Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Tamu


__ADS_3

Alula kembali dari dapur dengan beberapa kue yang di buatnya. Setelah memasak sarapan, ia menyempatkan diri membuat kue untuk Darren Darrel. Si kembar sangat suka dengan kue buatan Alula.


"Wah, Ibu membuatkannya untukku?" Ujar Darrel saat Alula meletakkan kue di meja.


"Untuk kita semua." Balas Darren.


"Ayah, ayo coba. Ayah pasti ketagihan makan kue ini."


"Apapun tentang Ibu kalian pasti buat Ayah ketagihan."


"Gara..." Sela Alula.


"Apa? Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku yang merasakannya. Jadi aku akan jujur."


Alula hanya bisa menarik nafas dan menutup wajahnya. Banyak pelayan yang berkeliaran. Dan Gara dengan tidak tahu malunya mengatakan itu.


"Permisi tuan. Di luar ada tamu."


"Siapa? Saya tidak mengundang siapapun hari ini."


Alula melihat ke arah meja dan sampingnya, mencari handphone. Ia merasa yang datang adalah Ana, Gio, Tari dan juga Sadam. Tapi tidak satupun dari keempatnya yang memberitahunya.


"Darren, apa kau melihat handphone Ibu?" Tanyanya pada Darren yang berada tepat di sampingnya.


"Ibu tidak memegang handphone sejak tadi."


"Oh iya."


"Ada apa?" Timpal Gara yang sejak tadi memperhatikan Alula dan mengabaikan pelayan yang masih berdiri menunggu jawabannya.


"Aku melupakan handphoneku di kamar."


Gara mengangguk dan beralih menatap pelayan. "Apa yang kau lakukan disini? Suruh mereka pergi saja."


"Ba..."


"Emmm... Gara. Biarkan mereka masuk. Aku takut jika itu adalah Ana, Tari, Gio juga Sadam."


"Kamu mengundang mereka?"


"Ak-aku... ingin bertemu Ana dan yang lain. Aku yakin kamu tidak akan mengizinkanku keluar untuk hal itu. Jadi, aku mengiyakan permintaan Ana untuk kemari. Maafkan aku. Aku lupa memberitahumu."


"Baiklah. Aku akan mengizinkan mereka masuk. Tapi semuanya tidak gratis. Kamu harus membayarnya nanti." Jawab Gara sambil tersenyum misterius.


"Biarkan mereka masuk." Perintahnya pada pelayan.


Si pelayan keluar dan menyampaikan perintah Gara. Tak lama, keempat tamu itu masuk.


"Auntyy..." Teriak Darrel sambil berlari dan memeluk Ana. Sementara Darren, ia juga turun dari sofa dan berjalan ke arah Gio.


"Darrel sayang, aunty kangen banget."


"Dallen juga aunty."


"Paman." Sapa Darren sambil melakukan handshake ala Gio.


"Masih ingat juga kamu, caranya." Balas Gio.


Gara yang melihatnya sedikit merasa cemburu. Darren Darrel tidak seperti ini saat bertemunya. Namun, genggaman tangan Alula membuat pimikirannya itu menghilang.


"Seakrab apapun si kembar sama mereka, si kembar tetap anakmu." Ujar Alula, membuat Gara tersenyum padanya.

__ADS_1


Gara menoleh ke arah tamunya. Matanya mulai menatap tajam ke arah Ana dan Tari. "Apa kalian ingin terus berdiri?" Suara datarnya membuat keempat orang itu tersadar dan segera menuju sofa.


"Aunty, om sama tante ini siapa?"


"Mereka teman Ibu kamu."


"Ya. Ini namanya om Sadam dan ini tante Tari. Mereka kerja di perusahaan yang sama dengan Ibu." Jelas Alula.


"Berarti kerja di perusahaan Ayah?" Timpal Darren.


"Ya, mereka berdua karyawan Ayah." Tutur Gara. Matanya tak lepas dari Ana dan Tari. Membuat Gio yang memperhatikannya tak suka.


"Kau punya Alula. Kenapa matamu memperhatikan wanita lain?" Ujar Gio tak terima.


Gara tersenyum miring. Ia menatap Darren dan Darrel. "Kalian berdua main dulu ya, ke kamar. Ayah mau bicara serius sama teman-teman Ibu. Setengah jam, baru kalian ke sini lagi." Ucap Gara lembut.


"Tidak bisa, Yah. Setengah jam itu lama." Bantah Darrel.


"Baiklah, dua puluh menit."


Darren dan Darrel setuju. Keduanya pun segera ke kamar. Membiarkan orang-orang dewasa itu mengurus urusan mereka.


Ana, Tari dan Sadam meneguk kasar ludah mereka. Perkataan Gara seperti sebuah sinyal keburukan bagi mereka. Sedangkan Gio, dia terlihat tenang di tempatnya.


"Saya ingin bertanya sesuatu pada kalian. Khusunya pada kalian berdua." Gara menunjuk Ana dan Tari. Hal ini membuat Alula bingung. Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Gara terlihat marah pada kedua perempuan itu.


Sadam dan Gio juga merasa heran. Kenapa malah Ana dan Tari? Bukannya yang laki-laki adalah mereka berdua. Biasanya dia akan cemburu saat Alula berdekatan dengan laki-laki. Kenapa malah berimabas pada Ana dan Tari.


"Siapa yang mengusulkan untuk pergi ke pernikahan Edo bersama-sama?"


"Aku yang memberi ide itu." Jawab Gio.


Ana dan Tari lagi-lagi meneguk ludah kasar. Ini adalah masalah saat pernikahan Edo berlangsung. Dan sekarang gambaran kesalahan mereka mulai terlihat.


"Gara..." Tegur Alula, memegang pelan tangan Gara.


"Jangan menghalangiku Alula!"


"A-aku dan Tari yang memilihkan baju itu untuk Alula." Jawab Ana, gugup bercampur takut.


"Tuan kami..."


"Aku tidak bertanya padamu." Ujarnya memotong ucapan Sadam.


"Apa tidak ada baju lain lagi selain baju itu? Kalian ingin membuat Alula diperhatikan banyak orang?"


"Kau ini. Seharusnya kau menghormati tamu. Bukannya marah-marah sama tamu." Ujar Gio.


"Huh, ini rumahku. Aku berhak atas semuanya."


"Ya, aku tahu. Tapi, sikapmu tidak menunjukkan kau orang yang berpendidikan."


"Aku akan membuatkan minum. Ayo, Ana, Tari, bantu aku."


"Jangan mengalihkannya Alula."


Alula mendekatkan wajahnya ke telinga Gara. Membisikkan sesuatu disana.


"Aku akan menuruti kemauanmu. Tapi, lepaskan mereka."


Gara menoleh padanya dan tersenyum. "Kamu yang mengatakannya. Aku tidak suka orang yang ingkar." Ujarnya balik berbisik. Alula hanya membalasnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Ayo Ana, Tari. Kita ke dapur."


Keduanya segera mengikuti Alula menuju dapur. Dalam hati, mereka bersyukur. Alula menyelamatkan mereka dari bahaya. Tapi mereka tidak tahu, bahaya apa yang sedang menanti Alula.


"Haaah... Syukurlah kau menyelamatkan kami. Aku sudah menahan nafasku sejak tadi." Ujar Ana.


"Ya, aku juga. Aura intimidasi tuan sangat menyeramkan."


"Jangan menganggapnya seperti itu. Sebenarnya dia sangat baik."


"Ya, sangat baik jika bersamamu. Wajahnya akan sangat dingin jika menatap kami." Balas Ana. "Tapi, tetap saja dia sangat tampan." Sambungnya sambil tersenyum membayangkan wajah Gara.


"Hus. Kau sudah punya Gio. Jangan seperti itu."


"Ya... yang selalu setia pada Sadam." Sindir Ana pelan.


Alula meletakkan beberapa gelas ke nampan. Lalu mengisinya dengan minuman yang sudah ia buat.


"Tari tolong letakkan kue ini ke tempatnya." Alula memberikan kue yang dibuatnya tadi pada Tari. Ana juga membantu Tari menyiapkan kue.


"Sudah? Ayo, kesana lagi."


Ketiga wanita itu bergegas ke ruang tamu. Alula membawa nampan, dan Ana yang membawa kue. Ana dan Tari sangat deg-degan. Mereka takut jika Gara akan kembali murka setelah melihat mereka. Namun yang mereka pikirkan sangat jauh dengan apa yang terjadi saat ini.


Gara sedang berbincang dengan Sadam dan Gio. Bukan perbincangan yang serius. Melainkan perbincangan layaknya sahabat yang baru bertemu.


"Ayo minum!" Alula meletakkan nampan kemudian duduk di sebelah Gara. Laki-laki itu menarik pinggangnya hingga lebih dekat dengannya.


"Sepertinya ada sesuatu yang aku lewatkan." Bisik Ana pada Gio.


"Ini urusan laki-laki." Balas Gio.


"Apa yang terjadi? Sepertinya suasana hati tuan berubah." Bisik Tari pada Sadam.


"Rahasia." Balas laki-laki itu, membuat Tari mencibirkan bibirnya.


"Ayo diminum." Ujar Gara, masih menahan Alula agar tidak menjauh darinya.


"Emmm... Gara, bisakah lepaskan aku sebentar? Aku ingin memanggil si kembar."


"Tidak perlu." Balasnya. "Kau, panggilkan Darren Darrel kemari." Perintahnya pada seorang pelayan yang lewat.


"Baik tuan."


Pelayan yang diperintahkan Gara segera menuju kamar si kembar.


"Permisi tuan muda. Tuan muda berdua diminta kebawah sama tuan."


Meninggalkan semua aktivitas mereka, Darren Darrel segera menuju ruang tamu. Darrel dengan semangat berlari ke pangkuan Ana. Darren, ia duduk di antara Alula dan Gara. Membuat Alula bernafas lega karena bisa terlepas dari Gara.


"Aunty, aunty sama paman seling-seling main kesini ya? Om sama tante juga."


"Iya. Nanti aunty usahain. Oh ya, Darrel sama Darrel belum kenalin diri sama om sama tante kan." Darrel mengangguk dan segera mendekat ke arah Tari dan Sadam. Darren juga ikut mendekat.


"Aku Dallel, om tante."


"Aku Darren."


"Salam kenal, Darren Darrel." Ujar Tari.


"Salam kenal, twins." Sapa Sadam.

__ADS_1


Lelaki itu sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Tari. "Setelah kita menikah, aku ingin memiliki anak seperti Darren Darrel."


Pipi Tari langsung memerah mendengar bisikan Sadam. Alula, Gara, Gio dan Ana yang memperhatikan mereka mengulum senyum melihat ekspresi Tari.


__ADS_2