
Suasana kantin kantor yang cukup tenang tiba-tiba berubah ramai dengan bisikan-bisikan. Hampir separuh pengunjung kantin berbisik sambil melirik Alula yang baru memasuki tempat tersebut.
Ada apa ini? Kenapa aku merasa mereka begitu sinis padaku.
Alula berusaha mengabaikan tatapan-tatapan orang-orang tersebut padanya. Ia lebih memilih mencari tempat untuknya.
"Aku tidak melihat Sadam atau Tari sejak tadi." Gumamnya sambil terus mencari tempat kosong untuknya.
Alula melangkah ke sebelah kiri kantin. Ada satu meja dan kursi kosong. Dengan perasaan lega ia berjalan ke arah meja tersebut.
Bugh...
Sebuah botol bekas menimpa punggung Alula, ketika wanita itu hendak menarik kursi untuk diduduki nya. Ia menoleh ke sumber botol tersebut dilempar.
"Apa? Kau ingin marah?" Tanya seorang wanita, salah satu karyawan di Grisam Group.
"Tidak. Aku hanya bertanya, kenapa melempariku?" Balas Alula, masih dengan sikap tenangnya.
"Huh, kenapa? Kau tanya kenapa? Karena kau pantas mendapatkannya."
"Ya, kau pantas mendapatkannya. Kau wanita penggoda. Kau pasti menggoda tuan Gara dan memintanya menjadikanmu simpanannya kan?" Tuduh seorang wanita lagi, yang berdiri tak jauh dari wanita sebelumnya.
"Apa yang kalian katakan? Aku tidak menggoda tuan."
Semua pengunjung kantin mulai menatap mereka. Ada yang merekam dan ada yang menyaksikan sambil menjelek-jelekkan Alula. Hanya beberapa orang yang memilih diam dan melanjutkan makan mereka.
"Tidak perlu berbohong. Kami semua menyaksikan kebersamaanmu dengan tuan. Jika kau tidak menggodanya dan membuatnya tertarik, mana mungkin tuan mempertahankanmu sebagai sekretarisnya."
"Ya, biasanya sekretaris wanita yang bekerja pada tuan tidak akan bertahan lama. Mereka akan dipecat setelah tiga atau empat hari. Berbeda denganmu. Kau bertahan hingga hari ini. Pasti kau sudah melakukan sesuatu bersama tuan kan? Dasar wanita penggoda."
Alula hanya terdiam. Matanya berkaca-kaca mendengar tuduhan yang karyawan-karyawan wanita itu berikan. Apalagi, mereka berada di tempat umum yang cukup banyak orang menyaksikan.
Tanpa membalas atau mengucapkan satu kata pun, Alula berjalan keluar kantin. Mengabaikan tatapan dan kalimat kasar yang sebagian orang lontarkan untuknya.
"Lihat saja, tuan hanya memanfaatkan mu. Setelah ia bosan, ia akan mencampakkan mu." Teriak Wanita tersebut sebelum Alula melangkahkan kakinya melewati pintu kantin.
Alula semakin mempercepat langkahnya menuju ruangannya. Setelah tiba, ia terduduk di ruangannya dengan air mata yang terus berjatuhan.
"Apa selama ini mereka sangat membenciku?" Perkatan-perkataan yang mereka lontarkan di kantin mulai terbayang olehnya.
"Apa, yang mereka lakukan di kantin saat aku bersama Tari dan Sadam juga hal yang sama? Mereka berbisik tentangku, tapi tidak bisa mengungkapkannya karena takut diketahui Gara?"
"Dan tatapan saat aku melewati lantai dasar bersama Gara, apa itu juga gambaran kebencian mereka padaku?"
"Tapi, kenapa mereka melakukannya? Aku benar-benar tidak menggoda Gara." Lanjutnya.
***
Beberapa jam berlalu. Alula telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia merapihkan meja kerjanya dan segera pulang.
Dalam lift, ia terus menguatkan hatinya agar tidak terpengaruh dengan segala ucapan karyawan lantai dasar, jika ia bertemu mereka nanti.
Setelah keluar dari lift, Alula merubah ekspresinya menjadi setenang mungkin. Benar dugaannya. Saat ia melewati tempat itu, banyak sekali karyawan yang menatap. Bahkan ada yang terang-terangan menghinanya.
"Dasar wanita penggoda."
__ADS_1
"Murahan."
"Wajah saja yang cantik, hatinya busuk."
"Jijik banget lihat dia."
Berbagai kata-kata hinaan keluar dari mulut karyawan-karyawan tersebut. Alula hanya terus berusaha menegakkan kepalanya dan tidak peduli dengan yang mereka katakan.
"Hei, wanita penggoda! Lebih baik tinggalkan saja perusahaan ini. Tempat ini tidak cocok untukmu." Teriak seorang wanita yang mengenakan pakaian ketat.
Alula semakin mempercepat langkahnya. Sebentar lagi pak Andi akan menjemputnya. Alula berhenti di dekat security. Alisnya mengernyit mendapati bukan pak Tio yang berdiri disana, melainkan security baru.
"Salam, nona." Ucapnya sedikit membungkukkan badannya. Alula tersenyum dan juga balas membungkuk pada security baru tersebut.
"Saya Ben, nona. Security baru disini."
"Saya Alula. Senang bertemu anda, pak Ben."
"Senang bertemu anda juga, nona."
"Oh ya, dimana pak Tio?"
"Perusahaan membagi tugas untuk kami. Pak Tio mendapatkan shift malam."
"Oh. Ya sudah, saya duluan pak Ben. Jemputan saya sudah datang. Mari!" Alula sedikit menundukkan kepalanya yang juga dibalas oleh security tersebut.
"Mari, nona."
Setelah Alula memasuki mobil, selulas senyum muncul di bibir Ben. Matanya tak lepas dari mobil yang membawa Alula.
Saat sedang menatap ke arah mobil yang membawa Alula, tiba-tiba dua orang karyawan wanita lewat di depan Ben. Ia langsung menarik wajahnya menatap kedua wanita tersebut.
"Benar-benar wanita penggoda. Security saja digoda olehnya sampai tak berhenti menatapnya walau sudah dalam mobil."
"Iya, kamu benar. Benar-benar menjijikkan si sekretaris Alula itu." Sambung yang satunya sambil bergidik jijik. "Tapi, bagaimana dia tidak menggodanya? Security baru ini memang tampan." Lanjut wanita tersebut.
"Ya, dia memang tampan."
Ben terus menatap tajam punggung kedua wanita yang mulai menjauh. Ia begitu jengkel mendengar wanita kesayangan tuannya di jelek-jelekkan seperti itu. Jika tidak memikirkan kalau dia sedang menyamar, dia tidak akan segan melukai dua wanita tersebut.
"Tunggu saja hadiah dari tuan." Gumamnya.
***
Alula terlihat termenung dalam mobil. Pak Andi yang tak sengaja melihat dari kaca mobil pun merasa heran. Wajah majikannya terlihat muram, tak seperti biasanya.
"Maaf nona, saya tidak sopan. Wajah nona terlihat muram. Apa ada masalah di kantor?"
Alula menatap pak Andi dan tersenyum padanya. Senyum paksa yang jelas-jelas bisa ditebak oleh pak Andi.
"Tidak terjadi apa-apa di kantor. Saya baik-baik saja."
Pak Andi hanya mengangguk dan kembali fokus mengemudi. Ia tidak akan bertanya lebih. Bukan porsinya untuk bertanya lebih.
20 menit perjalanan, mereka tiba di rumah. Seperti tak terjadi apa-apa, Alula berubah ceria. Sangat berbeda dengan dirinya di dalam mobil tadi.
__ADS_1
Ia harus bisa menyembunyikan kesedihannya sebaik mungkin. Darren Darrel sangat pandai membaca dirinya. Ia tidak ingin mereka mengetahuinya.
"Ibuuuu..." Teriak Darrel, berlari dan langsung menubruk tubuh Ibunya. Tak lama, muncul Asya yang juga berlari dan Darren yang berjalan santai ke arah mereka.
"Asya?" Alula tersenyum padanya.
"Hallo, tante. Asya main disini boleh kan?"
Alula melepas pelukan Darrel dan berjalan mendekati Asya. "Boleh dong, sayang. Kamu nginap juga boleh." Ucapnya, menempelkan telapaknya di kedua pipi Asya.
"Gemes banget sih, anaknya mama Irene ini."
"Asya cantik ya tante?"
"Cantik. Cantik banget."
Darrel yang pelukannya di lepas oleh Alula pun memanyunkan bibirnya. Setelah beberapa jam tak bertemu dengannya, Ibunya lebih memilih berbicara dengan Asya. Benar-benar mengesalkan.
"Ibu, Dallel disini lho. Dallel juga peluk Ibu lho tadi. Kenapa Asya dulu yang diajak ngomong?"
Alula menoleh menatap Darrel. Ia tersenyum melihat wajah murung putranya itu. "Sini-sini, ngomong sama Ibu. Darren, kamu juga." Mereka bersama menuju sofa dan duduk disana.
"Bagaiman kalian di sekolah hari ini?"
"Baik, tante. Baik, Bu." Jawab Asya dan Darrel hampir bersamaan.
"Darren?"
"Baik." Balasnya, datar.
"Asya udah izin sama Mama kesini?"
"Udah tante. Mama jemputnya samaan sama om Gio. Jadi langsung izin deh."
"Turus pulangnya gimana? Dijemput Mama atau mau tante yang anterin?"
"Kata Mama sih, Mama yang jemput."
"Gitu ya." Balas Alula. "Terus om Gio nya dimana?"
"Paman lagi di cafe." Sambung Darrel yang dibalas anggukkan Alula.
"Asya mau makan apa? Nanti tante buatin. Darren Darrel?"
"Asya apa aja. Yang penting enak."
"Darrel juga."
"Aku juga."
"Ya, sudah. Kalian disini ya? Ibu ganti baju dulu, baru masakin makan buat kalian."
"Makasih, tante."
"Iya, sama-sama." Balasnya. "Bi, tolong jagain mereka ya?" Lanjutnya pada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari tempat tersebut.
__ADS_1