Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Kedatangan Ayah Gara


__ADS_3

..."Bahkan maut pun hanya memisahkan raga, bukan cinta."__ Gara Emanuel Grisam...


.......


.......


.......


Alula pulang dengan wajah berbinar. Ia begitu bahagia bisa bertemu Ibunya dan berbicara banyak dengannya. Ia menatap garasi. Mobil Gara belum ada disana. Berarti Gara belum pulang.


"Hai anak-anak Ibu, sedang apa?"


"Seperti yang Ibu lihat." Jawab Darren, fokus dengan bukunya.


"Ibu pulang sendili? Dimana Ayah?"


"Ayah masih di kantor." Jawab Alula. Ia meraih gambaran Darrel. "Gambaranmu samakin bagus."


"Aku selalu bellatih." Ia menjeda ucapannya lalu menatap Alula. "Oh ya Bu, nanti bantuin Dallel lagi ya?"


"Iya sayang." Alula mengacak rambutnya. "Balajar lagi, gih."


Deru mobil memasuki garasi menandakan jika Gara sudah tiba. Alula berjalan ke arah pintu dan membukakannya untuk Gara. Tak lupa, senyum manis terus bertengger di bibirnya.


Gara yang akan masuk juga ikut tersenyum melihat Alula. "Sepertinya kamu bahagia sekali."


Bukannya menjawab, Alula malah menubruk tubuh Gara dan memeluknya. "Terima kasih." Kata Alula, setelahnya. Gara membalasnya. Ia bahagia melihat Alula bahagia.


Aku bahagia melihat kamu bahagia. Aku juga bersyukur, wanita itu sudah sadar atas apa yang ia lakukan. Meskipun semua anggota keluargamu sudah menerimamu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Meski mereka memaksa, itu tidak akan terjadi. Rumahmu disini. Bersamaku dan anak-anak kita. Aku mencintaimu. Kamu milikku. Selamanya akan menjadi milikku. Bahkan maut pun hanya memisahkan raga, bukan cinta.


"Gara," Panggilan Alula menyadarkannya dari lamunannya.


"Ada apa, hmm?" Tanyanya lembut.


"Apa yang kamu lamunkan?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bahagia melihat kamu tersenyum." Ucapnya.


"Ya, aku sangat bahagia hari ini. Ayo masuk, aku akan memasakkan makan untuk kalian."


"Aku sudah ingin masuk dari tadi. Kamu yang memelukku tiba-tiba membuatku mengurungkannya. Jarang-jarangkan kamu memelukku duluan." Ujar Gara, sedikit menggoda.


"Ih, apaan si?" Memukul pelan lengan Gara.


"Hahaha... Maaf sayang, maaf."


Blush. Pipi Alula memerah mendengar panggilan sayang yang keluar dari mulut Gara. Ia merasa malu, tapi lebih ke bahagia. Gara yang melihat pun kembali terkekeh. Ia berjalan cepat, menghindari cubitan atau pukulan kecil yang akan Alula berikan.


Hampir sejam lebih Alula berkutat di dapur dan dibantu beberapa pelayan, akhirnya masakannya selesai. Setelah menyajikan makanannya, Alula memanggil si kembar juga Gara yang sedang berkumpul di ruang tengah.


"Ayo, makanannya sudah siap."


"Yey. Ayo, aku sudah sangat lapal." Ujar Darrel.


"Kau selalu lapar tiap menit." Ungkap Darren.


Darrel mengabaikan kembarannya itu dan malah memeluk Ayahnya. "Ayah, gendong."


"Ayo, Ayah gendong." Gara meraih Darrel dan menggendongnya.


"Sudah besar, masih merengek." Ucap Darren berjalan melewati Ayah Ibunya dan juga Darrel.


"Darren, kau juga mau Ayah gendong?" Anak itu tak menggubris panggilan Gara.


Alula yang melihatnya tersenyum. Ia berjalan cepat menyusul Darren. "Ayo Ibu gendong." Alula langsung meraih Darren dalam gendongannya. Membuat anak itu menatap malas Ibunya.

__ADS_1


"Bu, aku sudah besar. Tidak perlu gendong."


"Siapa bilang kamu sudah besar? Sebesar apapun kamu, kamu tetap anak kecil Ibu."


"Ya, baiklah."


***


Hari libur memang menyenangkan. Darren, Darrel, Gara dan Alula sedang berkumpul dan bermain di halaman belakang rumah.


"Ayah, tendang bolanya kesini." Teriak Darrel lantang.


"Tidak. Kamu lawan Ayah, kenapa Ayah berikan bola ini padamu?"


"Hei, ayolah! Kalian berdua payah. Tidak ada satupun yang membobol gawangku sejak tadi." Timpal Darren, tak kalah berteriak. Anak itu sedang berdiri bersandar di salah satu tiang gawangnya. Menanti bola yang sedang di perebutkan Darrel dan Gara.


"Tunggu saja, Ayah yang pertama kali memasukannya."


"Tidak! Aku yang akan memasukannya lebih dulu." Bantah Darrel. Anak itu berusaha merebut bola dari Gara.


Alula selaku penonton hanya bisa tersenyum dan berteriak pelan mendukung Darrel. Sesekali ia menyemangati Darren. Membuat Gara menekuk wajahnya karena tidak di semangati Alula.


"Goooll..." Teriak Darrel saat berhasil merebut bola dari Gara dan menendangnya ke arah gawang.


"Apanya yang gol? Lihat! Aku menangkapnya."


Wajah bahagia Darrel seketika masam. Tangannya yang terangkat ia turunkan. "Yah, gagal." Serunya lemah.


"Ayo-ayo, istirahat dulu." Panggil Alula.


Ketiga orang itu segera mendekati Alula. Mereka duduk di sebuah gazebo kecil yang memang sengaja di letakkan di halaman belakang.


"Ini," Alula memberikan masing-masing segelas jus dingin.


"Tambah, Bu." Darren menyodorkan gelasnya yang sudah kosong.


"Kau terlihat sangat haus. Padahal Ayah sama Darrel yang lari-lari. Kau hanya berdiri menanti bola di gawang."


"Namanya juga sinar matahari. Pasti panas Yah, bukan dingin."


Gara yang mendengarnya hanya bisa tersenyum masam. Ia paham maksud Darren. Anaknya itu jika mengatakan sesuatu suka menusuk hati.


"Sudah, ayo diminum. Bentar lagi jam makan siang."


"Eh benaran?" Alula mengangguk. Gara yang tak percaya melihat jam yang ada di hpnya.


"Benar. Ayo masuk, bersih-bersih dulu baru makan." Ucap Gara.


Sesuai yang Gara katakan, mereka berempat masuk dan membersihkan diri. Setelah itu mereka menyantap makan siang mereka dan beristirahat.


Pukul 16.00 si kembar bangun. Keduanya berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu. Kedua anak itu duduk dengan wajah kusut baru bangun tidur.


"Dallen, aku pengen minum." Rengek Darrel.


Tanpa banyak bicara, Darren bangkit menuju dapur dan kembali dengan sebotol air dingin.


"Dallen kamu..." Belum sempat Darrel menyelesaikan ucapannya, pintu rumah terbuka.


Seorang lelaki paruh baya masuk dengan wajah dingin yang menakutkan. Tapi, wajah dinginnya tak bertahan lama saat bertemu si kembar di ruang tamu. Tubuhnya terdiam kaku menatap dua anak lelaki tersebut.


Ya Tuhan, mereka sangat mirip Gara.


"Kakek, kakek cali siapa?"


Bukannya menjawab pertanyaan Darrel, lelaki itu malah mendekati Darren Darrel. Berjongkok agar tingginya sejajar, lalu membelai pelan puncak kepala keduanya.

__ADS_1


"Siapa nama kalian?" Tanyanya.


"Aku Darren."


"Aku Dallel."


"Maksudnya Darrel." Darren menjelaskan.


"Nama yang bagus. Dimana Ibu kalian?"


"Ibu di kamal. Ayah juga lagi tidul."


"Ayah? Maksud kalian Gara?" Si kembar mengangguk bersamaan.


Anak kurang ajar. Sejak kapan dia menikah? Kenapa tidak memberitahuku? Apa dia anggap Ayahnya sudah tiada?


"Darren Darrel, kalian..." Alula yang baru saja bangun dan hendak menemui si kembar, hanya bisa terdiam menatap anaknya dan seorang lelaki di depannya.


Lelaki paruh baya yang merupakan Ayah Gara, Ginanjar pun berdiri menatap Alula. "Apa kau Ibu dari anak-anak ini?"


"Iya tuan." Jawab Alula. "Maaf jika saya lancang. Apa tuan memiliki kepentingan kemari?" Ucapnya sedikit menunduk pada Ayah Gara.


"Ya. Saya ingin bertemu anak saya, Gara."


Wajah Alula langsung pias mengetahui bahwa lelaki yang berdiri di depannya adalah Ayah Gara.


"Maafkan saya tuan, saya akan memanggilnya."


"Tidak perlu."


Alula dan Ayah Gara sama-sama menoleh ke sumber suara. Terlihat Gara menuruni tangga menghampiri keduanya.


"Kenapa Ayah kemari?" Gara melingkarkan tangannya ke pinggang Alula. Perlakuan Gara tak terlepas dari tatapan Ayahnya. Alula yang merasa tak enak dan malu terhadap Ayah Gara pun berusaha melepasnya. Namun Gara tak mau melepaskannya dan malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya.


"Apa salah seorang Ayah menemui anaknya?"


Gara tersenyum miring. "Huh, aku pikir karena wanita itu Ayah datang kemari."


"Wanita? Maksudmu Laura?"


"Ya, siapa lagi? Bukankah dia istri tersayang Ayah? Dan... dimana anak kesayangan Ayah?"


"Gara!" Ginanjar mulai tersulut emosi.


Alula yang merasakan hawa-hawa tak bersahabat berusaha menenangkan Gara. Ia balas melingkarkan tangannya di pinggang Gara. Mengelusnya, memberikan isyarat agar Gara lebih tenang dan tidak memancing emosi Ayahnya. Tapi Gara mengabaikannya.


"Aku benarkan Yah? Lebih mementingkan mereka dibandingkan anak Ayah sendiri."


"Kamu salah. Ayah tidak pernah..."


"Apa? Ayah tidak pernah apa? Ayah lebih memilih menuruti wanita itu dan menghentikan pencarian Alex. Itu yang Ayah bilang aku salah?!"


Ginanjar tidak bisa menjawab lagi. Jika Gara sudah mengungkit masalah itu, ia tidak bisa menyangkalnya. Ia memang bodoh. Mau-maunya ia menuruti permintaan Laura mengenai hal itu.


Darren dan Darrel yang sejak tadi berusaha mengabaikan perbincangan orang dewasa itu pun turut memperhatikan mereka. Bahkan Darrel bergeser lebih dekat Darren karena takut melihat Gara yang di penuhi amarah.


Alula yang merasakan perubahan emosi Gara pun memeluknya. Ia harus bisa menenangkan Gara. Hati kecilnya tidak tega melihat Ayah Gara.


"Sayang, jangan marah. Biarkan Ayahmu istirahat dulu. Ayo, bicarakan semuanya dengan tenang."


Bisikan Alula bagaikan angin di musim panas, begitu menyejukkan. Gara merasakan hatinya menghangat mendengar panggilan sayang Alula. Ini kali pertama Alula memanggilnya sayang.


"Baiklah, ayo kita duduk disana." Seperti sebuah keajaiban, Gara yang tadinya diliputi kabut amarah seketika berkata lembut. Ayahnya pun merasa heran sekaligus terkejut dengan perubahan sikap Gara.


"Mari tuan, kita duduk dulu." Ucap Alula mempersilahkan Ayah Gara duduk.

__ADS_1


__ADS_2