Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Lelaki Malam Itu


__ADS_3

Alula sudah bersiap dengan pakaian formalnya. Hari ini ia akan interviu di perusahaan yang Darren dan Darrel daftarkan untuknya, perusahaan besar Grisam Group.


Taksi yang ditumpangi Alula berhenti di depan perusahaan Grisam Group. Alula tidak menyangka, ia akan interviu di perusahaan sebesar ini. Alula melewati gerbang, tak lupa tersenyum ramah pada satpam penjaga.


"Selamat pagi pak!"


"Selamat pagi," jawab satpam dengan name tag Tio.


Alula berjalan memasuki kantor tersebut. Dapat ia lihat, pegawai-pegawainya bekerja dengan baik. Tidak ada yang bergosip atau apupun. Sampai terbesit pertanyaan dalam hatinya, apa pemimpin perusahaan ini sangat kejam sampai tidak ada yang berani bermain-bermain dalam bekerja.


Alula diarahkan ke lantai paling atas, tempat dimana ruangan CEO berada. Kali ini CEO sendiri yang akan menginterviu-nya.


Beberapa pasang mata memandanginya dengan tatapan merendahkan, ada pula yang tak peduli dan ada pula yang menatap dengan tatapan kagum. Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat tapi tak mampu menyuarakan isi hati.


Tiba di lantai paling atas, lantai yang di khususkan untuk CEO dan sekertarisnya, Alula di biarkan menemui sang CEO. Disana juga sudah ada seorang lelaki yang berada di ruangannya.


"Permisi, apa tuan sekretaris Kenan?" Lelaki yang ditanya menatapnya sekejap lalu menganggukkan kepala.


"Ya,"


"Aku akan melakukan interviu bersama CEO."


"Ya saya mengerti. Mari ikut saya!"


Sekretaris Kenan berjalan dengan di ikuti Alula. Pintu ruangan CEO di ketuk dan tak lama terdengar suara dari dalam.


"Masuk!"


Sekretaris Kenan mendorong pintu lalu masuk. Sedangkan Alula, ia masih berdiri dengan jantung yang berdetak tak karuan setelah mendengar suara itu.


"Ya Tuhan, mudahkan aku kali ini. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini." Batin Alula berdo'a.


Alula ikut masuk dan menutup pelan pintu. Langkahnya terhenti tepat di depan meja CEO. Dapat ia lihat nama yang tertera di atas meja, Gara Emanuel Grisam.


"Ini tuan, yang akan interviu,"


Lelaki itu masih menunduk. Tangannya sibuk menandatangani beberapa berkas di depannya.


"Hmmm," dehem Gara membalas ucapan Sekretaris Kenan.


"Kalau begitu saya permisi." Pamit sekretaris Kenan yang dibalas gerakan tangan Gara, menyuruh Kenan keluar.


"Silahkan duduk!" suruh Gara masih fokus pada pekerjaannya. Alula menurut. Ia menarik pelan kursi di depannya dan duduk.

__ADS_1


"Siapa nama kamu?" Tanya Gara seraya mendongak menatap lawan bicaranya.


Seketika Alula membeku. Wajahnya pucat, lidahnya kelu. Ia terdiam, wajah orang di depannya ini menariknya kembali ke masa lalu. Masa lalu yang membuatnya menjadi seperti saat ini. Ia kenal dengan orang di depannya. Si lelaki malam itu. Tangannya bergetar, matanya mengembun. Sekuat mungkin ia menahan air matanya agar tak tumpah.


"Apa kamu masih ingin bekerja disini?" pertanyaan dengan nada dingin itu menyadarkan Alula.


Segera ia menatap wajah Gara, namun tidak menatap matanya. "Saya Alula S-Sadewa." Jawab Alula sedikit ragu menyebut marga Sadewa. Apa ia masih pantas menggunakan nama belakang Sadewa, sementara mereka sudah tak menganggapnya.


"Baiklah," ujar Gara melihat dokumen milik Alula, lalu melemparkan pertanyaan lagi. Alula menjawabnya dengan baik. Namun, ada satu yang mengganjal hatinya.


Apakah lelaki di depannya ini tidak mengenalinya. Atau hanya pura-pura tidak kenal. Tapi dalam hatinya ia bersyukur karena ia tidak harus berpura-pura tidak kenal.


"Kamu diterima. Besok kamu mulai bekerja, sebagai... "


"Pagi bos!" Sapaan itu membuat sebagian kalimat Gara terpotong. Gara menatap orang yang menutup pintu dengan pandangan kesal. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Edo.


"Aku mau ngo... Kamu?" Kaget Edo saat perempuan yang berada di depan Gara ikut mendongak menatapnya.


Wajah Alula pias. Lagi-lagi ia dihadapkan dengan orang dari masa lalunya. Masih ia ingat jelas lelaki yang sedang menatapnya ini, lelaki yang membawanya saat kesadarannya mulai tak seimbang.


Edo mendekat mencoba memastikan dengan benar. Namun, Alula yang masih ketakutan segera menghindar dan berpindah ke samping Gara.


"Edo! Apa yang kau lakukan?" Bentak Gara membuat Edo mendengus kesal.


"Apa katanya? Tidak akan ingat? Apakah ia kehilangan ingatannya?" Batin Alula.


Alula tersadar dari pikirannya saat Gara menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi.


"Silahkan keluar! Besok kau mulai bekerja, sebagai sekretaris saya." ujar Gara dingin. "Saya tidak suka dengan orang yang tidak disiplin." lanjutnya.


Alula membungkukkan badannya berpamitan pada Gara. Setelah langkahnya benar-benar melewati pintu ruangan Gara, Alula menarik nafas lega. Namun, ia kembali berpikir tentang pekerjaannya.


Apalagi ini. Apa yang sedang takdir rencanakan untuknya. Bekerja di perusahaan orang yang mengambil kehormatanya, dan menjadi sekretaris orang itu. Dimana ia akan lebih banyak waktu bersama Gara.


***


Setelah pulang dari Grisam Group, Alula menaiki taksi menuju sekolah Darren dan Darrel. Ia sudah meminta Gio untuk tidak menjemput kedua putranya. Dia sendiri yang akan menjemputnya.


Alula menuruni taksi, membayarnya lalu melewati gerbang sekolah. Langkahnya berhenti tepat di halaman sekolah. Matanya mulai mengembun melihat pemandangan di depannya.


"Dacal anak gak punya papa." Ujar seorang anak seusia Darren dan Darrel, Jiyo.


"Dallel punya ayah." Sergah Darrel.

__ADS_1


"Mana? Papa kamu nda pelnah jemput kamu."


"Ayah Dallel kelja di tempat jauh." Darrel terus terpancing dengan ucapan-ucapan Jiyo.


Sementara Darren masih menahan amarahnya, tangannya terkepal erat disisinya.


Jiyo mendekat dan mendorong Darrel, hingga anak itu limbung dan hampir saja jatuh. Untung Darren berada di belakangnya dan menangkapnya.


"Kalian anak halam! Papa kalian blengcek." Teriak Jiyo lantang. Sampai Alula yang mendengarnya terkejut. Anak sekecil itu mengatakan hal yang tak bermoral seperti itu.


Darren yang emosinya sudah meluap membantu Darrel berdiri. Beberapa detik kemudian ia sudah berada di depan Jiyo dan mendorongnya dengan lebih kuat hingga anak itu terjerembab ke tanah. Dorongannya tak main-main, bahkan tangan Jiyo sampai tergores.


"Ingat! Jangan hina keluarga ku. Apalagi Ayahku." Ujar Darren menarik tangan Darrel, kemudian menatap Jiyo lagi. "Jangan sampai mulut cadel kamu gak bisa ngomong lagi."


Setelah melontarkan ancamannya, Darren dan Darrel beriringan menuju gerbang. Darrel berlari memeluk Alula, saat menemukan Ibunya berdiri di halaman sekolah, dua langkah dari gerbang.


"Ibuuu..." Teriak anak itu memeluk Ibunya. "Ibu kok jemput kita?" tanya Darrel mendongak menatap Ibunya.


Darren menatap Ibunya, terlihat hidung Ibunya yang memerah. Ia yakin Ibunya melihat semua yang terjadi padanya dan Darrel.


"Ibu udah selesai interviu. Jadi, Ibu mau jemput anak kembar Ibu yang tersayang. Ibu mau ajak kalian jalan-jalan."


"Ben..."


"Ibu lihat semuanya?" Pertanyaan bernada dingin itu memotong ucapan Darrel.


Alula tersenyum menatap Darren. "Ibu dengar. Tapi kita tidak perlu membalasnya. Jika itu tidak benar, untuk apa kita meladeninya. Nanti akan timbul masalah baru."


Alula membungkuk mensejajarkan tingginya. Tangannya memegang kedua bahu Darren. "Ingat pesan Ibu! Kalau ada yang bilang begitu lagi, gak perlu di ladenin, abaikan saja! Oke?" anak itu tak menjawab, hanya anggukkan kepala yang ia berikan.


"Alula!" Teriak seseorang membuat ketiganya menoleh.


"Gio? Bukannya aku meminta mu agar tidak menjemput mereka?"


"Ya aku tahu. Tapi aku ingin mengajak mereka jalan-jalan."


"Kebetulan. Ibu juga ajak kita jalan-jalan." timpal Darrel.


"Ya udah! Ayo sekalian!" ujar Gio yang langsung saja menarik tangan Alula menjauh. Hal itu membuat Darren dan Darrel menatapnya dengan tatapan datar.


Merasa tidak ada yang mengikuti dari belakang, Alula menghentikan langkahnya yang otomatis membuat Gio juga berhenti dan berbalik. Gio melepaskan tautan tangannya dan tersenyum canggung ke arah Darren dan Darrel.


"Ayo-ayo! Paman akan mengajak kalian makan di caffe paman." Ujar Gio, menggiring Darren dan Darrel memasuki mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2