Anak Genius : Ayah Possessive

Anak Genius : Ayah Possessive
Manja Pada Kedua Kakaknya


__ADS_3

Tahun terus berganti. Alisha semakin tumbuh menjadi balita yang aktif. Darren dan Darrel tidak pernah sekalipun meninggalkan Alisha bermain. Mereka selalu bersama menemani Alisha. Asya juga selalu menyempatkan dirinya untuk bermain bersama Alisha. Disaat ada kesempatan ketika pulang sekolah atau saat libur, dia akan meminta Edo atau Irene mengantarnya.


"A-Yah.." Ujar Alisha saat mendengar mobil Gara memasuki pekarangan rumahnya.


Darren, Darrel juga Asya yang sedang bermain bersamanya menoleh ke arah pintu rumah. Pintu terbuka dan masuklah Gara. Alisha yang melihatnya bangun, dan berjalan tertatih ke arah Gara. Darren membuntuti adeknya, takut jika balita itu terjatuh. Hal itu membuat lelaki itu tersenyum dan mempercepat langkahnya, lalu langsung menggendong Alisha.


"Anak Ayah... Harum sekali. Udah mandi ya?" Ujar Gara sambil mencium pipi Alisha. Sementara balita itu, ia meraba-raba wajah Gara.


"A-Yah. A-Yah." Ujarnya.


"Iya, sayang. Ayo, cium Ayah." Ujar Gara, sembari melangkah mendekati kedua putranya dan Asya. Alisha mendekatkan wajahnya ke pipi Gara, lalu menciumnya.


"Darren, Darrel. Asya? Kamu juga kemari?" Sapa Gara. Darren dan Darrel meraih tangan Gara dan menciumnya. Begitupun Asya. Dia juga mencium tangan Gara.


"Iya, paman. Asya bolehkan sering-sering kesini main sama Alisha?"


"Iya, boleh nak. Alisha kan adek kamu juga."


"Makasih, paman." Gara mengangguk.


Alisha menoleh pada Asya, lalu menatap Ayahnya. "Ma-cih..." Ujarnya membuat Gara terkekeh.


"Sama-sama, sayang." Balas Gara. Lelaki itu lalu kembali menatap si kembar. "Darren Darrel, sini nak! Kamu juga Asya!" Panggil Gara.


Ia duduk dengan memangku Alisha. Darren Darrel juga Asya duduk di sekitarnya. "Gimana sekolahnya hari ini?" Tanya Gara.


"Baik, Yah." Jawab Darren.


"Hari ini, ada pelajaran olahraga Ayah. Kita main sepak bola." Ujar Darrel.


"Iya Paman. Teman-teman lelaki pada suka main sepok bola. Asya sama teman-teman perempuan gak suka, jadi kami cuman nonton."


Alula yang sedang berkutat di dapur sejak tadi, berjalan menuju ruang tamu. Seulas senyum muncul saat melihat Gara sedang bercerita dengan anak-anak.


"Asik banget ceritanya. Lagi ceritain apa sih?" Suara Alula membuat semuanya menoleh. Alisha yang sedang dipangkuan Gara langsung merentangkan tangannya kedepan, meminta Alula untuk menggendongnya.


"Umm... Sayang, anak Ibu." Ujar Alula, menggendong Alisha. "Sayang, aku kan udah sering bilang, kalau pulang kerja mandi dulu, baru boleh dekat anak-anak."


"Hehehe... Lupa sayang. Habisnya anak-anak lucu, minta digendong satu-satu."


"Kita gak minta digendong kok, Bu." Sambung Darrel dengan tampang polosnya. Membuat Gara mengacak gemas rambutnya.


"Bukan itu, maksudnya boy. Ya udah, Ayah mandi dulu. Setelah ini kita main sama-sama. Asya belum pulang kan?"

__ADS_1


"Belum, paman. Nanti di jemput Mama Papa."


"Kalian sama Ibu, ya? Ayah mandi dulu." Ujar Gara, lalu berdiri. "Ayah, mandi dulu ya?" Lagi, Garq berpamintan. Tapi kali ini pada Alisha. Gara mendekatkan wajahnya hendak mencium Alisha. Namun, gelengan Alula membuatnya berhenti.


"Oh iya, lupa. Ya udah, kalau gak bisa cium Alisha cium Ibunya saja." Gara langsung mengecup pipi Alula secepat mungkin dan berlari menaiki tangga. Ulah Gara ini membuat Darren tersenyum, sementara Darrel dan Asya, keduanya terkekeh sambil bersandar di sandaran sofa.


"Paman sangat lucu," Ujar Asya sambil terkekeh.


"Hehehe... Ayah seperti anak kecil," Kekeh Darrel.


Alisha yang berada di gendongan Alula menggerak-gerakkan tangannya sambil berceloteh. "I-bu... A-yah..."


"Iya, sayang. Ayah mandi dulu, setelah itu baru main sama Alisha, ya?"


"Len," Balita itu menunjuk pada kakaknya Darren. Ia kembali merentangkan tangannya pada Darren. Seolah paham, Alula menurunkannya di sofa, tepat di samping Darren. Anak itu merangkak, menduduki paha Darren, lalu menyandarkan tubuhnya di tubuh Darren. Sebelah pipinya yang tertempel di dada Darren menyembul, membuat Darrel, Asya dan Alula terkekeh gemas melihatnya.


"Imut banget sih, adek aku." Ucap Darrel sembari mencubit pipi Alisha. Membuat anak itu memukul pelan tangan Darrel dengan wajah cemberut.


"Um... Lel..." Ujarnya menatap Darrel. Wajahnya seakan menunjukkan jika dia tidak suka diganggu.


Asya yang juga gemas melihatnya pun ikutan mencubit pipinya. "Caa..." Suara kecilnya yang lucu seolah sedang marah pada Asya. Bukannya diam, Asya malah terkekeh melihat ekspresi lucu itu.


"Darrel! Asya!" Suara datar itu membuat Asya dan Darrel berhenti terkekeh. Alisha yang hampir menangis tadi, kembali menyandarkan tubuhnya di badan Darren. Membuat Darren reflek mengangkat tangannya dan mengusap pelan rambut Alisha.


Alula yang masih menyaksikannya pun tersenyum. "Kalo adek udah tidur nanti, panggil Ibu, ya? Biar Ibu anterin ke kamar." Ujarnya yang mendapat anggukkan dari Darren.


Alula sedang memanggang kue di dapur. Dia harus melihatnya. Deru mobil yang masuk membuatnya mengurungkan niatnya untuk kembali ke dapur.


"Biar aku yang bukain, Bi!" Ujarnya saat salah satu pelayan hendak menuju pintu ketika pintu di ketuk.


"Hai!" Sapa Edo dan Irene bersamaan.


"Kalian, aku kira siapa. Ayo, masuk!"


"Maaf nyonya, kami mengganggu. Kami hanya ingin menjemput putri kami tercinta." Ujar Edo, mendrama.


"Apaan kau ini! Ayo Irene, masuk! Biarkan dia berdiri disini." Canda Alula menarik tangan sahabatnya, dan meninggalkan Edo.


"Ya Tuhan, imut sekali Alisha. Sayang sekali, dia sudah tertidur." Ujar Irene saat melihat Alisha sudah terlelap dalam dekapan Darren.


"Jika kau tahu putriku sudah tidur, maka kecilkan suaramu." Gara berjalan mendekati mereka dengan penampilan yang sudah segar.


"Ya-ya, aku reflek." Balas Irene.

__ADS_1


Edo yang baru masuk, menunjukkan wajah tengilnya pada Gara. "Hei, bro!" Sapanya pada Gara, dan langsung merangkul lelaki itu.


"Ck. Lepaskan aku!" Ujar Gara, melepaskan rangkulan Edo.


"Ck. Kau selalu seperti ini. Aku ini sahabatmu."


"Aku tidak memiliki sahabat jelek seperti mu!"


"Kau mengataiku jelek?" Edo menunjuk wajahnya sendiri. Sementara Gara, ia acuh dan malah duduk di sisi Darren.


"Kau lihat! Putriku secantik ini, dan kau bilang Ayahnya jelek? Aneh!"


"Kenapa aneh? Asya cantik karena ada gen Irene, bukan kau!"


"Ya. Kakakku benar! Asya cantik turunan kak Irene, bukan kamu!" Sambung Gio yang baru pulang.


"Ck. Kau tidak perlu ikut campur." Kesal Edo melihat wajah tengil Gio yang tak jauh beda dengannya.


Alula dan Irene yang melihat itu, memutar bola mata malas. Ketiga orang itu, jika sudah bertemu pasti selalu ribut. Gio, lelaki itu selalu memihak sesuai moodnya.


"Ayo, Irene, kita ke dapur! Aku memanggang kue tadi!"


"Ayo!"


Alula dan Irene bergegas menuju dapur. Membiarkan ketiga laki-laki itu berbincang sembari mengawasi anak-anak.


Gara, Edo dan Gio kembali berbincang bersama layaknya sahabat pada umumnya. Sementara Darrel dan Asya, kedua anak itu kembali bermain. Dan Darren, ia masih setia memeluk Alisha. Namun, matanya tak hentinya melirik Asya dan Darrel yang begitu asik bermain.


"Dia sangat lengket pada Darren." Ujar Edo, menatap Alisha.


"Ya. Dia sering tidur di pangkuan Darren juga Darrel. Dia manja pada dua kakaknya." Ujar Gio.


"Kalian berbincanglah dulu. Aku akan menidurkannya di kamar." Ucap Gara.


"Dia tidur sendiri? Apa tidak takut jika dia terbangun?" Tanya Edo.


"Dia jika tertidur, sulit terbangun karena hal-hal lain. Kecuali, sudah saatnya ia bangun, dia akan terbangun sendiri. Lagipula, aku akan membawanya ke kamar bawah sini, bukan kamar atas." Ujar Gara, dengan pelan meraih Alisha dari pangkuan Darren.


"Kau semakin banyak bicara sekarang." Edo membuat Gara menoleh dan berdecak. Sementara Gio malah terkekeh.


"Diamlah Gio!" Kesal Gara.


"Terima kasih ya, udah jagain adek?" Gara mengacak pelan rambut Darren. Membuat anak itu menunjukkan senyuman tipis di bibirnya.

__ADS_1


"Iya, Yah." Balasnya.


__ADS_2