Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Rencana Gara


__ADS_3

Alula terus menekukan wajahnya sejak tadi. Meskipun begitu, tangannya tetap bergerak menyuapi Gara. Sedangkan Gara, ia makan sambil menikmati wajah Alula.


"Aku tahu aku salah. Ini semua..."


"Telan dulu makanannya." Alula memotong ucapan Gara.


Alula menyuapkan satu sendok terakhir dan memberikan air pada Gara. Lelaki itu meneguknya hingga tandas.


"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf." Ujar Gara.


"Kenapa kamu harus ke kantin? Kamu kan bisa meminta sekretaris Kenan memanggilku. Atau telpon saja, bisakan?"


"Aku tidak berpikir sampai disitu. Ini semua salah Edo."


"Kenapa menyalahkan Edo?"


"Ya memang salah dia. Dia dan Irene bermesraan di depanku. Suap-suapan. Jadinya aku kesal, terus keluar dan cari kamu."


"Huh, kau ini. Baiklah, aku memaafkanmu. Jangan ulangi lagi."


"Ya, tidak akan ku ulangi lagi." Balasnya sambil tersenyum pada Alula.


***


Darren duduk di ruang tengah sambil mengotak atik laptop milik Alula. Katanya, laptop Alula terkena virus, dan ia akan membersihkannya.


"Jam segini, Ibu sama Ayah belum pulang juga." Keluh Darrel yang berada di sisi Darren. Ia menatap sang kembaran yang sedang fokus pada laptop.


"Jika aku tidak bisa menyebut huluf itu, apa hadiahnya benalan tidak akan di kasih?"


"Hmmm..."


"Jika aku bisa, belikan sesuatu yang terbaik."


"Pasti."


Suasana menjadi hening. Darrel merebahkan tubuhnya di sofa. Diraihnya handphone dan memainkan game yang ada di sana.


Deru mobil yang memasuki garasi tak membuat fokus mereka terbagi. Dua anak itu seolah tuli. Tidak satupun dari mereka yang melirik ke arah pintu.


"Malam anak-anak Ibu." Mencium Darren dan Darrel.


"Malam, Bu." Jawab keduanya bersamaan.


"Malam anak-anak Ayah."


"Malam Yah."


Gara menghampiri Darrel dan mencium keningnya. Anak itu tak menolaknya. Dia masih berbaring dan bermain game. Dia beralih pada Darren dan mencium pipi anak itu.


"Ayaah..." Ujarnya. Namun tatapannya masih fokus pada laptop.


"Kenapa? Kau marah Ayah menciummu?"


"Tidak." Balasnya.


"Kau sedang apa?"


"Membersihkan virus di laptop Ibu."


"Tidak perlu repot-repot. Biarkan saja, nanti beli yang baru."


Mendengar ucapan Ayahnya, Darren menghentikan kegiatannya. Mematikan laptopnya dan beralih pada hp.


"Kalian sudah makan?"


"Sudah, Bu. Aku sangat lapal. Jadi, aku memaksa Dallen ikut makan. Tidak bisa menunggu Ayah sama Ibu."


"Tidak masalah. Ya sudah, Ibu mau ke kamar dulu."


Setelah kepergian Alula menuju kamar, Gara menatap kedua putranya. Anak-anaknya itu seperti marah padanya. Mereka lebih memilih bermain game di bandingkan mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Apa kalian tidak ingin berbicara sesuatu dengan Ayah?"


"Tidak." Jawab keduanya serentak.


"Apa kalian marah sama Ayah?"


"Tidak." Lagi-lagi keduanya kompak menjawab.


"Ya sudah, Ayah mau ke kamar dulu. Ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan dengan kalian. Tapi, setelah ibu tidur." Ujarnya sedikit berbisik.


Gara bangun dan menuju kamarnya. Membiarkan Darren Darrel menikmati main game mereka.


Setengah jam kemudian, Alula dan Gara kembali berkumpul bersama Darren Darrel. Setelah makan, keduanya langsung bergabung bersama si kembar.


"Ibu, kata Asya dia mau main kesini boleh tidak?"


"Boleh dong, sayang."


"Ngga boleh." Sela Darren, cepat.


"Kenapa?" Kali ini Gara yang bertanya. Heran dengan sikap Darren terhadap Asya.


"Pokoknya ngga boleh. Asya itu nyebelin."


"Engga kok. Asya baik sama Dallen."


"Ya. Ayah rasa juga begitu. Lagi pula, kamu tidak dekat dengan Asya. Kenapa bisa bilang Asya nyebelin?" Tutur Gara.


"Terserah kalian saja." Ujarnya tidak ingin memperpanjang masalah.


Darrel meletekkan handphonenya dan berbaring di pangkuan Alula. Wajahnya mendongak menatap Alula.


"Ibu, bantuin Dallel sebut huluf L."


"Ayo, coba! Er."


"El."


"El. Kenapa sulit sekali?"


"Ayo, dicoba lagi. Kamu pasti bisa."


"Bu, nanti kalau Dallel ngga bisa juga, Ibu yang minta hadiahnya dali Dallen, ya?" Bisiknya pada Alula.


"Akan Ibu usahakan." Belas Alula tak kalah berbisik.


Darren dan Gara hanya menatap dengan alis yang saling bertaut. Tidak ada sedikitpun niat untuk bertanya.


"Sudah hampir jam sepuluh. Ayo, tidur! Kalian besok sekolahkan?"


"Aku mau tidul. Tapi Ibu temani, ya?"


"Oke. Ayo kita ke kamar."


Darrel dengan antusias bangun dan langsung memeluk Alula. Wanita itu hanya terkekeh kecil. Ia sudah tahu maksud Darrel. Pasti dia diminta untuk menggendongnya ke kamar.


"Biar Ayah saja yang gendong. Kamu cukup berat. Kasian Ibu, harus naik tangga sambil gendong kamu."


"Ya sudah, ayo gendong."


Gara membawa Darrel ke pelukannya dan menaiki tangga. Di ikuti Alula yang menggandeng Darren.


Keempat orang itu berkumpul di kamar Darrel. Awalnya Darren menolak. Dia ingin tidur di kamarnya sendiri. Namun, permintaan Alula tak bisa ia tolak. Dan pada akhirnya, dia harus ikut mereka ke kamar Darrel.


"Ayah, nanti kalau ulang tahun Dallel, teman-teman Dallel sama Dallen di undang semua ya?"


"Pasti. Ayo tidur."


Darrel menurut. Beberapa saat kemudian, tidak terdengar lagi suara Darren maupun Darrel. Keduanya sudah terlelap.


"Mereka sudah tidur. Aku akan ke kamar." Ujar Alula lalu mencium kening si kembar.

__ADS_1


Saat Alula hendak turun dari ranjang, Gara menahannya. Ia tersenyum manis pada Alula.


"Kenapa?" Tanya Alula.


"Si kembar dapat kecupan. Apa aku tidak?"


"Untuk apa? Kamu sudah besar."


"Ayolah, sebagai ucapan selamat tidur."


"Tidak."


"Ya sudah, sana pergi! Aku tidak ingin lagi." Ujarnya merajuk.


Alula menarik nafas dalam. Sejak kapan Gara berubah manja seerti ini. Seperti bukan Gara saja.


"Baiklah. Ayo mendekat."


Mendengar perkataan Alula, wajahnya langsung bersinar terang. Gara dengan senang hati mendekatkan wajahnya ke arah Alula.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Gara. Membuat lelaki itu tersenyum senang. Sementara Alula, ia sudah berlari keluar. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan hal seperti itu. Dan itu membuatnya sangat malu.


"Darren, Darrel. Apa kalian benar-benar tertidur?"


"Ya, kami sudah tidul." Jawab Darrel sambil menahan senyum di bibirnya.


"Ck. Kalian ini. Ayo bangun, ayah ingin membicarakan sesuatu."


"Hehehe... maaf Yah."


"Ayah mau ngomong apa?" Darren terlihat serius.


"Ayah bicara mengenai rencana Ayah melamar Ibu kalian."


"Apa? Ayah mau lamal Ibu? Waaahhh... Tapi lamal itu apa?"


"Meminta Ibu jadi istri Ayah." Jawab Darren. Darrel menatap ayahnya, seakan meminta persetujuan Ayahnya atas jawaban Darren.


"Ya, apa yang Darren katakan benar."


"Terus, apa yang bisa kami bantu?"


"Kalian cukup beritahu Ayah, apa yang paling ibu kalian sukai? Selain jenis makanan."


"Kembang api." Jawab keduanya kompak.


"Bagus. Kalian jaga rahasia ini dari Ibu. Jangan sampai Ibu mengetahuinya."


"Siap, yah" Jawab si kembar.


Setelah membicarakan semua rencana mereka mengenai lamran untuk Alula, Darren berpamitan menuju kamarnya.


"Aku kemar dulu." Darren turun dari ranjang. Anak itu meraih laptop milik Alula yang ia bawa tadi.


"Untuk apa masih membawanya? Ayah sudah bilang, akan ayah belikan yang baru."


"Sudah ku perbaiki. Sayang jika dibuang."


"Kapan kau perbaikinya?"


"Saat Ayah mengatakan, 'tidak perlu repot-repot. Nanti ayah belikan yang baru'."


"Ck. Masih ingat saja ucapan Ayah. Ya, baiklah. Jika kamu ingin memakainya, terserah kamu."


Setelah meladeni sang Ayah, Darren kembali ke kamarnya. Tak lama, Gara juga ikut keluar dari kamar Darrel. Langkahnya menuruni tangga menuju kamar Alula.


Ia mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban dari dalam. Ia mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar Alula. Setelah itu, ia menutup rapat pintu tersebut.


"Maaf jika aku mengekangmu. Membuatmu tak nyaman. Aku hanya bisa berharap agar kau membalas perasaanku. Bukan hanya sekedar menerimaku karena masa lalu dan juga karena Darren dan Darrel. Tapi menerimaku karena benar-benar mencintaiku." Ujarnya lalu mengecup kening Alula.

__ADS_1


__ADS_2