Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Ruangan CEO Grisam Group tiba-tiba terasa mencekam. Edo yang menyengir tak bersalah kini tersenyum canggung. Kali ini, ia tidak ingin di hajar Gara seperti beberapa tahun yang lalu.


"Apa maksud mu tadi?" Tanya Gara, menatap tajam Edo.


"Yang tadi? Ah sudahlah! Kau tidak akan ingat apa-apa jika aku menceritakannya."


Gara masih tidak puas dengan jawaban Edo. Tapi, jika diteruskan Edo akan semakin bertingkah mengesalkan. "Biar aku sendiri yang mencari tahu."


"Itu lebih baik. Kalau begitu aku mau ke ruanganku dulu." Ujar Edo, bangkit dan menepuk pelan pundak Gara lalu kembali ke ruangannya.


***


Hari pertama kerja membuat Alula deg-degan. Bahkan lebih deg-degan dari pada hari interviu kemarin. Alula meraih tasnya lalu berpamitan pada kedua putranya.


"Ibu berangkat dulu ya? Bentar lagi paman Gio bakal jemput kalian."


"Iya."


"Iya bu,"


Alula mendekat dan mencium pipi Darren dan Darrel. "Maaf ibu gak bisa anter hari ini. Ibu janji akan usahain supaya bisa anter kalian besok-besok." Keduanya mengangguk mengiyakan.


Alula tersenyum. Dalam hati, ia bersyukur anaknya begitu pengertian.


"Ibu berangkat. Daahh..." Ucap Alula melambaikan tangannya. Dan seperti biasa, hanya Darrel yang membalas. Sementara Darren, hanya menatap ke arah ibunya.


Tiga puluh menit perjalanan, Alula sampai di Grisam Group. Senyum ramahnya selalu ia tunjukan pada pak Tio, si satpam penjaga dan beberapa karyawan yang ia temui.


"Selamat pagi Pak Tio,"


"Selamat pagi nona..." seakan tahu dengan apa yang dimaksud Pak Tio, Alula memperkenalkan dirinya.


"Alula pak."


"Selamat pagi nona Alula," balas Pak Tio tersenyum tak kalah ramahnya. Baru kali ini ada karyawan yang menyapanya terlebih dahulu. Biasanya ia yang menyapa mereka lebih dahulu.


Alula berjalan ke arah lift khusus karyawan. Beruntung seorang wanita yang mengantarnya kemarin menunjukkan tempat-tempat penting padanya.


Alula memasuki lift yang cukup longgar. Didalam lift di dominasi perempuan, hanya ada tiga lelaki disana. Alula merasa tidak nyaman berada di antara mereka. Beberapa perempuan itu memandangnya dengan tatapan merendahkan. Mungkin karena penampilan Alula yang sederhana. Dan ketiga lelaki yang menatap Alula dengan tatapan kurang ajar.


Lift berhenti di lantai 16. Semuanya turun terkecuali Alula. Ibu dua anak itu menarik nafas lega. Lalu beberapa menit kemudian lift berhenti di lantai 30, lantai tempat ia melakukan pekerjaannya.


Alula berdiri di kursi yang ada di luar ruangan Kenan. Ia bingung, kemarin ia tidak diberitahukan ruangannya. Alula membalikkan badan saat mendengar derap langkah dari belakang. Benar saja, ada Sekretaris Kenan bersama Tuan Gara.


Alula membungkuk menyapa Gara dan Sekretaris Kenan. "Selamat pagi tuan, selamat pagi Sekretaris Kenan."


"Selamat pagi nona Alula." Balas sekretaris Kenan, langsung mengikuti Gara yang berjalan terlebih dahulu tanpa memperdulikan sapaan Alula.


Alula masih berdiri di depan ruangan sekretaris Kenan. Tak lama sekretaris Kenan keluar menghampirinya.


"Nona akan menggantikan saya sebagai sekretaris. Jadi, ruangan saya menjadi ruangan nona. Saya akan menjelaskan pada anda apa saja pekerjaan anda."


Alula mengangguk. "Apa aku bisa bertanya?"


"Silahkan nona!"


"Kenapa kau berhenti menjadi sekretaris tuan Gara?"


"Saya tidak berhenti. Saya di tugaskan mengurus anak perusahaan di provinsi XX." Lagi-lagi Alula mengangguk.


"Mari nona?!" sambungnya mengajak Alula memasuki ruangannya.


Sekretaris Kenan menjelaskan semua yang perlu diketahui dan dikerjakan Alula. Tepat pukul sebelas sekretaris Kenan berpamitan. Dan tinggal-lah Alula yang mulai mengerjakan pekerjaannya.


Alula mengerjakan beberapa dokumen yang di tinggalkan sekretaris Kenan. Ia mengerjakannya dengan teliti, sampai tak sadar waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


Bunyi telpon yang ada di ruangannya mengaihkan fokusnya.


"Hallo, de—"


"Pesankan makan siang untuk saya." Potong si penelpon.

__ADS_1


"Baik tuan." Alula menurut saja. Tidak perlu ia tanyakan siapa si penelpon. Dari suaranya saja ia sudah bisa mengenalinya.


Alula meraih handphonenya dan memesankan makanan untuk Gara. Tak berselang lama, seorang lelaki datang membawakan pesanannya.


"Berapa semuanya?" tanya Alula pada lelaki tersebut.


"Tidak perlu nona, nomor handphone nona sudah terdaftar sebagai sekretaris tuan Gara di tempat kami. Dan restoran kami tidak menerima bayaran untuk pesanan tuan Gara." Ujar si lelaki tersebut.


"Mari nona," sambungnya lalu meninggalkan Alula.


Alula mengetuk pelan pintu ruangan Gara. Setelah mendapat izin, Alula masuk membawakan makanan Gara.


"Permisi tuan, ini makanannya."


"hmmem... Letakkan di meja."


Alula meletakkan makanan di meja sesuai instruksi Gara. Setelah itu Alula berpamitan kembali ke ruangannya.


"Tunggu!" Tahan Gara membuat Alula menatapnya.


"Apa anda membutuhkan sesuatu tuan?"


"Ya, tetap disini sampai saya selesai." ucap Gara. Entah apa yang terjadi, mulutnya tiba-tiba meminta Alula tetap di ruangannya yang secara tidak langsung meminta Alula menemaninya makan.


Apa yang aku ucapkan? Batin Gara.


"Ba–baik tuan," ujar Alula gugup.


Gara bengun dan duduk di sofa. Tangannya meraih makanan yang Alula letakkan di atas meja. Saat hendak memasukkan makanan ke mulutnya, Gara melirik Alula yang masih setia berdiri.


"Apa kau tidak bisa duduk?" Ucap Gara dingin.


"Eh. Bi–bisa tuan." Alula segera mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang cukup jauh dari tempat Gara duduk.


Gara mengurungkan niatnya memakan makanan dan malah memainkan handphonenya. Tak lama pintu ruangan Gara di ketuk. Alula hendak membuka namun ditahan Gara.


"Biarkan!" Alula menurut. "Masuk!" Perintah Gara pada orang yang mengetuk.


"Ini tuan pesanannya." Ujar perempuan itu meletakkan makanan di meja.


"Saya permisi tuan."


"Hmm,"


Alula sedikit melirik Gara. Ia heran kenapa bos nya itu memesan makanan lagi. Apa selapar itu sampai ia memesan lagi.


"Makan!" Alula terkesiap saat Gara tiba-tiba saja menyuruhnya makan.


"Hah?"


"Saya tidak suka mengulang." Ujar Gara dengan tatapan tajam.


Alula meneguk salivanya susah payah. Tatapan Gara memang menakutkan. Dengan terpaksa Alula meraih makanan dan memakannya.


Sementara Gara, ia terus mengunyah makanannya. Namun pikirannya entah kemana. Ia tidak tahu apa sebenarnya terjadi. Tapi ia merasakan sesuatu yang aneh saat melihat Alula. Alula seperti tidak asing baginya.


Beberapa menit kemudian, Alula menarik nafas lega. Akhirnya ia bisa keluar dari situasi yang sangat canggung itu. Alula kembali ke ruangannya. Saat sedang melanjutkan pekerjaan, tiba-tiba seorang wanita menyapanya.


"Permisi!" Ujar wanita itu.


"Ya? Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau bertemu tuan Gara,"


"Apa nona sudah membuat janji bersama tuan Gara?"


"Ya,"


"Dengan nona...?"


"Irene,"

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Alula meraih telpon, menelpon Gara memberitahukan jika ada yang ingin bertemu dengannya.


"Silahkan nona, tuan Gara sudah menunggu."


Alula mengantarkan wanita tersebut ke ruangan Gara, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Dalam hatinya berdecak kagum melihat kecantikan wanita itu, berbeda jauh dengan dirinya.


Terlepas dari pikirannya, Alula mulai fokus pada dokumen-dokumen di depannya. Alula mendongak saat pintu ruangan Gara berdentum keras. Terlihat wanita yang bernama Irene itu keluar dengan air mata berderai.


"Dasar lelaki sialan. Beraninya dia menolak ku." Umpat Irene, mengusap air matanya sambil berjalan menuju lift tanpa memperdulikan Alula yang menatapnya.


"Apa yang dilakukan tuan Gara? Apa rumor mengenai tuan Gara itu kejam dan tak tersentuh itu benar? Jika benar, semoga aku tidak mendapat masalah dengannya." Gumam Alula dan kembali fokus pada pekerjaannya.


***


Alula mengernyit heran saat melihat sebuah mobil yang terpakir di halaman rumahnya. Ia berjalan semakin dekat dan memperhtikan mobil itu dengan intens. Sedetik kemudian ia menghela nafas lega. Ternyata itu mobil milik Gio.


"Malam anak-anak ibu. Malam Gio." Sapa Alula pada ketiga orang yang sedang duduk di ruang tamu.


"Malam bu," balas Darren dan Darrel kompak.


"Malam Alula,"


"Sejak kapan kau kemari?" Tanya Alula, ikut duduk di samping Darren.


"Sejak sejam yang lalu." Gio menatap Alula.


"Dimana kamu bekerja? Hari pertama, kamu sudah pulang malam?" Sambungnya.


Alula menghela nafas berat. Hari ini cukup melelahkan untuknya. "Aku bekerja di Grisam Group. Hari ini cukup melelahkan, aku harus menyelesaikan beberapa dokumen yang di tinggalkan sekretaris lamanya." Jelas Alula.


Darren mendongak menatap Ibunya. Ada rasa bersalah melihat wajah lelah Ibunya. "istrahat Bu!" Kata Darren membuat Alula menatapnya.


Melihat sikap Darren seperti itu, membuatnya teringat pada Gara. Darren benar-benar memiliki sifat yang sama seperti Gara.


"Tenanglah, lelah Ibu sudah berkurang melihat wajah kalian."


"Wajah aku tidak?" Timpal Gio yang mendapat tatapan tajam dari Darren dan Darrel. Dua anak itu seakan tidak ingin berbagi Ibu mereka.


"Ish, pamankan bukan anak Ibu." Kesal Darrel pada Gio.


"Sudah! Ngomong-ngomong kalian sudah makan?"


Darrel mengangguk antusias. "Sudah Bu. Paman yang bawa makanannya. Tapi, Dallen lapel lagi."


"Rakus." Gumam Darren yang masih di dengar mereka bertiga.


"Bialin. Bilang aja kamu juga mau."


"Ya. Aku hanya makan sedikit tadi."


"Tuhkan? Pake ngatain aku lakus. Tapi sendilinya suka." Ujar Darrel sambil bersidekap dan memajukan bibirnya.


Alula tersenyum melihat kelakuan kedua putranya. Benar-benar sangat menggemaskan.


"Ya sudah, Ibu masakin. Darrel mau apa?"


Mata anak itu berbinar saat di tanyain Ibunya.


"Aku mau omlet sama nasi."


"Darren?"


"Terserah Ibu."


"Kamu Gio?"


"Samain sama Darrel."


Alula mengangguk. "Syukurlah semuanya sama. Aku tidak perlu memasak yang lainnya." Ujar Alula kemudian melenggang meninggalkan Gio dan Darrel yang terbengong, dan Darren yang berwajah datar.

__ADS_1


Emang enak kalau punya istri. Batin Gio, terus menatap punggung Alula sampai menghilang.


__ADS_2