Darren. Anaknya itu walau terkesan dingin, namun sangat perhatian.
"Hallo juga cantik. Siapa nama kamu?"
"Aku Asya tante. Asya Alleta Quinsha." Ujar anak perempuan itu, mengeja nama panjangnya.
Tatapan polos dan menggemaskan Asya membuat Alula tidak tahan untuk mencubit pipinya. "Kamu cantik sekali sayang."
"Terima kasih tante. Tante mama-nya si kembar?" Asya melirik Darren dan Darrel.
"Iya."
"Kalau aku temanan sama Darren sama Darrel boleh nggak?"
"Boleh dong."
"Yey. Makasih tante." Alula mengangguk seraya tersenyum manis ke arah Asya.
"Ya sudah, tante mau kerja dulu ya. Kalian baik-baik disini. Darren, Darrel temanan sama Asya ya."
"Siap Bu." Jawab Darrel antusias. Berbeda dengan Darren, ia hanya diam tak menjawab.
"Tante pergi dulu ya Asya. Darren, Darrel Ibu pergi dulu." Kata Alula, melambaikan tangannya.
Setelah taksi yang di tumpangi Alula menghilang, ketiga murid taman kanak-kanak itu berniat ke kelas.
"Darren, nanti ajarin Asya menghitung ya?"
"Gak." jawab Darren, berjalan terlebih
dahulu. Menjauhi Asya dan Darrel.
"Darren kenapa ya Rel?"
__ADS_1
Darrel yang ditanya hanya mengangkat bahu. "Gak tahu."
"Tapi, Darrel maukan ajarin Asya berhitung?"
"Ya,"
"Makasih Darrel."
***
Sudah 10 menit Alula berada di ruangannya. Tapi Gara masih belum datang. Alula sempat berpikir untuk menelponnya, namun ia urungkan. Siapa dia sampai harus menelpon Gara karena khawatir.
"Apa tuan Gara marah karena aku membantahnya semalam?" Pikir Alula. "Ah tidak mungkin. Apa hubungannya dengan tak masuk kantor." Gumam Alula lagi, bermonolog.
Alula meraih handphonenya yang tiba-tiba berbunyi. Keningnya berkerut melihat nama sekretaris Kenan tertera di layar HP.
"Hallo sekretaris Kenan?"
"Hallo nona Alula. Tuan Gara meminta anda menyelesaikan berkas untuk presentasi besok. Hari ini tuan sedang tidak enak badan."
"Baik sekretaris Kenan."
"Tuan berpesan, jika telah selesai, pulang dan beristirahatlah."
Setelah panggilan terputus, Alula mulai mengerjakan tugasnya untuk presentasi besok. Tapi pikirannya masih terus berpikiran tentang Gara. Apa Gara sakit karena mengantarnya semalam. Atau Gara pura-pura sakit hanya karena ingin menghindari Alula. Astaga, apa yang kau pikirkan Alula.
Alula menghilangkan segala pikiran anehnya. Ia fokus pada pekerjaannya. Pukul dua siang, Alula selesai. Alula segera pulang. Itu adalah kesempatan untuknya berkumpul bersama Darren dan Darrel.
***
Di sebuah rumah besar, tepatnya di sebuah kamar, Gara terbaring di kasur sembari menatap langit-langit kamar. Pikirannya masih menerawang, mengingat setiap kenangan malam itu dan juga kalimat yang terlontar dari mulut Edo.
"Alula, gadis malam itu."
"Dan, Darren dan Darrel anak ku?"
"Akkhh... Kenapa aku susah sekali mengingatnya." Ujar Gara, frustasi.
Gara mengacak-acakkan rambutnya, Membuatnya berantakkan tak beraturan.
Pintu kamar Gara di ketuk, membuat Gara mendengus. "masuk." ucap Gara sedikit berteriak.
Pintu terbuka, dan tampaklah sekretaris Kenan dengan tubuh tegapnya.
"Katakan!"
"Nona Alula sudah pulang tuan." Lapor Kenan atas tugas yang Gara berikan untuknya.
"Baguslah." Gara berucap lega. "Bagaimana perusahaan disana?" Sambungnya.
"Semua sudah stabil tuan. Saya diminta tuan Edo pulang semalam."
"Cih. Dia pikir aku selemah itu, sampai harus memanggil mu pulang hanya karena sakit kepala. Aku kan meminta mu pulang besok." Gerutu Gara.
"Maafkan saya tuan."
"Hmm..." Gara berdehem. "Pulanglah. Jangan lupa dengan tugas yang ku berikan."
"Baik tuan. Saya permisi." Pamit sekretaris Kenan.
Setelah pintu tertutup, Gara kembali menatap langit-langit kamar. Ada satu harapan dalam hatinya mengenai kehidupannya yang sebenarnya.
"Darren dan Darrel anakku."
"Semoga cepat terbukti."
"Aku menginginkan kalian."
__ADS_1