
Hani memasuki kontrakannya dengan wajah memerah karena menangis. Ketiga adiknya merasa heran melihat Hani.
"Kakak kenapa?" Tanya adiknya yang paling kecil, Cia.
"Enggak. Kakak enggak kenapa-kenapa. Kalian udah makan kan? Ayo tidur!"
"Iya kak." Jawab ketiganya.
Hani memasuki kamarnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa kamu tega sama aku Kenan?" Gumamnya lalu memejamkan matanya.
***
Pagi sekali sekretaris Kenan bersiap menuju kontrakan Hani. Dia sangat berterima kasih pada Gara yang memberinya libur hari ini.
Satu jam perjalanan, Kenan tiba di kontrakan Hani. Kenan mengetuknya. Dua kali ketukan pintu kontrakan Hani terbuka.
"Cari siapa paman?"
Paman? Apa aku setua itu?
"Aku mencari Hani."
"Kak Hani masih tidur."
"Apa aku boleh masuk? Tolong bangunkan dia!"
"Ya." Anak kecil itu segera membangunkan Hani.
Sekretaris Kenan melihat kedua anak kecil di depannya. "Kalian, ayo ikut saya."
"Kemana paman?"
"Ambil makanan. Aku membelikan banyak makanan." Ujar Kenan, membuat kedua anak itu tersenyum.
Kedua anak itu mengikuti Kenan. Kenan mengeluarkan banyak makanan untuk kedua anak itu. Ia membawanya bersama mereka menuju kontrakan Hani.
"Siapa yang dat... Keluar!" Bentak Hani melihat Kenan duduk bersama kedua adiknya.
"Aku tidak akan keluar." Jawab Kenan, tenang.
Mata Kenan menatap ketiga adik Hani, yang menatap mereka dengan tanda tanya.
Kenan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dan memberikan pada mereka.
"Ini buat kalian. Sana jajan! Paman ingin bicara sama kakak kalian."
"Baik paman." Jawab ketiganya.
Setelah ketiga anak itu pergi, Kenan beralih menuju pintu kontrakan. Disana sudah ada kunci yang menggantung. Kenan menguncinya, membuat Hani melototkan matanya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku? Mengunci pintu." Jawab Kenan, semakin dekat pada Hani.
"Aku bilang, berhenti disitu!"
"aku tidak akan berhenti. Kenapa kau sangat ketakutan seperti itu?"
"Kau bertanya? Kau lelaki jahat yang pernah aku temui. Kau selalu menindasku. Aku, aku salah mempercayai tuan Gara mengenai dirimu."
Kenan mendesah lelah. Dia akui jika selama ini dia keterlaluan terhadap Hani. Ia menghentikan langkahnya pada jarak yang cukup dekat dengan Hani.
"Kemarilah!" Perintah Kenan.
Hani menggeleng. Bahaya jika ia berdekatan dengan Kenan. Laki-laki itu tak mampu ia mengerti.
Gelengan Hani, memancing Kenan untuk bertindak sendiri. Secepat mungkin ia meraih tangan Hani, dan membawa gadis itu ke pelukannya. Kenan memeluknya erat.
"Lepas! Lepaskan aku. Aku membencimu. Aku benar-benar membencimu." Hani terus memberontak dalam pelukan Kenan.
Kenan tak bergeming. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku." Ucap Kenan lirih, namun terdengar sungguh-sungguh di pendengaran Hani.
"Kau pembohong. Pergi! Aku membencimu."
"Kau tidak akan bisa membenciku."
"Aku benar-benar membencimu."
__ADS_1
"Aku tidak percaya itu."
"Lapaskan aku."
"Aku akan melepaskanmu jika kau mau menceritakan, kenapa kau mau bekerja seperti itu?"
"Kenapa kau peduli?"
"Aku akan selalu peduli. Tapi, apa kau menolak bercerita hanya karena kau ingin aku peluk seharian?"
"Tidak! Lepaskan, aku akan menceritakannya."
"Gadis baik."
Hani dan Kenan duduk di kursi, bersiap mendengarkan cerita Hani.
"Jadi, ayo ceritakan!"
"Sebenarnya aku..." ucapan hani terpotong oleh ketukan pintu, dan juga teriakkan adik-adiknya dari luar.
"Kak. Kakak nggak apa-apakan di dalam? Bukain pintunya, kita mau masuk."
"Ya, tunggu." Hani beranjak membukakan pintu untuk adik-adiknya.
"Kenapa harus di kunci pintunya?" Tanya Fadil, adiknya yang paling tua.
Hani tersenyum pada ketiga adiknya. "Ada hal penting yang ingin kakak bicarakan sama paman itu. Kalian main dulu ya, nanti kakak panggilin kalau udah selesai."
"Baik kak." Jawab ketiganya, langsung berlari, bermain bersama teman-teman mereka.
Hani kembali duduk bersama Kenan. "aku akan lanjutkan. Jadi, aku berpikir untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang cukup, untuk aku dan ketiga adikku. Tepat saat itu, aku bertemu dengan sekretaris direktur. Dia menawarkan pekerjaan itu pada ku."
"Kenapa kau menerimanya?"
"Apa yang bisa aku lakukan? Aku membutuhkan uang saat itu. Jika tidak, bagaimana aku bisa memberi makan untuk adik- adikku dan membayar kontrakan. Lagi pula, aku tidak tahu jika menemani direktur memiliki arti lain."
"Bodoh! Direktur itu laki-laki brengsek. Menemaninya sama saja mengantarkan dirimu melakukan hal-hal yang akan merugikanmu."
"Apa bedanya jika aku bersamamu? Kau selalu bertindak semau mu."
Kenan menghela nafasnya. "Ya, aku akui jika aku juga lelaki brengsek."
"Tidak. Aku tidak akan mengembalikan mereka. Kau tidak akan mengerti semua ini."
"Terserah kau saja." Seru Kenan, menyerah berdebat dengan Hani.
Suasana menjadi hening. Baik Kenan maupun Hani sama-sama terdiam. Hanya terdengar tarikan berat nafas Hani. Gadis itu terus memikirkan perkataan Kenan barusan.
"Aku belum sarapan sejak tadi." Ujar Kenan memecah keheningan.
Hani menoleh dengan alis yang terangkat. "apa hubungannya dengan ku?"
"Kau perempuan, kau pasti bisa memasak. Tolong masakkan sesuatu untukku!"
"Kau punya banyak uang. Kau bisa makan di restoran atau caffe. Atau, kau makan saja makanan yang kau bawa ini." Hani menunjuk makanan yang di bawa Kenan ke tempatnya.
Kenan berdecak. Tidak disangka jika Hani menjawab seperti itu padanya. Setidaknya katakan saja jika dia tidak mau memasak untuknya.
"Aku pantang memakan makanan yang ku berikan pada orang." Jawab Kenan, dingin. "Jika kau tidak mau memasak, biarkan aku memasak sendiri. Kau pasti punya bahan makanannya kan?"
"Masak saja, aku ingin keluar mencari adik-adikku." Jawab Hani, lalu pergi meninggalkan Kenan.
"Hei, kau mau kemana?" Teriak Kenan yang di abaikan saja oleh Hani.
Bagaimana ini? Aku tidak bisa memasak. Kalau tahu pun, cuman masak mie. Sedangkan aku tidak suka makan mie di pagi hari.
Kenan memeriksa beberapa bahan makanan di dapur Hani. Semuanya ada, hanya saja bagaimana caranya memasak. Ingin menonton youtube, tapi dia malas. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk duduk, menanti Hani pulang.
***
Hampir 2 jam lebih, Hani kembali. Ia sengaja mengulur waktu agar Kenan merasa bosan dan pulang. Tapi, ia sepertinya tidak berhasil. Mobil kenan masih terparkir di depan kontrakan nya.
Hani memasuki rumah sambil menggandeng adik-adiknya. Saat pintu terbuka, terlihat Kenan yang sedang duduk dengan mata terpejam.
Hani mendekatinya, mencoba memeriksa apakah dia sedang tertidur ataukah pura-pura tidur.
"Dia benar-benar tertidur." Bisik Hani pada ketiga adiknya.
"Kalian, belajarlah di kamar. Kakak akan menyiapkan makanan."
__ADS_1
"Baik, kak." Jawab ketiganya, kemudian berlalu ke kamar.
Hani segera ke dapur. Diraihnya bahan-bahan makanan yang akan ia masak. Ia memasakkan makanan sederhana.
Setelah selesai, Hani menyiapkan makanan yang di masaknya dan juga makanan yang di bawa Kenan.
"Fadil, Fira, Cia, ayo makan." Panggil Hani pada ketiga adiknya.
Hani lalu berjalan mendekati Kenan. Ia menusuk-nusuk lengan Kenan dengan telunjuknya.
Kenan terbangun. Matanya mengerjab, menetralkan penglihatannya.
"Apa?" Tanya Kenan, dengan suara seraknya.
"Aku sudah memasakkan sesuatu, ayo makan."
"Ternyata kau masih punya hati nurani." Ujar Kenan, membuat Hani melotot padanya. "Aku bercanda. Ayo makan!" Sambungnya, lalu melenggang ke meja makan.
"Cuci muka mu dulu." Teriak Hani, membuat Kenan segera ke kamar mandi di antar Fadil.
Setelah dari kamar mandi, Kenan segera bergabung dengan mereka. Ia menyendokkan makanan yang di masak Hani untuknya.
Satu suapan, ia mengernyit. Bukan makanannya tidak enak, melainkan Hani yang juga memakan makanan yang sama dengannya. Sedangkan ia mengharapkan Hani memakan makanan yang ia bawa.
"Kenapa kau memakan makanan ku?"
"Ini makanan yang aku masak. Jadi, terserah aku mau makan apa tidak."
"Kau tidak boleh memakannya. Kau makan saja makanan yang aku bawa."
"Aku tidak suka makanan itu."
"Apa kau sengaja memakan makanan yang sama dengan ku, agar terlihat seperti pasangan romantis?"
Hani mendengus kesal. "aku tidak berpikiran seperti itu." jawabnya, lalu tak merespon Kenan lagi.
Apanya yang romantis? Gak jelas. Batin Hani.
***
Hari sudah semakin sore. Sementara Kenan masih betah di kontrakan Hani. Belum ada niat untuknya pulang.
"Sudah sore, kau pulanglah."
"Tidak. Kau ini kenapa? Sepertinya sangat membenci ku. Aku mengajak adikmu jalan-jalan, kau melarang. Aku mengajakmu juga, kau menolak. Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin kau pulang."
"Huh. Aku akan pulang, tapi nanti." Jawab Kenan.
"Aku berpikir, kenapa kau tidak menyekolahkan adik-adikmu?" Pancing Kenan, agar Hani mau membiarkannya lebih lama lagi.
"Kau tahu kondisi keuanganku." Jawab Hani, mulai duduk di kursi depan Kenan. Hani mulai terpancing.
"Aku akan membantu mu menyekolahkan mereka."
"Huh, mereka tidak membutuhkan bantuan yang mengharapkan imbalan."
"Aku tidak mengharapkan imbalan. Aku benar-benar ingin membantu mereka."
"Aku tidak yakin."
"Jika kau tidak percaya, aku akan membuat surat pernyataan, bahwa aku tidak akan meminta imbalan apapun."
Hani menatapnya. "Pulanglah! Tuan Gara membutuhkan mu."
"Tuan Gara memberi ku libur hari ini." Jawabnya. "Ayolah! Aku akan pulang jika kau setuju."
Hani menarik nafasnya. "Baiklah. Aku setuju."
"Bagus. Aku akan memberikanmu surat pernyataannya nanti."
"Tidak perlu. Aku mempercayai mu."
Deg. Kenan tertegun. Gadis keras kepala seperti Hani, mempercayai nya. Ia merasa bahagia. Hatinya menghangat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Hani.
"Aku akan pulang." Ujar Kenan, berusaha menetralkan rasa bahagianya. Ia melangkah keluar. Namun, ia kembali menoleh pada Hani.
"Terima kasih telah mempercayai ku." Ujarnya, lalu benar-benar pergi dari kontrakan Hani.
__ADS_1