
Tiga hari berlalu. Tak terasa, liburan mereka sudah usai. Gara bersama Alula dan kedua putranya sudah bersiap untuk kembali. Saat hendak masuk mobil, hp Gara berbunyi.
"Hallo, tuan." Suara dari seberang sana kembali terdengar. Alula mengenalinya. Dia sekretaris Kenan. Semenjak mereka liburan, sekretaris Kenan cukup sering menelpon Gara.
"Hallo," Gara kembali menutup pintu mobil dan berjalan menjauh.
Alula terus saja memperhatikan suaminya. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gara.
"Siapa yang menelpon?" Tanyanya saat Gara sudah berada di mobil.
"Kenan." Jawabnya. "Jalan pak!" Gara menginstruksikan pada supirnya.
"Apa ada masalah di kantor?" Alula betanya dengan hati-hati. Takut akan membuat Gara tak nyaman.
"Hanya masalah kecil. Kenan sudah menyelesaikannya." Tidak ada lagi pertanyaan yang Alula lontarkan. Semuanya tenang hingga mereka tiba di bandara.
"Ayo!" Gara membukakan pintu untuk sang istri dan anak, lalu menggandeng mereka menuju jet pribadinya yang sudah siap dijalankan.
***
Senyum lebar terpancar dari wajah Ginanjar saat seorang cucunya berlari ke arahnya. Darrel langsung melompat ke gendongan Ginanjar saat tiba di rumah.
"Ayah," Alula meraih tangan lelaki itu dan menciumnya.
"Ayah senang kalian sudah kembali. Ayah begitu merindukan kedua cucu Ayah yang tampan ini." Ginanjar mengambil tempat di tengah-tengah antara Darren dan Darrel.
"Dimana Gio, Ayah?" Gara menolehkan kepalanya, mencari keberadaan Gio.
"Aku disini." Yang dicari menyahut sambil berjalan ke arah mereka. Disisinya ada Viko. Lelaki itu sejak dua hari lalu sudah berada di rumah itu. Dia memutuskan untuk menemani Gio yang mengalami patah tulang ringan di bagian kakinya. Meskipun ia tahu, di rumah Gara tidak kekurangan pelayan yang akan membantu Gio. Ditambah, ada Ana yang terus merawatnya dengan baik.
Benar yang Kenan katakan. Batin Gara.
"Kau kemari, Viko?"
"Ya. Aku memutuskan menjaga Gio." Ujarnya, ikut duduk. "Hai kakak ipar. Hallo, ponakan paman." Sapa Viko.
"Hai Viko."
"Hallo, paman." Balas Darren Darrel bersamaan.
"Kenapa dengan kakimu, Gio?" Alula menatap kaki sahabatnya yang merangkap menjadi adik iparnya.
"Aku tak sengaja ditabrak orang. Sore hari di hari keberangkatan kalian."
__ADS_1
"Kau mengenal orangnya?" Wajah Gara berubah serius.
"Orang yang menabraknya kabur begitu saja. Ayah sudah akan meminta orang-orang Ayah untuk mencarinya. Tapi, dia melarang Ayah. Katanya biarkan saja orang itu. Mungkin dia dalam keadaan mendesak." Jelas Ginanjar, sambil mengulang kembali perkataan Gio waktu itu.
Gio hanya terkekeh pelan. Ia merasa sangat lucu melihat Ayah. Ayahnya seperti seorang anak yang mengadu pada orang tuanya. Dan orang tuanya adalah Gara.
Matanya kembali tertuju pada Gara. Kekehannya seketika terhenti melihat wajah serius nan dingin yang Gara tunjukkan.
"Ada apa denganmu? Jangan khawatir! Kakiku hanya mengalami patah tulang ringan. Istirahat yang cukup akan bisa memulihkannya kembali." Ujarnya.
"Patah tulang tetap patah tulang Paman! Tidak peduli ringan ataukah parah. Orang itu harus bertanggung jawab!" Darren ikut berbicara.
"Darren, orang itu tidak sengaja." Balas Gio.
"Sengaja atau tidak, tetap saja harus tanggung jawab."
"Benal apa kata Dallen, paman. Aah, aku pikil akan belmain sepuasnya sama paman setelah pulang libulan. Telnyata, paman malah sepelti ini." Desah anak itu, kecewa.
"Tenanglah! Kamu masih bisa bermain bersama paman. Paman duduk di kursi roda dan kamu yang mendorongnya. Kita hancurkan saja isi rumah Ayahmu." Ujar Gio yang mendapat anggukkan polos Darrel. Membuat semuanya mengulas senyum melihat tingkah menggemaskan anak itu. Bahkan, Darren yang selalu berwajah datar ikut mengulas senyum tipis. Saking tipisnya, tidak ada yang menyadari jika dirinya sedang tersenyum.
"Viko, apa kau bisa membantuku?" Suara Gara menarik semua yang ada di ruangan itu menatapnya.
"Jika aku bisa, aku akan melakukannya, kak."
"Sebarkan undangan ke seluruh anggota keluarga. Tulis saja undangan pengenalan anggota keluarga baru."
"Ya."
"Kak..."
"Ikutlah denganku ke ruang kerja!" Gara langsung bangkit dari sana dan menuju ruangan kerjanya. Viko hanya menurut dan membuntuti Gara ke ruang kerja.
Ayah serahkan semuanya padamu. Batin Ginanjar.
Viko masuk dan segera mendekati Gara. Namun, langkahnya terhenti saat Gara menyuruhnya mengunci pintu. Lelaki itu berbalik dan mengunci pintu. Kemudian ia mendekat ke arah Gara.
"Kak, bukannya aku tidak suka identitas Gio diumumkan dan di akui sebagai anggota keluarga Grisam. Tapi aku hanya khawatir dengan keselamatan Gio. Kecelakaan yang menimpanya tidak sesederhana yang dilihat. Aku merasa ada yang merencanakan semua ini."
"Karena itu, kita harus memancing mereka keluar." Ujar Gara. "Apa yang kau ketahui tentang orang-orang bertopeng di kelurga kita?" Lanjutnya.
"Cukup banyak rahasia yang ku ketahui tentang mereka. Tapi, rahasia mengenai Gio, tidak sedikitpun aku dapatkan."
"Sebutkan, siapa mereka?"
__ADS_1
"Adik tiri Ayah, Paman Frans. Adik angkat mendiang Ibu kakak, Paman Roy. Bibi May, tante Sonia..." Viko terus menyebutkan satu persatu nama orang-orang bertopeng di keluarga mereka. "Dan terakhir, Ibu Laura." Suaranya terdengar sedikit memelan saat menyebut nama Ibunya sendiri. Viko merasa sangat bersalah terhadap Gara.
"Angkat wajahmu! Jangan merasa bersalah atas hal yang tidak kau perbuat." Ujar Gara. "Aku memintamu yang menyebarkan undangan karena aku tahu, mereka mempercayaimu. Aku yakin, mereka belum mengetahui jika aku maupun Ayah sudah mengetahui jika Gio adalah Alex. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk kembali melenyapkan Gio."
"Dengar! Yakinkan mereka untuk datang. Katakan saja pada mereka jika ini bukan tentang istri dan anakku. Tapi ini tentang Alex yang sudah ditemukan. Biarkan mereka tahu sedikit mengenai ciri-cirinya. Tapi sebutkan ciri orang lain, jangan Gio. Jika mereka mengetahui ciri-cirinya, pasti mereka akan menertawakanku dan penasaran dengan sosok yang akan aku kenalkan. Hal itu yang menarik mereka datang."
Disaat itulah, aku akan melihat bagaimana orang-orang yang telah memisahkan Alex dengan kelurganya akan menunjukkan diri mereka. Batin Gara.
"Aku akan melakukannya dengan baik, kak."
"Aku percaya padamu!"
Viko segera berpamit keluar setelah mendengar arahan Gara. Lima menit sepeninggal Viko, satu notifikasi masuk di hp Gara. Lelaki tersebut segera membaca pesan yang dikirimkan sekretaris Kenan.
Senyum iblis tercetak di wajahnya saat membaca pesan dan melihat foto yang dikirim kan sekretaris Kenan. Foto ketiga pelaku penculikan Alex.
Ku biarkan kalian bebas untuk beberapa hari. Tunggulah saat acara penyambutan nanti. Saat waktunya tiba, akan ku gantikan senyum kalian dengan air mata. Gumam Gara.
Sekretaris Kenan
Bagaimana tuan? Lakukan sekarang?
^^^Gara^^^
^^^Tidak perlu. Kita jalankan sesuai rencana.^^^
Setelah mengakhiri obrolan lewat pesannya bersama sekretaris Kenan, Gara keluar dari ruang kerjanya dan kembali ke ruang keluarga. Matanya menyipit saat tak mendapati Gio di ruangan itu.
"Dimana Gio?"
"Dia kembali ke kamarnya." Gara langsung melenggang menuju kamar Gio setelah mendapat jawaban dari sang istri. Perlahan, dia mendorong pintu kamar tersebut. Diatas ranjangnya, Gio sedang duduk selonjoran dengan punggung yang bersandar di sandaran ranjang.
"Kapan kau akan ke dokter lagi?" Gara duduk di tepi ranjang, tak jauh dari Gio.
"Empat hari lagi."
"Biarkan dokter yang kemari."
"Kak! Ayolah! Jangan berlebihan seperti ini."
"Ini tidak berlebihan. Kau tidak tahu apa yang menantimu di luar sana."
"Aku tahu! Aku tahu, mereka sudah mencurigaiku dan berusaha mencelakaiku lagi. Karena itulah aku meminta Ayah untuk melepaskan orang yang menabrakku. Jika orang-orang Ayah mengejar penabrak itu, maka mereka akan curiga jika Ayah sudah mengetahuinya. Biarkan orang yang menabrak itu menikmati hidupnya. Dialah yang akan menarik mereka satu persatu nanti." Ujar Gio.
__ADS_1
"Kakak tenang saja! Aku sudah meminta salah satu pengawal mengawasi penabrak itu." Lanjutnya sambil menepuk pelan bahu Gara.
"Ya sudah, kau istirahatlah. Aku akan keluar." Ujar Gara, segera berlalu dari kamar Gio.