
Tanggal pernikahan sudah ditentukan saat hari lamaran. Tinggal dua minggu lagi, Gio dan Ana akan melangsungkan pernikahan mereka. Mulai dari tempat, undangan, baju pengantin, semuanya sudah disiapkan.
Gio bersama Gara dan ketiga ponakannya sedang berkumpul di ruang tengah. Tak lama, Alula datang dan ikut bergabung. Dia membawakan beberapa camilan.
Alisha yang melihat Ibunya datang, langsung menghampirinya. "Ibu, buah." Ujarnya, menunjuk pada buah pisang yang ada di atas meja ruang tengah.
"Alisha mau?" Anak itu mengangguk. Alula segera mengangkat balita itu ke pangkuannya lalu meraih pisang tersebut.
"Ayo, mam!" Ujarnya, menyuapkan potongan pisang ke mulut Alisha. Alisha memakannya dengan lahap. Sedang asik menyuapi Alisha, tiba-tiba handphonenya berdering.
Gara yang memang berada di dekat handphone milik Alula segera meraihnya. "Panggilan vidio," Ujarnya.
"Dari siapa?"
"Tari."
"Tolong di angkat, sayang!" Gara menurut. Dia menekan tombol hijau di layar handphone. Tak lama munculah wajah Tari di layar tersebut. Tapi wanita itu malah terjengkit kaget melihat Gara yang menjawab panggilan vidionya.
"T-tuan. Sa-salam tuan." Ujarnya terbata dari seberang sana.
Alula yang mendengarnya tersenyum. Ia mengusap pelan lengan Gara. "Sayang, kamu membuatnya terkejut. Ayo, biarkan aku yang berbicara padanya." Ujar Alula.
"Ya sudah! Ayo, Alisha sama Ayah. Ibu ngomong sama tante dulu, ya?" Ujarnya memberikan hp pada Alula, dan memindahkan Alisha ke pangkuannya.
Alula tersenyum melihat wajah Tari. Wanita itu sudah seminggu meninggalkan kota tersebut.
"Kau sangat cantik hari ini." Ujar Alula, sadar jika Tari memang benar-benar cantik hari ini.
"Alula, aku minta maaf padamu. Aku akan menikah hari ini."
"Menikah?" Ucapan Alula membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh.
"Siapa yang menikah?" Pertanyaan itu keluar secara bersamaan dari mulut Gara dan Gio.
"Tari." Balas Alula. Wanita itu kembali fokus pada layar hp-nya.
"Kenapa secepat itu? Kau juga tidak memberitahu kami. Apa kau ke luar kota memang ingin menikah disana?"
"Bukan! Bukan begitu! Aku kesini untuk menjenguk kakek bersama Sadam. Tapi hal tak terduga terjadi. Kakek malah memintaku dan Sadam untuk segera menikah. Dia bahkan mengancam tidak akan minum obatnya. Aku tetap menolak. Tapi Sadam, dia dengan mudah mengangguk. Aku melihat kebahagiaan di wajahnya. Aaaa... Padahal aku ingin menikah setelah Gio dan Ana." Cerita Tari yang di akhiri rengekannya.
Alula yang mendengarnya tersenyum lega. Tadi dia sempat khawatir jika terjadi sesuatu yang membuat Tari menikah secepat itu. Tapi dia kembali lega saat mengetahui yang sebenarnya.
"Alula, maafkan aku ya? Aku hanya bisa memberitahumu lewat hp. Tidak mengirimi kamu undangan."
"Tidak masalah. Aku turut bahagia. Semoga pernikahan kalian lancar dan hidup bahagia. Aku dan Gara akan mengirimkan hadiah."
"Hah? Tidak. Terima kasih untuk doamu. Tapi, untuk hadiah, biarkan setelah aku dan Sadam pulang. Aku pasti akan menghadiri acara pernikahan Gio. Kakekku sudah begitu sehat setelah mendapatkan anggukkan setuju dariku." Ujarnya sedikit memanyunkan bibirnya. Membuat Alula terkekeh.
"Hehehe... Kau lucu sekali. Tapi, kau juga bahagiakan bisa menikah dengan Sadam?"
"Hahaha... Kau benar. Aku hanya kesal pada Kakek. Tapi sejujurnya aku bahagia." Ujarnya membuat Alula kembali tertawa.
"Kau ini..."
"Hahaha... Ya sudah! Aku akan bersiap. Aku tutup dulu."
"Iya. Semoga kau selalu bahagia."
"Terima kasih."
Alula meletakkan kembali hpnya setelah panggilan berakhir. Ia tersenyum pada mereka yang menatap dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kalian menatapku?" Herannya.
"Tidak. Hanya saja, Ibu terlihat sangat semangat berbicara dengan tante." Ujar Darrel.
"Oh itu? Tari katanya akan menikah dengan Sadam. Aku terkekeh karena dia mengatakan itu semua karena kakeknya yang memaksa. Ditambah lagi, dia sangat lucu saat menunjukkan ekspresi kesalnya."
***
Hari terus berganti. Pernikahan Gio tinggal menghitung jam saja. Semua sudah bersiap termasuk Gio.
"Aku sangat gugup, Yah." Ujarnya pada sang Ayah.
"Tenanglah. Ayah juga seperti kamu dulu. Tapi, Ayah berusaha untuk setenang mungkin."
"Saran dariku, Kak. Kau tidak perlu peduli pada orang-orang yang melihatmu. Cukup menatap kak Ana saja. Aku yakin, kau tidak akan merasa gugup." Ujar Viko
"Ck. Kau seperti orang berpengalaman saja."
"Hehehe..."
Gara bersama si kembar juga menghampiri Gio. Darrel tersenyum menggoda pamannya itu.
"Paman pasti gugup kan?" Ujarnya sambil menaik turunkan alisnya. Sebenarnya ia tidak mengerti apa-apa soal perasaan gugup saat pernikahan. Ia hanya tak sengaja mendengar sepotong kata gugup yang di ucapkan Viko tadi.
"Diamlah Darrel!" Ujar Gio datar.
"Jika Paman gugup, aku bisa memberikan solusinya."
"Darrel, berhenti menggoda pamanmu, nak!" Ujar Gara.
"Hehehe... Maaf, Yah."
"Tenanglah, paman." Ujar Darren.
Gara bersama kedua putranya dan Viko berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Ginanjar bersama Kakek berjalan bersama Gio. Semua yang hadir berdecak kagum melihat Gio. Dia bersama Ana lah yang akan menjadi pusat perhatian hari ini.
Tak lama kemunculan Gio, Ana juga hadir. Senyum lebar tak bisa di sembunyikan lagi. Gio dengan lantangnya mengucap janji suci pernikahan mereka. Entah menghilang kemana rasa gugupnya tadi. Yang jelas, ia merasakan kelegaan luar biasa. Ana sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
"Aku mencintaimu." Bisiknya, mengecup kening Ana cukup lama.
"Aku juga mencintaimu." Balasnya.
Semua yang hadir mengulas senyum. Mereka turut merasakan kebahagiaan yang Gio dan Ana rasakan.
"Aku begitu bahagia. Melakukan pernikahanku dua minggu lalu, dan menyaksikan pernikahan sahabatku." Ujar Ana.
"Aku juga bahagia melihat mereka." Ujar Sadam.
Sementara disamping keduanya, ada Edo dan Irene, juga putri mereka, Asya. Asya menatap wajah kedua orang tuanya. "Ma, Pa! Paman Gio sama Aunty serasi banget ya?"
"Iya, sayang. Paman sama Aunty sangat serasi." Balas Irene.
"Tinggal tunggu kabarnya saja." Ujar Gio, tiba-tiba.
Irene dan Asya menoleh padanya. "Kabar apa?" Tanya keduanya bersamaan.
"Kabar Ana mengandung dan melahirkan."
"Astagaa... Jangan dengarkan Papamu!" Ujar Irene, memalingkan wajah Asya dari Edo.
Viko yang berada tak jauh dari mereka terkekeh melihat Irene yang kesal pada Edo. Ia kemudian menatap Gio dan Ana.
__ADS_1
Semoga kalian selalu bahagia. Doakan aku bisa mendapatkan wanita-wanita baik seperti istri-istri kalian. Batin Viko.
Alisha yang sejak tadi dipangku Alula terus menunjuk ke arah Ana dan Gio. Anak itu begitu cantik dan imut dengan gaun indah yang melekat di tubuhnya.
"Alisha mau ke paman sama aunty?" Pertanyaan Alula dibalas anggukkan olehnya.
"Sebentar ya? Nanti ada sesi salamannya." Ujar Alula.
Gara tersenyum pada kedua putranya. Begitupun dengan si kembar. Mereka merasakan kebahagiaan dalam hati mereka.
"Aku ingin menikah lagi," Alula langsung menoleh mendengar gumaman Gara itu.
"Apa katamu?"
"Aku ingin mengulangi pernikahan lagi."
"Kamu ingin menikah lagi?" Raut wajah Alula berubah sendu.
"Ya, aku rasa ingin mengulangi lagi pernikahan bersamamu. Aku ingin kembali merasakan menjadi pengantin baru."
Wajah Alula langsung merona. Dia sudah berpikir macam-macam tentang Gara tadi. "Aku menghargai keinginanmu. Tapi aku rasa, untuk menjadi pengantin baru lagi, tidak harus mengulangi pernikahan. Hanya tergantung bagaimana kita menjalani kehidupan pernikahan kita." Ujar Alula sembari tersenyum. Membuat Gara mengulurkan tangannya mengusap kepala Alula.
"Ayah, apa aku dan Darren sudah bisa mengucapkan selamat pada paman?" Ujar Darrel.
"Ya. Kalian boleh pergi."
"Terima kasih, Ayah." Ujar Darrel. "Ayo, Darren!"
Kedua anak itu menghampiri Ana dan Gio. Senyum usil mulai di tunjukkan Darrel.
"Selamat Aunty, Paman!" Ucap Darren.
"Selamat ya, Aunty, Paman!" Ujar Darrel. Anak itu berhenti di depan Gio, lalu tersenyum dan memainkan alisnya naik turun.
"Jangan lupa paman, aku tunggu adek bayinya." Ujarnya, kemudian berjalan santai menjauh dari Gio dan Ana.
Wajah Ana memerah malu. Sementara Gio, dia melotot tak menyangka apa yang ponakannya itu katakan.
Siapa yang mengajarinya? Apa Gara? Atau Edo? Atau mungkin Viko? Akkhh... Mungkin dia membalasku karena melakukan hal yang sama pada orang tuanya dulu. Batin Gio.
Ia menoleh malu pada tamu-tamu yang menyaliminya. Ponakannya itu benar-benar jail dan membuatnya malu.
***
Hari sudah begitu gelap. Semua tamu sudah kembali. Ana dan Gio juga sudah berada di kamar yang disiapkan khusus untuk mereka.
Keduanya yang biasanya cerewet saling diam. Gio kembali merasa gugup. Begitupun Ana. Tapi, ia memberanikan diri untuk memulai semuanya. Jika dia tidak memulainya, maka Ana akan tetap diam.
"Ana!" Panggilnya, berpindah mendekati Ana. "Apa aku boleh menciummu?" Lanjutnya.
"Aku... Kamu boleh menciumku. Tapi, untuk hal lain, aku tidak bisa. Aku tidak menyangka dia datang secepat ini."
"Siapa?"
"Tamu bulananku."
Gio terdiam sejenak dan menarik nafasnya. Seulas senyum ia tunjukkan pada Ana. "Tidak masalah. Ayo, tidur! Aku bolehkan memelukmu saat tidur?"
"Boleh." Balasnya. Ia kemudian terkekeh. "Hehe... Kita seperti yang baru kenal saja. Harus meminta izin dulu jika melakukan sesuatu. Biasanya kamu asal cium sama peluk. Kenapa sekarang harus izin-izin dulu?"
"Hehehe... Iya, ya? Aku juga baru sadar. Ya udah, ayo tidur!"
__ADS_1
Keduanya kemudian berbaring sambil memeluk satu sama lain. Melepas semua lelah mereka hari ini.