Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Berubahnya Gara


__ADS_3

Sekretaris Kenan memasuki ruangan Gara dengan wajah datar. Di tangannya terdapat sebuah amplop coklat.


"Ini tuan, beberapa informasi yang anda minta."


Gara meraihnya dan membuka amplop tersebut. Beberapa lembar foto terlihat olehnya. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan sedang berdiri mengelilingi seorang anak kecil yang beitu ia kenal, Alex.


"Gimana kau bisa dapatkan ini? Selama ini, kita tidak menemukan bukti seperti ini." Ungkap Gara.


"Kali ini saya mengerahkan lebih banyak penyelidik, tuan. Mereka menemukan ini dari seorang lelaki tua. Pelaku begitu pintar menutupi semua bukti. Lelaki tua itu, mereka mengancamnya dan menghapus semua foto yang di ambilnya. Untungnya, orang tua itu sudah mengirimnya di ponsel salah satu keluarganya."


"Cari identitas mereka. Sepertinya aku mengenal dua diantaranya." Gara terus memperhatikan foto tersebut. Menatap ketiga pelaku yang menutupi wajah mereka dengan persaan Marah.


"Baik tuan." Balas sekretaris Kenan.


"Kirimkan hadiah untuk lelaki tua itu dan keluargnya." Sekretaris Kenan kembali menunduk mengiyakan.


"Bagaimana dengan persiapannya?" Sekretaris Kenan yang berniat pamit, mengurungkan niatnya. Ia lupa dengan laporannya mengenai hal satu itu.


"Semuanya sudah siap tuan."


"Bagus. Kau sudah bekerja keras selama ini. Kau boleh mengambil cuti dua hari."


"Saya akan mengambilnya jika saya butuh nanti, tuan." Tolak sekretaris Kenan. Ia tahu, tuannya banyak pekerjaan yang juga membutuhkan tenaganya. Sebagai orang yang sudah lama mendampingi Gara, ia tidak akan meninggalkannya. Meskipun ada Alula yang membantu, ia tetap tidak bisa tenang.


"Baiklah. Aku tidak masalah."


"Kalau begitu, saya izin keluar tuan."


"Ya."


Setelah pintu ruangannya tertutup kembali oleh Sekretaris Kenan, Gara mengeluarkan selembar foto dari laci dan memotretnya kembali. Kemudian ia kirimkan ke Gio.


^^^Gara^^^


^^^Ini adalah foto Alex. Jika wajahnya sama denganmu waktu kecil, sudah jelas kau adalah Alex. Tidak perlu menunggu hasil tes.^^^


Gara kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia belum cukup tenang dengan semua bukti ini. Meskipun ia tak menunjukkannya, dalam hatinya ada rasa khawatir akan terjadi sesuatu yang membahayakan orang-orang terdekatnya. Pelaku bisa saja sudah mengetahui hal ini. Selama mereka belum tertangkap, keluarganya masih terancam.


***


Jam makan siang sudah berlalu satu menit. Alula sudah memesankan makanan dan akan membawanya sendiri ke ruangan Gara.

__ADS_1


Seperti biasa, ia masuk dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun tidak ada suara yang mengizinkan masuk. Hanya keheningan yang mampu ia tangkap dari ruangan itu.


Kemana Gara? Aku tidak melihatnya keluar sejak tadi. Tapi, jika dia di dalam, kenapa tak menyuruhku masuk?


Karena penasaran, Alula akhirnya membukanya begitu saja. Dan ternyata, ada Gara di ruangan itu. Lelaki itu menatap tajam ke arah Alula. Wajahnya terlihat sangat dingin, tidak seperti biasanya saat bersama Alula.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?" Pertanyaan bernada dingin itu membuat Alula yang sedang berjalan terkesiap. Ia menghentikan langkahnya yang berada tepat didepan Gara dan berbalik menatapnya.


"Aku sudah mengetuknya tapi kamu tak mendengarnya."


"Kau mengataiku tuli? Hah?!" Bentak Gara sambil berdiri. Suaranya memenuhi ruangan. Untungnya, ruangan itu kedap suara hingga Sekretaris Kenan tak mendengarnya.


Wajah Alula memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Ini kali pertama Gara membentaknya.


"Bu-bukan begitu,"


"Lalu apa?!" Masih dengan nada yang sama, Gara bertanya.


Air mata Alula berhasil lolos namun dihapusnya dengan cepat. Gara memalingkan wajahnya ke samping dan tersenyum miring.


"Dasar cengeng." Ujarnya.


Alula masih berusaha tersenyum. Ia melanjutkan langkahnya ke sofa dan melatakkan makanan di meja depannya.


"Saya tidak lapar. Kau makan saja sendiri." Gara kembali fokus pada pekerjaannya.


"Aku tahu pekerjaanmu banyak, tapi makanlah sedikit aku akan menyuapi mu." Alula berjalan mendekati Gara dan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Gara. Namun reaksi Gara membuat Alula kembali menahan air matanya.


Lelaki itu menepis sendok tersebut dengan kasar. Membuat makanan yang ada di sendok tumpah bersamaan sendok yang terlempar.


"Saya bilang tidak lapar ya tidak lapar! Kenapa kau memaksa? Hah?!" Bentaknya. Kali ini saat Alula berada begitu dekat dengannya. Ia bisa melihat wajah wanita itu yang kembali memerah dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Seolah tidak ingin Gara melihatnya menangis, Alula dengan cepat menghapusnya. Namun air matanya tak ingin berhenti untuk jatuh.


"Kau mengganggu pekerjaanku. Sekarang kau keluar saja."


"Gara, kamu akan sakit jika tidak makan."


"Saya bilang KELUAR!!"


Alula tidak bisa bertahan di tempat itu. Melangkah ke meja dan meletakkan makanan lalu berjalan cepat ke arah pintu. Tinggal selangkah ia mendekati pintu, suara Gara kembali terdengar.

__ADS_1


"Panggilkan OB untuk membersihkan ini." Ujarnya.


Hati Alula semakin sakit. Gara seperti mengulangi rasa sakitnya saat bersama Rendra. Meski kejadiannya berbeda, tapi sakit yang Gara timbulkan jauh lebih besar dari yang Rendra berikan.


Alula menutup pelan pintu ruangan Gara dan menuju ruanganya. Ia menutup rapat pintu ruangannya. Menggigit tangannya lalu menangis agar Sekretaris Kenan tak mendengarnya.


Apa salahku? Kenapa sikapmu seperti ini? Apa karena pekerjaanmu sangat banyak? Jika benar, kamu bisa memberitahuku secara baik-baik. Aku pasti tidak akan mengganggumu.


Sepuluh menit Alula berada di ruangannya, Alula mendengar dentuman keras dari ruangan Gara. Ia mendongak, ternyata Gara yang keluar ruangan dan menutup pintu sangat keras.


Ia terus menatap Gara yang berjalan. Berpikir Gara akan menemuinya dan mengatakan alasannya. Tapi ia salah. Gara melewati ruangannya tanpa sedikitpun menoleh. Membuatnya menarik nafas panjang, berusaha untuk kuat melewati ini.


***


Sekretaris Kenan memasuki ruangan Alula dengan membawa beberapa dokumen. Ia meletakkannya di meja kerja Alula.


"Tuan meminta nona untuk menyelesaikannya hari ini."


Mendengar ucapan Sekretaris Kenan, Alula langsung menatapnya. Selama ia tinggal bersama Gara, lelaki itu tidak pernah mengizinkannya lembur. Bahkan di rumah pun Gara tak membiarkan Alula terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang belum selesai di kantor.


Tapi hari ini berbeda. Alula menghembuskan nafas dan menarik dokumen yang ada di atas meja. "Aku akan menyelesaikannya." Alula tersenyum kecil pada sekretaris Kenan.


"Dimana Gar maksudku tuan Gara?"


"Tuan sedang keluar."


"Apa aku boleh tahu kemana dia pergi?"


"Maaf nona, saya tidak berhak memberitahu nona jika tuan tidak memintanya."


"Ya aku mengerti."


"Tapi, tuan meminta nona menemuinya di rooftop jam 8 nanti."


Alula mengerutkan keningnya. "Apa aku akan lembur selama itu?"


"Jika dilihat dari berkasnya, sepertinya begitu, nona."


"Baiklah, aku akan menemuinya nanti."


Sekretaris Kenan segera keluar meninggalkan Alula bersama dokumen yang ditumpukkan diatas meja.

__ADS_1


Alula membuka satu per satu dokumen itu. Gara benar-benar membuatnya lembur hari ini.


__ADS_2