Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Perginya Gara 2


__ADS_3

Alula terus menatap wajah Gara yang sedang fokus pada laptopnya. Lelaki itu sedang membaca Email yang di kirim sekretaris Kenan padanya.


"Gara," Panggil Alula. Dia baru saja selesai menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan Gara.


"Hmmm, ada apa?" Balasnya tanpa melihat Alula. Membuat wanita itu merasa kesal.


"Tidak ada. Aku... Hanya mau bilang, kamarmu bagus." Alula mencoba mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya, dia ingin meminta Gara untuk menghabiskan waktu yang tersisa beberapa jam itu bersamanya.


"Ya. Kamarku memang bagus. Ini pertama kalinya kamu masuk kesini kan?"


"Iya."


Suasana menjadi hening sejenak. Membuat Alula merasa diabaikan oleh Gara. Ia ingin Gara memperhatikannya sebelum lelaki itu benar-benar pergi nanti.


Kenapa aku seperti ini? Gara akan mengurus pekerjaannya. Kenapa aku tiba-tiba menjadi egois?


Alula bergerak dari sisi ranjang menuju sofa, dimana Gara sedang duduk bekerja. Ia memperhatikan wajah itu dari dekat.


"Gara," Lelaki itu hanya berdehem dan tetap fokus pada urusannya.


Entah mengapa, Alula merasa sangat kesal melihat Gara mementingkan pekerjaannya. Sesuatu yang bukan ciri Alula.


Wanita itu merengut dan menarik wajah Gara menghadapnya. Membuat Gara terkejut, tapi tak lama tersenyum dalam hati.


"Kenapa, hmm?" Gara tersenyum lembut.


Bukannya menjawab, Alula malah langsung memeluk Gara. "Kamu akan berangkat, tapi masih saja mengurusi pekerjaanmu. Apakah tidak bisa melihatku sebentar? Kamu bisa melanjutkannya lagi saat tiba disana." Ujar Alula. Entah kemana lenyapnya rasa malunya.


"Kamu cemburu dengan angka dan huruf-huruf ini?" Gara balas memeluknya.


"Iya. Tapi, aku lebih cemburu lagi mengingat kamu akan bertemu wanita-wanita itu disana."


"Ya, aku akan bertemu mereka. Tapi, tetap saja wanita yang paling ingin aku temui setiap detik adalah kamu."


"Jangan mencoba merayuku."


"Tidak. Aku berkata yang sebenarnya."


"Pokoknya kamu tidak boleh begitu dekat dengan mereka."


"Kamu mengenal aku dengan baik. Jadi, jangan ragukan soal itu."


"Aku akan meminta sekretaris Kenan mengawasimu dan memberitahuku hal tidak wajar yang kamu lakukan."


"Kamu tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu. Kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Jadi, aku harus terus waspada."


"Baiklah. Aku menurut saja." Ujar Gara, mengalah.


Masih dalam keadaan saling berpelukan, tiba-tiba Darrel berlari memasuki kamar. Diikuti Darren yang berjalan santai di belakangnya. Alula yang melihatnya berusaha untuk melepas pelukannya. Namun, Gara menahannya. Kekuatan Alula tidak sebanding dengan milik Gara.


Darrel berhenti di depan kedua orang tuanya dengan mata berkedip-kedip lucu. Wajah polosnya terlihat berpikir sambil menatap Ibunya yang menyembunyikan wajahnya di dada Gara.


"Ibu... Kenapa, Yah?" Tanyanya, bingung.


"Ibu menangis." Jawab Gara, membuat Alula mendongak menatapnya.


"Kenapa menangis?" Sambung Darren, ikut berdiri di depan kedua orang dewasa tersebut.


"Ibu menangis kerena shhh..." Satu cubitan di perut, membuat Gara meringis. Alula mengambil kesempatan melepaskan diri dari pelukan Gara.


"Ibu tidak apa-apa." Alula tersenyum pada kedua putranya.


"Karena apa, Yah?" Darren, si anak berwajah dingin itu tak percaya perkataan Ibunya. Dia mengenal Ibunya dengan baik.


"Ibu kalian sedih ditinggal Ayah ke negara XX."


"Ayah mau ke negala XX? Ngapain?" Tanya Darrel.


"Urusan bisnis."


"Berapa lama?" Darren menimpali.


"Seminggu. Kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, halus ya seminggu? Dallen Dallel nanti kangen lho sama Ayah."


"Kan bisa vidio call, sayang."


"Emang dengan vidio call Dallel bisa ajak Ayah main?"


Gara langsung terdiam mendengar pertanyaan Darrel. Beberapa detik kemudian ia tersenyum. Tangannya terulur menarik kedua putranya ke pangkuannya dan memeluk mereka. Ia merasa begitu dicintai oleh Alula dan si kembar.


"Dengar! Ayah akan berusaha secepat mungkin selesain pekerjaan Ayah."


"Ayah janjikan?" Ucap Darren Darrel bersamaan.

__ADS_1


"Iya, Ayah janji."


Alula tersenyum melihat adegan Ayah Anak di depan matanya. Interaksi yang selalu berhasil membuat hatinya menghangat. Dia bersyukur dengan semua kebahagiaan yang ia dapatkan.


"Oh ya, dimana paman kalian? Bukankah kalian di jemput paman?"


"Paman mengantar aunty." Jawab Darren.


"Jadi, kalian lama pulangnya karena nungguin aunty?"


"Iya. Paman mengajak aku dan Dallen beltemu aunty di tempat keljanya. Kita juga ketemu sama Nenek Tika, Ibunya aunty Ana. Olangnya baik, aku suka."


Alula tersenyum menatap anaknya. "Kalian sudah makan?"


"Sudah." Jawab keduanya bersamaan.


"Ya sudah. Ayo, ganti seragamnya dulu. Setelah itu istirahat. Sore nanti kita antar Ayah ke bandara."


"Siap, Bu." Jawab si kembar, kompak.


***


Mobil melaju menuju bandara. Gara, Alula, Darrel dan juga Darren hanya terdiam dalam mobil. Gara melirik ke arah Alula dan kedua putranya.


"Kenapa hanya diam? Darrel, biasanya kamu yang paling banyak bicara."


"Aku sedang tidak ingin bicala. Aku sedang memikilkan Ayah. Apa tidak bisa olang itu datang kesini?"


Gara tersenyum padaya. Ia mengusap lembut kepala Darrel. "Ayah janji akan secepatnya menyelesaikan pekerjaan Ayah."


"Darrel sayang, jangan begitu, ya? Ayah kan kerja buat Darrel sama Darren juga."


"Ayah bakal balik, jangan khawatir." Ucap Darren begitu santai.


"Apa kamu senang Ayah pergi?"


"Tidak juga." Balasnya, membuat Gara tersenyum paksa. "Tapi, aku juga ingin Ayah cepat pulang." Lanjutnya menarik Gara menoleh dengan senyum senang.


Setengah jam kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di bandara. Mereka berjalan beriringan dengan pak Andi yang membawa barang milik Gara.


"Gara!" Panggil Edo yang sudah tiba sebelum Gara. Disampingnya ada Irene dan juga Asya.


"Edo? Dia juga pergi?" Tanya Alula, heran.


"Ya, aku yang memintanya ikut denganku. Aku membutuhkannya dalam proyek ini."


"Dia juga ikut. Itu dia." Gara menunjuk ke arah sekretaris Kenan yang menghampiri mereka menggunakan ekor matanya. Alula juga ikut melihat ke arah sekretaris Kenan.


"Jangan menatapnya seperti itu." Tangan Gara terulur menghalangi mata Alula menatap sekretaris Kenan.


"Aku hanya melihatnya sebentar."


"Tidak boleh."


"Baiklah. Turunkan tanganmu. Bagaimana aku bisa berjalan tanpa melihat?" Segera ia menurunkannya.


Gara, Alula dan si kembar tiba di tempat Edo. Lelaki itu tersenyum melihat Gara dan Alula yang menggandeng putra mereka.


"Keluarga bahagia." Ucapnya menaik turunkan alisnya.


Alula membalasnya dengan tersenyum samar. Sementara Gara, ia sudah memasang wajah tak suka pada Edo. Lelaki itu masih sempat-sempatnya menggoda Alula.


"Halo paman asing. Halo tante, Asya." Sapa Darrel, tak bersemangat.


"Halo paman, tante." Sapa Darren, mengabaikan Asya.


"Halo twins. Makin tampan aja kalian."


"Telima kasih, tante. Tante juga cantik."


Irene tersenyum mendengarnya. Ia melirik sebentar ke arah Gara dan Edo yang sedang bicara. Ia juga memperhatikan Alula yang terus mencuri pandang menatap Gara.


"Mereka hanya seminggu. Tidak lama." Ucap Irene.


"Ya, aku tahu." Jawab Alula, lirih.


Beberapa menit kemudian terdengar pengumuman keberangkatan. Kedua wanita tersebut segera menghampiri pasangan masing-masing dengan menggandeng anak-anak mereka.


"Aku akan berangkat. Jaga dirimu dan anak-anak." Ucap Gara.


"Iya. Kamu hati-hati. Janji harus cepat pulang setelah pekerjaanmu selesai. Makan teratur, jangan sampai melewatkannya. Dan... Jangan coba-coba melirik wanita disana."


"Siap nyonya." Balas Gara dengan tersenyum manis.


Lelaki itu menatap kedua putranya. Ia berjongkok menyamakan tingginya dengan si kembar. "Darren, Darrel, nggak boleh nakal ya? Jaga diri kalian."


"Baik, Yah." Jawab keduanya.

__ADS_1


"Ayah udah janji cepat pulang. Nggak boleh ingkal." Ucap Darrel.


"Iya, Ayah janji."


"Ayah hati-hati." Timpal Darren.


"Jangan lupa telus kabalin kami."


"Iya."


Sementara di sebelah, Edo terus tersenyum manis ke arah Irene dan Asya. Anak itu terus memeluk Ayahnya meskipun Edo sedang berbicara dengan Irene.


"Ingat! Ada aku dan Asya disini. Jaga batasanmu dengan wanita. Termasuk jangan melirik wanita lain."


"Iya, aku ingat kamu sama Asya. Janji gak bakal lirik wanita lain."


"Jangan lupa makan."


"Iya. Kalau aku lupa makan terus, mati dong."


"Aku lagi nggak becanda, sayang."


"Iya, sayang. Aku nggak bakal lupa. Tiap 30 menit aku makan."


"Papa kalau tiap 30 menit makan, bisa gendut lho. Asya nggak mau ya, Papa gendut." Sahut Asya.


"Hehehe... Becanda, sayang." Ucap Edo bersamaan kekehan kecilnya. Ia mengurai pelukan Asya, berjongkok dan menatap wajah putrinya.


"Cantiknya Papa nggak boleh ngebantah Mama, ya? Nurut sama yang Mama bilang."


"Iya, Pa. Tapi, selama ini kan Asya selalu nurut apa kata Mama Papa."


"Bukannya Mama Papa lebih banyak nurut apa kata Asya?"


"Hehehe... Iya, deh." Kekeh anak itu. "Ayah hati-hati ya, cepat pulang."


"Iya."


Edo menatap Gara dan sekretaris Kenan. Pengumuman untuk melakukan boarding pun kembali terdengar.


Gara memeluk kedua putranya dan mencium wajah keduanya. Kemudian ia beralih memeluk Alula. Mencium keningnya begitu lama, lalu dengan cepat mencuri satu kecupan di bibir.


"Gara!!" Ucap Alula sedikit berbisik dan melotot pada Gara.


Sementara Edo, dia mencium pipi dan kening Asya. Kemudian beralih memeluk dan mencium kening Irene. Tak lupa pula satu kecupan di bibir Irene ia berikan. Berbeda dengan Alula, Irene terlihat biasa saja mendapat kecupan dari Edo. Bahkan ia tersenyum dengan manisnya pada Edo.


Pak Andi dan sekretaris Kenan hanya bisa menyaksikan mereka dengan senyum di wajah. Lelaki yang hampir seumuran Ginanjar itu kembali teringat mendiang istrinya. Satu senyuman kembali terukir di bibirnya, saat mengingat kebersamaannya bersama sang istri.


Dan sekretaris Kenan, ia menatap handphonenya, mengetikkan sesuatu di aplikasi chatnya dan mengirimkannya pada seorang gadis yang sedang ia perjuangkan.


"Aku akan berangkat sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Salam untuk mereka." Isi chat Sekretaris Kenan.


Sekretaris Kenan mematikan handphonenya lalu memasukkannya ke saku celananya. Kemudian mengambil barang milik Gara dari pak Andi, dan mendekat ke arah Gara.


"Pak Andi, hati-hati mengantar pulang istri dan anak saya. Pastikan mereka sampai di rumah dengan selamat." Pesan Gara sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Irene dan si jahil Edo tersenyum menggoda Alula saat Gara menyebutnya istri.


"Ciee... Yang udah di panggil istri." Seru Irene.


"Ciee... Yang suka panggil istri tapi nggak nikah-nikah." Sahut Edo, membuat Gara melirik tajam ke arahnya.


"Ayo, Kenan!" Perintah Gara, tanpa memutuskan lirikan tajamnya terhadap Edo.


Setelah pesawat yang di naiki Gara, Edo dan sekretaris Kenan take off, Alula bersama Darren Darrel, dan Irene bersama Asya pun meninggalkan bandara. Mereka kembali ke parkiran.


"Paman Gio." Teriak Darrel, saat melihat Gio yang baru turun dari mobilnya.


"Kau kemari? Dia memberitahumu?" Wanita itu sudah berdiri tepat di depan Gara bersama kedua putranya.


"Iya."


"Kenapa tidak menemuinya?"


"Untuk apa? Dia hanya seminggu disana."


"Terus, untuk apa kau kemari?"


"Menjemput kalian."


"Kan ada pak Andi."


"Kalian akan pulang bersamaku."


"Baiklah. Pak Andi, kami akan pulang bersama Gio."


"Baik, nona." Balas pak andi sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


__ADS_2