
Selama perjalanan, tidak ada yang berbicara satupun. Baik Gara maupun Alula sama-sama terdiam. Mobil berhenti di halaman kontrakan Alula.
"Terima kasih." Alula turun dari mobil dan langsung menuju pintu rumahnya. Tak sedikitpun ia nolehkan kepalanya pada Gara.
"Ada apa dengan Alula?" Gumam Gara.
Setelah tubuh Alula menghilang dari pandangannya, Gara melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Gara berniat langsung istirahat. Saat langkahnya melewati kamar Darren yang sedikit terbuka, Ia mendengar percakapan antara Darren dan Darrel.
"Dallen, apa kau juga melihat pelempuan tadi?" Tanya Darrel, tapi tatapannya fokus pada mainan baru yang Gara belikan.
"Ya, aku melihatnya." Ucap Darren, mencoba menyelaraskan warna setiap sisi rubik yang ia mainkan.
"Dia tellihat mencurigakan."
"Aku juga merasa begitu."
"Perempuan siapa?" Sahut Gara dari ambang pintu. Ia berjalan mendekati keduanya.
"Perempuan siapa yang kalian bicarakan?"
"Ayah sudah pulang?"
"Ya. Coba ceritakan pada Ayah, perempuan siapa yang kalian bicarakan tadi?"
"Tidak tahu. Dia perempuan aneh." Timpal Darren, meletakkan rubiknya yang sudah selesai ia samakan warnanya di setiap sisinya.
"Aku lasa, dia mengikuti Ibu. Aku mendapatinya menatap Ibu, kemudian belbalik masuk mobilnya."
Gara mencoba berpikir. Ia meraih handphonenya dan mendial nomor seseorang.
"Hallo, tuan." Ujar seseorang dari seberang.
"Laporkan semua kegiatan Alula hari ini." Ujar Gara pada orang itu, yang tak lain pengawal yang ia bayar untuk terus mengikuti dan menjaga Alula.
"Baik tuan. Saya aka sege..."
"Laporkan sekarang!"
"Setelah tuan pergi, nona berbelanja kebutuhannya. Tapi, tadi nona bertemu seorang perempuan. Nona memanggilnya kakak. Perempuan itu terlihat tidak suka dengan nona, dan berperilaku tidak baik terhadap nona. Ia menghina nona. Dia juga mengikuti nona hingga sekolahan tuan muda. Setelah saya selidiki, perempuan itu kakak nya nona, tuan. Elisa namanya." Lapor si pengawal.
Setelah memperoleh informasi dari pengawalnya, Gara memutuskan panggilan. Giginya bergemelatuk menahan gejolak amarah dalam dirinya.
"Berani-berani nya dia menghina Alula!" Geram Gara.
"Ayah. Ayah tahu pelempuan itu?"
"Ya. Kalian tenang saja, Ayah akan urus semuanya."
"Siap Yah!" Balas Darrel, memberi hormat pada Ayahnya.
Gara melirik rubik yang Darren letakkan. Ia tersenyum melihat warna setiap sisinya sudah selaras.
"Kau menyelesaikannya dengan sempurna." Ucap Gara pada Darren.
__ADS_1
"Aku mempelajari caranya sebelum bermain." Balasnya.
Handphone Gara berdering. Ia meraihnya dan menempelkan di telinga.
"Hallo Nek!"
"Ya Tuhan, Gara. Sejak hari itu, kau berjanji akan mengunjungi nenek, tapi kau tidak muncul-muncul juga."
"Ayolah Nek, aku sedang sibuk. Besok aku akan mengunjungi nenek."
"Benarkah? Kau berjanji?"
"Ya, janji."
"Baiklah, aku akan memberitahu Kakek mu."
"Ya."
"Ya sudah! Istirahatlah, nanti sebelum datang hubungi Nenek. Nenek tutup dulu."
Sambungan pun terputus. Gara menyimpan hpnya dalam saku. Ia menatap kedua anaknya yang sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Siapa?" Tanya Darren.
"Nenek Ayah."
"Ayah punya nenek? Wah, aku ingin beltemu dengannya. Ayah, besok Ayah menemuinya kan? Aku ikut ya?" Tutur Darrel, antusias.
"Kau mau ikut?"
"Oke. Bagaimana dengan mu, Darren?"
"Aku ikut." Balasnya.
"Baiklah. Kita akan ke rumah Nenek selepas pulang sekolah. Ayah akan menjemput kalian."
"Yes. Telima kasih, Ayah."
"Sama-sama. Sekarang, ayo tidur!"
"Oke. Tapi, gendong Dallel ke kamal, ya?"
"Sini!" Gara meraih Darrel dan menggendongnya. Satu tangannya terulur mengusap kepala Darren.
"Cepat tidur. Jangan begadang. Ayah keluar dulu. Selamat malam."
"Selamat malam,Yah." Balas Darren.
"Aku kelual dulu. Selamat tidul, Dallen."
"Ya."
Gara keluar membawa Darrel ke kamarnya. Ia membaringkan dan menyelimuti nya. Gara mendongengkan sebuah cerita. Tak lama, Darrel terlelap.
***
__ADS_1
Setelah sarapan pagi, Gara bergegas mengantar Darren dan Darrel ke sekolah. Dan kini, Ia sudah menghentikan mobilnya di halam kontrakan Alula.
Gara berjalan ke pintu dan mengetuknya. Namun, tak ada jawaban dari dalam.
"Alula!" Panggil Gara, berharap ia membuka pintunya.
"Cari siapa?" Gara menolehkan kepalanya ke sumber suara. Terlihat, seorang lelaki paruh baya dengan motor dan juga helm yang melekat di kepalanya. Gara mengerutkan keningnya.
"Saya Hadi, tetangga kontrakan Alula." Tiba-tiba wajah Gara berubah dingin.
"Saya cari Alula." Jawabnya membuat tukang ojek yang sering di panggil pak Hadi itu, merinding.
"Alula udah berangkat. Ini, saya baru pulang mengantarnya." Pak Hadi mencoba tenang menjawab Gara.
Tidak ada lagi balasan dari Gara. Ia melangkah dengan wajah datar menuju mobilnya. Kemudian, mobil melaju dengan cepat menjauh dari kontrakan.
Ada apa dengan orang itu? Menyeramkan... dan juga aneh. Batin pak Hadi.
Gara tiba di kantor dan langsung menuju lift khusus miliknya. Wajahnya yang dingin, semakin terlihat dingin.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa Alula, saat Gara melewati ruangannya menuju ruangan CEO.
Gara melewatinya begitu saja. Wajahnya terlihat lebih dingin. Mata tajamnya juga enggan melirik Alula.
Dia mengabaikan ku. Apa itu karena perempuan bernama Hani itu? Batin Alula.
Alula berbalik masuk ruangannya. Terdengar dentuman pintu ruangan yang cukup keras. Ia yakin itu berasal dari ruangan Gara.
"Arrgghhh... Kenapa kau lebih memilih berangkat dengan tukang ojek itu di bandingkan aku? Dia pria tua, dan aku masih muda. Jika soal ketampanan, aku yakin aku jauh lebih tampan darinya. Jika soal cinta, aku sangat mencintai mu, Alula!" Monolog Gara, menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Ketukan pintu membuatnya berhenti bermonolog. Sekretaris Kenan masuk menghampirinya.
"Tuan, ini ada beberapa laporan dari beberapa cabang perusahaan. Dan ini, laporan keuangan perusahaan Ibu anda." Sekertaris Kenan menyerahkan beberapa map, dan satu map berwarna biru pada Gara.
"Berikan pada Alula! Suruh dia periksa semuanya."
Sekretaris Kenan mengiyakan saja. Sebenarnya, ia sudah memeriksa semuanya. Tapi, perintah Gara tak terbantahkan. Jadi, ia menurut saja.
Alula yang sedang fokus dengan beberapa pekerjaannya, di kejutkan oleh Kenan.
"Maaf nona, mengejutkan mu!" Ucap Kenan, merasa tak enak.
"Tidak masalah. Apa ada sesuatu?"
"Ya. Tuan meminta nona memeriksa semua berkas ini. Dan berkas bermap biru itu, di pisahkan."
"Berikan pada ku! Aku akan mengecek nya." Alula mengambilnya dari Kenan. Kemudian Kenan kembali ke ruangannya, dan Alula mulai memeriksanya.
Gara melihat jam yang melingkar di pergelangannya. Sudah pukul sepuluh lewat. Darren dan Darrel pasti sudah pulang.
Gara meraih jasnya yang sengaja ia lepaskan. Ia memakainya dan berjalan keluar. Ia menuju ruangan Kenan, lalu ke liftnya. Alula hanya bisa menatapnya. Gara bersikap aneh, tidak seperti biasanya.
Mungkin, Gara sudah lelah dengannya dan mencari perempuan lain. Atau, semua perlakuan Gara selama ini, hanya untuk menarik Darren dan Darrel tinggal bersamanya.
Setelah kedua anak itu bersamanya, Alula akan ia buang, dan mencari yang lain.
__ADS_1