Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Viko


__ADS_3

Alula menuruni tangga menuju dapur. Rumah yang di tempati Ginanjar ini tak kalah besarnya dengan rumah milik Gara. Ia melangkah pelan menuju dapur sambil membawa botol minum milik calon Ayah mertuanya.


Rumah ini juga cukup banyak pelayan. Namun, tak ada satupun yang mendekat ke arah dapur. Beruntung Gara sudah menjelaskan arah menuju dapur padanya. Jika tidak, ia akan sungkan bertanya pada pelayan-pelayan itu.


"Untuk apa kau kesini?" Suara dingin itu membuat Alula terkejut.


Di kursi meja makan, Viko duduk sambil menatap ke arah pintu masuk dapur.


"Aku mengambil air untuk Ayah." Jawab Alula, tenang. Ia berjalan dan menuangkan air ke botol minum yang ia pegang.


Viko tersenyum miring. "Kau memanggilnya Ayah? Apa sudah pantas?"


Alula menutup botol yang sudah terisi penuh, lalu berbalik menatap Viko. "Ayah yang memintaku memanggilnya Ayah. Dan itu yang membuatku meresa pantas memanggilnya Ayah, walaupun belum resmi menjadi menantunya."


"Jangan sampai kau hanya menginginkan uang keluarga ini seperti wanita-wanita di luar sana."


"Aku bukan mereka." Balas Alula dan berbaik hendak keluar. Namun ia menghentikan niatnya dan kembali menatap Viko.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Kau tidak perlu menyembunyikannya. Dia bukan orang jahat yang tidak akan menerimamu. Tidak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya." Ujar Alula kemudian pergi.


Aku bisa merasakan rasa sayangmu pada Ayah. Raut wajahmu di dua kali pertemuan kita sudah bisa menjelaskan semuanya. Kau tidak berhak menyembunyikan cintamu dan memilih mendapatkan kebencian dari Ayah. Kau pantas mendapat balasan cinta Ayah. Batin Alula.


Viko hanya bisa terdiam dan menatap punggung Alula yang mulai menjauh. Hatinya bimbang mendengar semua yang Alula katakan. Bagaimana wanita itu bisa mengetahui perasaannya. Padahal, selama ini ia sudah sangat rapih menyembunyikannya. Tidak ada seorang pun yang tahu jika ia menyayangi Ayahnya. Yang mereka lihat, dia hanyalah anak yang nakal, merepotkan dan membenci Ayahnya sendiri.


Alula yang menaiki tangga menuju kamar Ginanjar pun terhenti. Disana sudah ada Gara yang baru saja menuruni satu anak tangga. Lelaki itu juga terdiam menatap Alula.


"Kenapa lama?" Tanyanya saat Alula berada tepat di depannya.


"Aku bertemu Viko." Alula jujur. Ia tidak ingin membuat Gara marah lagi padanya.


"Viko?"


"Iya. Tapi, dia tidak melakukan sesuatu padaku. Dia hanya berdiam diri di meja makan."


"Jika berdiam diri, kenapa kamu bisa selama itu di dapur? Apa kamu tersesat menuju dapur? Tapi, aku rasa tidak mungkin. Kamu pintar memahami penjelasanku."


"Gara, dengarkan aku. Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti tanpa melewatkan satupun. Aku janji. Tapi, ayo antarkan dulu airnya pada Ayah." Ucap Alula lembut.


"Baiklah. Kamu sudah berjanji. Ayo ke kamar Ayah."


***


Darren, Darrel dan Gio sudah berada di kamar masing-masing. Sementara Gara, dia masih berada di kamar Alula. Malam ini mereka menginap di rumah Ginanjar. Laura, wanita itu belum pulang sejak tadi.


"Mulut anak itu benar-benar kurang ajar." Kesal Gara setelah mendengar cerita Alula.


"Jangan marah dulu. Aku belum selesai bercerita."


"Iya. Lanjutkan."


"Aku mengatakan sesuatu padanya agar ia sadar dan mau menunjukkan perasaannya."


"Perasaan? Perasaan apa? Perasaan suka padamu?" Gara tak terima. Rasa kesalnya bertambah.


"Tidak. Dengarkan dulu." Ucap Alula. "Aku bisa melihat bagaimana sayangnya Viko pada Ayah. Dia menyembunyikannya dan berusaha membuat Ayah tidak suka padanya."


"Aku tidak percaya."


"Aku percaya dan yakin. Saat hari lamaran itu, aku melihat tatapan sayang Viko pada Ayah. Aku juga melihat wajah sendu Viko saat Ayah berbicara dengan hangat padamu. Dan hari ini, perubahan wajah Viko sangat jelas saat mengatakan asma Ayah kambuh."


"Kamu sangat memperhatikannya. Tapi, kenapa ia membuat ayah tidak suka padanya."


"Itu yang aku pikirkan. Aku rasa, dia malu dan merasa tidak pantas. Mungkin ada faktor lain yang membuatnya merasa seperti itu." Ujar Alula.


Wanita itu menoleh pada Gara. "Gara."


"Hmmm." Panggilannya tak membuat Gara balas menatapnya.


"Bicaralah padanya." Ucapan itu sontak membuat Gara menoleh padanya. Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Huufth... Bicaralah baik-baik padanya. Bagimana pun, dia adik kamu. Dia anak yang baik. Hanya saja ada yang salah dengan jalan pikirnya. Kamu sebagai keluarganya, sebagai kakak juga bertanggung jawab mendidiknya. Jangan biarkan dia merasa kehilangan kasih sayang orang tuanya. Kita tidak pernah tahu bagaimana Ibunya memberinya kasih sayang. Dan tugas kita, membantu dia mendapatkan yang saharusnya ia dapatkan."


Gara terdiam sejenak, lalu mengusap pelan rambut Alula. Ia tersenyum menatap wanita itu. "Baiklah. Aku akan mencobanya."


"Terima kasih." Ujar Alula, memeluk Gara.


"Hanya itu ucapan terima kasihmu?"


Alula melonggarkan pelukannya, lalu menatap Gara. "Terus?"


"Berikan satu ciuman untukku."


"Hoaam... Aku sangat mengantuk. Lain kali saja, ya?" Alula mencoba menghindar.


"Apa hubungannya? Kamu cukup menciumku sebentar kemudian tidur. Apa kamu akan susah tidur jika menciumku?"


"Jangan sembarangan."


"Ya udah, ayo! Anggap saja sebagai ucapan selamat tidur." Ucap Gara. Ia mendekatkan pipinya agar bisa di cium Alula.


Wanita itu perlahan mendekatkan wajahnya pada Gara. Saat wajahnya hampir menyentuh pipi Gara, lelaki itu malah membalik wajahnya ke arah Alula. Membuat wanita itu terkejut, karena bukan pipi Gara yang ia cium, melainkan bibir Gara.


"Kenapa kamu berbalik?" Tanya Alula sesaat setelah menjauhkan wajahnya dari Gara.


"Aku sengaja." Jawabnya santai. "Sudah. Ayo tidur. Aku akan kembali." Lanjutnya kemudian mengecup kening Alula, dan berjalan keluar dengan kekehan kecilnya.


Aku tidak salah pilih wanita. Batin Gara.


Sementara di depan kamar Ginanjar, Viko mondar mandir antara ingin masuk atau kembali ke kamarnya.


"Bagaimana ini? Apa Ayah sudah tidur atau belum?" Gumam Viko.


"Sudahlah aku masuk saja." Lanjutnya kemudian masuk ke kamar Ginanjar.


Viko menutup pintu dan berjalan mendekati ranjang. Dilihatnya wajah Ginanjar yang sudah terlelap.


"Aku tahu, Ayah tidak pernah cinta sama Ibu. Aku juga tahu, Ibu hanya memanfaatkan Ayah untuk kesenangan hidupnya. Tapi, apa kalian pernah berpikir tetang aku. Aku menyayangi kalian, terutama Ayah. Tapi, itu tidak pernah bisa Ayah lihat. Aku tidak menyalahkan Ayah. Semua itu adalah kesalahanku. Aku sendiri yang membuat Ayah tidak melirikku sedikit pun." Ujarnya.


"Ayah tahu, apa yang membuatku tidak suka pada Gara? Itu semua karena dia yang selalu mengabaikan kasih sayang Ayah. Dia begitu sombong mengacuhkan semua kebaikan Ayah. Sementara aku, aku terus berharap bisa mendapatkan perhatian Ayah. Jika aku diberikan satu kesempatan, aku akan menghajarnya kerena melakukan itu pada Ayah."


"Semoga tidur Ayah nyenyak. Dan semoga Ayah lekas sembuh. Aku menyayangimu, Ayah. Selamat malam." Ujarnya lalu berjalan keluar.


Viko dengan pelan menutup pintu dan menuruni tangga. Saat tiba di tangga terakhir, Viko dihadapkan dengan sosok Gara yang berdiri menatapnya tanpa ekspresi.


"Ikut aku!" Ujar lelaki itu pada Viko.


"Aku tidak ada urusan denganmu. Aku sangat mengantuk."


"Kau tidak memiliki hak untuk membantah." Ujar Gara, namun Viko mengabaikannya dan terus berjalan.


"Selangkah lagi kau berjalan, keluar dari rumah ini dan jangan pernah temui Ayah."


Langkah Viko langsung berhenti. Bukan karena takut keluar dari rumah itu, melainkan ia tidak bisa jika dilarang bertemu Ayahnya.


"Ke kamarmu." Ujar Gara berjalan melewati Viko.


Lelaki itu mendengus kasar sambil memerhatikan punggung Gara yang berjalan menuju kamarnya. Dengan tampang murungnya, ia mengikuti Gara menuju kamar.


"Duduk." Perintah Gara pada Viko saat tiba di kamar Viko.


"Aku pemilik kamar ini. Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu." Balas Viko tak terima.


"Aku tidak peduli. Cepat duduk!" Viko menurut saja. Hanya saja matanya terus menatap musuh Gara.


"Apa yang kau inginkan? Jika bertanya mengenai Ibuku, dia tidak akan pulang beberapa hari kedepan. Dia sedang berlibur bersama teman-temannya." Ucap Viko begitu datar.


"Anak kecil." Ujar Gara sambil tersenyum miring.


"Usiaku sudah 21 tahun."


"Ya, tapi kau masih seperti anak kecil."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Apa menggoda calon istrimu menunjukkan aku anak kecil?"


"Huh, kau yang mengingatkanku. Aku ingin tahu kenapa kau menggoda Alula waktu itu? Bukankah kata Ibumu kau sudah memiliki kekasih."


"Huh, kekasih? Jangan percaya kata-katanya. Aku tidak memiliki kekasih. Lagi pula, aku hanya memancingmu agar menghajarku. Dan aku bisa balas mengahajarmu tanpa harus mencari alasan." Ujarnya dengan wajah kesal. Tanpa ia sadari, senyum tipis muncul di bibir Gara. Dia tak menyangka adik tirinya tersebut bisa berkata sejujur itu.


"Jadi, kau hanya ingin menghajarku?"


"Ya. Memangnya kenapa? Kau selalu membuatku kesal karena sering bersikap dingin pada Ayah." Ucapnya.


"Kau menyayanginya?"


Raut wajah Viko langsung berubah. Mulutnya terkunci rapat tak ingin menjawab pertanyaan Gara.


"Kenapa diam?" Lanjutnya.


"Pasti wanita itu yang memberitahumu kan?"


"Bukan wanita itu, tapi calon istriku."


"Sama saja." Balasnya.


Gara menarik nafasnya. Ini adalah kali pertama ia berbicara dengan Viko layaknya seorang kakak. Selama ini, ia terus mengabaikan anak itu dan membiarkannya berbuat sesuka hati. Membuat Viko menjadi sosok yang ia lihat saat ini.


"Dengar! Aku ingin berbicara serius dengan mu." Ucap Gara. Sorot matanya benar-benar berubah serius.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya. Tapi, Alula mampu merasakan perasaanmu. Dan aku percaya dengan apa katanya. Benar katamu, dia yang memberitahuku. Dia juga yang memintaku menemuimu. Dia..."


"Kau mau berbicara denganku hanya karena dia yang menyuruhmu kan?"


"Ya. Dia yang memintaku. Tapi, aku kemari juga sebagai keluargamu."


"Keluarga? Kau menganggapku keluarga?"


"Hmmm."


"Apa kau menganggapku adikmu?"


"Ya. Kenapa? Apa kau tidak suka?"


"Tidak-tidak. Aku sangat senang kau menganggapku adik."


"Kenapa kau sangat senang?"


"Jelas, aku sangat senang. Jika kau menganggapku adik, maka Ayah akan melihatku sebagai putranya. Ayah selalu menuruti semua kemauanmu." Ujarnya dengan wajah sendu. Hatinya perih jika mengingat hal itu.


"Dengar. Bagaimana pun, kau tetap putra Ayah. Sikap dingin Ayah bukan berarti tidak menganggapmu anak. Mungkin ada alasan di balik sikapnya itu. Tugasmu adalah berusaha menjadi lebih baik dan tunjukkan rasa sayangmu pada Ayah. Jangan bersembunyi dibalik sikap tak sopanmu. Buatlah Ayah tahu, bagaimana kau menyanginya."


Mata Viko berkaca mendengar setiap ucapan Gara. Kali pertama ia mendapatkan dukungan dari seseorang. Seseorang yang selama ini membuatnya merasa iri atas apa yang tidak pernah ia dapatkan.


"Terima kasih, kak." Ujar Viko, langsung memeluk Gara.


"Sudah. Kita adalah keluarga. Sudah semestinya saling mengingatkan."


Viko melepas pelukannya dan mengusap air matanya yang hampir menetes. Hal tersebut tidak terlepas dari perhatian Gara.


"Kau menangis?"


"Tidak."


"Ayolah, jujur saja. Kau mengis kan?"


"Ya. Aku menagis. Memangnya kenapa? Kau juga berbicara banyak. Biasanya kau hanya bisa berdehem, menatap tajam dan melotot."


"Kau ini, benar-benar seperti anak kecil. Sudah sana, tidur! Aku akan kembali."


"Ya. Katakan terima kasih pada kakak ipar."


"Katakan sendiri."


"Aku tidak menjamin tidak akan menggodanya."

__ADS_1


"Dan aku berjanji akan memotong lidahmu dan mencongkel matamu jika kau berani menggodanya." Ujar Gara lalu menutup pintu kamar Viko sedikit keras. Membuat lelaki 21 tahun itu terkekeh melihatnya.


Terima kasih, kekak ipar. Batin Viko.


__ADS_2