Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Pernikahan Edo


__ADS_3

Alula berbalik pelan. Tubuh Alula terpaku melihat orang di depannya.


"Re-Rendra?" Gumam Alula pelan.


"Alula aku..."


"Baiklah para hadirin, mari kita sambut pengantin kita malam ini." Suara seorang pembawa acara menggema memotong ucapan Rendra.


Alula mengambil kesempatan. Di raihnya dengan cepat kado yang ia bawa, dan berjalan cepat menuju kerumunan orang yang mulai mengantri untuk mengucap selamat pada pasangan pengatin tersebut.


"Aku akan mendapatkan mu Alula. Kau sangat menawan dan terawat, berbeda dengan Alula yang dulu." Gumam Rendra dengan seringaiannya.


Gara sudah terlepas dari orang tua Edo. Pandangannya kembali menelusuri orang-orang yang hadir. Ia menggemelatukkan giginya saat tak mendapati Alula.


Gara berjalan menuju Edo dan Irene, juga Asya yang berdiri di antara mereka.


"Selamat." Ujar Gara, menjabat tangan Edo.


"Ck. Ucapan mu terdengar tidak tulus. Apa kau iri aku menikah duluan?"


"Cih. Untuk apa aku iri padamu? Jika aku mau, aku sudah menikah sebelum kau bertemu Irene."


"Kau selalu saja gengsi mengakuinya. Kau tau, Alula wanita yang tidak mudah berpindah hati. Mungkin dia masih menyimpan rasa untuk kekasihnya dulu."


"Kekasih?" Tanya Gara, yang memang tidak mengetahui tentang mantan kekasih Alula.


"Ya. Kau pikir apa alasan Alula ada di club malam itu? Semua itu karena ia putus dengan kekasihnya."


Sialan! Kenapa Kenan melewatkan informasi sepenting ini.


"Semoga pernikahan mu langgeng." Ucap Gara dan hendak pergi, namun di tahan Edo.


"Apa?" Tanya Gara dengan menahan kesal yang teramat.


Edo tersenyum kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Gara. "Ngomong-ngomong, aku melihat Alula tadi. Dia sangat cantik dan... Menawan." Bisik Edo yang langsung mendapat umpatan Gara.


"Edo sialan!" Umpatnya membuat Edo terkekeh.


Irene yang melihatnya hanya mengerutkan kening. Tidak tahu apa yang Edo katakan pada Gara.


"Selamat Irene."


"Terima kasih tuan Gara." Balas Irene dengan tersenyum.


"Selamat ya Asya."


"Terima kasih Paman Gara." Ucap Asya dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Wajah Gara yang kesal tadi sudah berubah sedikit melunak saat berhadapan Asya.


"Apa yang kau katakan pada tuan Gara?" Bisik Irene sambil terus menyalimi orang-orang.


"Aku tidak mengatakan apa-apa sayang. Dia saja yang cepat marah."


"Aku juga kenal tuan Gara. Dia tidak akan terlihat kesal jika tidak ada yang memancingnya."


"Aku hanya mengatakan jika Alula cantik. Dia saja yang terlalu berlebihan."


"Apa tuan suka sama Alula?"

__ADS_1


"Ya, seperti itu."


"Pantas saja dia marah. Dia tidak suka kalau ada yang memuji wanitanya. Sepertinya tuan lelaki posesif."


"Aku juga posesif, sayang." Ujar Edo menarik pinggang Irene hingga mendekat padanya. Wajah wanita itu memerah karena di saksikan banyak orang.


"Apa yang kau lakukan?"


"Berhentilah membicarakan lelaki lain. Atau akan ku cium kau di depan semua orang." Bisik Edo, membuat Irene merinding.


Gio, Ana, Alula, Tari dan Sadam yang baru berdiri mengulum senyum melihat keduanya. Pasangan pengantin baru itu seakan tak peduli dengan mereka yang berdiri.


"Ekhm." Deheman Gio membuat keduanya tersadar.


"Eh kalian." Ujar Edo, tak terlihat canggung ataupun malu.


"Selamat atas pernikahannya. Semoga kau dan Irene dapat satu lagi." Ujar Gio membuat Edo tersenyum cerah. Sementara Irene kembali merona.


"Terima kasih. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Bahkan lebih banyak lebih baik."


"Hahaha... Aku sangat megenal mu Edo. Si lelaki me... aw apaan si yang?"


"Cepetan! Orang-orang udah pada ngantri loh." Ujar Ana sudah tidak tahan dengan tingkah Gio.


"Iya-iya." Jawabnya. Gio maju menjabat tangan Irene. Tapi matanya melirik pada Edo. Kini tangannya berpindah pada Asya.


"Selamat ya gadis manis."


"Terima kasih paman." Ujar Asya.


"Maaf ya, Gio memang suka bercanda." Ujar Ana setelah menjabat tanga Irene.


"Selamat ya, Edo."


"Terima kasih dan... maaf."


"Kenapa maaf? Ayolah, aku sudah merelakan semuanya."


"Ya. Tapi, aku masih merasa tak enak padamu."


"Kau ini. Sudah! Semoga pernikahan mu bahagia dan selalu bersama sampai akhir ."


"Amiin. Semoga kau cepat menyusul." Alula hanya membalas dengan tersenyum. Ia beralih pada Irene. Wajahnya berseri-seri menatap sahabat yang baru ia kenal itu.


"Selamat ya." Ujar Alula. Matanya berkaca-kaca melihat Irene.


"Iya. Kenapa mata mu berkaca-kaca?" Irene bertanya namun tak sadar, jika ia juga sudah berkaca-kaca juga.


"Aku bahagia melihat kau saat ini. Kau melewati banyak rintangan kehidupan. Aku bahagia melihat kau bahagia." Ucap Alula tulus. Ia sudah tahu banyak mengenai kehidupan Irene. Begitupun Irene, sudah tahu banyak mengenai Alula.


"Kau juga."


Keduanya saling berpelukan. Entahlah, Alula merasa ia senasib dengan Irene. Tapi bedanya, Irene tetap bersama Ayahnya dan berjuang untuk kesembuhan sang Ayah. Namun harus menghadapi kenyataan pahit. Sementara ia, di usir sang Ayah dan tak memiliki kesempatan merawat sang Ayah. Tapi, sekarang ia bersyukur, hubungannya dengan sang Ayah kembali membaik.


Alula melepas pelukannya, lalu beralih pada Asya. "Selamat ya Asya."


"Terima kasih tante. Darren Darrel nggak ikut ya?"

__ADS_1


"Asya tahu kan Darren? Kalau Darrel katanya mau ikut kalau Darren nya ikut." Ujar Alula. Ia tidak mungkin mengatakan jika si kembar tinggal bersama Gara.


"Oh..."


"Ya sudah. Tante kesana dulu ya?"


"Oke."


Alula beranjak, membiarkan Tari dan Sadam juga yang lainnya untuk mengambil giliran. Acara pernikahan Edo dan Irene begitu meriah. Banyak yang hadir membuat suasana semakin ramai. Bahkan sang pengantin kelelahan dan sempat beristirahat.


"Irene." Panggil Edo saat mereka sedang beristirhat melayani orang-orang yang mengucapkan selamat pada mereka.


"Ya. Kenapa?"


"Aku..."


"Dimana Asya?" Potong Irene saat sadar, Asya menghilang.


"Asya sedang bersama Ayah dan Ibu."


"oh, syukurlah."


"Irene." Panggil Edo lagi. Tapi kali ini, terdengar begitu serius.


"Iya. Ada apa?"


"Aku mau mengatakan jika..."


"Jika apa?" Irene mengerutkan kening. Ia begitu penasaran dengan apa yang akan Edo katakan.


"Jika..." Edo semakin mendekatkan wajahnya pada Irene. Membuat wanita itu semakin memundurkan wajahnya. "Jika... Aku mencintai mu."


Irene tersenyum dan mendorong wajah Gio menjauh. "Aku sudah tahu." Ujarnya.


"Hahaha... Kenapa kau merona?" Goda Edo.


"Ish. Kau ini." Irene menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Aku ingin jujur pada mu. Aku yang menyebabkan Alula mengandung anak Gara."


Irene menatap serius ke arahnya. Wajahnya terlihat dingin, seakan menunjukan ia tidak suka dengan ucapan Edo.


"Aku sudah tahu." Ucapan dan senyuman Irene membuat Edo merasa heran.


"Kau sudah tahu. Apa kau tidak marah?"


"Aku tidak marah. Alula sudah menceritakan semuanya pada ku. Aku juga bersyukur karena tahu tuan Gara menyukai Alula. Aku yakin Alula akan bahagia."


"Kau sungguh tidak marah?" Edo bertanya lagi. Berusaha meyakinkan dirinya jika ia tak salah dengar.


"Iya. Awalnya aku sedikit kesal. Tapi saat Alula mengatakan ia memaafkan mu, aku merasa tidak pantas memarahi mu. Jika korbannya bisa memaafkan, kenapa aku yang hanya pendengar cerita tak mau memaafkan. Lagi pula, aku mencintai mu dengan tulus. Dan aku yakin, kau tidak akan mengulangi hal yang sama."


Edo menggenggam tangan Irene. "Terima kasih." Irene mengangguk. "Tapi..."


Tiba-tiba Edo mengecup Irene tepat di bibirnya. "Aku juga sangat mencintai mu." Lanjutnya.


Beberapa orang yang melihat aksi Edo tersenyum. Terlebih Gio, lelaki itu bahkan berteriak keras.

__ADS_1


"Sabar Edo, waktunya masih banyak. Jangan buat yang lain iri." Teriak Gio membuat orang-orang terkekeh. Dan Ana, ia hanya menggeleng dan menutup wajahnya, malu dengan tingkah aneh Gio itu.


__ADS_2