Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Ayo Menikah


__ADS_3

Darren Darrel duduk di antara Alula dan Gara. Darrel mengusap keringat yang ada di jidatnya. Ia menoleh pada Ayahnya.


"Ayah, nanti kesini lagi ya? Seru."


"Oke."


"Aku suka bermain mobil-mobilan tadi." Celetuk Darren. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya saat ini. Tapi Darrel, Gara dan Alula bisa melihat senyum lepas Darren saat bermain mobil-mobilan bersama Darrel dan Gara tadi.


"Kau menyukainya?" Darren mengangguk kecil. "Ayah akan belikan itu untuk kita. Kita bisa bermain bersama di rumah nanti." Lanjut Gara yang langsung di tanggapi gelengan oleh Darren.


"Tidak perlu. Bermain disini lebih menyenangkan." Balasnya.


Alula mengeluarkan tisu dan membersihkan keringat di kening Darren lalu Darrel. Belum sempat ia menyimpannya lagi, Gara sudah memajukan wajahnya ke arah Alula. Wanita itu mengernyitkan keningnya.


"Aku juga berkeringat." Ujar Gara.


Alula meraih selembar tisu dan memberikannya pada Gara. Tapi lelaki itu tak mengambilnya.


"Bersihkan keringatku!" Perintah Gara dengan mata yang menatap tepat di bola mata Alula.


Alula menggaruk keningnya. Ia celingukan melihat orang-orang di sekitarnya. Ia tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu sebelumnya. Bahkan saat berpacaran dengan Rendra.


"Tidak perlu malu. Aku hanya memintamu menyeka keringatku menggunakan tisu. Bukan menyuruhmu menciumku." Ujar Gara yang berhasil membuat pipi Alula merona lagi.


Perlahan tangan Alula terangkat menuju wajah Gara. Dengan lembut ia menyeka keringat yang ada di setiap sisi wajah Gara. Gara terus memperhatikannya dengan senyuman yang tak pernah pudar.


Sekeras apapun kau menolakku, aku akan tetap menjadikan kau milikku. Batin Gara.


Setelah membersihkannya, Alula bergegas ke tempat sampah dan membuang tisu bekas tersebut.


"Ayo kita makan dulu!" Ajak Gara saat Alula sudah kembali.


"Makan dimana?" Tanya Darrel, cepat.


"Di caffe, gimana?"


"Boleh. Tapi caffe outdoor saja. Badan kalian banyak keringat, tidak baik di tempat tertutup." Saran Alula.


"Aku setuju." Sambung Darren.


Keempat orang tersebut bergegas menuju parkiran. Gara melajukan mobil mereka menuju cafe yang Alula maksudkan.


Tak lama kemudian, mereka tiba di cafe yang Alula maksudkan. Darrel menghirup udara banyak-banyak saat tiba di cafe. Senyum terus melekat di wajah tampannya itu.


"Ibu benal. Disini sangat sejuk." Ujar Darrel sambil berjalan menuju meja yang akan mereka tempati.


Gara menatap nolehkan kepalanya ke arah pelayan dan memanggilnya. Mereka memesan makanan masing-masing.


"Ayah, aku mau tanya sesuatu." Ucap Darren dengan tiba-tiba.


"Katakan!" Balas Gara.


"Siapa wanita yang bernama Laura?"


"Laura? Dia bukan siapa-siapa. Hanya orang luar yang berusaha masuk ke keluarga Ayah."


"Tapi, dia mengatakan jika ia nyonya di lumah Ayah."


Gara terkekeh mendengarnya. "hehe... Itu katanya, bukan kata Ayah. Rumah itu milik Ibu, kamu dan Darren. Tidak ada lagi pemilik rumah itu selain kalian. Dan yang harus kalian tahu, nyonya rumah itu hanyalah Alula, Ibu kalian. Bukan Laura atau pun orang lain."


Mereka bertiga terdiam. Jawaban Gara menjelaskan jika mereka bertiga berarti untuknya. Tapi keraguan itu selalu muncul dalam hati Alula.

__ADS_1


"Permisi... Makanannya." Suara seorang pelayan memecah keterdiaman mereka.


"Terima kasih." Ucap Alula dan tersenyum pada pelayan cafe.


"Ayo makan!" Ucap Gara yang langsung di tanggapi anggukkan cepat oleh Darrel.


***


Hampir seharian mereka bermain, membuat kedua bocah kembar itu kelelahan. Mereka tidur lebih awal malam ini. Alula keluar dari kamar Darrel menuju kamar Darren. Tak lama ia keluar lagi hendak ke kamarnya. Belum sempat kakinya menyentuh anak tangga, suara Gara menghentikannya.


"Aku ingin berbicara denganmu."


Sontak Alula menoleh dan mendapati Gara bersender pada dinding tak jauh darinya.


"Mau bicara apa? Aku sangat lelah se..."


"Jangan memberi alasan. Aku juga lelah hari ini." Potong Gara begitu dingin. Membuat Alula mengalihkan pandangannya ke lain tempat dan mengangguk setuju.


"Ayo ke ruang tengah!"


Lagi-lagi Alula hanya mengangguk dan mengikuti langkah Gara menuruni tangga menuju ruang tengah.


Alula mengambil tempat yang sedikit lebih jauh dari Gara. Lelaki itu sedang dalam mode dingin dan menakutkan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya jika ia tak sengaja menyinggung Gara.


"Kenapa kau sangat jauh duduknya?" Alula yang tadinya menunduk langsung mendongak.


"H-hah? Di-disini lebih nyaman."


"Baiklah." Gara bangkit dan berpindah ke samping Alula. Ia duduk begitu dekat dengan Alula. Membuat Alula reflek bergeser, memberi jarak di antara mereka.


Tapi Gara tetaplah Gara. Ia tak peduli dengan rasa takut dan tak nyaman Alula. Ia terus bergeser agar lebih dekat, hingga Alula tak bisa bergeser lagi karena terhalang pembatas sofa.


"Begini gimana? Aku hanya ingin duduk berdekatan denganmu. Kau sendiri yang memojokkan dirimu. Kenapa menuduhku?"


Alula terdiam dan kembali menunduk. Saat ia ingin bagun, tangan Gara menghalanginya dengan menyatukan tangannya dengan pembatas sofa.


"Kenapa pergi? Aku ingin membicarakan sesuatu."


"Aku tidak mau mendengarnya lagi."


"Jika tidak mau, kita akan terus begini."


Alula menatapnya sebentar lalu menarik nafasnya. "lepaskan tanganmu, aku akan mendengarkannya."


Gara tersenyum dan melepasakan tangannya yang menyentuh pembatas sofa. Gara menatap dalam wajah Alula yang sedang tertunduk.


"Ayo menikah!"


Jantung Alula seakan berhenti mendengar ajakan tiba-tiba Gara. Ia menoleh menatap tepat di iris Gara. Matanya memerah berkaca-kaca.


Ekspresi Gara langsung berubah melihat mata Alula yang memerah. "K-kenapa..."


"Aku tidak suka caramu bercanda. Jika kau ingin memiliki Darren Darrel, aku akan membiarkanmu bersama mereka. Biarkan aku menjalani hidupku yang seharusnya aku jalani. Jangan mempermainkanku seperti ini." Air yang tertampung akhirnya merembes membasahi pipinya.


Gara yang tidak menyangka jika Alula akan menangis mencoba meraih wajah Alula, namun di tepis oleh wanita itu.


"Dengar! Aku tidak bercanda. Aku serius ingin menikah denganmu."


"Ya aku tahu kau serius. Kau serius menikahiku karena tidak ingin Darren Darrel pergi dari sini jika aku pergi. Kau mau mengikatku dengan segala kekuasaanmukan? Dengan segala keegoisan dan sifat aroganmu. Kau menikahiku karena rasa tanggung jawabmu pada Darren Darrel. Kau tidak perlu melakukannya. Darren Darrel akan selalu bersamamu, aku tidak akan mengambil mereka darimu. Dengan kau menyayangi mereka, itu sudah cukup bagiku." Ucap Alula, meluapkan semua isi hatinya. Air matanya tak berhenti menetes.


Gara merasa sakit melihat Alula menangis seperti ini. Rasanya ia ingin memarahi dirinya sendiri yang sudah membuat Alula berpikiran buruk padanya.

__ADS_1


Tangannya bergerak mengusap matanya sebelum genangan air itu jatuh di hadapan Alula. Di tariknya Alula kedalam pelukannya. Mendekapnya erat meskipun wanita itu meronta.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku ingin menikahimu karena perasaanku, bukan karena ada Darren Darrel di antara kita. Bagiku mereka adalah hadiah dari tuhan, cara tuhan untuk aku bersatu denganmu, hidup bersamamu. Aku benar-benar mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu."


Alula terdiam tak memberontak lagi. Ia merasakan punggungnya hangat. Ia yakin Gara sedang menangis.


Gara sedikit meregangkan pelukannya, menatap wajah Alula dengan penuh cinta. Alula juga balas menatap. Dapat ia lihat mata Gara yang memerah, meyakinkannya jika Gara benar-benar menangis.


Gara meraih kedua tangan Alula dan menggenggamnya erat. Ia bergeser dan berlutut di depan Alula. Membuat wanita itu terkejut melihatnya.


"Ap-apa yang kau lakukan?"


"Aku ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku yang sudah membuat hidupmu berantakan, merenggut masa depanmu, menyakitimu, membuatmu takut, mengusikmu, mengambil Darren Darrel darimu. Bertindak sesukaku tanpa memikirkan perasaanmu. Maafkan aku. Aku memang lelaki dingin dan kejam. Dan lelaki dingin dan kejam ini sedang mengharapkan maaf darimu. Tolong maafkan aku."


Alula mengusap air matanya yang tiba-tiba saja jatuh. Tangannya terulur memegang kedua lengan Gara, berusaha membuatnya berdiri.


"Ayo bangun! Jangan seperti ini."


Gara pun menurut dan kembali duduk di sebelah Alula. Tidak ada pembicaraan di antara mereka.


Alula melirik sebentar ke arah Gara, lalu menarik nafasnya. Ia sadar, ia tadi berlebihan. Yang terjadi tak sepenuhnya salah Gara. Ia juga ikut andil dalam masalah hidupnya. Jika ia tidak mengunjungi club malam itu, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini.


"Aku memaafkan mu. Dan... Maafkan aku juga yang sudah berlebihan menyalahkanmu. Semua yang terjadi berawal dariku. Akulah penyebabnya. Seharusnya aku tidak menyalahkanmu."


Gara mengembuskan nafasnya pelan. "Kita sama-sama salah disini." Gara menjeda ucapannya. Dia memperbaiki duduknya dan menatap lurus kedepan.


"Kau tahu, aku tidak pernah menyukai seorang wanita. Tapi saat melihatmu malam itu, ada sesuatu yang aneh yang aku rasakan. Aku sempat berfikir jika kau perempuan tidak benar. Tapi, melihat wajah polosmu yang meminta tolong membuatku menepis pikiran itu. Aku juga tidak berniat berbuat macam-macam padamu. Hanya karena merasa tidak tega padamu, aku melakukannya dan berjanji akan terus bersamamu. Selain itu aku tidak bisa membayangkan jika bukan aku yang menolongmu. Mungkin pikiran itu yang mendorongku berani melakukannya. Tapi, aku tidak menemukanmu lagi setelah kembali dari pertemuanku bersama Ayah."


"Dan aku yakin, kau pasti tahu cerita selajutnya."


Alula terdiam mendengar semuanya. Benar yang Gara katakan, ia yang memohon malam itu dan Gara yang menolongnya bukan memanfaatkannya. Jika benar Gara berniat buruk padanya, Gara tidak akan menepis tangannya dan menghindarinya.


Seketika ucapan Gara tentang bayangan jika bukan dia yang menolongnya terngiang di telinga. Alula menatap Gara yang sedang menatap kosong kedepan.


Kau benar. Aku juga tidak bisa membayangkan jika bukan kamu yang menolongku malam itu. Mungkin hidupku akan berakhir dengan sangat menyedihkan.


"Terima kasih, dan maaf atas kejadian malam itu." Tatapan Alula menatap Gara dengan penuh keberanian.


"Sudah ku bilang, kita sama-sama salah. Yang harus kita lakukan adalah memperbaikinya, mempertanggung jawabkan semuanya."


Gara mengalihkan pandangannya dan menatap Alula. Ia kembali meraih tangan Alula dan menggenggamnya erat.


"Mari kita sama-sama memperbaikinya. Memperbaiki hidup kita, memberi kebahagiaan untuk si kembar."


Alula merasakan ketulusan dari setiap ucapan Gara. Ia merasa bersalah karena sudah berpikir jika Gara hanya memanfaatkan dan mempermainkannya. Ia terlalu fokus pada perasaannya sendiri hingga lupa akan semua yang sudah Gara lakukan untuknya.


Air mata Alula kembali menetes. Namun Gara segera membersihkannya.


"Maafkan aku yang sudah berpikir buruk tentangmu. Menganggap semua yang kau lakukan hanya kebohongan. Terima kasih sudah mau memilihku sebagai pendamping hidupmu. Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi."


Tak menunggu lama, Gara segera memeluk Alula. Ia begitu bahagia mendengar kalimat yang Alula ucapkan.


"Terima kasih." Ucap Gara tanpa melepas pelukannya.


Alula tersenyum dalam tangisnya. Membalas pelukan Gara tak kalah eratnya.


Aku akan berusaha menjadi yang terbaik dalam hidupmu. Dan mencintaimu dengan sepenuh hati. Alula


Aku akan memperbaiki semuanya. Meski kau belum mencintaiku, aku akan sabar menunggunya. Dan berusaha membuatmu mencintaiku. Gara


"Aku mencintaimu." Ujar Gara, mengecup kening Alula.

__ADS_1


__ADS_2