Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Bertemu Ibu


__ADS_3

Sejak pulang kantor hingga malam, Alula mendiamkan Gara begitu saja. Meskipun Gara sudah mengajaknya bicara, tetap saja ia tidak mau berbicara.


Gara menuruni tangga dengan wajah kusutnya yang tetap terlihat tampan. Langkahnya terhenti di depan kamar Alula.


"Alula, apakah aku boleh masuk?" Suaranya terdengar hingga telinga Alula. Namun wanita itu tetap tak mau menjawab.


"Diam berarti iya." Gara mendorong pintu dan masuk menghampiri Alula. Ia menarik kursi meja rias Alula, dan duduk tepat di depan Alula yang sedang berdiam diri di pinggir ranjang dengan kaki yang menjuntai.


"Apa kamu marah denganku?"


"..."


"Aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku sudah berlebihan. Maafkan aku ya?" Tangannya terus menggenggam tangan Alula.


"..."


"Alula. Kalau kamu tidak memaafkan aku, tidak apa-apa. Tapi, ayolah ngomong. Jangan diam begini."


Alula menatap mata Gara. Mulutnya tak sedikitpun bergerak untuk menjawab Gara. Membuat Gara semakin tak karuan.


"Alula."


Tak dapat respon dari Alula, Gara langsung memeluknya erat. Dagunya ia tumpukan di bahu Alula. Tak lama, Alula merasakan bahunya basah dan Gara sesenggukan.


"Hei, kamu menangis?" Alula mengendurkan pelukan Gara dan menatap matanya. Gara masih meneteskan air matanya.


"Sudah-sudah. Jangan menangis lagi." Mengusap air mata di pipi Gara.


"Aku tidak suka kamu diamin gini."


"Aku hanya malas bicara."


"Ya, itu. Kamu diamin aku."


"Iya-iya, aku minta maaf. Aku janji gak akan diamin kamu lagi."


Gara tersenyum dan kembali memeluk Alula. Alula juga membalas pelukannya.


***


Alula sedang berkutat dengan beberapa dokumen di mejanya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk di handphonenya.


Ayah


Ayah ingin bertemu sore ini di cafe xx, apa kamu bisa?


Begitulah isi pesan yang di kirimkan Ayahnya. Alula mengalihkan pandangannya ke arah ruangan Gara.


Apa aku harus meminta izin dulu pada Gara? Pikir Alula dalam hati.


Ya. Aku harus meminta izin dulu.


Alula bergegas menuju ruangan Gara. Ia berdiri tepat di depan meja Gara.


"Ada apa?" Tanya Gara, bangun dan mendekati Alula.

__ADS_1


"Emm...Apakah aku boleh bertemu Ayah sore ini?"


Gara yang semula tersenyum berubah datar. Ia merasa tak suka jika Alula bertemu Ayahnya. Memang benar Ayahnya menyayanginya. Tapi, saat mengingat bahwa ia yang mengusir Alula, membuat hatinya tak rela mengizinkan Alula bertemu dengan lelaki paruh baya itu.


"Boleh ya? Aku sangat merindukannya." Mohon Alula sembari memegang tangan Gara.


Gara menarik nafas panjang. Ia menjadi tidak tega melarang Alula bertemu Ayahnya.


"Kamu boleh pergi. Tapi ada syaratnya." Wajah Alula berbinar mendengar ucapan Gara. Syarat apapun dia akan berusaha penuhi.


"Syarat apa? Katakan saja, aku akan berusaha memenuhinya."


Gara tersenyum kecil. Alula sangat antusias mendengar syarat yang akan ia ajukan.


"Syarat pertama, kamu harus jadi wanita penurut."


"Penurut? Bukankah selama ini aku selalu menurutimu?"


"Ya. Tapi belum sepenuhnya."


"Baiklah, akan aku lakukan."


"Bagus." Ujarnya mengusap pelan puncak kepala Alula.


"Syarat keduanya?"


"Huh, kamu begitu tidak sabaran." Ujar Gara. "Syarat keduanya, akan aku bisikan. Ayo lebih dekat."


Alula menurut. Ia melangkah lebih dekat pada Gara. Tidak ada pikiran buruk lagi tentang Gara. Selama beberapa hari ini ia menjalin hubungan dengan Gara, ia yakin sepenuhnya pada lelaki itu.


Gara melepaskanya, membuat Alula memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di dada Gara dengan nafas yang tersengal.


"Ternyata kemampuan berciummu semakin buruk." Gara balas memeluknya dan berkata sambil terkekeh kecil. Membuat Alula semakin menyembunyikan wajahnya.


"Itu syarat keduanya. Aku mengizinkanmu bertemu Ayahmu." Alula tak bergerak. Ia masih setia memeluk Gara.


Gara melihat jam yang melingkar di tangannya. "Sudah jam 3. Apa kamu tidak ingin bertemu Ayahmu? Atau malah nyaman memelukku?"


Alula mendongak tanpa melepas pelukannya. Pipinya masih memerah karena malu.


"Pekerjaanku masih banyak." Ucapnya.


"Pergilah. Beritahu Ayahmu agar bertemu sekarang. Ingat! jangan pulang lewat jam 6."


"Baiklah, aku akan pulang sebelum jam 6, janji." Balas Alula sambil tersenyum manis.


"Ya. Minta supir mengantarmu."


"Tentu. Kalau begitu, aku pergi dulu."


Gara mengangguk dan mengecup kening Alula. "Hati-hati." Alula membalasnya dengan senyuman. Kemudian wanita itu pergi dari ruangan Gara ke ruangannya.


^^^*Alula^^^


^^^Ayah, kita ketemu sekarang. Aku sudah mau berangkat. ^^^

__ADS_1


Ayah


Baiklah. Ayah juga berangkat sekarang*.


Alula keluar lift dan melewati banyak karyawan yang sedang berlalu lalang. Mereka menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Ada yang menatapnya sinis, penuh kebencian dan juga tatapan kagum. Entah apa yang mereka pikirkan tentang dirinya, ia juga tidak tahu.


Mobil berhenti tepat di depan Alula yang sedang berdiri di pinggir jalan. Ia memasukinya, lalu mobil itu menjauh dari perusahaan.


20 menit kemudian, mobil yang Alula tumpangi berhenti di cafe yang dituju. Supir turun dan membukakan pintu untuk Alula.


"Saya akan menunggu disini, nona."


"Kenapa? Masuk saja, aku akan memesankan makanan untukmu juga."


"Tidak perlu, nona."


"Tidak-tidak. Ayo masuk! Atau aku akan memberitahu tuan Gara, jika kau menolak permintaanku."


Mendengar nama Gara disebut, si supir tidak berani membantah. Ia menurut saja, dan mengikuti Alula memasuki cafe.


"Carilah tempat senyamanmu dan pesan makanan. Aku yang akan membayarnya."


"Terima kasih, nona." Ucapnya sambil membungkuk pada Alula.


"Sama-sama. Tidak perlu seperti itu. Bersikap biasalah padaku jika tidak ada Gara."


Supir tersebut tak menjawab. Bagaimana bisa ia bersikap biasa saja. Ia tidak mau merasakan amarah tuannya itu.


Alula berjalan ke salah satu meja dan duduk disana. Ayahnya mengatakan jika ia sudah berangkat. Mungkin sebentar lagi ia akan sampai.


"Alula!" Suara yang begitu ia kenal, menusuk indra pendengarannya.


Wanita itu berdiri dan berbalik ke arah suara. Namun tubuhnya seketika membeku melihat siapa yang datang bersama Ayahnya.


"I-ibu." Lirih Alula, menahan air matanya.


Wanita yang di panggil Ibu oleh Alula, berjalan mendekat dan merentangkan tangannya memeluk Alula.


"Ibu merindukanmu." Ucap wanita itu pelan.


Alula tak menjawab. Ia masih terdiam tak membalas pelukan Ibunya. Hanya air mata yang terus menetes. Ia tak menyangka jika Ibunya akan memeluknya. Satu hal yang tidak pernah ia rasakan sejak ia berumur 7 tahun. Dan inilah pelukan pertama yang Ibunya berikan.


Ya tuhan, benarkah Ibu memelukku? Rasanya sangat nyaman. Batin Alula.


"Apa aku sedang bermimpi?" Lirih Alula yang masih di dengar Ibunya.


Wanita yang sudah tidak muda lagi itu menggeleng keras, menjawab pertanyaan putrinya. "Tidak nak. Kamu tidak sedang bermimpi. Ini sungguh Ibu."


"Terima kasih Tuhan." Ucap Alula, menggerakkan tangannya memeluk Ibunya.


Ayahnya yang melihat wajah terkejut sekaligus bahagia Alula pun ikut meneteskan air mata. Putrinya sudah melewatkan banyak hal yang seharusnya ia dapatkan dari seorang Ibu.


"Aku juga merindukanmu Bu. Aku menyayangimu. Biarkan aku memelukmu kapan pun aku mau." Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Ya. Kamu boleh melakukannya kapan pun kamu mau. Ibu tidak akan menolaknya lagi. Maafkan Ibu atas perlakuan Ibu selama ini." Alula mengangguk. Bisa memeluk Ibunya, ia sudah sangat bersyukur. Ia tak peduli lagi dengan perlakuan Ibunya padanya dulu. Yang terpenting sekarang ia memiliki Ibunya yang sesungguhnya. Bukan Ibu yang membencinya.

__ADS_1


Larut dalam suasana mengharukan tersebut, mereka tidak sadar jika sang supir terus memperhatikan mereka, mengambil beberapa foto Alula bersama kedua orang tuanya. Lalu ia mengirim foto-foto tersebut pada Sekretaris Kenan.


__ADS_2