Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Darrel Heboh


__ADS_3

Pagi sekali Darren dan Darrel bangun dan langsung menuju kamar kedua orang tua mereka. Keduanya mengetuk pelan, namun tidak ada yang menjawab. Darrel mencoba membuka pintu, dan ternyata tidak di kunci. Kedua anak itu langsung masuk. Langkah mereka, mereka pelankan agar tidak mengganggu Ayah dan Ibu mereka yang tertidur sambil berpelukan.


Darren dan Darrel mendekati ranjang bayi. Disana, Alisha masih tertidur. Bibir mungilnya bergerak-gerak seolah sedang menyusu pada Ibunya.


"Adeeek..." Sapa Darrel dengan berbisik.


Darren mengulurkan tangannya mengusap pelan pipi Alisha. "Bobok yang nyenyak." Bisik Darren. Namun, bukannya terlelap, bayi itu malah terjaga. Darrel yang melihatnya semakin senang. Ia mengambil beberapa mainan bayi dan memainkannya di hadapan Alisha.


Sementara Darren, anak itu terus saja mengusap pipi Alisha. "Bobok lagi, dek! Ayah sama Ibu masih bobok." Ujar Darren, tanpa menghentikan gerakan tangannya mengusap pipi Alisha.


"Kenapa di suruh bobok lagi? Kan sudah pagi. Aku masih mau main sama adek." Protes Darrel, pelan.


"Apa kau tidak mau ke sekolah?"


Darrel mengeplak keningnya. Ia sampai lupa jika hari ini, mereka harus ke sekolah. "Astaga... Aku benar-benar lupa." Suaranya yang cukup keras membuat Darren menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Namun, percuma saja. Alula dan Gara samar-samar sudah mendengarnya. Alula mengerjabkan matanya, begitupun dengan Gara. Keduanya terbangun dan melihat Darren dan Darrel berada di kamar mereka, tepatnya disisi ranjang Alisha. Seulas senyum mereka tunjukkan untuk menanggapi tingkah kedua putra mereka.


"Darren! Darrel!" Suara Gara membuat kedua anak itu menoleh.


"Sini, nak!" Panggil Alula, membuat kedua anak itu menghampiri mereka dan menaiki ranjang.


"Maaf." Ujar Darren, setelah berada diatas ranjang bersama Darrel dan kedua orang tua mereka.


"Darrel juga minta maaf. Kami pengen main sama adek. Jadi, kami kesini. Kami udah ketuk pintu, kok. Tapi Ayah sama Ibu gak bangun-bangun. Jadi, kami masuk aja." Jelas Darrel, membuat Gara dan Alula kembali tersenyum.


"Tidak apa-apa, sayang." Ujar Alula, tersenyum.


Gara juga ikut tersenyum mendengar penjelasan anaknya itu. Ia mengacak gemas rambut kedua putranya.


"Lain kali, kalau mau main sama adek pagi-pagi gini, malamnya tidur sama Ayah, Ibu, oke?"


"Emang boleh?"


"Boleh dong, sayang. Dari pada kalian ketuk-ketuk pintu tapi Ayah sama Ibu gak bangun-bangun? Iya kalau pintunya gak dikunci. Kalau di kunci, gimana?" Ujar Gara.


"Hehehe... Iya juga, ya?" Kekeh Darrel.


"Oh ya, Bu. Adek udah bangun." Ujar Darren.


"Bangun?" Beo Alula.


"Iya, Bu. Kita gak sengaja bangunin adek."


Mendengar penjelasan kedua putranya, Alula segera turun dari ranjangnya dan menuju ranjang Alisha. Ternyata Darren dan Darrel benar. Putri kecilnya itu sudah terbangun dan memainkan tangannya sendiri.


"Sayang, anak Ibu. Udah bangun, nak? Pintar banget anak Ibu, gak nangis." Ucap Alula sembari meraih Alisha kedalam gendongannya. Ia membawa putri kecilnya itu menaiki ranjang, bergabung bersama Gara, Darren dan Darrel.


"Harum banget anak Ayah." Ujar Gara, mencium pipi kecil Alisha. Darren dan Darrel juga ikut mencium Alisha.

__ADS_1


"Benaran harum." Gumam Darren.


"Wah, Ayah benar. Adek memang harum." Ujar Darrel.


Kedua anak itu bermain bersama Alisha yang ada dalam gendongan Alula. Sementara Gara, dia memasuki kamar mandi. Sejam lagi, ia akan berangkat ke kantor.


Darren dan Darrel yang sedang bermain dibuat senang oleh Alisha. Bagaimana tidak? Bayi kecil itu tiba-tiba menggenggam telunjuk Darren dan Darrel di kedua tangannya. Membuat Darren tersenyum senang dan Darrel memekik senang.


"Dia memegang jariku." Ucap Darren, pelan.


"Waaahhh, Ibu adek memegang jariku!" Pekik Darrel heboh. Membuat Darren menutup sebelah telinganya dengan sebelah tangannya yang bebas.


Alula hanya menggeleng dengan tersenyum. Sementara Gara, dia yang sedang di kamar mandi langsung berlari keluar dengan wajah khawatir saat mendengar pekikkan yang bisa ia tebak, itu dari Darrel.


"Ada apa?" Tanya Gara dengan perasaan khawatir.


"Hehehe... Adek menggenggam jariku, Yah." Ujar Darrel, cengengesan.


"Ya Tuhan, Ayah pikir terjadi sesuatu." Gara menarik nafasnya.


"Maaf, Yah."


"Tidak masalah. Oh ya, ayo mandi! Entar terlambat ke sekolah."


"Iya, Yah." Ujar Darren Darrel bersamaan.


"Adek, kita main lagi nanti." Ujar Darren, mencium sebelah kanan pipi Alisha.


"Kakak juga. Kakak mau ke kamar dulu. Mau mandi terus ke sekolah. Pulang sekolah, kita main lagi." Ujar Darrel, mencium pipi sebelah kiri Alisha.


***


Semua sudah berkumpul di ruang makan. Gio sejak tadi menatap Alisha dalam gendongan Gara dengan senyum-senyum. Entah apa yang dipikirkannya, tidak ada yang tahu.


Gara yang tak sengaja melihatnya mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu? Senyum-senyum sendiri." Tanyanya heran.


"Siapa yang senyum-senyum sendiri? Orang aku senyumnya sama Alisha." Sanggah Gio.


"Putriku sedang tidak melihat ke arahmu!"


"Ck. Kamu merusak moodku." Kesal Gio. "Aku sedang membayangkan jika aku punya putri seperti Alisha. Aku akan menciumnya setiap hari. Dia sangat imut dan menggemaskan."


"Paman, jika paman tidak ingin sarapan, biar ku habiskan saja sarapan Paman." Ujar Darrel, melihat sarapan Gio yang belum disentuh lelaki itu sama sekali.


Mendengar itu, Gio langsung menarik sarapannya agar lebih dekat. "Enak saja, kamu! Paman akan menghabiskannya. Kamu ini, makan banyak sekali. Lama-lama tubuhmu melar." Kesal Gio. Dia dan Darrel tidak pernah akur. Tapi, itu adalah bentuk sayang keduanya.


"Sudah! Ayo, nak! Habiskan sarapan kalian. Entar terlambat lagi. Ayah juga udah tungguin lho dari tadi." Ujar Alula, memasukkan bekal Darren Darrel kedalam tas mereka.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Gara, Darren dan Darrel segera berpamitan pada Alula, Alisha dan Gio. Tak lama mereka berangkat, Gio juga berpamitan ke kantornya. Perusahaan milik Ibunya sudah menjadi miliknya.

__ADS_1


Setelah mengantarkan si kembar ke sekolah, Gara segera menuju kantornya. Banyak karyawan yang menyapanya yang dibalas senyuman kecil olehnya. Walau wajahnya masih terlihat dingin, tapi cukup banyak perubahan Gara yang dirasakan para karyawannya. Jika dulu dia mengabaikan semua sapaan karyawan-karyawannya, sekarang dia membalasnya dengan senyuman kecil.


"Selamat pagi, tuan." Ujar sekretaris Kenan, menunduk pada Gara, lalu berjalan mengikuti Gara menuju ruangannya.


"Pagi!" Balas Gara.


"Hari ini, tuan ada meeting bersama klien di hotel B, jam 3 sore."


"Ya. Ada lagi?"


"Tidak, tuan."


"Kau sudah memberitahu Ben, untuk menjemput Kakek Nenek kan?"


"Sudah, tuan. Ben juga sudah berangkat."


"Baguslah."


"Kalau begitu, saya permisi tuan."


"Ya."


Sekretaris Kenan segera kembali ke ruangannya. Gara lalu kembali berkutat dengan berkas-berkas miliknya, yang harus ia selesaikan. Tiba-tiba handphonenya berdering.


"Hall..."


"Dasar anak nakal! Apa kamu sudah tidak menganggap Nenek dan Kakekmu? Cucu mantuku melahirkan, kau tidak memberitahuku."


"Nek, aku mau memberi kejutan."


"Aku tidak suka kejutan! Huh, aku baru tahu setelah diberitahu Ben lewat telpon tadi."


Ya Tuhan, Ben. Kau mengirimku pada amukan Nenek. Bodoh! Kenapa kau menceritakan jika Alula sudah melahirkan. Jika dia yang mengetahui sendiri di rumah nanti, dia tidak akan mengamuk padaku karena ada Alula dan cucu-cucunya. Dia pasti akan terbawa suasana. Sekarang dia sudah tahu, mungkin sudah menyimpan tenaga untuk memarahiku. Batin Gara.


"Gara!"


"Iya, Nek."


"Kenapa diam?!"


"Aku..."


"Sudahlah! Jangan berbicara lagi! Nenek akan mengajarimu saat tiba nanti." Ujarnya langsung memutuskan panggilan.


Ya Tuhan, dia yang memintaku berbicara. Dan dia juga yang memarahiku. Astaga... Aku benar-benar dalam masalah.


Hallo semuanya, terima kasih atas dukungan teman-teman pada karyaku ini. Semoga kalian sehat selalu. Juga, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan, bagi yang menjalankan. Semoga kita semua istiqamah di jalan Allah SWT.


Salam dari Aquilaliza 😄

__ADS_1


__ADS_2