Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Bertemu Elisa


__ADS_3

Darren, Darrel dan Gara tiba di kediaman Gara. Rumah bersar yang pernah mereka tinggali semalam itu, kini menjadi tempat tinggal mereka.


"Dimana kamar ku Yah?" Tanya Darren sambil menatap seluruh isi rumah itu.


"Kamar mu? Maksudnya, kamar mu sendiri?"


"Ya."


"Kenapa?"


"Dallen menang taluhan. Jadi, sesuai peljanjiannya kami tidak boleh sekamal lagi." Timpal Darrel, menjelaskan.


"Kalian taruhan apa?" Tanya Gara, bingung dengan ucapan Darrel.


"Kita taruhan mengenai keputusan Ibu." Jawab Darren.


"Keputusan Alula?"


"Ya. Aku mengatakan jika Ibu akan setuju dengan tawalanku untuk satu satu minggu belpikil. Telnyata Ibu lebih memilih tawalan Dallen. Jadi, Dallen yang menang."


"Jadi, kalian sudah memprediksi semuanya?"


"Tentu." Jawab Darren dan Darrel kompak.


Astagaa. Batin Gara, menarik nafas panjang.


"Baiklah. Ayo ikut ayah! Ayah akan mengantarkan kalian ke kamar kalian masing-masing."


Darren dan Darrel mengikuti langkah Gara. Mereka menaiki tangga menuju lantai atas. Disana, ada tiga kamar. Gara melangkah menuju kamar pertama dan kedua.


"Kamar pertama ini, milik Darren dan yang kedua punya Darrel."


"Telus yang ketiga?" Tanya Darrel, penasaran.


"Yang ketiga punya Ayah. Itu adalah kamar Ayah sejak pertama kali Ayah memiliki rumah ini."


"Bukannya waktu itu kita semua tidul di kamal bawah?"


"Ya, saat itu paman sedang malas ke kamar ini."


"Bagaimana dengan Ibu?" Tanya Darren.


"Ibu kalian akan sekamar dengan Ayah."


"Emang boleh?" Darrel tak percaya.


"Tentu boleh, setelah Ayah sama Ibu menikah."


"Gitu ya." Balas Darrel sambil mangut-mangut.


"Udah ayo kita lihat kamar kalian!" Gara bersama kedua anaknya masuk ke kamar melihat-lihat di dalamnya.


Malam menjelang. Tapi, Darren dan Darrel masih betah dengan barang-barang yang Gara siapkan untuk mereka. Gara juga larut dengan kebahagiaan melihat kedua putranya.


Seorang pelayan mengentuk pintu kamar Darren. Membuat orang-orang tersebut menoleh padanya.


"Maaf tuan, makan malamnya sudah siap." Ujar si pelayan.


"Hmmm..."


Setelah mendapat jawaban dari Gara, pelayan tersebut undur diri. Darren, Darrel dan Gara segera menuju ruang makan.


Di kontrakan, Alula duduk menyendiri di kamar si kembar. Belum genap sehari ia di tinggalkan Darren dan Darrel, ia sudah sangat merindukan mereka. Alula berbaring di atas ranjang milik si kembar. Dan tanpa sadar, ia tertidur hingga pagi menjelang.

__ADS_1


***


Suasana pagi yang biasanya di penuhi celotehan Darrel, kini menjadi sunyi. Alula sarapan seorang diri. Setelah sarapan, ia meraih tasnya dan berjalan keluar.


Hari ini, ia akan menemani Gara bertemu klien di sebuah caffe yang ada di mall ternama di kota itu.


Langkah Alula terhenti saat bertemu dengan mobil Gara di depan gang. Wajah yang tadinya terlihat tak bersemangat berubah tersenyum cerah. Ada rasa bahagia karena ia yakin, pasti ada Darren dan Darrel di dalamnya.


Gara mengarahkan mobilnya untuk berbalik arah. Kemudian menurunkan kaca mobil saat bertemu Alula.


"Ayo masuk! Jika menggunakan taksi, kau akan telat."


Tanpa membantah, Alula melangkah menuju pintu mobil. Gara yang melihat pun sedikit heran dengan sikap Alula.


Tangannya segera membuka pintu. Senyum yang ada di bibir seketika hilang. Ternyata, tidak ada Darren dan Darrel di dalam.


"Apa kau ingin membungkuk terus seperti itu?"


"Tidak."


"Cepatlah masuk!"


Alula memasukkan seluruh badannya dan duduk di samping Gara. Wajahnya murung dan ia terdiam selama perjalanan.


"Kenapa diam?" Tanya Gara, tetap fokus pada jalanan.


"Tidak kenapa."


"Apa aku telah mematahkan semangat mu karena tidak membawa Darren dan Darrel?"


"Kau sudah tahu. Kenapa bertanya?"


Gara tersenyum. "Huh, ternyata kau bisa bersikap cuek. Aku suka."


Setelah perbincangan singkat itu, Gara dan Alula sama-sama terdiam, hingga mobil yang mereka tumpangi tiba di Mall. Gara berjalan dengan Alula yang berada di belakangnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik menatap Alula.


"Jalan di samping ku! Jangan di belakang!" Ucap Gara, sambil menarik Alula agar sejajar dengannya.


Orang-orang yang berlalu-lalang menatap mereka dengan menahan senyum. Tak jarang, ada yang memuji Gara atau pun Alula secara terang-terangan.


Sekali lagi ku dengar kau memuji Alula, akan ku bunuh kau. Seperti itulah seorang lelaki yang mengenakan kaos biru mengartikan tatapan tajam Gara padanya, karena berani memuji Alula.


Langkah Gara dan Alula terhenti saat sampai di caffe. Mereka di sambut hangat oleh klien yang membuat janji dengan Gara.


"Terima kasih tuan sudah berkenan untuk menemui kami." Ujar seorang lelaki denagn tatapan mata yang hanya tertuju pada Gara. Ia benar-benar menjaga pandanagannya dari Alula.


"Ya. Bacakan kontraknya!"


"La-langsung baca kontraknya?" Tanya lelaki tersebut. Ia tidak percaya jika Gara langsung meminta kontraknya tanpa mendengarkan pemaparannya. Ia tidak tahu saja, jika sekretaris Kenan sudah menginfokan hal-hal penting pelusahaannya pada Gara.


"Saya tidak punya banyak waktu."


Lelaki tersebut segera membaca kontraknya. Gara dan Alula mendengarkannya dengan baik. Kemudian Gara menandatangi kontrak tersebut.


"Terima kasih tuan."


"Hmmm."


Lelaki itu lalu berpamitan pergi dengan hati bahagia. Gara menatap Alula yang juga menatapnya dengan kening yang berkerut heran.


"Ada apa?" Tanya Gara.


"Tidak. Aku hanya heran, tidak biasanya kau menyetujui kerja sama dan menandatangani kontrak secepat ini."

__ADS_1


"Aku rasa dia lelaki baik. Dia tidak mengalihkan pandangannya ke arah mu sejak kita tiba disini."


Alula terdiam. Jadi, apakah karena lelaki itu tidak menatapnya, Gara menyetujui kerja samanya. Banar-benar di luar dugaan.


"Kau bisa mengendarai mobil kan?" Tanya Gara menarik Alula menatapnya.


"Bisa."


"Pakailah mobil ku untuk pulang. Kita tidak searah. Aku akan ke luar kota bersama Kenan." Gara memberikan kunci mobilnya pada Alula.


"Pa-pakai mobil mu? Ka-kau ke luar kota. Bagaimana dengan Darren Darrel?"


"Mereka aman di rumah. Aku tidak sampai bermalam di sana. Mungkin sebentar malam sudah disini lagi."


Alula menghembuskan nafasnya lega. Gara yang melihat pun tersenyum. "Apa kau tidak rela aku tinggalkan?" Alula melotot garang.


"Tidak." Jawab Alula, cepat. "Oh ya, aku lupa mengembalikan ini." Alula mengeluarkan kartu kredit tanpa batas milik Gara yang di berikan padanya waktu itu.


"Kenapa di kembalikan? Itu sudah ku berikan untuk mu. Kartu itu sekarang milikmu."


"Tidak. Aku tidak bisa menerimanya." Tolak Alula.


Tiba-tiba wajah Gara berubah serius. "Aku tidak suka di bantah Alula." Ucapnya dingin. Alula tidak bisa membalasnya lagi. Ketakutannya pada Gara kembali muncul.


"Aku akan pergi. Tidak perlu ke kantor lagi." Uajar Gara, menarik Alula dekat padanya dan mencium kening Alula.


"Kau boleh menjemput si kembar." Sambungnya setelah melepas ciumannya. Alula hanya bisa menunduk malu. Bisa-bisanya Gara menciumnya di tempat umum seperti itu. Apalagi, beberapa pasang mata sedang menatap ke arah mereka.


Gara berjalan menjauh tanpa menghiraukan perkataan orang-orang yang melihatnya. Seandainya mereka tahu jika orang itu adalah Gara Emanuel Grisam, apakah mereka masih berani berkomentar.


***


Alula mengambil kesempatan berbelanja beberapa kebutuhannya. Saat tangannya meraih beberapa makanan ringan, tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Lula?" Panggil sesorang dari belakang, membuat Alula menoleh.


"Huh, benar tebakan ku. Ternyata itu kau."


"Kak Elisa." Sapa Alula. Ya, seorang yang menyapa Alula tadi adalah Elisa, kakaknya.


Elisa menatap Alula dari atas hingga bawah. Tatapannya sangat merendahkan Alula. "Kau terlihat berpakaian layaknya pekerja kantoran. Apa kau menjadi sekretaris seorang bos di perusahaan mu." Ujar Elisa, dengan tatapan jijiknya.


"Ya, aku bekerja sebagai sekretaris."


"Aku rasa, kau hanya lulusan SMA. Kenapa kau bisa jadi sekretaris? Apa jangan-jangan kau meiliki hubungan terlarang dengan bos mu itu."


Alula tidak menjawab lagi. Percuma menjelaskan pada Elisa jika ia berjuang untuk berkuliah dan bertahan hidup.


"Ngomong-ngomong, apa kabar dengan bayi haram yang kau kandung waktu itu? Apa kau menggurkannya, atau... membuangnya?"


Alula marah mendengar perkataan Elisa, yang menyebut bayi haram. Namun setenang mungkin ia mencoba mengendalikan amarahnya.


"Mereka masih ada dan tumbuh sehat." Jawab Alula, tenang. Elisa mengepalakn tangannya. Sikap Alula yang tidak terpancing emosi, membuatnya kesal.


"Oh ya, aku sudah bertunangan dengan Rendra." Elisa dengan sengaja memperlihatkan cincin yang di sematkan Renda di jemarinya.


Benar-benar di luar dugaan Elisa. Alula bukannya sedih, tapi malah tersenyum. "Sudah sekian lama kalian bersama, aku pikir kalian sudah menikah. Ternyata masih bertunangan."


Perkataan Alula benar-benar menusuk tepat di hati Elisa. Ia kembali teringat dengan peristiwa kepergoknya Renda dan sekretarisnya oleh dirinya. Bahkan, pertunangan itu karena Elisa yang mendesaknya.


"Kau harus tahu kak, orang yang tidak setia pada satu hati, akan tidak setia pada hati lainnya. Ia akan berhenti saat benar-benar menemukan yang tepat."


"Itu berlaku untuk mu. Rendra akan selalu setia padaku."

__ADS_1


"Terserah kakak. Asal kak Elisa tahu, penghianat yang bertemu penghianat, akan saling menghianati." Tutur Alula, kemudian pergi membawa barang belanjaannya.


__ADS_2