Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Air mata Alula masih tidak mau berhenti. Saat ini dirinya sedang duduk di salah satu bangku di taman. Beruntung saat ini sedang sepi.


Ingin kembali ke rumah, ia takut jika Darren dan Darrel menanyakannya. Biarkan ia menenangkan diri disini.


Sebenarnya, apa kesalahanku sampai tuan Gara setega ini sama aku. Batin Alula.


Jika aku punya salah, setidaknya katakan padaku. Tidak perlu dijelaskan dengan detail. Kenapa harus tiba-tiba ngelakuin itu.


Alula menarik nafasnya, mengerjabkan matanya agar air matanya tak lagi menetas. Setelah senja muncul, Alula memutuskan untuk pulang ke rumah.


Gara merutuki kebodohannya. Kenapa dia bisa kelepasan seperti tadi.


"Arrgghhh... Kenapa aku kelepasan seperti tadi?" Sesal Gara.


Gara bangkit dan berjalan menuju kamar yang ada di ruangannya. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum ia kembali ke rumah.


"Andai kau tau Alula, aku cemburu melihat kamu bersama mereka. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Darren dan Darrel. Aku menyayangi kalian." Gumam Gara, mulai memejamkan matanya.


***


Darren dan Darrel menatap Alula dengan alis bertaut. Tidak biasanya Ibu mereka belum bersiap untuk ke kantor. Alula tidak peduli tatapan kedua anaknya. Ia malah menyibukkan dirinya menghidangkan sarapan.


"Bu, mata Ibu bengkak. Ibu nangis?" Tanya Darren, menghentikan gerak tangan Alula.


"Ya, Ibu nangis. Semalam perut Ibu sakit."


"Kenapa ibu tidak bangunkan aku sama Dallen?"


"Ibu tidak tega. Ayo dimakan." Meletakkan dua piring nasi goreng untuk Darren dan Darrel.


"Masih sakit?" Alula menggeleng.


"Apa Ibu akan ke kantol?" Tanya Darrel.


"Tidak. Ibu sudah minta izin tidak masuk hari ini." Bohong Alula. "Ibu akan mengantar dan menjemput kalian ke sekolah."


"Jangan." kedua saudara kembar itu terpekik bersamaan. Jika Alula mengantar mereka, bagaimana mereka bisa ke rumah sakit mengambil hasil tes.


"Kalian kenapa?"


"Tidak. Kita hanya khawatil sama Ibu."


Alula mengangguk. Ia bangun dari duduknya saat mendengar ketukan pintu. Ia segera menuju pintu dan membukanya.


Darren dan Darrel saling melirik saat melihat handphone Alula tergeletak di atas meja makan.


"Ayo Len, minta izin sama Bu gulu." Darren mengangguk.


"Masih ingatkan paswordnya?" Darren tak menjawab. Tangannya mengetik pasword hp Alula.


"Sudah?"


"Sudah." Sahut Darren.


"Ngapain lagi?" Darrel heran melihat Darren yang katanya sudah selesai tapi masih mengotak atik hp Ibunya.


Anak itu tak menjawab dan malah mengeluarkan sebuah alat kecil dan menempelkan pada hp Alula.


"Apa yang kau lakukan?"


"Memasang alat penyadap di hp Ibu."

__ADS_1


Darren hanya mengangguk. Ia tidak begitu paham soal begituan. Untuk hal itu, Darren lah ahlinya.


Alula kembali dari depan menuju meja makan.


"Siapa bu?" Ujar Darrel, bertanya.


"Bu Lastri, nawarin pinjaman."


"Oh." Jawab Darrel.


"Udah selesaikan? Ayo berangkat."


Darren dan Darrel menggendong tas mereka di punggung. Keduanya mengikuti Alula. Benar-benar tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ibu pulang dulu ya." Ujar Alula saat sampai di sekolah si kembar. Tangannya ia ulurkan untuk di cium kedua putranya.


"Nanti Ibu yang jemput." Sambungnya.


Setelah taksi yang di tumpang Alula pergi, Darren dan Darrel kembali menahan taksi untuk ke rumah sakit. Mengambil hasil tes DNA mereka.


***


"Selamat pagi tante doktel." Sapa Darrel pada dokter wanita yang sudah menunggu mereka.


"Selamat pagi, ayo." Ajak si dokter menuju ruangan taman dokternya yang melakukan tes DNA beberapa hari lalu.


"Oh, Darren dan Darrel ya? Ini hasil tesnya." teman si dokter menyodorkan amplop putih berlogo rumah sakit.


"Terima kasih." Ucap Darren, mengambil amplop tersebut.


"Telima kasih tante doktel. Kami pulang dulu."


"Paman sekletalis? Kenapa dia disini? Siapa yang sakit?" Ucap Darrel membuat Darren menoleh.


"Ayo, kita pergi dari sini." Ajak Darren, menarik Darrel menjauh.


Kedua saudara kembar itu kembali ke taman rumah sakit yang mereka singgah kemarin. Mereka duduk saling bersebelahan.


"Aku sangat penasalan dengan isinya."


"Akan ku buka." Darren mengeluarkan amplop tersebut dan membukanya. Senyum terukir di bibir keduanya, setelah melihat isi dari amplop itu.


"Paman Gara ayah kita." Gumam Darren, dengan sedikit senyum di wajahnya. Darrel hanya bisa mengangguk. Tidak ada kata yang mampu ia lukisan atas kebahagiaannya saat ini.


"Ayo kembali, sebentar lagi Ibu akan menjemput." Ujar Darren, mengetahui kegiatan Ibunya dari alat penyadap yang di pasangnya tadi.


Di rumah, Alula sedang menunggu tukang ojek online untuk mengantarkan sesuatu ke Grisam Group. Sesuatu yang akan membuatnya kehilangan pekerjaan. Tapi, inilah keputusannya.


Tukang ojek online yang di pesan pun datang. "Pak, tolong antarkan ke Grisam Group ya." Ujar Alula.


Tukang ojek itu segera bergerak menuju Grisam Group, dengan membawa surat ke Grisam Group.


Alula mengambil tasnya, menunggu taksi untuk segera menjemput Darren dan Darrel.


***


Gara duduk memperhatikan layar laptop di depannya. Sudah pukul sepuluh lewat. Tidak ada harapan lagi untuk Alula masuk kerja hari ini. Dia cukup menyesal. Karena perbuatannya kemarin, Alula jadi seperti ini.


Gara meraih handphonenya dan mendial nomor sekretaris Kenan.


"Hallo, Kenan."

__ADS_1


"Hallo tuan."


"Dimana kamu?"


"Sedang menuju kantor tuan."


"Bagaimana dengan perusahaan cabang?"


"Masalahnya sudah beres tuan."


"Bagus. Hasil tesnya?"


"Sudah saya ambil tuan."


"Cepatlah kemari."


"Baik tuan."


Panggilan terputus. Gara meletakkan hp-nya lalu bersandar pada sandaran kursi. Dia sungguh tidak sabar melihat hasil tesnya.


Sekretaris Kenan memang bisa di andalkan. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan mengambil sampel rambut milik Darren dan Darrel, saat kedua anak itu menginap di rumah Gara.


"Semoga hasilnya sesuai yang ku harapkan." Gumam Gara.


Menunggu beberapa menit, sekretaris Kenan pun tiba. "Permisi tuan."


"Masuk! " Sahut Gara yang memang sudah hafal dengan suara Kenan.


Sekretaris Kenan masuk dan menunduk hormat pada Gara. Dia menyerahkan hasil tes DNA pada Gara. Dengan penuh harap, laki-laki itu membukanya.


Wajah Gara terlihat berseri. Entahlah, kebahagiaan seperti apa yang tengah ia rasakan saat ini. Harapannya bahwa Darren dan Darrel adalah anaknya benar-benar terwujud.


"Mereka benar-benar anakku Kenan. Darren dan Darrel anakku, Kenan." Ujar Gara dengan senyuman yang jarang ia tunjukkan.


"Ya, tuan. Selamat! Anda menjadi seorang ayah, tuan." Kata Kenan. "Dan ini, ada surat untukmu tuan." Lanjutnya.


"Surat?" Alis Gara mengerut.


Diraihnya surat yang di letakkan sekretaris Kenan di atas meja. Perlahan, dia membuka dan membacanya. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah padam.


Surat yang di genggamnya, ia remas dan mengoyaknya hingga tak berbentuk. Kenan yang melihatnya hanya terdiam dengan ekspresi datarnya.


"Sial! Apa kau pikir aku akan melepasmu dari ku?! Tidak Alula! Sekuat apapun kau berusaha pergi, bahkan keluar dari perusaan ini pun, tidak akan pernah membuatmu terlepas dari ku." Umpat Gara, penuh amarah.


"Dan, surat pengunduran dirimu ini, tidak akan berlaku jika aku mengingatkan mu mengenai kontrak kerja." Sambungnya.


"Kenan."


"Ya, tuan."


"Apa jadwalku hari ini?"


"Anda akan mengunjungi perusahaan C, meeting bersama klien jam 3 sore. Dan makan malam bersama tuan besar, tuan."


"Ck. Apalagi yang tua bangka itu inginkan?" Gumam Gara.


"Ya sudah, kau boleh kembali."


Sekretaris Kenan keluar dan menyelesaikan pekerjaannya. Mengurusi manajer keuangan dari anak perusahaan, yang ketahuan menggelapkan uang perusahaan. Gara percaya padanya. Biarkan sekretaris Kenan yang mengurus dan membawa orang tersebut ke hadapannya.


Gara lalu melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu sekretaris Kenan kembali untuk berkunjung ke perusahaan C. Sebenarnya, ia ingin segera bertemu Alula dan anaknya, namun ia mengurungkannya. Ia harus bersabar dan tidak perlu terburu-buru.

__ADS_1


__ADS_2