Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Lamaran


__ADS_3

Rumah Gara sudah di penuhi tamu-tamu yang di undangnya. Tidak banyak, hanya keluarga dari pihak ayah dan juga ibunya, juga temannya dan teman Alula.


Gara yang tadi hendak menemui Alula mengurungkan niatnya. Sedikit senyum terbit di wajahnya saat melihat dua orang tersayangnya memasuki rumah itu.


"Nenek, Kakek." Sapanya dengan mencium telapak tangan keduanya. Tatapannya yang dingin langsung berubah lembut saat bersama keduanya.


"Kau ini, nenek sudah bilang untuk memperkenalkannya pada nenek. Tapi kau tak pernah kembali setelah hari itu."


"Ya, aku juga sangat ingin melihat cucu mantuku. Tapi kau tidak pernah membawanya bertemu kami."


"Ya ya, aku minta maaf. Kakek dan Nenek tenang saja, aku akan membawa kalian bertemu dengannya. Ayo!" Gara segera membawa Kakek dan Neneknya menuju ruang keluarga. Disana sepi, tidak ada satupun yang berkeliaran.


"Kakek sama Nenek tunggu disini. Aku akan memanggilnya."


Gara segera melangkah menuju kamar Alula. Sejak tadi, ia sudah mendapat pesan dari Irene jika mereka sudah kembali, dan Alula berada di kamarnya.


"Alula aku..." Ucapan Gara terhenti. Tubuhnya mematung dengan mata tak berkedip menatap Alula. Wanitanya sangat cantik.


Alula yang melihatnya segera menghampiri. "Gara?" Ujarnya sambil menggoyangkan lengan Gara.


"Eh, maaf." Sadarnya. Dia melirik pintu yang sedikit terbuka. Dengan cepat ia menutupnya dan menarik Alula kepelukannya.


"Aku merindukanmu. Seharian kamu pergi, membuatku tidak fokus. Kamu juga tidak mengangkat telponku." Ujar Gara semakin memeluk Alula.


Tapi wanita itu tidak membalas ucapannya. Dia hanya memeluk Gara lebih erat dari pelukan Gara sendiri. Menahan air matanya agar tidak jatuh saat memikirkan cicin lamarannya yang hilang.


"Hei, kamu memelukku begitu erat. Ada apa?" Gara melepaskan pelukannya dan menatap Alula.


"Tidak ada apa-apa. Aku juga merindukanmu." Alula kembali memeluk Gara. Hal ini membuat Gara tersenyum. Alula tidak pernah seperti ini. Tapi ia menyukainya.


"Ada yang mau bertemu denganmu."


"Siapa?" Alula mendongak menatap Gara tanpa melepas pelukannya.


"Ada. Ayo ikut aku."


Alula dan Gara sama-sama keluar kamar dan menuju ruang tamu. Alula menatap bingung ke arah Gara saat mendapati dua orang tua duduk di sofa ruang keluarga.


"Kek, Nek. Ini Alula, Ibu si kembar."


"Ya Tuhan nak, kau sangat cantik. Pantas saja anak nakal ini sangat menginginkanmu. Ayo-ayo, sama Nenek."


Alula hanya tersenyum canggung dan ikut di samping Nenek. Kakek juga tersenyum ramah pada Alula.


"Siapa namamu, nak?" Tanya Kakek.


"Namanya Alula, Kek. Kan sudah ku beritahu tadi."


"Aku bertanya padanya, bukan padamu." Sinis Kakek.

__ADS_1


"Namaku Alula, Kek. Senang bertemu Kakek sama Nenek."


"Nak, aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku sangat penasaran saat Gara bercerita tentangmu. Aku juga ingin melihat, wanita seperti apa yang sudah meluluhkan cucuku yang berhati batu pada wanita ini. Ternyata dia menemukan wanita yang tepat. Aku yakin, kau wanita baik. Jadi, jangan buat cucuku terluka dengan menolaknya. Atau semua barang di rumah ini hancur dibuatnya." Ucap sang Nenek, sedikit bergurau.


"Neeekk..." Gara tak terima.


"Nenekmu benar. Kau selalu menghancurkan sesuatu saat sesuatu yang kau inginkan tak bisa kau miliki. Semoga kau mengubah sifatmu itu."


"Sifatku yang itu sudah hilang sejak dua puluh tahun lalu. Sekarang aku belum pernah gagal untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."


"Syukurlah, sifatmu itu sudah menghilang. Aku takut Alula akan terkejut melihat kau menangis." Ujar sang Nenek, membuka aib semasa remaja Gara.


"Neekk, sudahlah. Ayo ke ruang tamu. Acaranya akan di mulai.


"Baiklah."


Keempat orang tersebut segera ke ruang tamu, ruangan yang sudah di isi tamu-tamu undangan. Setelah tiba di ruangan tersebut, tiba-tiba lampu ruangan padam.


Dua orang yang tak Alula kenal membawa Kakek dan Nenek menjauh. Sementara tanganya terus di genggam Gara.


"Ayo, ikut aku."


"Mau kemana? Ini sangat gelap."


"Percaya padaku."


Tak banyak bicara, Alula mengikuti langkah Gara dalam gelap. Mereka berhenti. Dan saat itu juga lampu kembali menyala.


Ia menatap Gara dengan tatapan penuh tanda tanya. Dan lelaki itu hanya membalasnya dengan tersenyum.


Ada apa ini? Kenapa ada ayah sama Ibu disini? Bukankah ini acara keluarga Grisam?


"Selamat malam semuanya." Sapa Gara memulai acaranya.


"Terima kasih untuk semua yang sudah hadir. Saya tidak berbicara panjang. Sesuai isi undangan, saya meminta kalian semua menjadi saksi jika wanita di depanku ini akan menjadi bagian dari hidup saya. Saya memilihnya untuk menjadi pelengkap hidup saya."


Gara menoleh pada Alula. Di lihatnya wajah Alula. Wanita itu sudah berkaca-kaca menatap Gara.


"Alula, mungkin kamu sudah bosan mendengar kata cinta yang sering aku ucapkan. Tapi, aku tidak akan bosan untuk terus mengatakannya. Alula, aku ingin semua yang hadir menjadi saksi atas jawabanmu. Mengetahui jika kamu adalah milikku. Jadi, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku, menjadi kekasihku, teman hidupku, tempatku berbagi, dan menjadi alasan untukku selalu bahagia. Alula, maukah kamu menjadi istriku?"


Alula. Wanita itu hanya menatap Gara dengan air mata yang mulai menetes. Perlahan kepalanya mengangguk menjawab pertanyaan Gara. Membuat semua orang tersenyum, kecuali mereka yang tak ingin melihat kebahagiaan di wajah Gara.


Dengan penuh kebahagiaan, Gara menyematkan cicin yang indah di jari Alula. Kemudian mengecup keningnya begitu lama. "Terima kasih." Bisik Gara.


Dengan posesifnya, Gara memeluk pinggang Alula. Ia kembali menatap orang-orang yang hadir. "Satu yang perlu kalian tahu. Aku sudah memiliki anak bersama Alula. Jangan berpikir macam-macam mengenai Alula. Itu semua kesalahanku di masa lalu. Dan lamaranku ini bukan hanya tentang tanggung jawab. Tapi karena aku benar-benar mencintai Alula." Ujarnya lagi-lagi mengecup kening Alula.


"Darren Darrel, ayo kemari!"


Dua anak kembar itu segera mendekati orang tua mereka. Darrel dengan wajah cerianya, dan Darren dengan ekspresi dinginnya.

__ADS_1


"Aku tidak menyukai dua anak itu. Dua-duanya menyebalkan. Dan aku sangat membenci Darren. Dia bermulut pedas." Gumam Laura, berdiri bersama orang-orangnya.


***


Para tamu undangan mulai meninggalkan rumah itu. Hanya beberapa orang tersisa.


"Hai kakak ipar." Sapa Viko pada Alula. Gara yang baru kembali dari mengantar kakek neneknya langsung menatap tajam ke arah Viko.


"Sedang apa kau disini?"


"Hai, kak. Aku hanya ingin menyapa kakak ipar." Jawabnya. "Aku mulai berpikir, pantas jika kau melarang wartawan meliput dan memberitakan acara lamaranmu ini. Calon istrimu ini begitu cantik. Kau pasti tidak suka milikmu dilihat banyak orangkan? Tapi sayang, semua orang yang hadir sudah melihat kecantikan wanitamu. Dan aku rasa, aku mulai menyukainya."


"Kau!" Gara mulai geram.


"Sudah. Sudah. Jangan ribut. Ayo kita kesana saja." Lerai Alula. Wajah Gara penuh amarah. Alula takut jika Gara akan lepas kendali dan menghajar Viko.


Gara menurut dan ikut Alula menuju kamarnya. "Sudah, tenangkan dirimu. Dia hanya memancingmu agar bisa membuat keributan disini."


"Aku sangat kesal padanya." Ujarnya lalu menatap Alula. Gara membawa Alula dalam pelukannya. "Kamu tidak akan meninggalkanku kan?"


"Percayalah. Aku tidak akan melakukannya."


Alula melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Gara dengan ragu. Ia takut Gara akan marah perihal cincinnya yang hilang.


"Emm... Apa kamu tidak merasa aneh akan diriku?" Tanya Alula.


"Aneh? Kenapa?"


"Ci-cincin yang kemarin hilang. Aku tidak tahu kenapa bisa hilang. Aku menyimpannya dalam tas. Saat aku memeriksanya kembali, aku tak menemukannya. Maafkan aku."


Gara tersenyum melihatnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. "Cincin ini maksudmu?"


"Kenapa bisa ada padamu?"


"Tentu saja bisa. Jika cincin ini terus ada di jari manismu, dimana aku akan menyematkan cincin lamaran resmi ini?"


"Jadi, kamu menyuruh orang untuk mengambilnya?"


"Ya. Tepatnya aku menyuruh Tari."


"Tari? Tunggu. Apa semua ini kamu yang merencanakannya? Baju ini, apa kamu yang memesannya?"


"Ya. Maafkan aku karena membuatmu bingung."


"Ya, aku bingung. Tapi, aku juga bahagia. Terima kasih sudah melakukan semua ini untukku. Terima kasih juga sudah mau mengundang orang tuaku di acara ini."


"Tentu saja. Aku ingin kamu selalu bahagia. Meskipun aku masih sedikit sulit memaafkan ibumu, aku akan berusaha. Asalkan kamu bahagia dan nyaman."


Alula tersenyum dan langsung mengecup pipi Gara. Membuat lelaki itu terdiam dengan wajah memerah. Kali pertama Alula menciumnya tanpa harus ia memintanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." Ujar Alula sambil memeluk tubuh kaku Gara.


__ADS_2