
Irene, Alula, Ana dan Tari memasuki tempat itu. Keempat wanita tersebut mengganti pakaian mereka dengan stelan yang sudah di sediakan di tempat tersebut.
"Alula, simpan dulu cincinmu." Ucap Irene.
"Oh, ya." Alula segera melepaskan cincinnya dan menyimpannya. Kemudian mereka beriringan menuju ruangan khusus untuk melakukan perawatan.
"Kalian duluan saja, aku ingin ke toilet sebentar." Tari segera meninggalkan mereka menuju toilet.
"Silahkan nona." Ucap seorang karyawan di tempat tersebut.
Ketiga wanita itu mengambil tempat masing-masing. Tak lama, Tari kembali dan mengembil tempat tak jauh dari Ana.
"Bagaimana?" Bisik Ana padanya.
"Sudah beres." Balasnya juga berbisik.
Beberapa perawat kecantikan menghampiri mereka dan memulai pekerjaan mereka. Ketiga wanita itu begitu menikmatinya.
Beberepa jam mereka habiskan untuk melakukan perawatan. Hingga tak terasa waktunya makan siang. Mereka segera menuju restoran yang tak jauh dari tempat itu.
"Makanan disini sangat enak. Aku sekali diajak Edo langsung ketagihan."
"Emang benar ya, Bu?" Tanya Tari masih tak percaya.
"Jangan panggil Ibu dong. Kesannya tua banget aku."
"Kan Pak Edo juga bos saya, Bu."
"Itu urusan kamu sama Edo, bukan saya. Panggil nama saja."
"Baiklah."
Keempatnya langsung masuk restoran tersebut. Mereka mencari tempat yang nyaman, lalu membaca daftar menu yang tersedia setelah mendapatkan tempatnya.
"Alula, kau mau yang mana?" Ana mengalihkan pandangannya menatap Alula.
"Aku samaan denganmu saja."
"Oke."
Irene melambaikan tangannya ke arah pelayan, kemudian memesan makanan yang mereka inginkan. Tak lama kemudian, makanan pun dihidangkan.
"Emm, benar katamu, Irene. Makanan ini memang sangat enak." Celetuk Ana.
"Setelah ini kita kemana?" Tanya Alula, masih belum begitu paham dengan gaya hidup wanita-wanita itu.
"Kau ikut saja. Hari ini, kita nikmati saja. Tuan Gara yang membiayai semuanya." Balas Ana, yang hanya dibalas anggukkan Alula.
Setelah menghabiskan makan siang mereka dan beristirahat sejenak, mereka kembali ke tempat sebelumnya.
"Ayo, kita cari baju dulu. Setelah itu baru di make up."
Ketiga wanita itu segera menarik Alula untuk memilih baju untuknya. Irene membisikkan sesuatu pada karyawan butik itu. Tak lama karyawan yang masih terlihat muda itu menghampiri mereka.
"Ini nona, produk terbaru kami. Satu-satunya yang ada."
"Maksudnya?" Tari terlihat bingung dengan penjelasan karyawan itu.
"Ini dress yang didesain khusus untuk orang yang memesannya. Tapi, mereka membatalkannya."
Irene meraihnya dan menempelkannya pada Alula. Ia tersenyum lebar menatap Alula kemudian Ana dan Tari.
"Dress ini cocok untukmu." Ucap Irene.
"Ya, ini sangat pas denganmu." Timpal Ana.
"Seakan ini di buat khusus untukmu." Sambung Tari.
"Aku... Baju ini terlalu bagus untukku. Untukmu saja, Irene."
"Tidak. Kau yang seharusnya memakainya. Aku sudah punyaku sendiri. Apa kau tidak lihat aku berbisik pada dia tadi?" Balas Irene sambil menunjuk karyawan yang tadi di bisiknya.
"Sudahlah Alula, ambil saja. Malam ini kau yang seharusnya terlihat bersinar, bukan kami. Lagi pula, ukurannya pas dengan tubuhmu. Pasti sedikit sesak jika antara aku atau Tari yang mengenakannya." Ucap Ana. Badan Alula sedikit lebih kecil dari keduanya. Meskipun tinggi mereka hampir sama, tetap saja tidak pas untuk mereka. Dress itu benar-benar menyatuh dengan Alula.
"Benar nona, anda sangat cantik dengan dress ini. Kami masih ada produk lain yang tidak kalah bagusnya. Saya rasa ada yang cocok untuk kedua nona ini."
"Nah, lihatkan? Masih banyak yang cocok untuk kami. Kami akan mencobanya. Kau cobalah yang itu." Ucap Tari. Kedua wanita itu segera mengikuti karyawan tersebut dan meninggalkan Alula bersama Irene.
***
Keempat wanita itu saling menatap kagum satu sama lain. Baju pilihan mereka sudah melekat di tubuh masing-masing, sangat cocok. Ditambah tatanan rambut yang indah dan sedikit riasan di wajah mereka, membuat mereka terlihat begitu sempurna.
__ADS_1
"Kalian sangat cantik." Puji Alula pada ketiga sahabatnya.
"Lihatlah dirimu, kau juga sangat cantik. Jika aku seorang lelaki, aku pasti akan memintamu menjadi pasanganku." Gurau Irene.
"Kau bisa memilikinya setelah berhasil mengalahkan tuan Gara." Sambung Ana.
"Jika aku, aku akan menyerah terlebih dulu. Tuan Gara sangat menakutkan jika menyakut Alula." Ujar Tari sambil bergidik.
"Sudah-sudah, ayo kembali. Aku tidak berpikir kita akan melakukan semua ini seharian. Ini sudah mulai gelap. Aku rasa kita harus pulang. Pasti banyak yang harus di urus di rumah." Sela Alula.
"Pasti kita akan pulang. Tapi, saat tiba nanti kau harus berdiam di kamar. Jangan menunjukkan wajahmu sebelum acara dimulai."
"Kenapa?"
"Entah. Edo yang mengirimkan pesan padaku. Ini perintah tuan Gara. Kau tahu, dia sangat posesif padamu. Mungkin dia tidak ingin orang-orang memperhatikanmu dalam waktu yang lama."
"Huuh, baiklah. Ayo!"
Mereka segera menaiki mobil Irene, melaju membelah jalan menuju rumah Gara. Suasana jalanan yang cukup lenggang, meminimal waktu untuk tiba di rumah Gara.
Irene menghentikan mobilnya di tempat yang ditunjuk security rumah Gara. Tangannya menggapai sebelah tangan Alula yang hendak turun.
"Kita masuk lewat pintu belakang. Banyak orang di ruang depan."
Alula tak membantah. Dia mengikuti apa yang Irene katakan. Keempatnya sama-sama masuk lewat pintu belakang.
"Kami akan ke ruang depan, kau tetaplah di kamarmu."
"Tapi Ana," Irene dan Tari yang hendak keluar dari kamar Alula pun berhenti dan berbalik saat Alula menghentikan Ana.
"Aku sepertinya kehilangan sesuatu." Ujarnya sambil berpikir.
Ana, Irene dan Tari juga ikut berpikir. Tak lama Alula mengingatnya dan merogoh tas miliknya.
"Cincinku. Aku tidak mengenakannya. Aku menyimpannya dalam tas. Tapi sekarang tidak ada."
"Maksudmu, cincin dari tuan Gara?" Ucap Tari.
"Ya," mata Alula mulai berkaca-kaca. Cincin itu adalah cicin yang Gara berikan saat melamarnya.
"Coba kau periksa lagi tasmu."
Alula menurut. Dia kembali membuka tasnya. Bahkan ia menumpahkan semua isinya di ranjang.
"Tenanglah. Aku akan menelpon orang disana untuk mencarinya. Untuk sementara, jika tuan Gara bertanya, katakan saja jika kau menyimpannya." Usul Irene.
"Tapi..."
"Sudahlah. Jangan menangis, riasanmu akan hilang nanti. Mereka pasti menemukannya." Ujar Ana.
"Ya, kau tenanglah." Ucap Tari.
***
Di kediaman Zarfan, Elisa terlihat sangat kesal melihat kedua orang tuanya yang begitu sibuk bersiap-siap.
"Elisa, cepat bersiap-siap. Ayah dan Ibu akan segera berangkat." Ujar Zarfan.
"Ayah sama Ibu pergi saja. Aku tidak mau bertemu Alula."
"Ayolah nak, adikmu sudah mengundang kita. Ini adalah acaranya. Kau juga sudah lama tak bertemu dengannya."
"Aku tak memiliki adik. Jika Ayah dan Ibu ingin pergi, pergi saja. Tidak perlu mengajakku." Setelah mengucapkannya, Elisa segera ke kamarnya. Tidak peduli dengan kedua orang tuanya.
"Sampai kapan Elisa seperti ini?"
"Sudahlah, Yah. Ibu yakin, Elisa akan berubah suatu hari nanti."
"Ya, semoga Elisa cepat menyadarinya."
Zarfan dan istrinya segera menuju mobil dan menaikinya. Zarfan sendiri yang akan mengendarainya. Dia sudah tahu alamat tempat tinggal Alula saat ini.
Perjalanan memakan waktu 30 menit. Mobil yang Zarfan kendarai pun masuk area rumah Gara. "Apakah benar ini tempat tinggal Alula?" Tanya Bu Disa. Matanya terpancar ke kaguman saat memasuki halaman rumah Gara yang luas.
"Ya, di undangannya tertulis seperti itu. Ayo turun!" Pak Zarfan segera turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Keduanya bersamaan masuk ke rumah Gara.
Mata Bu Disa semakin terbelalak saat sampai didalam. Bukan karena rumahnya yang mewah, atau melihat Gara. Melainkan ia bertemu dengan Ginanjar, seorang pengusaha terkenal yang begitu populer di berbagai kalangan. Dia tidak pernah menyangka jika putrinya bisa mengundang orang seperti Ginanjar.
"Selamat malam tuan," Ujar Zarfan dan Disa bersamaan membungkuk ke arah Ginanjar.
"Selamat malam." Balas Ginanjar juga ikut membungkuk.
__ADS_1
"Anda, orang tuanya Alula?"
"Ya tuan."
Ginanjar tersenyum. Matanya mulai mengedar dan berhenti tepat pada Gara yang berdiri cukup jauh darinya.
"Kau, kemari!" Panggilnya pada seorang pelayan. Dia lalu membisikkan sesuatu pada pelayan itu.
Setelah kepergian pelayan itu, tak lama Gara tiba di sampingnya.
"Ayah memanggilku?" Tanya Gara.
"Sapalah calon mertuamu."
Mata Gara langsung menatap dua orang yang berdiri di depannya. Dengan wajah datarnya, ia mendekati Zarfan. Tangannya terulur menggapai tangan Zarfan.
"Ayah," Ujarnya lalu memeluk orang tua itu, dan langsung mendapatkan pelukan balik.
Setelah terlepas, matanya langsung menatap Bu Disa. Aura tak bersahabat terpancar di matanya. Bu Disa pun tersenyum canggung ke arahnya.
"Sa-saya... Ibunya Alula."
"Saya tahu." Balasnya, dingin.
Suasana sedikit tak baik, sampai tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang semakin memperburuk mood Gara.
"Hai, sayang. Aku sudah mencarimu sejak tadi. Ternyata kau disini." Ujar Laura sambil bergelayut di lengan Ginanjar.
Gara menggertakan giginya. Tangannya terkepal saat mendengar suara sapaan dari arah yang sama dengan Laura.
"Hai, Kak. Lama tak bertemu." Sapa Viko, namun diabaikan begitu saja oleh Gara.
"Aku mau menemui Alula." Ujarnya dan berlalu dari tempat itu.
Mata Laura menatap dua orang di depannya. Tatapannya begitu sinis dan merendahkan.
"Apa kalian orang tua wanita itu?"
"Huh, benar-benar sangat mirip. Sama-sama jelek dan kampungan."
"Laura!" Geram Ginanjar.
"Sayang, aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kau marah?"
"Ibuku tidak jelek. Nenek yang jelek." Ujar Darrel yang datang bersama Darren.
"Heh anak kecil, apa yang kau katakan?"
"Darrel mengatakan yang sebenarnya. Nenek Laura memang jelek. Lihat saja, wajahnya sudah keriput."
"Kalian!" Geram Viko dan Laura bersamaan.
"Laura! Viko! Jangan buat keributan disini! Ayo!" Ginanjar menarik tangan Laura. "Saya permisi dulu. Kalian silahkan menikmati acara ini." Lanjutnya, menyeret Laura dan Viko bersamanya.
"Kakek," Darrel langsung memeluk Zarfan. Dan Darren, anak itu menggenggam tangan Zarfan.
"Siapa mereka?" Bisik Bu Disa.
"Putra Alula." Jawab Zarfan. Bu Disa terdiam. Tubuhnya terpaku menatap dua anak kecil itu. Bayang-bayang saat ia mengetahui Alula mengandung mulai terlintas kembali di pikirannya. Bagaimana ia memperlakukan Alula, membiarkan Alula pergi dari rumah. Memikirkan nasib Alula selama ini. Semua perjuangan Alula melewati semua ini.
Tanpa ia sadari, air matanya menetes. Tangannya terulur memegang puncak kepala Darren Darrel.
"S-siapa nama kalian?" Tanyanya terbata.
"Aku Dallel dan ini Dallen."
"Maksudnya Darren dan Darrel"
"Aku Bu Disa." Balasnya. Dia merasa tidak pantas memperkenalkan dirinya sebagai nenek mereka. Panggilan nenek tidak cocok untuknya yang selalu berbuat tak adil pada Ibu kedua anak itu.
"Nenek Disa." Timpal Darren.
"Aku tidak pantas di panggil seperti itu."
"Pantas atau tidaknya, nenek tetap nenek kami."
"Ya, Dallen benal. Nenek adalah nenek kami, apapun yang terjadi."
"Tapi, aku sudah menyakiti Ibu kalian."
"Tidak masalah. Itu masa lalu. Kakek sudah mencelitakan semuanya pada kami."
__ADS_1
"Siapa bilang tidak masalah? Itu adalah masalah besar. Aku sudah memaafkan nenek. Tapi, jika terjadi hal yang serupa lagi, tidak ada kesempatan untuk memaafkan nenek." Ujar Darren.
"Terima kasih sudah memaafkan nenek. Nenek janji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Balasnya sambil mensejajarkan tingginya dengan si kembar.