
Hari berganti bulan. Tanpa terasa, Darren dan Darrel sudah menyelesaikan pendidikan di taman kanak-kanak mereka. Gara dan Alula mencarikan sekolah terbaik untuk si kembar. Begitupun dengan Edo dan Irene. Mereka menyekolahkan Asya di sekolah yang sama dengan Darren Darrel.
Saat ini, kedua keluarga itu sedang mendaftarkan putra putri mereka. Gara dan Edo yang paling antusias. Ini adalah kali pertama mereka melakukan hal semacam itu.
"Untuk tuan Gara, data-data kedua putra anda sudah lengkap. Begitu juga dengan tuan Edo. Semuanya sudah lengkap."
"Biayanya?" Tanya Gara dan Edo bersamaan.
"Biaya registrasi Rp. 700.000, Uang pangkal Rp. 34.000.000 dan SPP-nya Rp. 9.300.000 per 3 bulan."
"Ini!" Gara dan Edo bersamaan mengeluarkan black card milik masing-masing. Membuat guru yang bertanggung jawab di bagian pendaftaran meneguk ludahnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetaran, dia meraih kartu tersebut dan menggeseknya. Alula dan Irene beserta anak-anak mereka terduduk memperhatikan mereka. Setelah transaksi selesai, Gara dan Edo mengajak istri dan anak mereka kembali.
"Sekolah ini membuka pendaftaran online. Tapi, kedua pengusaha itu malah kemari dan mendaftarkan sendiri putra putri mereka. Apa mereka tidak sibuk? Ah, apa yang aku pikirkan? Orang kaya, bebas melakukan apa yang mereka suka." Gumam Guru tersebut.
***
Mobil Gara sudah tiba di rumah. Darren dan Darrel keluar dan langsung berjalan masuk. Sementara Gara dan Alula, keduanya jalan bergandengan sambil menatap kedua putra kembar mereka.
"Kamu sakit?" Tanya Gara saat melihat wajah Alula yang sedikit pucat.
"Tidak. Aku hanya merasa sedikit pusing."
"Ayo, aku antar ke kamar." Gara menuntun istrinya ke kamar. Membiarkan Darren Darrel di ruang tamu.
"Ayo!" Ajak Darren, membuat kening Darrel berkerut.
"Kemana?"
"Lihat Ibu." Jawabnya langsung bergegas mengikuti Gara dan Alula. Darrel pun bangun dan mengikuti Darren.
Didalam kamar, Gara dengan hati-hati membaringkan istrinya. Alula terlihat lemah. Perasaan bahagia mendaftarkan sang putra, seketika lenyap berganti rasa khawatir.
"Aku panggilkan dokter, ya?"
"Tidak perlu, aku mau kamu disini saja." Ujar Alula, memeluk Gara yang terduduk di sisi ranjang. Lelaki itu membalas mengusap pelan rambut Alula.
Tok... tok... tok...
"Ayah, apa kami boleh masuk?" Suara Darrel terdengar.
"Boleh."
Darren dan Darrel memdorong pintu dan masuk. Keduanya berjalan mendekat ke arah Gara dan Alula. Mata mereka menatap Alula yang masih setia memeluk Gara.
"Apa Ibu tidur?" Darren menatap Ayahnya.
"Ibu tidak tidur. Ibu hanya ingin peluk Ayah kalian." Jawab Alula, tanpa menunjukkan wajahnya.
"Ibu sakit? Darrel panggilin dokter ya?"
"Ibu hanya pusing. Nanti juga hilang sendiri. Ada kalian di sisi Ibu udah cukup jadi obatnya.
"Ya udah, Darrel, Darren sama Ayah disini sama Ibu. Kita gak akan keluar kecuali buat makan siang. Gimana?"
Alula melepas pelukannya dan langsung menatap bergantian kedua putranya dan Gara. Satu senyuman terukir di bibirnya. "Ibu setuju." Ujarnya kemudian mereka terkekeh bersama.
"Tapi, Darrel bolehkan ke kamar sebentar? Mau ambil hadiah dari Darren. Kita lihat sama-sama hadiahnya."
"Udah hampir dua bulan, kamu masih belum buka hadiahnya?" Darrel mengangguk mengiyakan pertanyaan Gara.
__ADS_1
"Ya sudah, cepat ambil! Ibu juga penasaran hadiah apa yang Darren kasi."
Darrel segera pergi ke kamarnya. Tak lama, Ia kembali dengan membawa kado yang Darren berikan untuknya. "Aku buka ya?" Alula dan Gara mengangguk.
Mata Darrel langsung berbinar melihat hadiah dari Gara. "Wah, ini vidio game terbaru. Bahkan belum ada di pasaran. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Orang-orang Ayah banyak. Kenapa tidak digunakan?" Balas Darren sambil menatap sang Ayah.
"Bayarnya?"
"Masuk ke tagihan kartu Ayah." Jawabnya santai.
Alula dan Gara hanya bisa mengulas senyum. Kedua putra mereka begitu menggemaskan.
Darrel terus mengamati video game yang ada di tangannya. Ia sudah tidak sabar untuk memainkannya. Matanya kemudian beralih pada sang Ayah.
"Ayah, apa boleh main disini?" Ujarnya dengan binar memohon.
Tingkah Darrel yang menggemaskan itu membuatnya tidak tahan untuk mengacak rambutnya. Dan akhirnya, Gara benar-benar mengacak rambut putranya. "Boleh, nak."
Darrel langsung melompat senang. Mereka akan bermain menggunakan Play Station 5 milik sang Ayah. Sangat cocok dengan vidio game yang Darren berikan. Tidak banyak yang tahu, jika CEO Grisam Group itu sangat suka bermain Game. Buktinya, ia memliki Play Station 5 yang cukup sulit didapatkan. Dia bahkan meletakkan barang itu di kamarnya.
Si kembar mulai fokus bermain. Semenatara Gara, dia memilih menemani Alula dan sesekali memperhatikan mereka. Hingga tak terasa, dia ikut terpejam bersama sang istri.
"Ayah... Ayah... bangun! Sudah waktunya makan siang." Ujar Darrel, sambil mengguncang tubuh Ayahnya.
"Ayah..."
"Hmmm?"
"Ayo, kita makan siang."
"Iya, kalian duluan. Ayah bangunin Ibu dulu." Si kembar mengangguk dan segera keluar menuju ruang makan.
Lelaki itu tersenyum lalu mengecup singkat bibirnya. "Ayo, bangun! Si kembar udah tungguin di ruang makan."
Alula perlahan membuka matanya. "Emm... Kamu temani mereka makan dulu. Aku masih mau tidur."
"Jangan gitu, ya? Ayo, makan dulu! Nanti maagnya kambuh."
"Aku benaran lagi gak mau makan. Aku masih lemas, mau tidur lagi. Kamu temanin mereka ya, sayang?" Ujar Alula. Wajah Gara langsung bersemu. Sejak pertama menikah, ini kali pertama Alula memanggilnya sayang.
"Ya udah, aku turun. Tapi, aku bawain makanan kamu makan ya?"
"Iya."
"Sekarang tidur lagi. Aku mau turun." Saat Gara hendak menurunkan kakinya menyentuh lantai, Alula menahan tangannya.
Cup... Alula mengecup bibirnya. "Makan yang banyak. Darrel Darrel juga." Ujarnya lalu kembali berbaring.
Wajah Gara yang bersemu semakin memerah. Entah apa yang terjadi pada istrinya, ia tidak tahu. Tapi, ia sangat bahagia mendapat perlakuan manis dari Alula.
***
Gara, Alula, Gio juga Darren dan Darrel sudah berada di meja makan. Beberapa menu sarapan pagi sudah terhidang di meja makan. Alula mengambil sarapan untuk piring Gara, Darren dan Darrel. Sementara Gio, dia menatap keluarga kecil itu dengan ekspresi sedih yang dibuat-buatnya.
"Ah, memang nasib yang belum punya istri. Sarapan ambil sendiri. Makan sendiri, ti..."
"Kita disini lho, Paman. Bukan paman makan sendiri, ada kami disini yang temanin Paman." Potong Darrel yang dibalas cengiran oleh Gio.
"Hehehe... Paman hanya bercanda." Balasnya.
__ADS_1
Gara yang makanannya sudah terisi di piring hanya bisa menggeleng melihat tingkah Paman dan ponakan itu. Matanya tiba-tiba teralih pada piring Alula yang masih kosong.
"Kenapa belum ada makanan? Biar aku yang ambil." Gara segera meletakkan makanan di piring Alula. Bukannya menyambutnya dengan senang, Alula malah merasa ingin muntah.
"Hoek..." Alula langsung saja bangun dan berlari ke kamar mandi bawah yang tak jauh dari ruang makan. Ia berdiri didepan wastafel sambil berusaha mengeluarkan sesuatu yang bergejolak di perutnya.
"Kamu kenapa, sayang?" Gara mengusap-usap tengkuk Alula.
"Aku... hoek... hoek..." Tidak ada apa-apa yang keluar. Hanya sedikit cairan bening.
"Aku pusing, Gara." Tubuh Alula begitu lemas dan pusing. Gara yang tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya langsung menggendongnya keluar.
"Gio, siapkan mobil!" Lelaki itu langsung menurut perintah kakaknya. Darren Darrel pun segera meneguk air dan berjalan mengikuti sang Ayah.
"Ayo, Gio!" Ujar Gara setelah semuaya berada di dalam mobil.
Gio terus melajukan mobil sedikit lebih cepat dari laju sedangnya. Mempersingkat waktu untuk tiba di rumah sakit.
Gara segera menggendong istrinya memasuki rumah sakit. Sebenarnya, Alula meminta agar dia dibiarkan jalan sendiri. Tapi Gara tetaplah Gara. Dia dengan segala bentuk keras kepalanya menolak permintaan Alula.
"Dokter, cepat periksa istri saya." Ujar Gara. Si dokter hanya mengangguk.
Beberapa menit menunggu di luar, pintu ruangan kembali terbuka. Gara, Gio, Darren dan Darrel segera menghampiri dokter.
"Bagaiama, dok? Apa yang terjadi dengan istri saya?"
"Mari, tuan. Ikut saya sebentar. Akan saya jelaskan di dalam."
Gara langsung mengikuti dokter masuk. Melihat Alula terduduk di kursi, Gara menarik nafas lega. Ia merangkul sang istri dan duduk di sebelahnya.
"Begini, tuan. Nyonya tidak ada masalah apa-apa. Nyonya sedang mengandung."
"Mengandung? Ma-maksud dokter, istri saya hamil?"
"Iya tuan, kehamilannya sudah berjalan 4 minggu." Jawaban sang dokter bagai angin di gurun pasir. Gara langsung saja memeluk Alula. Ia sangat bahagia mendengar ucapan dokter. Hatinya terus berucap syukur. Tuhan memberikannya kesempatan untuk menebus kesalahannya yang lalu.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, sayang." Ujar Gara, mengecup kening Alula berkali-kali. Wanita itu hanya membalas dengan tersenyum. Ia begitu bahagia, hingga tak mampu membendung air matanya. Gara mengusap pelan air mata bahagia istrinya.
Terima kasih, Tuhan, telah menitipkan satu lagi untuk melengkapi kehidupanku. Ujar Alula dalam hati.
"Selamat ya, tuan, nyonya. Ini hasil USGnya." Gara menerimanya dengan hati yang bergetar bahagia.
"Janin di usia 4 minggu, masih sebesar biji kacang hijau." Dokter menunjukkannya melalui hasil USG pada pasangan suami istri itu. Kedua tersenyum bahagia. Ini kali pertama dia melihat hal seperti ini. Saat mengandung si kembar dulu, dia tidak melakukan USG. Bahkan untuk periksa kandungan saja dia jarang melakukannya karena biaya yang terbatas.
"Nyonya disarankan untuk menjaga pola makan. Perhatikan makanan yang akan di konsumsi. Kurangi asupan kafein. Hindari makanan yang di masak setengah matang. Hindari juga jenis-jenis ikan dengan tingkat merkuri tinggi. Kehamilan di minggu-minggu awal ini sangat rentan."
"Baik, dok." Jawab Gara patuh.
"Ya sudah. Kalau begitu, sekali lagi saya ucapkan selamat."
"Terima kasih, dok." Ujar Alula.
Alula dan Gara bergegas keluar ruangan. Gio, Darren dan Darrel dengan cepat menghampiri mereka.
"Bagaimana, kak? Apa yang terjadi sama kakak Ipar?"
Gara tersenyum sebelum menjawab pertanyaan adiknya. Membuat Gio, Darren dan Darrel mengerutkan kening mereka.
"Ada apa, Ayah?" Timpal Darrel, penasaran.
"Ibu, hamil, nak. Alula hamil Gio." Jawaban itu memunculkan senyum di bibir Gio. Tapi, tidak dengan dua anak itu. Mereka masih terlihat bingung dengan ucapan Gara.
__ADS_1
"Maksud Ayah?" Tanya Darren.
"Ibu kalian hamil. Sudah ada calon adek di perut Ibu." Darren mengulas senyum tipis mendengar ucapan Gara. Sementara Darrel, anak itu terlihat diam sambil memandang wajah bahagia yang Gara tunjukkan.