
Gara tersenyum manis menatap wajah Alula yang terlelap dalam mobil. Setelah acara kejutan yang ia siapkan, semuanya kembali ke tempat masing-masing. Darren Darrel pulang bersama Ana dan Gio. Membiarkan Alula pulang berduaan bersama Gara.
Gara turun dan menggendong Alula. Ia tidak ingin tidur wanitanya terganggu. Hari ini cukup menguras tenaga Alula. Ia tidak tega membangunkannya.
"Tuan..."
"Ssttt... Ambilkan barangnya di mobil." Ucap Gara dengan suara berbisik.
Pelayan tersebut mengangguk, tapi belum pergi. Ia terus mengikuti Gara hingga depan pintu kamar Alula dan membukanya. Setelah itu, dia segera menuju garasi.
Gara membaringkan tubuh Alula ke ranjang. Ia membungkuk menatap wajah Alula semakin dekat. Menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah Alula.
"Maafkan aku." Katanya seraya mengecup kening Alula.
"Aku tahu, kamu lelah hari ini. Terima kasih sudah mau membalas cintaku. Terima kasih juga sudah mau menerima lamaranku." Gara kembali mengecup kening Alula. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Suara ketukan pintu membuatnya menghentikan kegiatannya. Gara segera menuju pintu dan membukanya.
"Maaf tuan, ini barang-barang milik nona."
"Ya." Gara mengambilnya dari pelayan. "Apa Darren Darrel sudah pulang?"
"Tuan muda sudah pulang sebelum tuan tiba. Mereka sudah tertidur tuan."
Gara mengangguk paham. "Kau boleh pergi." Pelayan tersebut segera menjauh dari kamar Alula. Gara kembali menutup pintu dan berjalan ke arah Alula. Meletakkan tas milik Alula dan kembali menatap wajah itu.
Gara meraih selimut hendak menutupi tubuh Alula. Namun, netranya tak sengaja menatap tengan kiri Alula, yang seketika menghentikan gerakannya.
Gara dengan cepat meraihnya. "Apa ini? Kenapa dia bisa terluka seperti ini?" Ujarnya dengan raut wajah yang sudah berubah. Perasaan khawatirnya tidak bisa ia sembunyikan.
"Ini seperti bekas gigitan. Kenapa bisa ada di tangannya? Siapa yang melakukan ini?"
Tak perduli lagi gerakannya akan membangunkan Alula, Gara segera mengambil kotak p3k dan membersihkan luka Alula.
"Shhh..." Hanya sedikit ringisan, namun tak membuatnya terbangun.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku? Siapa yang melakukan ini padamu?"
Setelah membersihkan dan menyimpan kembali kotak p3k, Gara menaiki tempat tidur Alula dan berbaring disisinya. Mendekap wanita itu dalam peluknya. Tak lama, matanya terpejam.
***
Alula mengerjabkan matanya saat merasakan satu kecupan dikeningnya. Samar-samar ia melihat seseorang sedang menatapnya. Saat sadar jika itu Gara dan sedang berbaring di sampingnya, Alula langsung terbangun. Matanya menatap sekeliling kamar.
"Ini masih kamarku. Sejak kapan kamu disini?"
"Sejak semalam." Gara ikut terbangun dan duduk tepat disampingnya.
"Kamu... tidur bersamaku?" Tanyanya dengan ekspresi ragu.
"Ya." Melihat wajah khawatir Alula membuatnya tersenyum. "Aku tidak melakukan sesuatu padamu. Hanya sekedar memelukmu."
"Ta-tapi kenapa harus tidur disini?"
"Kamu tahu, ini adalah tidur ternyenyakku selama kamu disini. Sepanjang kamu tinggal disini, semalam adalah tidur terbaikku."
Alula terdiam sejenak. Namun ia kaget saat Gara tiba-tiba meraih tangannya.
__ADS_1
"Ini kenapa, hmm?" Gara mengangkat tangan kiri Alula. Bertanya dengan suara yang begitu lembut.
"Ini... aku..."
"Jujurlah. Aku tidak ingin kamu menyembunyikan sesuatu dariku lagi."
"Ini... Aku sendiri yang menggitnya kemarin."
"Kamu? Kenapa?"
"Aku menangis setelah keluar dari ruanganmu. Tidak ingin sekretaris Kenan mendengarnya, aku menggitnya agar tidak mengeluarkan suara."
"Astaga." Gara mencium tangan Alula dan memeluknya. Berkali-kali ia mengecup puncak kepala Alula.
"Maafkan aku. Aku yang salah. Seharusnya aku tidak melakukan itu kemarin."
"Tidak apa-apa." Balas Alula. Gara kembali mendaratkan kecupannya. Namun beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu.
"Ayah, apa ayah di dalam? Salapan sudah siap. Kakek juga datang salapan belsama." Teriak Darrel dari luar.
Gara segera melepas pelukannya dan membuka pintu. Terlihatlah Darrel yang sudah segar dan rapih. Anak itu mengintip ke dalam, melihat Ibunya yang juga sedang berjalan menghampirinya.
"Ayah kenapa sangat lama bangunnya. Kakek sudah datang sejak tadi."
"Kakek datang? Sepagi ini?" Tanya Alula. Darrel hanya mengangguk membalasnya.
Alula menatap Gara yang juga balas menatapnya. "Urusan perusahaan." Terang Gara.
"Kamu duluan saja. Ayah sama Ibu akan menyusul." Ujar Gara.
"Oke."
"Permisi tuan, tuan Gio bersama yang lain sudah datang."
Mendengar nama Gio dan yang lain, Alula segera menatap Gara.
"Suruh mereka masuk!"
"Baik, tuan."
"Kamu menyuruh mereka kemari?" Tanya Alula, bingung.
"Ya, aku akan buat acara pengenalan Gio sebagai anggota keluarga Grisam ke seluruh keluarga."
"Bukannya..."
"Hai twins," sapa Ana pada si kembar. Memotong ucapan Alula yang heran pada Gara. Dia sendiri yang mengatakan untuk merahasiakan identitas Gio sementara ini. Tapi kenapa dia yang mengadakan acara seperti itu.
"Hai aunty." Balas si kembar.
Gio segera menyalimi tangan Ginanjar. Membuat Ana, Tari dan Sadam merasa heran, namun tak urung juga ikut menyalimi tangan orang tua itu.
"Saya Ayahnya Gara." Ucap Ginanjar.
"Salam kenal, tuan." Ujar mereka bersamaan.
"Saya Tari, tuan."
__ADS_1
"Saya Sadam, tuan."
"Saya Ana, tuan."
"Pacarnya Gio?" Ucap Ginanjar, setelah Ana memperkenalkan dirinya.
"I-iya, tuan." Jawabnya, malu.
Alula menatap satu persatu wajah sahabatnya. Apakah mereka sudah mengetahui jika Gio adalah adik Gara. Benar-benar membingungkan baginya.
Alula memerintahkan seorang pelayan untuk membuatkan minum. Setelah itu, ikut bergabung bersama mereka.
"Alula, ayo siap-siap! Kita akan pergi." Ujar Ana.
"Pergi? Kemana?"
"Kita harus membeli baju dan melakuka perawatan. Kau adalah calon nyonya disini. Sudah seharusnya untuk tampil cantik malam ini."
Alula menatap Gara, seakan meminta persetujuan lelaki itu. Setelah mendapat anggukkan dari Gara, Alula segera menuju kamarnya. Benar dugaannya, sahabat-sahabatnya itu sudah tahu jika Gio adalah salah satu pewaris keluarga Grisam yang hilang.
Beberapa menit mengganti pakaiannya, Alula keluar dan menghampiri Ana dan Tari. Kedua wanita itu sudah berpamitan, tinggal Alula saja.
"Ayah, aku pamit dulu."
"Ya, hati-hati."
Alula melihat Gara, dengan jarak sedikit jauh darinya. "Aku pergi dulu." Pamitnya.
Bukannya menjawab, Gara malah menyuruhnya mendekat. "Kemari!" Perintahnya.
Dengan ragu, Alula mendekat. Ia merasa deg-degan memikirkan apa yang akan Gara lakukan di depan semua orang.
Saat Alula semakin dekat, Gara langsung menarik pinggangnya. Membuat Alula sangat dekat dengannya.
"Duduk di sebelahku." Perintah Gara, yang hanya dituruti Alula.
Cup!
Satu kecupan kembali mendarat di kening Alula. "Kamu harus belajar menjadi seorang istri." Ujarnya.
Alula hanya mengangguk dengan pipi yang sudah memerah. "Aku pergi dulu." Ujarnya, segera bangkit dan berjalan cepat, mendahului Ana dan Tari yang sedang mengulum senyum melihatnya.
***
Mereka tiba di sebuah butik terkenal di negara itu. Butik tersebut berdampingan dengan tempat perawatan. Memudahkan mereka dalam mengisi aktivitas mereka hari ini. Sebelumnya, Gara sudah menyiapkan semuanya. Mereka hanya tinggal melakukan perawatan dan mencoba baju yang cocok untuk mereka. Hanya satu yang Gara tegaskan, Alula tidak boleh mengenakan dress atau apapun itu seperti pada pernikahan Edo.
"Kita kesini?" Tanya Alula tak percaya.
"Ya, tentu. Tuan Gara sudah menyiapkan semuanya. Nyonya Grisam harus mendapatkan yang terbaik." Ujar Ana.
"Ayo masuk! Nona Irene juga sudah menunggu." Tutur Tari.
"Irene?"
"Iya. Kau tahu, acara malam ini sangat spesial. Tuan Gara melakukannya bersama yang lain. Jika dia meminta kita untuk melakukan ini untuk menyukseskan acaranya, tentu kita harus membantunya."
Alula terdiam beberapa saat. Tak lama, Irene menghampiri mereka. "Hai!" Sapanya sambil melambaikan tangannya. Ketiga wanita itu membalasnya.
__ADS_1
"Ayo! Mereka sudah menunggu."
Irene segera menarik tangan Alula, yang di ikuti Ana dan Tari. Ketiga wanita itu terlihat sangat kompak mengurus Alula.