Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Menemani Gara di Rumah 2


__ADS_3

Alula membuka lebar pintu. Untuk apa dia lari bersembunyi, Gara sudah melihatnya. Tidak ada celah untuknya kabur. Karena dia sudah mengintip, apa pun konsekuensinya, ia harus menanggungnya.


Alula melangkah pelan dan sambil menunduk. "Ma-maaf tuan, saya tidak sengaja mengin..."


"Duduk." Perintah Gara, menunjuk tempat di sisi ranjang dengan matanya.


Darren dan Darrel hanya melihat. Keduanya sangat tenang di atas kasur. Tepatnya di pangkuan Gara.


"Kenapa kau mengintip?"


"Ti-tidak tuan. Saya tidak sengaja. Tidak ada niat saya untuk mengintip tuan."


"Paman, jangan buat Ibu ku takut." Ujar Darrel.


"Tidak, paman hanya bertanya." Jawab Gara.


Darren mendengarnya, langsung mendongak. Tatapan Darren membuat Gara tahu, apa yang dia inginkan. Gara melihat ke arah Darrel, dan ia menemukan tatapan sama.


"Baiklah, paman tidak akan bertanya lagi. Ayo, sekarang kita makan. Alula, kau sudah selesai memasakkan?"


"Iya tuan."


"Apa? Ibu memasak?" Tanya Darrel membuat Alula mengangguk.


"Ayo paman, kita makan. Paman halus coba masakan ibu! Masakannya sungguh enak. Tidak kalah dengan masakan lestoran."


"Restoran." Koreksi Darren, yang hanya di acuhkan Darrel.


"Banarkah?" Darrel mengangguk. "Mari kita buktikan, dengan memakan masakan Ibu mu."


ujar Gara, langsug turun dari ranjangnya.


Darren dan Darrel ikut turun. Darrel melompat ke punggung Gara, sesuai perjanjian tadi, Gara harus menggendongnya. Dan Darren, dia berjalan sambil di gandeng oleh Gara. Mereka berjalan terlebih dulu, mendahului Alula.


Lagi-lagi Alula merasa sedih. Namun, ada rasa bahagia melihat pemandangan itu. Tapi, apakah Darren akan menerima mereka dengan baik, setelah mengetahui yang sebenarnya.


***


Suasana di meja makan terlihat berbeda. Biasanya hanya Gara dan Kenan yang menyantap makanan, kini bertambah Alula, Darren dan Darrel.


Selain Edo, Kenan juga di anggap sahabat oleh Gara. Sekretaris-nya itu sangat patuh padanya. Meski sedikit kaku dan tidak se-hamble Edo, tetap saja Kenan sangat baik, dan juga selalu mendampinginya.


"Gimana paman? Enakkan masakan Ibu?"


"Enak." Balas Gara, membuat Darrel tesenyum sedangkan Alula hanya menunduk.


"Paman sekletalis, siapa nama mu? Aku lupa." tanya Darrel, menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.


Gara hanya menatap bergantian Alula, Darren dan Darrel. Dunianya seakan teralihkan oleh mereka bertiga. Sesekali ia menyuapkan makan ke mulutnya.


"Makanlah yang banyak biar sehat." Ujar Gara, menaruh sepotong ayam goreng ke piring Darren dan Darrel.


"Nama saya, Kenan tuan." Ujar Kenan, menjawab pertanyaan Darrel.


"Kenapa memanggil ku tuan? Bukankah itu panggilan untuk paman ganteng?"


"Darrel sayang, ayo habiskan makanannya. Tidak baik berbicara sambil makan." Kata Alula dengan ramah, saat melihat Kenan tak berniat menjawab Darrel.

__ADS_1


"Baik Bu." Ujarnya menurut. Darrel kembali memakan makanannya.


Sepuluh menit kemudian, makan malam mereka usai. Kini Alula bersama kedua putranya tengah berada di ruang kerja Gara.


"Terima kasih tuan, atas semuanya. Sudah hampir pukul sebelas, kami izin untuk pulang."


"Pulang? Tapi, pekerjaannya belum selesai. Apa kau lupa, setelah presentasi besok, kita ada meeting bersama klien di caffe xx."


Alula terdiam. Bibir bawahnya ia gigit sedikit kuat, merutuki kebodohannya yang tidak memerhatikan jadwal untuk besok.


"Apa kau lupa Alula?"


"Tidak tuan."


Gara beralih menatap Darren dan Darrel. Ia sedikit menyunggingkan senyum.


"Kalian istirahatlah dulu. Paman akan meminta paman Kenan mengatar kalian ke kamar. Setelah selesai, Ibu akan membangunkan kalian. Oke?"


"Baiklah paman."


"Ya."


Darren dan Darrel pergi bersama Kenan ke kamar yang akan mereka tempati. Betapa terpukaunya Darren dan Darrel melihat kamar tersebut. Benar-benar kamar yang sangat mewah.


Berbeda jauh dari rumah kontrakan mereka yang hanya punya tiga kamar, yang bahkan setengah dari kamar di rumah Gara pun tidak.


"Tuan muda berdua silahkan istirahat. Saya akan membangunkan kalian setelah urusan nona dan tuan Gara selesai." Ujar sekretaris Kenan.


"Kalau begitu, saya permisi." Sambungnya, lalu membungkuk pada Darren dan Darrel kemudian keluar dari kamar itu.


"Darrel." panggil Darren setelah sekretaris Kenan keluar.


"Apa kau ingat, kita pernah bertemu paman Gara." Tanya Darren.


"Ya, bukankah paman ganteng yang mengantal kita waktu Ibu yang teljebak dalam lift."


"Bukan itu."


"Telus?"


"Usai lomba melukis." Ujar Darren membuat Darrel mulai berpikir. Mencoba mengingat kembali kejadian setelah lomba.


"Ya. Aku ingat. Dia paman yang ingin kita kejal waktu itu."


"Aku rasa dia ayah kita."


"Aku juga. Tapi Ibu bilang, ayah lagi kelja di tempat jauh. Jika paman ganteng ayah kita, kenapa Ibu tidak membelitahu kita?"


"Kau benar. Kita buktikan sendiri."


"Bagaimana calanya?"


Darren menjentikkan jarinya, menyuruh Darrel mendekat. Lalu ia membisikkan sesuatu pada Darrel. Setelah sepakat, keduanya pun beristirahat.


***


Alula memeriksa kembali dokumen yang akan di bawa saat meeting hari esok. Ternyata, sekretaris Kenan membawa pulang dokumen tersebut ke rumah Gara.

__ADS_1


Sedangkan Gara, ia menandatangi beberapa dokumen yang sengaja ia tinggalkan tadi. Sesekali ia melirik ke arah Alula yang sedang serius.


"Lula." Panggil Gara, memecah kesunyian.


"Ya, tuan."


"Apa kau bisa memijat?"


"Sedikit." Jawab Alula.


Gara bangun menuju sofa, dan langsung membaringkan tubuhnya disana. Namun, hal itu membuat Alula terkejut. Gara menjadikan pahanya sebagai sebagai bantal.


"T-tuan, ap-apa yang kau lakukan?"


"Biarkan seperti ini. Kepala ku sangat sakit. Tolong pijatkan."


Alula bergeming. Dilihatnya kepala Gara. Rambut-rambutnya sedikit berantakkan. Mungkin ia benar-benar kesakitan. Tangannya perlahan terulur memijat kepala Gara.


Suasananya begitu canggung bagi Alula. Berbeda dengan Gara, ia sangat menikmatinya.


Melihat Gara yang memejamkan mata, Alula mencoba menggantikan pahanya dengan bantal sofa.


"Jangan memancing emosi ku Alula." Ujar Gara dingin, menghentikan usaha Alula.


"Maaf tuan."


Ya Tuhan, Alula. Apa kau bodoh? Tuan Gara tidak akan semudah itu tidur di sofa.


Alula kembali memijat kepala Gara. Tapi, tak berapa lama, tangannya di cekal oleh Gara. Lelaki itu menuntun Alula untuk mengusap kepalanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alula mengusap kepala Gara. Rambut-rambut Gara yang berantakkan hampir menutupi jidat, di usapnya ke belakang.


Deg. Alula terdiam sejenak. Dapat ia lihat wajah tampan Gara dalam jarak dekat. Wajah itu terlihat sangat dingin dan kejam. Dan suatu waktu berubah menjadi sangat lembut dan penuh pancaran kasih sayang.


Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan jantung ku?


"Lula."


"Ya, tuan."


"Apa kau tahu, kenapa aku menyuruh mu kemari, dan membolehkan Darren dan Darrel ikut?" Alula menggeleng, seakan Gara sedang memperhatikannya.


"Aku ingin kalian menemani ku disini. Tidak tahu, apa yang aku pikirkan. Yang jelas, aku bahagia melihat kalian disini. Aku merasa nyaman saat kalian bersamaku."


"Entah karena aku terlalu sering tinggal sendiri atau karena hal lain, aku juga tak mengerti."


Alula tertegun mendengar perkataan panjang Gara. Dan apa tadi, dia mengatakan "karena hal lain". Apakah Alula harus mengatakan jika Darren dan Darrel adalah anaknya.


Alula menarik nafas dan menghembuskan pelan. Setetes air mata melesat begitu saja dari matanya. Ia merasa bersalah. Ia merasa dia lah pemeran antagonis dalam ceritanya sendiri.


Menyembunyikan identitas Gara sebagai Ayah kandung kedua putranya. Dan membuat Gara menderita dengan perasaanya sendiri, karena tak mengingat kenyataan yang sebenarnya.


Disini dia menganggap dirinya salah. Tidak mau jujur pada mereka. Membuat mereka saling menerka perasaan dan ikatan batin yang mereka rasakan.


Maafkan aku. Batin Alula.


Gara yang merasa tidak ada pergerakan dari tangan Alula yang mengusap kepala-nya pun, bangun dan duduk.


"Pergilah tidur. Kepala ku sudah mendingan. Aku akan menyuruh Kenan menunjukkan kamar untuk mu." Ujar Gara, lalu keluar dari ruang kerjanya tanpa memperdulikan Alula.

__ADS_1


Maafkan aku. Aku tidak bisa memberitahu mu. Biarkan takdir yang akan menunjukkannya. Aku yakin, cepat atau lambat kamu pasti mengetahuinya. Dan semoga saat itu terjadi, kau bisa menerimanya. Batin Alula.


__ADS_2