
Sekretaris Kenan berdiri tegap di depan pintu kelas Darren. Banyak orang memandang aneh padanya. Dan memandang heran Darren. Siapa Darren sebanarnya, sampai harus di tunggui sebegitunya.
"Hai tampan, sedang apa kau disini? Apa kau menunggu ponakan mu?" Goda salah satu Ibu guru sekolah dasar.
Sekretaris Kenan tidak memperdulikannya. Matanya terus mengawasi sekitaran sekolah. Ia kembali menarik kursi dan duduk.
"Apa kau tidak bisa bicara? Aku bertanya padamu sejak tadi." Sekretaris Kenan masih mengabaikannya.
"Ibu? Apa yang kau lakukan di kelas kanak-kanak?" Pertanyaan dari kepala sekolah, menarik Ibu itu meoleh.
"Ma-maaf Bu kepala sekolah, saya akan kembali ke kelas." Ucap si Ibu guru, sambil tersenyum kikuk.
"Maaf tuan, saya akan memberi hukuman pada Ibu guru itu."
"Tidak masalah."
"Kalau begitu, saya permisi." Pamit Bu kepala sekolah.
Pelajaran di kelas Darren telah usai. Anak itu keluar dan menghampiri sekretaris Kenan.
"Ayo paman!"
"Baik, tuan muda."
Jiyo, si anak yang selalu mencari masalah dengan Darren dan Darrel mendekat. Ia menatap Darren sambil berkacak pinggang.
"Kau tidak punya papa, campai meminta pamanmu mengantalmu. Benal-benal menyedihkan." Ujarnya begitu sombong pada Darren.
Darren tak menjawab. Hanya sorot mata dingin yang ia berikan pada Jiyo.
"Anak halam cepeltimu dan caudalamu itu tidak cocok punya papa."
Sekretaris Kenan yang mendengar penghinaan untuk tuan mudanya itu merasa kesal. Bagaimana bisa anak sekecil itu pandai menghina orang lain. Apa yang di ajarkan orang tuanya.
Sekretaris Kenan mendekat, hendak memperingati anak itu. Namun, ia ditahan oleh Darren.
"Tidak perlu di ladenin paman. Ayo pulang!" Ujar Darren.
"Baik tuan." Balas Kenan, sedikit membungkuk.
Huh, gayanya pakai di panggil tuan muda cegala. Dia pikil, dia anak pengusaha kaya laya? Mimpi. Batin Jiyo
"Cih. Dacal anak tidak punya papa." Decihnya membuat Darren berhenti.
"Aku punya ayah." Balasnya tanpa berbalik.
"Jika punya, kenapa tidak mengantalmu? Atau papa mu ada, tapi bekelja di tempat jauh cepelti yang Dallel katakan?"
Darren tersenyum misterius. "Huh, ayah ku ada. Tapi terlalu berharga untuk di tunjukkan ke seorang cadel sepertimu." Jawab Darren langsung menuju mobil sekretaris Kenan.
Perjalanan pulang terasa sunyi. Darren terus saja sibuk dengan iPadnya. Meskipun begitu, otaknya terus memikirkan adik kembarnya.
"Tuan muda, apa saya mengantar tuan ke rumah dulu?"
"Tidak paman. Ke rumah sakit saja." Sekretaris Kenan mengangguk mengiyakan.
Mobil melaju menuju rumah sakit. Setengah jam kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Sekretaris Kenan menuntun Darren menuju ruang rawat Darrel. Sebelumnya, ia sudah menerima pesan dari bawahannya, jika Darrel sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP.
__ADS_1
Darren tidak banyak komentar. Ia mengikuti sekretaris Kenan dalam diam. Baginya, sekretaris Kenan tahu apa yang akan dilakukan.
"Silahkan masuk tuan! Tuan dan nona ada di dalam." Sekretaris Kenan membuka pintu dan membiarkan Darren masuk.
"Ayo minum dulu. Kamu harus banyak minum." Ujar Alula, menyodorkan segelas air ke mulut Darrel.
"Selamat siang Bu, paman." Ujar Darren, mencium tangan keduanya.
"Selamat siang." Balas Gara dan Alula bersamaan.
Decitan pintu kamar mandi membuat Darren menoleh. "Paman asing?" Kening Darren berkerut, melihat Edo yang keluar dari kamar mandi. Sejak tadi, Edo terus menolak saat di suruh pulang oleh Gara.
"Kau mengenalnya Darren?"
"Jelas dia mengenalku. Akulah yang memberikan kartu namaku pada mereka berdua, dan merekomendasikan perusahaan pada mereka. Tak disangka, mereka benar-benar mendaftarkan Ibu mereka."
Gara terdiam. Ternyata Edo yang sudah membantunya. Edo sudah mencurigai tentang Darren dan Darrel anaknya sejak lama.
"Bagaimana? Aku hebatkan?" Ujarnya menyombongkan diri.
"Ya, kau hebat." Balas Gara, malas.
"Baguslah kau mengakuinya. Dengan susah payah aku ingin mendengar itu dari mulutmu. Tapi, kau harus memberiku hadiah."
Alis Gara menukik tajam. "apa?"
"Tidak hari ini. Nanti aku akan memintanya. Aku harus kembali ke kantor."
"Sudah sana, pergi!" Usir Gara.
"Ck. Posesif." Gumam Edo. "Alula, Darren, aku pamit dulu. Sampaikan salamku untuk Darrel nanti. Katakan padanya semoga cepat sembuh." Lanjutnya lalu meninggalkan ruang rawat Darrel.
"Biarin." Balas Edo, lalu benar-benar keluar dari ruangan itu.
Gara melirik sekretaris Kenan yang berdiri tegap di samping sofa.
"Kenan."
"Iya tuan."
"Kembalilah ke kantor! Selesaikan semua tugasmu dan ambilah cuti untuk hari esok."
"Baik tuan, terima kasih."
"Ya. Selesaikan urusan yang tertunda. Kau pasti belum menemuinya."
Sekretaris Kenan hanya bisa mengangguk. Dia tahu betul siapa yang tuannya maksud. Ternyata, Gara memperhatikan perubahannya saat itu.
"Kalau begitu, saya permisi tuan."
Kenan berlalu dari ruangan itu menuju parkiran. Mobilnya ia lajukan ke arah perusahaan Grisam Group. Ia berharap, bisa menyelesaikan pekerjaannya secepatnya.
***
Jam menunjuk angka 6. Langit juga sudah mulai menghitam. Sekretaris Kenan baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Akhirnya selesai. Tunggu aku. Aku akan membuatmu berhenti melakukan pekerjaan itu, dan memberimu pelajaran."
__ADS_1
Sekretaris Kenan melajukan mobilnya menuju sebuah club A. Tempat dimana orang itu bekerja.
Mobilnya ia parkirkan dengan rapih di parkiran club. Sengaja, ia parkiran di antara mobil yang berwarna sama dengan mobilnya.
Kenan memasuki tempat tersebut. Kedatangannya menarik perhatian banyak perempuan. Namun hal itu diabaikan begitu saja olehnya.
Matanya memerhatikan tiap orang di club itu. Seluas senyum muncul di bibirnya.
"Aku menemukan mu." Gumamnya.
Kenan berjalan menuju ruangan yang sudah di pesan khusus untuknya sendiri. Sebelumnya ia mendekati seorang bartender dan memesan minuman.
"Berikan aku minuman, dan biarkan orang itu yang mengantarkannya ke kamar 009." Ujarnya, menunjuk seseorang.
"Baik tuan."
Langkah Kenan menuju kamar yang dimaksud. Ia memasukinya dan berdiri bersender pada dinding samping pintu. Tak lama, suara ketukan pintu terdengar.
"Permisi tuan, saya mengantarkan minuman yang tuan pesan." Kenan menyunggingkan senyum. Ia mengenali suara itu.
"Masuk!"
Saat pintu terbuka, Kenan segera menarik dan memojokkannya. Tidak peduli dengan nampan yang berisi botol minuman dan gelas, yang sudah berjatuhan di lantai.
"Kau!" Teriak orang itu.
"Ya, aku." Tangannya terulur mengunci pintu.
"Apa yang kau lakukan? Lapaskan aku!" Ujarnya mencoba memberontak. Namun, kekuatannya kalah dari Kenan. Lelaki itu mengurungnya di tembok dengan kedua tangan kekarnya.
"Kau telah melanggar janjimu, Hani."
"Persetan dengan janji. Apa kau tahu apa yang aku butuhkan?"
"Gadis manis, kau meliliki masalah? Kenapa tidak mengatakannya padaku atau tuan Gara. Apa kau lupa, ucapan tuan Gara dua tahun lalu?"
"Cih. Aku tidak mau merendahkan diriku dengan mengemis pada tuan Gara. Apalagi pada dirimu."
Kenan menggeram kesal. Rahangnya menggemeletak karena emosi.
"Apa kau pikir bekerja di bar, dan menjadi wanita murahan si direktur berengsek itu bukan merendahkan harga diri?! Hah?!" Bentak Kenan dengan penuh amarah.
"Kau mengatakannya berengsek? Apa kau bukan berengsek yang mengurung ku disini. Ini menunjukkan jika kau juga berengsek. Kau tidak le...mmpphh"
Ucapan Hani di bungkaman oleh bibir Kenan. Lelaki itu mencium Hani dengan penuh kelembutan. Tidak seperti kata-katanya yang sering menyakiti Hani sejak mereka bertemu.
Hani hanya bisa diam mematung. Ada yang aneh dalam dirinya. Dia tidak menolaknya. Kenan sudah sering menyakitinya dengan kata-kata. Namun, ia tetap memiliki perasaan itu untuk Kenan.
Merasa kehabisan oksigen, Hani mendorong tubuh Kenan.
"Kau laki-laki berengsek." Teriak Hani di depan Kenan.
"Aku tidak peduli. Dimana dia mencium mu?"
"Bukan urusan mu!" Bentak Hani, mendorong Kenan dengan sekuat tenaga.
Gadis itu dengan cepat membuka pintu. Untunglah, kunci kamar masih menempel pada pintu. Jika tidak, dia akan kesulitan.
__ADS_1
Hani berlari sekuat tenaga saat pintu terbuka. Secepat mungkin ia keluar dari club itu dan menaiki taksi.
"Sial!" Umpat Kenan. "Kau tidak akan terlepas dariku." Sambungnya lalu keluar dari kamar itu.