
Setelah beberapa menit Gara keluar dari kamarnya, Viko juga ikut keluar. Ia melangkah menuju kamar Ayahnya.
Seulas senyum muncul di bibir Viko saat melihat Ayahnya tertidur lelap. "Cepat sembuh, Ayah." Ujarnya lalu membenarkan selimut yang sedikit berantakan.
Lelaki itu berjalan menuju sofa yang tersedia di kamar Ginanjar. Ia merebahkan tubuhnya disana sambil terus menatap ke arah ranjang Ginanjar.
Beberapa menit kemudian, ia kembali terbangun dan mendekati ranjang. Ia meraih botol minum di atas nakas yang tersisa setengah. Tanpa banyak bicara, ia berjalan keluar menuju dapur dan mengisi penuh botol tersebut.
"Selamat tidur, Ayah." Ujarnya setelah meletakkan kembali botol tersebut.
Viko kembali berbaring. Namun, matanya tidak bisa terpejam. Ia terus memperhatikan Ayahnya yang begitu nyeyak tertidur.
Setelah hampir tiga jam lebih ia terjaga, kantuk menyerangnya. Viko perlahan memejamkan matanya dan tertidur.
Untuk sejam lebih, suasana kamar itu begitu hening. Tak lama, terdengar seseorang terbatuk. "Uhuk... uhuk..." Suara batuk yang cukup nyaring membuat Viko terbangun.
"Ayah," Ujarnya, segera mendekat dan menuangkan air, lalu membiarkan Ginanjar meminumnya.
Ginanjar mengembalikan gelas pada Viko. "Sejak kapan kamu disini?"
"Beberapa jam yang lalu." Ginanjar hanya mengangguk, kemudian berbaring kembali.
"Apa Ayah marah aku disini?" Viko memberanikan dirinya untuk bicara. Kalaupun Ayahnya bersikap dingin padanya, ia tidak masalah.
"Tidak."
"Ayah keberatan?"
"Aku tidak memikulmu disini, bagaimana aku merasa keberatan?" Jawabnya membuat Viko tersenyum.
"Apa Ayah ingin sesuatu? Aku akan ambilkan."
"Aku tidak terbiasa makan tengah malam."
"Baiklah."
Suasana kembali hening. Ginanjar melirik Viko yang terus berdiri. "Apa kau tidak lelah berdiri?"
"Hah? Aku akan kembali ke sofa."
"Duduk disini." Ginanjar menepuk sisi ranjangnya yang kosong. Tanpa banyak bicara, Viko menurut dan duduk di sisinya.
"Ayah tahu," Hati Viko menghangat mendengar Ginanjar menyebut dirinya Ayah saat berbicara padanya. Sesuatu yang sangat ingin ia dengar selama ini.
"Kamu yang merawat Ayah kemarin. Ayah juga tahu, kamu selama ini diam-diam merawat Ayah setiap kali Ayah sakit. Tapi, Ayah selalu tidak yakin jika kamu melakukannya dengan tulus. Pikiran Ayah sudah teracuni oleh sikap Ibumu. Maaf."
"Aku paham Ayah berpikir seperti itu. Aku juga tidak marah, karena semua juga bukan salah Ayah. Yang terpenting Ayah tahu, aku melakukan semua ini karena aku benar-benar menyayangi Ayah." Ungkap Viko.
"Terima kasih, nak."
"Terima kasih kembali, Yah. Tidurlah kembali. Masih beberapa jam lagi untuk bertemu pagi."
Viko bergegas kembali ke sofa. Namun Ginanjar yang belum memejamkan mata menahannya.
"Kamu akan tidur di sofa?"
"Ya."
"Tidurlah disini." Ginanjar menepuk sebelahnya yang masih tersisa luas.
Viko tersenyum padanya. "Terima kasih, Yah." Balasnya bergegas ke sisi ranjang yang di tunjuk Ginanjar. Keduanya pun tertidur di ranjang yang sama.
Hati Viko begitu lega. Ternyata pikirannya tetang reaksi Ayahnya, tidak benar. Ia begitu bahagia Ayahnya tidak membencinya.
***
Gara, Alula, Gio dan juga si kembar bersamaan menuju kamar Ginanjar. Mereka berencana menemani Ginanjar sarapan, sebelum mereka juga sarapan.
"Hahaha..."
Terdengar suara tawa Ginanjar dari dalam kamar. Kelima orang itu menghentikan langkah mereka dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
"Ayah, kenapa kakek teltawa? Bukankah kakek sendili di kamal?" Darrel memegang erat ujung baju Gara. Wajahnya terlihat ketakutan.
"Tenanglah. Tidak ada apa-apa. Ayo kita lihat." Jawabnya lalu membawa Darrel ke gendongannya. Mereka pun sama-sama mendekati pintu kamar.
"Ayah, apa kami boleh masuk?" Ucap Gara.
"Masuk saja." Jawab lelaki itu dari dalam.
Setelah pintu terbuka, segaris senyum muncul di wajah Gara, begitupun Alula. Semetara Gio dan Darrel, mereka terlihat heran melihat Viko berada di kamar itu. Dan Darren, ia menunjukkan wajah dinginnya, dengan mata yang menatap Viko.
"Kak," Panggil Viko.
Alula menatap Gara. Kali pertama ia mendengar Viko memanggil Gara dengan panggilan Kakak.
Sementra Gio, ia malah mendekati Viko dan menyentuh keningnya. "Kau demam?" Tanyanya. "Aku rasa, tidak." Lanjutnya setelah menyentuh kening Viko.
"Apa-apaan kau ini?" Viko menepis tangan Gio. "Apa salah aku memanggil Gara dengan sebutan kakak? Aku ini adiknya."
"Adik tiri."
"Iya, adik tiri. Terus apa hubungannya denganmu?" Gio terdiam. Hanya ekspresi tak sukanya yang ia tunjukkan.
Jika aku dibolehkan berkata jujur padamu, aku akan berteriak di telingamu 'AKU INI ADIK KANDUNGNYA GARA.' Aku memiliki hak lebih pada Gara dibandingkan dirimu. Batin Gio, kesal.
"Kenapa diam? Tak bisa menjawab?"
"Aku malas berbicara dengan orang tak waras sepertimu."
"Kau..."
"Sudahlah. Apa kalian ingin ku hukum?" Lerai Gara dengan ekspresi dingin yang menakutkan. Gio dan Viko langsung terdiam tanpa sepatah kata pun.
"Bagaimana keadaan Ayah?" Alula bertanya. Darren dan Darrel sudah duduk manis di sisi kiri kanan Ginanjar.
"Ayah sudah sehat. Lihatlah, Ayah sudah menghirup udara dengan normal lagi."
"Syukurlah. Gara sudah meminta pelayan membawakan sarapan untuk Ayah."
"Ayah benar-benar sudah sehat?" Gara masih terlihat khawatir pada Ayahnya.
"Kamu meragukan Ayah?"
"Tidak."
"Kalau begitu, apa kakek bisa menggendongku?" Tanya Darrel menatap sang kakek. Namun, Darren dengan cepat menegurnya. "Darrel." Tegur anak itu.
"Hahaha... Aku hanya belcanda." Jawabnya sambil tertawa, menunjukkan susunan giginya yang rapih.
***
Viko menatap satu persatu wajah orang-orang yang berada di ruang keluarga. Setelah sarapan dan mengantar kembali Ginanjar ke kamarnya, Viko meminta mereka untuk berkumpul di ruang keluarga.
"Emm... Aku meminta kalian berkumpul disini karena ingin mengatakan sesuatu."
"Aku ingin meminta maaf pada kalian atas kelakuanku selama ini." Ujarnya, menundukkan kepalanya.
"Terutama kamu, kak Gara. Aku sudah banyak membuatmu kesal dan marah. Membuatmu malu dan merepotkanmu. Bahkan aku sendiri yang membuatmu membenciku. Aku minta maaf padamu."
"Tidak masalah. Aku sudah memaafkan mu. Lupakan saja yang lalu. Yang harus kau pikirkan adalah hari ini dan hari-hari esok. Lakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Jangan mengulangi hal yang sama."
"Terima kasih, kak. Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya."
Mata Viko beralih menatap Gio yang duduk tak jauh dari Gara. "Meski tidak punya salah padamu, aku akan tetap meminta maaf padamu."
"Siapa bilang kau tak punya salah padaku? Tadi pagi itu apa?"
"Apanya? Bukankah itu kau yang mulai?"
"Iya aku yang mulai. Tapi kau menepis tanganku sedikit kasar. Itu perbuatan tidak sopan. Sudah seharusnya kau minta maaf."
"Kau ini, sangat menginginkan permintaan maafku. Baiklah, aku minta maaf padamu atas kesalahanku pagi tadi."
__ADS_1
"Aku tidak mau memaafkanmu."
"Ya sudah. Aku tidak peduli. Itu urusanmu, yang penting aku sudah minta maaf."
"Ya-ya. Aku memaafkanmu." Viko mengulum senyum. Ternyata dia dan Gio memiliki sikap yang sedikit mirip.
Lelaki itu beralih menatap Darren dan Darrel yang berada di samping Alula. Ia menunjukkan senyumnya yang langsung dibalas Darrel dengan senyuman juga. Namun tidak dengan Darren. Dia hanya menatap tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Ia terlihat begitu tenang.
"Entah mana Darren atau Darrel, aku juga tidak bisa membedakan. Tapi yang jelas, aku ingin minta maaf pada kalian."
"Aku Dallel. Aku sudah memaafkan paman. Tapi, paman halus janji, tidak boleh ngulangi kesalahan yang kemalin-kemalin." Viko mengangguk sembari tersenyum padanya.
Viko melihat ke arah Darren. Tidak ada reaksi apa-apa yang ditunjukkan anak itu.
"Aku belum memaafkan paman sebelum paman meminta maaf pada Ibuku." Ucap Darren, membuat Viko menarik nafas dan langsung menatap Alula.
"Darren, jangan begitu sayang." Bisik Alula lembut, yang hanya dibalas diam oleh Darren.
"Emm... Kakak ipar, aku... minta maaf padamu. Aku sudah berkata kasar padamu di setiap pertemuan kita. Mohon maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Setiap orang memiliki kesan berbeda di awal bertemu. Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf jika ada kata-kata ku yang menyakitimu."
"Terima kasih, kakak ipar."
Setelah mendapatkan maaf dari Alula, Viko kembali melihat Darren. Dan kebetulan, anak itu juga sedang menatapnya.
"Bagaimana? Apa kau juga memaafkanku?"
"Ya. Maaf kalau aku membuat paman kesulitan." Balas Darren.
Viko tersenyum lega. Bebannya seakan hilang setelah mendapatkan maaf dari mereka. Ia berjanji pada dirinya untuk menjadi lebih baik. Memperbaiki hubungannya dengan keluarganya yang renggang oleh ulahnya sendiri.
Tak lama, sekeretaris Kenan datang membicarakan urusan kantor bersama Gara di ruang kerja Ginanjar. Gio, Darren dan Darrel mengelilingi rumah dan berakhir bermain di halaman belakang. Alula menuju dapur, membantu beberapa pelayan disana. Dan Viko, ia kembali menemui Ayahnya di kamar.
"Nona, biar saya saja yang memotong wortel nya." Ucap seorang pelayan dengan nada khawatir. Ia takut jika Gara akan memarahinya.
"Tidak apa-apa. Aku ingin membantu kalian."
"Nona..."
"Kakak ipar." Panggilan itu membuat Alula menghentikan gerak tangannya.
"Viko, ada apa?"
"Aku ingin berbicara sesuatu dengan kakak ipar."
"Aku?" Viko mengangguk. "Baiklah. Ayo!"
Keduanya kembali ke ruang keluarga. Viko duduk di sofa yang cukup jauh dari Alula.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi sekali lagi, aku meminta maaf padamu."
"Sudahlah Viko, aku sudah memaafkan mu. Tidak perlu meminta maaf lagi."
"Huufth... Kau benar, kak. Aku juga ingin berterima kasih padamu. Kau membuatku sadar dan berani berbicara pada Ayah. Kau juga meminta kak Gara menyadarkanku. Kak Gara tidak pernah berbicara secara baik-baik padaku dulu. Tapi kau membuatnya bersikap layaknya seorang kakak padaku. Terima kasih, kakak ipar."
Alula tersenyum kecil pada Viko. Lelaki yang pernah menatapnya sinis itu, ternyata memiliki sisi lain yang tak pernah ia tunjukkan.
"Aku bisa mengerti perasaanmu. Diabaikan orang yang kita sayangi memang tidak menyenangkan." Ujar Alula. "Aku harap hubungan ini menjadi lebih baik dan akan terus berlanjut hingga nanti."
"Aku juga berharap seperti itu."
"Ya sudah, aku akan kembali ke dapur."
"Baik, kak."
Alula segera kembali ke dapur. Sementara Viko, ia mesih berdiam diri di ruang keluarga sambil terus memperhatikan Alula yang mulai menjauh.
"Terima kasih, kakak ipar." Gumamnya pelan.
__ADS_1