Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Sayang


__ADS_3

Suasana ruang tamu menjadi sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Darren Darrel pun ikut terdiam.


"Aku akan membuatkan minum." Alula bergegas bangun, namun ditahan oleh Gara.


"Ada pelayan, biarkan mereka yang buatkan." Alula hanya bisa menurut. Ia kembali duduk di samping Gara.


"Katakan saja, ada kepentingan apa Ayah kemari?" Gara memulai pembicaraan. Namun matanya tak melihat pada sanga Ayah. Ia memerhatikan kedua putranya kemudian Alula.


"Ayah tidak memiliki kepentingan apa-apa. Ayah hanya ingin bertemu denganmu. Kamu hanya sekali menjenguk Ayah."


"Aku tidak perlu menjenguk Ayah untuk kesekian kali. Ayah sudah ada yang mengurus. Untuk apa aku kesana?"


"Gara, Ayah tahu Ayah salah. Ayah mementingkan diri Ayah daripada mengurus kamu dan Alex. Tapi kamu harus tahu, Ayah tidak benar-benar berhenti untuk mencari Alex. Walaupun sempat terhenti, tapi sampai sekarang Ayah masih mencarinya."


Tatapan Gara langsung tertuju pada Ayahnya. Ia mencoba mencari kebohongan di mata Ayahnya. Tapi ia mendapati kejujuran atas apa yang Ayahnya ucapakan.


"Apakah Ayah tidak berbohong?" Selidiknya, masih belum yakin.


"Untuk apa Ayah berbohong. Meskipun hasilnya tetap sama, Ayah tidak pernah menyerah mencarinya. Dia anak Ayah, harus kembali pada Ayah. Hidup bersama Ayah. Ayah yakin dia masih hidup."


Entah perasaan apa yang saat ini Gara rasakan. Yang jelas, ia merasa bahagia mengetahui Ayahnya tidak pernah lupa dengan sosok adiknya yang sudah menghilang bertahun-tahun.


Ginanjar bangun dari duduknya, berpindah ke sebelah Gara. Ia menatap anaknya dan menepuk pelan bahunya.


"Maafkan Ayah. Ayah berjanji akan membawa Alex kembali untukmu dan juga mendiang Ibumu."


Gara tak bisa menahan perasaannya lagi. Ia berbalik dan memeluk Ayahnya. Perasaan bersalah pun tiba-tiba muncul. Selama ini ia sudah bersikap buruk pada Ayahnya. Berpikir jika Ayahnya adalah Ayah terburuk, Ayah yang mengabaikan anaknya demi orang baru dalam hidupnya.


"Aku juga minta maaf. Aku sudah berpikiran buruk dan bersikap kasar pada Ayah."


Ginanjar melepaskan pelukan. "Ayah sudah memaafkanmu. Jadi, kita baikan?"


"Ya, kita baikan." Jawabnya, kembali bersikap dingin.


Sebenarnya dia malu sendiri dengan sikapnya barusan. Di tambah ada Darren Darrel dan juga Alula disana. Mungkin mereka akan berpikir jika dia laki-laki aneh dengan suasana hati yang berubah-ubah.


Seorang pelayan datang dengan sebuah nampan berisi gelas dan minuman. Ia membagikannya ke lima orang majikannya.


"Silahkan minum, tuan." Ujar Alula, mempersilahkan Ayah Gara.


"Aku adalah Ayah Gara. Kamu juga harus memanggilku Ayah."


Alula tersenyum canggung. "Si-silahkan minum, Ayah."


"Hahaha... terdengar masih kaku." Balasnya. "Oh ya, sejak kapan kalian menikah?"


Alula dan Gara saling berpandangan. Hal itu mendatangakan kerutan di kening Ginanjar. Ia bingung melihat reaksi Gara dan Alula saat ia bertanya.


"Ada apa?"


"Aku dan Alula belum menikah."


"Belum menikah? Bagaimana bisa? Terus kedua anak ini?"


"Ayah ikut aku ke ruang kerja. Aku akan menjelaskan semuanya."


Ginanjar menurut saja. Ia bagun dan mengikuti langkah Gara menuju ruang kerja, meninggalkan Alula dan si kemabar di ruang tamu.


"Ibu, kakek tadi Ayahnya Ayah?" Tanya Darrel.


"Iya."


"Berarti kakek aku dan Darrel." Sambung Darren.


"Ya, kakek kalian. Kalian berdua main disini ya. Ibu mau masak biar makan bareng kakek."


"Siap Bu. Yang enak, ya?"


Alula tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Darrel.

__ADS_1


***


Gara dan Ayahnya keluar dari ruang kerja bersamaan. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang tamu. Ginanjar mengambil tempat di samping Darren.


"Cucu-cucu kakek lagi ngapain?" Darren dan Darrel mendongak, menatap laki-laki yang menyebut dirinya kakek.


"Kami mengeljakan soal ini." Darrel menunjukkan selembar keratas berisi 10 butir soal matematika untuk anak kelas 5 sekolah dasar.


Ginanjar menatap anaknya. "Katamu mereka masih taman kanak-kanak. Kenapa mengerjakan soal siswa Sekolah Dasar?"


"Entahlah, aku sering mendapati mereka mengerjakan soal yang bukan porsi mereka. Dan semua jawabnnya benar."


"Hahaha... Benarkah?" Gara mengangguk. "Benar-benar penerus Grisam."


"Kakek," Panggil Darrel.


"Ya? Ada apa nak? Kamu ingin kakek belikan sesuatu? Mainan atau apa?"


"Jangan berlebihan, Kek." Sahut Darren.


Ginanjar yang mendengarnya langsung tercengang. Selain berwajah mirip dengan Gara, Darren juga memiliki sifat jeleknya Gara.


"Darren," Alula yang baru saja datang menegurnya agar bersikap sopan pada Kakeknya. Wanita itu meletakkan makanan ringan di meja.


"Tidak masalah nak. Biarkan saja. Aku hanya kasian pada cucuku ini. Kenapa harus mewarisi sifat jelak Ayahnya." Ungkap Ginanjar.


Alula yang melihat perubahan wajah Gara menahan tawanya. Begitupun Darrel. Hanya Darren yang masih bermuka datar.


"Kenapa harus aku?"


"Ya, karena dia anakmu." Balas Ginanjar. "Oh ya nak, apa yang ingin kamu katakan tadi?"


"Aku mau tanya, Kakek sukanya dipanggil apa? Kakek atau Opa?"


"Oh itu? Senyaman kalian saja."


"Aku akan panggil Opa." Ujar Darrel.


"Aku maunya Opa."


"Kakek."


"Opa."


"Kakek."


"Op..."


"Sudah-sudah! Sudah ya, cucu-cucu kakek tersayang. Gini, Darren panggil Kakek, Kakek. Dan Darrel panggil kakek, Opa. Gimana?"


"Baiklah. Aku akan panggil Kakek, Kakek." Putus Darrel.


"Maksudnya?"


"Aku akan panggil Kakek, sama sepelti Dallen."


Ginanjar hanya mengangguk paksa. Untuk apa ia membuat pilihan tadi, jika akhirnya Darrel memutuskan mengikuti Darren.


***


Jam makan malam sudah berlalu. Kini Darren, Darrel, Alula dan Gara berdiri di halaman depan, mengantar Ginanjar pulang. Laki-laki paruh baya tersebut terus melambaikan tangannya pada keempat orang yang sedang berdiri menatapnya.


"Kapan-kapan ke rumah Kakek." Teriaknya sebelum mobil melaju.


"Kakek juga seling-seling kesini."


"Hati-hati, Kek." Tiga kata yang keluar dari mulut Darren. Sang kakek tersenyum mendengarnya.


Mobil melaju meninggalkan kediaman Gara. Keempat orang itu kembali masuk. Darren dan Darrel memungut barang-barang mereka yang berserakan di ruang tamu.

__ADS_1


"Aku sudah mengantuk." Ujar Darren.


"Aku juga mau tidul."


"Apa mau ibu temani?"


"Tidak perlu, Bu. Aku sudah besar tidak perlu ditemani."


"Baiklah. Kamu Darrel?"


Darrel menolehkan kepalanya ke arah Darren sebelum menjawab. Satu kedipan mata Darren membuatnya paham. Ia kembali menatap Ibunya.


"Aku mau belajal tidul sendili." Ucapnya.


Alula hanya bisa mengangguk. Anak kembar itu mengangkat barang-barang mereka dan membawanya menaiki tangga menuju kamar.


Alula meperhatikan kedua putranya hingga mereka memasuki kamar masing-masing. Alula yang berdiri sampai pertengahan anak tangga pun turun. Di belakangnya ada Gara yang terus mengikutinya.


Alula berhenti, membuat Gara ikut berhenti. Dengan cepat lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggang Alula. Memeluknya dari belakang dengan dagu bertopang di bahu Alula.


"Gara, kamu ngapain?"


"Peluk kamu." Jawabnya manja.


"Ish, apaan si peluk-peluk. Malu tahu diliatin pelayan."


"Biarin. Aku belum peluk kamu dari tadi." Ujarnya mengecup bahu Alula.


"Dari tadi apanya? Kamu kan udah peluk aku di depan Ayah."


"Belum puas."


"Ih dasar. Udah ah, lepasin! Malu tahu diliatin."


"Kalau malu pindah aja yuk, ke ruang kerja?"


"Apaan ke ruang kerja? Gak mau."


Gara tak menggubris ucapan Alula. Ia malah terus menciumi bahu Alula dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Alula.


"Gara."


"Hmm."


"Lepasin."


"Panggil aku kayak tadi, baru aku lepasin."


Alula cepat memutar otak. Ia ingat panggilan yang Gara maksud. "Panggilan yang mana?" Pura-pura untuk tidak mengingatnya.


"Panggilan yang tadi. Yang kamu bisikin di depan Ayah." Ucapnya semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku gak ingat."


"Nih, aku ingatin. Kamu bilangnya gini, 'Sayang, jangan marah. Biarkan Ayahmu istirahat dulu. Ayo, bicarakan semuanya dengan tenang.' Apa kamu ingat sekarang?"


Alula tersenyum dengan wajah yang memerah. Gara mengingatnya dengan baik.


"Ayolah. Ulangi sekali lagi. Aku senang mendengarnya."


"Ya. Tapi, lepaskan aku setelah itu."


"Hmmm."


"Sayang, lepaskan aku. Aku sudah sangat ngantuk."


Gara tersenyum girang. Ia mengecup bahu hingga seluruh wajah Alula. Rasanya sangat luar bisa mendengar suara lembut Alula memanggilnya sayang.


"Terima kasih sayang." Balasnya. "Ayo tidur!" Lanjutnya.

__ADS_1


"Aku ke kamar dulu." Ujar Alula, lalu berlari ke kamarnya sambil menahan senyum.


__ADS_2