Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Ke Kantor Ayah


__ADS_3

Peristiwa yang menimpa Elisa sudah berlalu beberapa hari. Elisa juga sudah pulang dari rumah sakit. Mereka perlahan-lahan mulai sedikit lebih menerima peristiwa tersebut.


Malam sudah cukup larut. Namun, Darren masih terjaga di depan laptopnya. Tatapannya serius menatap layar laptopnya. Ia kemudian meraih handphonenya lalu mengetikkan sesuatu. Setelah apa yang dicarinya ia dapatkan, Darren mematikan handphone dan laptopnya, kemudian tertidur.


***


Pagi menjelang. Darren meraih laptop dan juga hpnya dan memasukkannya dalam tas sekolah. Ia lalu berjalan menuju ruang makan.


"Dimana Darren?" Tanya Gara. Tidak biasanya Darrel sendiri ke ruang makan.


"Darren masih bersiap, Yah." Balas Darrel.


Alisha yang kebetulan melihat Darren yang sudah berjalan ke arah meja makan, menunjuk ke arah kakaknya itu.


"Dallen..." Ujarnya sambil menunjuk ke arah Darren. Membuat Darrel dan Gara ikut menoleh. Alula yang baru dari dapur tersenyum pada anaknya itu.


"Kamu terlambat bangun hari ini, nak?" Ujar Alula.


"Iya, Bu." Jawab Darren, mengambil tempat di samping Darrel.


"Kamu begadang semalam, Ren?" Tanya Darrel.


"Hmm..."


"Buat apa?" Gara ikut bertanya.


"Main game." Balasnya santai.


Gara, Alula dan Darrel hanya menggeleng mendengar jawaban Darren. Setelah sarapan, Darren dan Darrel berpamitan ke sekolah. Begitupun Gara. Dia juga beramitan pada Alula dan Alisha.


"Ayah." Panggil Alisha. Anak itu terlihat cemberut saat Ayahnya belum juga menciumnya dan berlama-lama mencium seluruh wajah Alula.


"Hehehe... Jangan marah, ya? Kan Ayah nanti pulangnya agak lama. Jadi, isi energi dulu biar kangennya lama nanti." Ujar Gara, lalu mencium seluruh wajah putrinya itu. Membuat balita itu terkekeh.


Setelah berpamitan pada Alula dan Alisha, Gara segera menuju mobilnya. Ia mengendarainya menuju sekolah si kembar.


"Ayah lama sekali!" Protes Darrel.


"Maaf, ya? Ayah akan pulang lama hari ini. Jadi, harus isi energi dulu biar tidak kangen sama Ibu sama adek."


"Ck. Ayah isi energinya cuman sama Ibu sama adek. Sama Darrel Darren enggak kan?"


"Siapa bilang? Ayahkan punya waktu dua puluh menit isi energinya sama kalian." Darrel tak menjawabnya. Bibirnya manyun, tidak puas dengan jawaban Gara.


Darren yang ada di sampingnya tersenyum samar melihat tingkah Darren. Begitupun dengan Gara. Lelaki itu merasa gemas dengan putranya itu.


"Ya udah! Libur nanti, Ayah temani Darren Darrel main sepuasnya. Ibu sama adek tidak perlu ikut. Hanya kita bertiga."


Mendengar itu Darrel terseyum semringah. Dia merasa senang mendengar ucapan Gara. "Yes!" Senangnya. Tapi, wajahnya tiba-tiba berubah lesu. "Tapi, kasian juga adek sama Ibu. Gak apa-apa deh, mereka ikut."


"Benaran?"


Darrel mengangguk. "Iya benaran, Yah."


"Yakin mau bawa Ibu sama adek juga?"


"Iya, Yah."


"Adek suka nempel sama Ayah. Yakin ga akan cemburu kalau Ayah lebih perhatiin adek?"


"Yakin. Darrel sama Darren gak akan cemburu. Iya kan Darren?"


"Hmmm."


"Nah. Ayah dengarkan?"


"Ya udah. Liburan nanti, kita berlima ke taman bermain. Udah deal, ya?"


"Deal!" Ujar Darrel semangat.


Setelah dua puluh menit, mobil Gara tiba di sekolah si kembar. Keduanya menyalimi tangan Gara, lalu bergegas menuju kelas.


***


Setelah jam sekolah usai, Darren dan Darrel segera menuju gerbang bersama Asya. Disana, Irene juga Pak Andi sudah menunggu.

__ADS_1


"Hallo, tante." Ujar Darren dan Darrel bersamaan.


"Hallo, twins. Kalian semakin tinggi, ya?" Ucap Irene.


"Iya tante. Tiap hari minum susu. Terus olahraga sama Ayah." Jawab Darrel.


"Asya juga tinggi kan, Ma? Ya, walaupun nambahnya dikit." Ujar Asya membuat mereka terkekeh bersama. Tapi, tidak dengan Darren. Anak itu hanya menatap datar pada Asya.


"Kamu bisa aja, nak. Ya udah, ayo pulang! Darren, Darrel, Pak Andi! Kami duluan, ya?" Pamit Irene.


"Iya, nyonya." Jawab Pak Andi.


"Iya, tante." Ujar Darrel.


"Hati-hati!" Ucap Darren. Irene sempat menoleh dan tersenyum sejenak pada si kembar. Tepatnya pada Darren. Setelah itu, dia memasuki mobilnya bersama Asya.


"Daahh... Darren, Darrel."


"Daahh... Asya!" Balas Darrel.


"Ayo, Pak!" Suara Darren terdengar setelah mobil Irene menghilang. Anak itu masuk ke mobil terlebih dahulu. Setelah Darrel dan Pak Andi masuk, mobil pun berjalan menjauh dari gerbang sekolah.


"Antar kita ke kantor Ayah, Pak!" Perintah Darren. Pak Andi sempat terkejut. Tapi, dia tetap menurutinya.


"Kita ke kantor Ayah? Untuk apa?" Darrel tidak mengerti dengan maksud kakak kembarnya itu. Namun, percuma saja dia bertanya. Darren tidak sedikitpun membuka suaranya untuk menjawab.


Pak Andi menghentikan mobilnya di parkiran kantor. Ia tidak tahu, apakah kedua tuan mudanya itu sudah memberitahu tuannya atau belum. Dia harus mengawasi mereka hingga bertemu dengan tuan Gara.


Kedua anak itu turun dari mobil. Mereka langsung bergerak menuju pintu masuk kantor. Namun, Darren menghentikan langkahnya sebelum menginjak tangga menuju pintu. Hal itu membuat Darrel dan Pak Andi ikut berhenti.


"Bapak tidak perlu ikut! Bapak pulang saja!"


"Tapi, tuan muda."


"Katakan pada Ibu, kami di kantor Ayah." Ujarnya lalu berjalan. Diikuti Darrel di belakangnya.


Pak Andi menarik nafasnya. Jika Darren sudah berkata seperti itu, dia hanya bisa menurut. Tuan mudanya itu benar-benar mirip dengan tuannya, Gara.


Di dalam, karyawan-karyawan hanya bisa menatap kedua anak berseragam sekolah dasar itu dengan kekaguman. Dari wajah keduanya, sudah pasti mereka tahu jika keduanya putra dari CEO mereka, Gara Emanuel Grisam.


"Wah, mereka sangat tampan." Ujar seorang karyawan wanita.


"Sungguh? Mereka putra tuan? Aku tidak tahu. Aku juga belum pernah melihat tuan Gara."


"Kau belum pernah melihat tuan?"


"Ya! Aku baru bekerja tiga hari lalu. Tuan juga tidak pernah terlihat. Bagaimana aku bisa mengenali tuan?"


"Ya, aku lupa jika kau karyawan baru disini."


"Aaa... Kedua putra tuan sangat tampan. Aku rasa tuan juga sangat tampan."


"Kau benar! Mereka memang sangat tampan. Jadi, ayo kita kembali ke tempat kita. Kau sudah cukup melihat mereka." Ujar temannya, lalu menariknya menjauh.


Sementara di lantai atas, Gara bersama sekretaris Kenan sudah memasuki lift menuju lantai dasar untuk menjemput si kembar. Setelah Darren menyuruhnya pulang, Pak Andi langsung mengabari sekretaris Kenan.


Tak butuh waktu lama, Gara dan sekretaris Kenan pun tiba di lantai dasar. Saat pintu lift terbuka, keduanya melihat si kembar sedang berbicara dengan karyawan yang bertugas di meja resepsionis.


"Darren! Darrel!" Panggil Gara membuat kedua anak itu menoleh.


"Ayah!" Darrel langsung berlari memeluk Ayahnya. Sementara Darren, anak itu berjalan santai mendekati sang Ayah.


"Lain kali, tidak perlu meminta mereka melapor diri untuk bertemu!" Ujar Gara dengan tampang dinginnya. Dia langsung membawa dua anak itu menuju lift bersama sekretaris Kenan.


Karyawan itu mendadak pucat mendapati tatapan dingin dari Gara. Dia tidak tahu jika dua anak itu adalah putra tuannya. Dia juga salah satu karyawan baru di perusahaan tersebut. Walaupun dia sudah merasa ada kemiripan antara mereka, tetap saja dia harus mengikuti prosedur yang berlaku untuk bertemu sang tuan.


"Aku harus lebih banyak bertanya tentang keluarga tuan. Jika seperti ini terus, aku akan mati oleh tatapan mematikan tuan." Gumamnya.


***


Gara dan kedua putranya tiba di ruangan Gara. Sekretaris Kenan sudah kembali ke ruangannya. Membiarkan tuannya menghabiskan waktu bersama kedua putranya.


"Ayah tidak berpikir kalian akan kesini." Ujar Gara.


"Aku juga hanya ikut saja. Darren yang suruh Pak Andi antar kita kesini." Jelas Darrel. Perkataannya membuat Gara menoleh pada Darren.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Ada hal penting yang ingin aku tunjukkan pada Ayah."


"Apa?"


Darren membuka tasnya lalu mengeluarkan laptop dan juga handphonenya. Gara yang sejak tadi berdiri, mendekat dan duduk di samping Darren.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu."


"Tunggu dulu! Ayah, sebelum kita melihat apa yang akan Darren tunjukkan, bisakah kita memesan makanan atau camilan? Aku sudah merasa lapar."


"Maafkan Ayah, nak. Ayah lupa!" Ujarnya. Gara lalu meraih handphonenya dan mengirimkan pesan pada Sekretaris Kenan.


"Udah Ayah minta sekretaris Kenan. Tunggulah sebentar lagi."


"Oke, Yah."


"Ayo, Darren! Lanjutkan apa yang ingin kamu tunjukkan!"


Darren mengangguk dan segera menghidupkan laptopnya. Ia mulai mengotak atik laptopnya. Kemudian muncul beberapa data mengenai seseorang.


"Ini... Manager Wang?" Ujar Gara.


"Ya."


"Kamu mencari semua informasi tentangnya?"


"Ya. Seperti yang Ayah lihat! Dia memiliki tiga orang istri. Tapi, tidak memiliki anak satupun. Aku mencoba mencaritahu, apa penyebab dia tidak memiliki anak. Aku menelusuri akun media sosial istrinya. Salah satunya ada yang menuliskan ini." Darren meraih hpnya dan menunjukkan akun media sosial salah satu istri manager Wang.


"Bukan aku yang bersalah. Dialah yang bersalah. Dia pria mandul. Aku membencimu W. Kau membuat keluargamu membenciku karena tidak bisa memiliki keturunan." Gumam Gara, membaca tulisan di akun media sosial itu.


"Inisial W itu adalah manager Wang. Aku sudah mencaritahu tentang mandul, tapi masih belum paham. Aku ingun meminta penjelasan dari Ayah. Mungkin semua ini bisa membantu tante Elisa."


"Emm.. Gimana ya Ayah menjelaskan tentang mandul?" Gumam Gara. Darren dan Darrel sudah menatap Ayah mereka. Menantikan apa yang Gara beritahukan.


"Gini. Mandul itu... Tidak bisa punya anak. Walaupun udah usaha buat anaknya."


"Emang bisa Yah, buat anak?" Tanya Darrel.


"Bisa dong!" Gara langsung menutup mulutnya. Dia sudah menuntun dirinya ke jalan yang sulit. Darrel pasti tidak akan berhenti bertanya.


"Gimana caranya, Yah?"


"Eeee.... Itu...."


Tok... Tok... Tok...


Gara langsung menarik nafas lega mendengar ketukan di pintu ruangannya. "Masuk!" Ujarnya.


Sekretaris Kenan masuk dengan membawa makanan yang diminta Gara. Ia meletakkan semuanya di meja.


"Terima kasih, Paman." Ujar Darrel, langsung meraih makanan tersebut. Lupa sudah dia dengan pertanyaan yang ia lontarkan untuk Gara.


"Sama-sama, tuan muda. Tuan..."


"Pas sekali kau disini, Kenan. Carikan informasi kesehatan Manager Wang! Darren mendapat informasi jika lelaki itu mandul. Pastikan kebenarannya." Ujar Gara memotong ucapan sekretaris Kenan.


"Maaf tuan, saya baru saja menerima pesan berisi foto surat keterangan kesahatan manager Wang dari Ben. Dia mendapatkannya dari rumah sakit tempat manager Wang melakukan pemeriksaan."


"Coba berikan padaku!"


Sekretaris Kenan menunjukkan foto yang dikirim Ben. Gara mulai membacanya. Benar yang Darren katakan, manager Wang benar-benar tidak bisa memiliki anak.


"Ini berita bagus. Manager Wang benar-benar tidak bisa memiliki anak. Alula pasti akan sangat senang mendengar berita ini." Ujar Gara. Dia sudah membayangkan bagaimana ekspresi bahagia Alula nanti.


"Kalau begitu, saya permisi tuan."


"Tunggu! Batalkan meeting kita jam 3 sore nanti. Atur di hari lain. Aku akan pulang awal hari ini." Ujar Gara.


"Baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi." Ujar sekretaris Kenan.


"Ya. Terima kasih atas kerja kerasmu dan Ben!"


"Sama-sama, tuan." Balasnya lalu keluar dari ruangan tersebut .

__ADS_1


Setelah pintu ruangan kembali tertutup, Gara memeluk kedua putranya. Ia juga berterima kasih pada Darren. Bukan karena ia ingin membantu Elisa. Dia hanya ingin Alula untuk melepas beban pikirannya. Ia tidak ingin istrinya terus berpikir mengenai masalah Elisa tersebut.


Setelah semuanya selesai makan, mereka kembali. Gara memberitahu kabar itu pada Alula. Wanita itu sangat bahagia. Alula juga mengabari orang tuanya. Dan itu menjadi kabar yang paling baik untuk mereka juga Elisa.


__ADS_2